web analytics

KESADARAN BERYADNYA

August 06, 2013 By: teja Category: Artikel

Om Swastyastu
Om Aviganamastu Namo Sidham
Om Anobadrah Kratavoyantu Visvatah

Keseharian  kita  sesungguhnya  tidak  lepas  dari  aktivitas  beryadnya.  Mengapa, bagaimana,  kapan   seharusnya  kita  melakukan yadnya?  yajurveda  XXIII.  62 menjelaskan  : ”ayam yajno bhuvanasya nabhih” Yadnya ini adalah pusatnya alam semesta. Maka  untuk  mencapai  tujuannya  manusia  melakukan  melalui  yadnya.
Bhagavad Gita :

III.10 “Sahayajnah prajah srstava, puro’vaca prajapatih,

Anena prasavis yadhvam, eso vo’stu istakamadhuk”.

Dengan yajna engkau akan mengembang (srsti), kata Prajapati,

dan ia (yajna) akan menjadi kamadhuk dari keinginanmu.

Bagaimana seharusnya umat hindu melaksanakan yadnya?, bhagavadgitha VII.11-13  mengajarkan  kepada  kita yadnya  seharusnya  dilaksanakan  sesuai  dengan  1) aturan kitab suci (widhi-dresto), 2) tanpa mengharapkan imbalan (lascarya/iklas), 3) disadari sebagai  kewajiban yang harus dilakukan, 4)tidak untuk pamer, 5) ada makanan yang dibagikan, 6) ada mantra yang diucapkandan, 7) ada pemberian amal sedekah dan 8)dilaksanakan dengan penuh keyakinan

Yadnya yang merupakan dasar pengabdian kita baik kehadapan Hyang Widhi wasa, para  Pitra,  para  Rsi,  sesama  manusia  dan Bhuta  kala,  menjadi  sarana  untuk berkomunikasi  menjaga  keselarasan  hubungan  dalam  kerangka  Tri  Hita  Karana. Sesuai dengan  inti  ajarannya  bahwa  hidup  harus  senan-tiasa  berada  dalam , maka menurut tuntunan dari Tri Hita Karana ini beryadnya pun kita harus berada dalam keseimbangan.  Yadnya yang seimbang adalah yadnya  didasari kesucian  pikiran, dilakukan  secara tulus,  iklas  dan  kejujuran  berdasarkan  wiweka. Yajur  veda memberi  tuntunan  kepada  kita  tentang  bagaimana  seharusnya  kita melaksanakan yadnya tersebut :

Sarmasyavadhutam rakso ‘vadhuta aratayo ‘dityas tvagasi prati

tva ‘ditirvettu; dhisana ‘si parvati prati tva dityastvag vettu

divaskambhanirasi dhisana si parvateyi prati tva parvati vetta

yajur veda I.I.19

Yadnya adalah pemberi kebahagiaan, mengakhiri sifat pamrih dan kebiasaan kikir
serta melindungi daerah bagian dalam seperti kulit melindungi tubuh. Semoga
yang melakukan yadnya menyadari arti pentingnya. Pengucapan veda mantra yang
benar merupakan yadnya sendiri. Yadnya yang dilakukan pada hari tertentu juga
memberi perlindungan seperti kulit melindungi tubuh. Yadnya adalah penyangga
matahari yang cemerlang perwujudan dari cerita veda. Semoga kami menyadari
yadnya sebagai pembawa hujan dan pemberi pengetahuan spiritual

Terhadap setiap yadnya yang  dilakukan, haruslah difahami terlebih dahulu makna dan  tujuannya.  Kita  harus  memahami  tatwanya mengapa  yadnya  itu  dilakukan, seharusnya dilakukan.  Dengan  memahami  hal  ini,  kita  mengatahui  bentuk dan pilihan-pilihan tingkatan yadnya yang bisa dilakukan sesuai dengan kempuan yang kita miliki. Kemudian setelah memahami tatwanya, kita juga harus memahami tata cara (etika)  pelaksanaannya. Bagaimana seharusnya yadnya ini dilaksanakan, siapa saja seharusnya terlibat didalamnya, bagaimana sistematika/urut-urutanan pelaksanaanya, sehingga yadnya tersebut dapat berjalan dengan baik.

Karena  keterbatasan  yang  kita  miliki,  kita  menggunakan  lambang-lambang  untuk mengkomunikasikan  rasa  syukur  kita terhadap berbagai  anugrah  yang  telah  kita nikmati,  baik  dari  Sang  Maha  Pencipta,  Para  Rsi  maupun  Pitara  (leluhur).  Untuk itulah  kita membutuhkan  berbagai  upakara  untuk  beryadnya.  Dalam  menentukan upakara yadna, ajaran Hindu sangat fleksibel mengatur ketentuan ini. Ada Sembilan tingkatan  yang  bisa  dipilih  salah  satu,  sesuai  dengan  kemampuan  yang  dimiliki. Apakah  jika memilih  tingkatan  upakara  yang  paling  sederhana  karena  kemapuan yang  terbatas,  yadnya  dapat  mencapai  tujuannya? Sepanjang  dilaksanakan berdasarkan 1) aturan kitab suci  (widhi-dresto), 2)  tanpa mengharapkan imbalan(lascarya/iklas),  3)disadari  sebagai  kewajiban  yang  harus dilakukan, 4) tidak untuk  pamer,  5) ada makanan  yang  dibagikan,  6)ada mantra yang diucapkan, 7)ada pemberian amal sedekah dan 8)dilaksanakan dengan penuh keyakinan tentu jawabannya ya, bukan karena kemegahan upakaranya semata

Manajemen Yadnya.

Yadnya harus dilakukan secara efektif dan efisien. Efektif artinya yadnya harus sampai pada tujuannya maka yadnya harus didasari oleh pemahaman tatwanya dan dilakukan sesuai dengan tata caranya. Efisien berarti pelaksanaan yadnya, apapun bentuknya harus dilakukan dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang dimiliki untuk yadnya tersebut sesuai dengan tingkat pengorbanan yang ingin dilakukan tanpa mengurangi maknanya, karena yadnya bukanlah pemborosan. Sudah mulai banyak saat ini pelaksanaan yadnya yang dilakukan secara bersama-sama. Ini adalah salah satu bentuk pelaksanaan yadnya yang efisien. Dalam kasus ini muncul dua pertanyaan penting (i) apakah kita harus melaksanakan yadnya dengan upakara (banten) yang besar walaupun itu memberatkan secara ekonomi bagi yang melaksanakannya? (ii) apakah kita salah melaksanakan yadnya dengan banten yang besar kalau kita mampu tulus dan iklas dalam melaksanakannya? Kedua pertanyaan ini memiliki jawaban “tidak”.


Yadnya tidak bisa dilakukan dengan berpura-pura sehingga dilakukan dengan memaksakan diri.  Suatu contoh pada suatu piodalan di Pura, begitu melihat tetangganya bikin banten dengan buah-buahan impor, yang lain memaksakan diri dengan membuat banten dengan kue-kue impor pula supaya tampak tampil beda. Jika hal ini terjadi yadnya yang dilakukan sudah dicemari oleh persaingan, gengsi dan keinginan untuk mendapatkan penghargaan yang berle-bihan melalui yadnya tersebut dan yadnya tidak semata-semata didasari kesucian hati dan ditujukan untuk persembahan yang mulia.

Berbagai pertanyaan lain yang harus didiskusikan dalam diri masing-masing berkaitan dengan yadnya antara lain :

  1. Adakah kita telah peduli dengan keberadaan tempat-tempat suci kita, disamping telah mampu membuat banten yang besar dalam Dewa Yadnya?
  2. Adakah kita telah peduli dengan kualitas dan kompetensi keturunan sebagai generasi yang suputra, disamping telah mampu melaksanakan upacara pitra yadnya yang besar-besaran?
  3. Adakah kita telah peduli dengan keberadaan para guru, pandita, pinandita atas ketulusan pelayanan yang telah dilakukan untuk kita?
  4. Adakah kita telah peduli terhadap sesame yang terbelit baik permasalahan social, ekonomi dan sebagainya, adakah tergerak hati kita untuk menyisihkan sebagian dari harta kita miliki untuk mereka-meraka yang memiliki kecerdasan tetapi tidak memiliki dana untuk melanjutkan sekolah, mereka yang menderita sakit karena tidak memiliki biaya berobat, dan banyak lagi permasalahan social dan ekonomi yang lain, disamping telah mampu melaksanakan berbagai manusa yadnya yang besar-besar
  5. Adakah kita telah peduli terhadap kelestarian lingkungan yang telah memberikan kita sumber-sumber kehidupan, disamping telah melaksanakan upacara pecaruan dan tawur dalam tingkatan yang paling tinggi?

Jawaban atas semua pertanyaan ini adalah kemampuan kita dalam memahami,
mengelola dan menyeimbangkan pelaksanaan yadnya

MAKNA UNIVERSAL “OM SWASTYASTU”

September 07, 2011 By: admin Category: Artikel

UMAT Hindu di Indonesia, kalau saling berjumpa dengan sesamanya, umumnya mengucapkan Om Swastyastu. Salam umat ini sekarang telah menjadi salam resmi dalam sidang-sidang Dewan Perwakilan Daerah (DPD) di Jakarta.

Selanjutnya perlu kita pahami bersama makna apa yang berada di balik ucapan Om Swastyastu tersebut. Umat Hindu di India umumnya mengucapkan Namaastu kalau bertemu dengan sesamanya. Bahkan, ucapan itu dilakukan secara umum oleh masyarakat India. Para pandita maupun pinandita dalam memanjatkan pujastawa sering kita dengar menutup pujastawanya dengan Om naamo namah.

Inti semua ucapan itu pada kata naama, yang dalam bahasa Sansekerta artinya menghormat. Dalam bahasa Jawa Kuno disebut dengan sembah.

Kata sembah dalam bahasa Jawa Kuno memiliki lima arti. Sembah berarti menghormati, menyayangi, memohon, menyerahkan diri dan menyatukan diri.

Karena itu, umat Hindu di Bali mengenal adanya Panca Sembah yang diuraikan dalam lontar Panca Sembah. Dalam tradisi Hindu di Bali ada sembah ke bhuta, ke manusa, ke pitra, ke dewa dan Hyang Widhi.

Kalau menyembah bhuta atau alam semesta tangan dicakupkan di pusar. Sembah seperti itu berarti untuk mencurahkan kasih sayang kita pada alam untuk menjaga kelestariannya. Menyembah sesama atau pitra, mencakupkan tangan di dada. Sembah seperti itu adalah untuk menghormati sesama manusia. Menyembah dewa tangan dicakupkan di selaning lelata yaitu di antara kening di atas mata. Hanya menyembah Tuhanlah tangan dikatupkan dengan sikap anjali di atas ubun-ubun. Ini artinya hanya menyembah Tuhanlah kita serahkan diri secara bulat dan satukan diri sepenuh hati.

Salam Om Swastyastu yang ditampilkan dalam bahasa Sansekerta dipadukan dari tiga kata yaitu: Om, swasti dan astu. Istilah Om ini merupakan istilah sakral sebagai sebutan atau seruan pada Tuhan Yang Mahaesa. Om adalah seruan yang tertua kepada Tuhan dalam Hindu. Setelah zaman Puranalah Tuhan Yang Mahaesa itu diseru dengan ribuan nama. Kata Om sebagai seruan suci kepada Tuhan yang memiliki tiga fungsi kemahakuasaan Tuhan. Tiga fungsi itu adalah, mencipta, memelihara dan mengakhiri segala ciptaan-Nya di alam ini.

Mengucapkan Om itu artinya seruan untuk memanjatkan doa atau puja dan puji pada Tuhan.

Dalam Bhagawad Gita kata Om ini dinyatakan sebagai simbol untuk memanjatkan doa pada Tuhan. Karena itu mengucapkan Om dengan sepenuh hati berarti kita memanjatkan doa pada Tuhan yang artinya ya Tuhan.

Setelah mengucapkan Om dilanjutkan dengan kata swasti. Dalam bahasa Sansekerta kata swasti artinya selamat atau bahagia, sejahtera. Dari kata inilah muncul istilah swastika, simbol agama Hindu yang universal. Kata swastika itu bermakna sebagai keadaan yang bahagia atau keselamatan yang langgeng sebagai tujuan beragama Hindu. Lambang swastika itu sebagai visualisasi dari dinamika kehidupan alam semesta yang memberikan kebahagiaan yang langgeng.

Menurut ajaran Hindu alam semesta ini berproses dalam tiga tahap. Pertama, alam ini dalam keadaan tercipta yang disebut Srsti. Kedua, dalam keadaan stabil menjadi tempat dan sumber kehidupan yang membahagiakan. Keadaan alam yang dinamikanya stabil memberikan kebahagiaan itulah yang disebut swastika.

Dalam istilah swastika itu sudah tersirat suatu konsep bahwa dinamika alam yang stabil itulah sebagai dinamika yang dapat memberikan kehidupan yang bahagia dan langgeng. Dinamika alam yang stabil adalah dinamika yang sesuai dengan hak asasinya masing-masing. Ketiga, adalah alam ini akan kembali pada Sang Pencipta. Keadaan itulah yang disebut alam ini akan pralaya atau dalam istilah lain disebut kiamat.

Kata astu sebagai penutup ucapan Swastyastu itu berarti semoga. Dengan demikian Om Swastyastu berarti: Ya Tuhan semoga kami selamat. Tentu, tidak ada manusia yang hidup di dunia ini tidak mendambakan keselamatan atau kerahayuan di bumi ini.

Jadi, salam Om Swastyastu itu, meskipun ia terkemas dalam bahasa Sansekerta bahasa pengantar kitab suci Veda, makna yang terkandung di dalamnya sangatlah universal. Pada hakikatnya semua salam yang muncul dari komunitas berbagai agama memiliki arti dan makna yang universal. Yang berbeda adalah kemasan bahasanya sebagai ciri khas budayanya. Dengan Om Swastyastu itu doa dipanjatkan untuk keselamatan semua pihak tanpa kecuali.

Salam Om Swastyastu itu tidak memilih waktu. Ia dapat diucapkan pagi, siang, sore dan malam. Semoga salam Om Swastyastu bertuah untuk meraih karunia Tuhan memberikan umat manusia keselamatan.

Om Shanti Shanti Shanti Om …

KUPASAN MANTRAM- MANTRAM TRI SANDHYA

August 07, 2011 By: admin Category: Artikel

Mantram Pertama
  1. Puja Trisandhya terdiri atas 6 mantram. Mantram pertama disebut gayatri mantram, menurut nama iramanya, yaitu gayatri. Irama-irama lain misalnya:
    1. anustup
    2. tristup
    3. canustup
    4. pragathah
    5. jagati
    6. dan sebagainya

    Di dalam Rg Veda III. 62. 10, kata bhur bhuvah svah tidak ada pada mantram ini. Tambahan bhur bhuvah svah itu terdapat pada Yajur Veda Putih 36. 3.

    Gayatri mantram adalah mantram yang paling mulia di antara semua mantra. Ia adalah ibu mantram, dinyanyikan oleh semua mantra. la adalah ibu mantram, dinyanyikan oleh semua orang beragama Hindu waktu sembahyang.

    Mengapa mantram ini yang paling mulia, ibu dari semua mantram? Inilah keterangannya:

    One reason why the gayatri is considered to be the most representative prayer in the Vedas is that is capable of possesing “dhi”, higher intelligence which brings him knowledge, material and transendental. What the eye is to the body “dhi” or intelligence is to the mind.

    (The Call of Vedas, p. 108-109).

    Suatu sebab mengapa gayatri dipandang dan yang mewakili segala di dalam Veda ialah karena ia adalah doa untuk daya kekuatan yang dapat dimiliki orang ialah: “dhi” yaitu kecerdasan yang tinggi yang memberikan padanya pengetahuan, materi dan kemampuan mengatasi hal-hal keduniawian. Sebagai halnya mata bagi badan, demikian “dhi” atau kecerdasan untuk pikiran.

  2. Wijaksara
    Wijaksara Om adalah huruf atau suku kata suci dalam agama Hindu. Biasanya tiap-tiap mantram mulai dengan huruf ini. Pada gayatri mantram Om adalah lambang dari semua ini, alam semesta yaitu bhur lokabhuvah loka dan svah loka.
Mandukya Upanisad 1 Aum ity etad aksaram idam sarvam, tasyopavyakhayanam, bhutam bhavad bhavisyad iti sarvam aum kara eva. Aum, suku kata ini adalah semua ini. Keterangan tentang ini adalah demikian: semuanya, masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang, ini semuanya hanyalah suku kata aum. Dan apapun pula yang lain di luar tiga waktu itu, tiadalah lain hanya suku kata aum saja.
Taittiriya Upanisad. 1.8.1 Aum iti brahma, aum itidam sarvam, aum ity etad anukrtir ha sma va apyo sravayetyasravayanti aum iti samani gayanti, aum Somiti sastrani samsanti, aum ity adhvaryuh, pratigaram pratigrhati,, aum iti brahma prasauti, aum ity agnihotram anujanati, aum iti brahmanah pravaksyanmaha, brahmopapnavaniti brahmanaivopapnoti Aum adalah Brahma. Aum adalah semua ini. Aum sesungguhnya ini adalah persetujuan. Dalam mengucapkan “lafalkan” mereka mengucapkan. Dengan Aum, mereka menyanyikan nyanyian saman. Dengan aum, som, mereka mengucapkan doa-doa. Dengan aum pendeta mengucapkan puji-puji pengantar. Dengan aum, sescorang mempersembahkan sajian-sajian pada api.Dengan aum seorang Brabmana mulai mengucapkan, “semoga saya sampai pada Brahman”; demikianlah karena ingin iapun sampai pada Brahman.
Jnanasiddhanta 18.5 Isana tu ma karo’bhud
A madhyam mordhvam eva ca
Ukaro’ dhas ca
Om karam iti tad viduh
Isana adalah suara Ma
A ada di tengah-tengah
Ma di bagian atas
Dan suara U di bawah
Kesatuannya disebut suara Om.
Mantram Kedua
Pada mantram ini pemuja memuja Tuhan seru sekalian alam, yang suci tak ternoda. Beliau hanya tunggal tidak ada yang kedua. Mantram ini adalah salah satu dari suatu rangkaian mantram yang panjang disebut Catur Veda Sirah (Empat Veda Kepala).

Catur Veda Sirah ini adalah salinan Narayana Upanisad, sebuah Upanisad kecil. Di sini dinyatakan bahwa Tuhan adalah segalanya yang luput dan segala noda. Tuhan itu hanya Esa belaka.

Mantram Ketiga
Oleh pemuja Tuhan yang Tunggal disebut dengan banyak nama. Beliau disebut Siwa, Mahadewa, Iswara, Parameswara, Brahma, Wisnu dan Rudra. Masih banyak lagi sebutan-Nya. Di dalam kitab-kitab suci agama Hindu kila dapati sebutan beliau berpuluh-puluh banyaknya. Tuhan dipuja orang dalam berbagai-bagai perwujudan-Nya.
Mantram Keempat
Pemuja mengatakan dirinya serba hina serba kurang serba lemah. Hina kerjanya, hina diri pribadinya, hina lahirnya. Karena itu ia mohon kepada Tuhan untuk dilindungi dan dibersihkan dari segala noda. Tuhanlah pelindung tertinggi dan Tuhanlah melimpahkan kesucian untuk dia yang setia mengamalkan ajaran-Nya. Dalam mantram ini pemuja mengatakan pengakuannya bahwa ia adalah mahluk yang lemah.
Mantram Kelima
Pemuja mohon ampun kepada Tuhan, penyelamat semua makhluk. Ia mohon dibebaskan dari semua papa, semua kehinaan dan dosa. Ia mohon untuk dijaga, karena beliaulah penjaga semua makhluk di manapun dan kapanpun juga. Tuhan adalah kuasa tertinggi atas segala yang ada ini.
Mantram Keenam
Apa saja dosa anggota badan, apa saja dosa kata-kata dan apa saja dosa pikiran, pemuja memohon kepada Tuhan untuk diampuni. Manusia tidak dapat bebas dari dosa karena ia diselubungi oleh khilaf dan lalai. Bila seseorang dapat membersihkan diri dengan amal kebajikan maka kabut kekhilafan yang menyelubungi sang Pribadi akan menipis dan akan memancarkan cahaya kesucian dari Sang Pribadi yang mengantar seseorang ke alam kesadaran. Atas dasar ini kelepasan akan lebih mudah diperoleh.

Sumber : Babad Bali

TRI SANDHYA

August 07, 2011 By: admin Category: Persembhyangan

Pemujaan kepada Tuhan dapat dilaksanakan dengan banyak cara. Salah satu di antaranya ialah dengan bersembahyang tiap hari. Kita yang beragama Hindu bersembahyang tiga kali sehari, pagi, siang dan malam hari. Sembahyang demikian disebut sembahyang Trisandhya. Mantram yang dipakaipun disebut mantram Trisandhya.

Mantram ini ditulis dalam bahasa Sansekerta, bahasa orang Hindu jaman dahulu. Kita boleh bersembahyang dengan duduk bersila, duduk bersimpuh atau berdiri tegak sesuai dengan tempat yang tersedia. Sikap duduk bersila disebut padmasana. Sikap duduk bersimpuh disebut bajrasana dan yang berdiri disebut padasana.

Setelah sikap badan itu baik, dilanjutkan dengan pranayamaPranayama artinya mengatur jalannya nafas. Gunanya: untuk menenangkan pikiran dan mendiamkan badan mengikuti jalannya pikiran, bila pikiran dan badan sudah tenang maka barulah mulai bersembahyang.

Sikap tangan waktu bersernbahyang disebut sikap amusti. Mata memandang ujung hidung dan pikiran ditujukan kepada Sanghyang Widhi. Dalam keadaan seperti itu, sabdabayuidep harus dalam keadaan seimbang.

Sebelum mengucapkan mantram, kedua tangan kita bersihkan dengan mantram demikian:

Tangan Kanan

MANTRAARTI
Om suddha mam svahaOm bersihkanlah hamba

Tangan Kiri

MANTRAARTI
Om ati suddha mam svahaOm lebih bersihkanlah hamba.

Mantra Trisandhya

NoMANTRAARTI
1Om bhur bhuvah svah
tat savitur varenyam
bhargo devasya dhimahi
dhiyo yo nah pracodayat
Om adalah bhur bhuvah svah
Kita memusatkan pikiran pada kecemerlangan dan kemuliaan Sanghyang Widhi, Semoga Ia berikan semangat pikiran kita
2Om Narayana evedwam sarvam
yad bhutam yac ca bhavyam
niskalanko niranjano
nirvikalpo nirakhyatah
suddho deva eko
narayana na dvitiyo
asti kascit.
Om Narayana adalah semua ini apa yang telah ada dan apa yang akan ada, bebas dari noda, bebas dari kotoran, bebas dari perubahan tak dapat digambarkan, sucilah dewa narayana, Ia hanya satu tidak ada yang kedua
3Om tvam siwah tvam mahadevah
Iswarah paramesvarah
brahma visnusca rudrasca
purusah parikirtitah
Om Engkau dipanggil Siwa, Mahadewa, Iswara, Parameswara, Brahma, Wisnu, Rudra, dan Purusa
4Om papo'ham papakarmaham
papatma papasambhavah
trahi mam pundarikaksa
sabahyabhyantarah sucih
Om hamba ini papa, perbuatan hamba papa, diri hamba papa, kelahiran hamba papa, lindungilah hamba Sanghyang Widhi, sucikanlan jiwa dan raga hamba
5Om ksamasva mam mahadeva
sarvaprani hitankara
mam moca sarva papebhyah
palayasva sada siva
Om ampunilah hamba Sanghyang Widhi, yang memberikan keselamatan kepada semua makhluk, bebaskanlah hamba dari segala dosa, lindungilah oh Sang Hyang Widhi
6Om ksantavyah kayiko dosah
ksantavyo. vaciko mama
ksantavyo manaso dosah
tat pramadat ksamasva mam
Om ampunilah dosa anggota badan hamba, ampunilah dosa perkataan hamba, ampunilah dosa pikiran hamba, ampunilah hamba dari kelalaian hamba.
7Om Santih, Santih, Santih Om.Om. damai. damai, damai, Om.

Ingin mengetahui lebih detail mengenai maksud dari masing-masing bab dalam Tri Sandya ? Silahkan kunjungi halaman KUPASAN MANTRAM- MANTRAM TRI SANDHYA.

Sumber : Babad Bali

Doa / Mantra Sehari – hari

August 07, 2011 By: admin Category: Persembhyangan

Daftar mantra - mantra yang digunakan sesuai dengan waktunya.
FungsiMantraTerjemahan
Pada waktu bangun pagiOm, Utedanim bhagavantah syamota prapitva uta madhye ahnam, utodinau madhvantan tsuryasya vayam devanam sumantausyama.(Atharva Veda III.16.4)"Ya Tuhan Yang Maha Pemurah! Jadikanlah kami selalu bernasib baik pada pagi hari ini, menjelang tengah hari, apalagi matahari tepat di tengah-tengah dan seterusnya. Semoga para Dewa berkenaan menganugharkan rakhmat-Nya kepada kami".
Menggosok gigi Om Cri Dewi Bhatrimsa Yogini namahOm, sujud pada (sakti-Mu) Cri Dewi Bhatrimsa (dan) Yogini.
Membersihkan mulutOm Um Phat astraya namah.Om, sujud kepada Um, astra Phat (itu).
Mencuci mukaOm Um Waktra Paricuddha mam swaha.Om, Om (dewi) membersihkan muka hamba.
Pada waktu mandiOm, Gangga-Amrta-Sarira Cuddha Mam Swaha.Om, Amrta dari Gangga, membuat badan hamba suci.
Pada waktu berpakaianKaupina Brahma-Samyuktah, mekhala Wisnu-Samsmrtah Antarwasewaro dewah, bandham astu Sada Ciwa.Penutup berpakaian adalah Brahma, pengikat pinggang (adalah) Wisnu, penutup tubuh (oleh) Iswara (dan) Sada Ciwa pengikat semuanya.
Pada waktu menjelang makanOm Hiranyagarbhah samavartatagre bhutasya jatah patikreka asit, sa dadhara prithivim dyam utema kasmai devaya havisa vidhema.Ya Tuhan Yang Maha Pengasih! Engkau asal alam semesta dan satu-satunya kekuatan awal, Engkau yang memelihara semua mahluk, seluruh bumi dan langit. Kami memuja Engkau.
Pada waktu sesudah makanOm Purnamadah purnamidam Purnat murnam adaya purnasya purnam adaya purnam evavasisyate.Ya Tuhan Yang Maha Sempurna! Yang membuat alam sempurna. Alam ini akan lenyap dalam kesempurnaanMu. Engkau adalah kekal. Kami mendapat makanan yang cukup dan atas anugrah-Mu kami menghaturkan terima kasih.
Sebelum memulai pekerjaan atau kegiatanOm Avighnam astu namasiddham.Ya Tuhan semoga tiada halngan dan berhasil.
Memohon perlindunganOm Apasyam gopam anipadyamanam a ca para ca prthibhih carantam sa sadhricih sa visucir vasana.Ya Tuhan! hamba memandang Engkau Maha Pelindung, yang terus bergerak tanpa berhenti, maju dan mundur di atas bumi. Ia yang mengenakan hiasan yang serba meriah, muncul dan mengembara terus bersama bumi ini.
Mohon kebenaran (jalan yang benar)Om A visvadevam satpatim suktai adya vrnimahe stayasavam sawitaram.Ya Tuhan Yang Maha Agung! dengan kidung kami memujaMu, Tuhan sumber kebaikan! Engkau Maha Cemerlang yang memiliki takdir yang maha benar.
Salam Penganjali
(salam penghormatan)
Om Svastyastu.Semoga selalu ada dalam keadaan baik (selamat) atas karunia Tuhan (Hyang Widhi Wasa).
Salam Penganjali
(salam penghormatan)
Om santhi, Santhi, Santhi, Om.Semoga damai, damai di dunia, damai di akhirat dan damai selalu.
Doa Menjelang makan Om Ang kang kasol kaya isana ya namah, svasti-svasti sarva deva bhuta sukha, pradhana purusa sang yoga ya namah.Ya Hyang Widhi, yang bergelar Isana, hamba persembahkan seluruh makanan ini kehadapan-Mu, semoga semua makhluk berbahagia.
Doa Mulai Makan Om Anugraha Amertadi sanjivani ya namah svaha.Ya Hyang Widhi, semoga makanan ini menjadi penghidupan hamba lahir bathin yang suci.
Doa Selesai Makan Om Dhirgayur astu, avighnam astu subham astu Om Sriyam bhavantu, purnam bhavantu, ksama sampurna ya namah svaha.Ya Hyang Widhi, semoga makanan yang telah masuk ke dalam badan hamba memberi kekuatan, keselamatan, panjang umur dan tak kena halngan apapun. Demikian pula agar hamba mendapatkan kebahagiaan dan suka cita dengan sempurna.
Doa Selesai Makan
Dapat pula menggunakan doa (mantra) berikut:
Om Annapate annasya no dehyanmi vasya susminah, pra-pra dataram taris urjam no dhehi dvipade catuspade.
(Yajur Veda XI.83)
Ya Hyang Widhi, Engkau penguasa makanan, anugrahkanlah makanan ini memberikan kekuatan, menjauhkan dari penyakit. Selanjutnya bimbinglah kami, anugrahkanlah kekuatan kepada mahluk berkaki empat dan dua.
Doa saat melakukan Yadnya Sesa (Ngejot)"Om Sarva bhuta sukha pretebhyah svaha".Ya Hyang Widhi, hamba berikan sedikit kepada sarwa bhuta agar tidak mengacau.
Doa Memulai Sesuatu KegiatanOm Avighnam astu namo sidham Om Sidhirastu tad astu astu svaha.Ya Hyang Widhi, semoga atas perkenan-Mu tiada suatu halangan bagi kami memulai pekerjaan (kegiatan) ini dan semoga sukses.
Doa Mohon InspirasiOm Pra no devi sarasvati vajebhir vajinivati dhinam avinyavantu.
(Rg Veda VI.61.4)
Ya Hyang Widhi, Hyang Saraswati Yang Maha Agung dan Kuasa, Engkau sebagai sumber ilmu pengetahuan, semoga Engkau memelihara kecerdasan kami.
Doa Memohon KesehatanOm Vata a vatu bhesajam sambhu majobhu no hrde, pra na ayumsi tarisat.
(Rg Veda X.1986.1)
Ya hyang Widhi, semoga Wayu menghembuskan angin sejuk-Nya kepada kami. Wayu yang memberikan kesehatan dan kesejahteraan kepada kami. Semoga Ia memberikan umur panjang kepada kami.
Doa Mohon Bimbingan Spiritual Om Asato ma sadgamaya tamasoma ma tyotir gamaya mrtor ma amrtam gamaya.
(Brh. Ar. Up. XL.15)
Ya Hyang Widhi, bimbinglah kami dari yang tidak benar menuju yang benar. Bimbinglah kami dari kegelapan pikiran menuju cahaya (pengetahuan) yang terang. Bimbinglah kami dari kematian menuju kehidupan yang abadi.
Doa Mohon Kebahagiaan dan Keberuntungan :Om sarve bhavantu sukhinah sarve santu niramayah sarve bhadrani pasyantu ma kascid duhkha bhag bhavetYa Hyang Widhi, semoga semuanya memperoleh kebahagiaan, semoga semuanya terbebas dari penderitaan, semoga semuanya dapat memperoleh keberuntungan, semoga tiada kedukaan.
Doa Memulai Belajar Om Agne naya supatha raye asman visvani deva vayunani vidvan, yuyodhyasmaj juhuranam eno bhuyistam te namauktim vidhema.
(Rg Veda I.189.1)
Ya Hyang Widhi (Hyang Agni), tunjukkanlah kepada kami jalan yang benar untuk mencapai kesejahteraan; Hyang Widhi yang mengetahui semua kewajiban, lenyapkanlah dosa kami yang menyengsarakan kami. kami memuja Engkau.
Doa Menghilangkan Rasa TakutOm Om Jaya jivad sarira raksan dadasi me, Om Mjum sah vaosat mrityun jaya namah svaha.Ya Hyang Widhi Yang Maha Jaya, yang mengatasi segala kematian, kami memuja-Mu. Lindungilah kami dari mara bahaya
Doa Selesai Melakukan KegiatanOm Deva suksma parama acintya ya namah svaha sarva karya prasidhantam. Om Shanti, Shanti, Shanti, Om.Ya Hyang Widhi dalam wujud Parama Acintya yang maha gaib dan maka karya, atas rakhmat-Mu maka pekerjaan ini sukses. Semoga damai selalu.
Doa Sebelum TidurOm Yajjagrato duram udaiti daivam tad u suptasya tatha iva iti, durangamam jyotisam jyotir ekam tanme manah siva samkalpam astu.
(Yajur Veda XXXIV.1)
Ya hyang Widhi, Engkau nampak jauh dari orang yang tidur, nampak jauh dari orang yang terjaga. Engkau sinar utama, yang nampak jauh itu, semoga pikiran kami senantiasa mengarah kepada Engkau, yang baik itu.
Doa Untuk Ketabahan Hidup:Om Krdhi na udhvarny carathaya jivase.Ya Hyang Widhi, semoga kami bisa tetap tegak dalam perjalanan hidup kami
Doa Untuk Orang Meninggal
(yang disampaikan/diucapkan saat bela sungkawa):
Om vayur anilam amrtam athedam bhasmantam sariram Om krato smara, klie smara, krtam smara.
(Yajur Veda XL.15)
Ya Hyang Widhi, Penguasa hidup, pada saat kematian ini semoga ia mengingat wijaksana suci Om, semoga ia mengingat Engkau Yang Maha Kuasa dan kekal abadi. Ingat pula kepada karmanya. Semoga ia mengetahui bahwa Atma adalah abadi dan badan ini akhirnya hancur menjadi abu.
Saat melihat atau mendengar orang meninggal:Om svargantu, moksantu, sunyantu, murcantu, Om ksama sampurna ya namah svaha.Ya Hyang Widhi, semogalah arwah almarhum mencapai sorga, manunggal dengan-Mu, mencapai keheningan tanpa suka-duka. Ampunilah ia, semoga sempurna atas Kemahakuasaan-Mu.
Saat mengunjungi orang sakit:Om sarva vighna sarva klesa, sarva lara roga vinasa ya namah.Ya Hyang Widhi, semoga segala halangan, segala penyakit, segala penderitaan dan gangguan binasa oleh-Mu.
Doa Untuk Pembukaan Rapat (sidang) atau SeminarOm sam gacchadhvam sam vadadhvam sam vo manamsi janatam, devo bhagam yatha purve samjanana upasate.
(Rg. Veda X.191.2)

samano mantrah samitih samani samanam manah saha cittam esam, samanam mantram abhi mantraye vah samanena vo havisa juhomi.
(Rg Veda X.191.3)

samani va akutih samana hrdayani vah samanam astu vo mano yatha vah susahasati.
(Rg Veda X.191.4)
Ya Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa), semogalah pertemuan dan rapat ini mencapai satu kesepakatan. Semoga tercapai tujuan bersama, kesepakatan bersama satu dalam pikiran menuju stau tujuan.

Ya Hyang Widhi, Engkau canangkan satu tujuan, tujuan bersama kami sekalian, kami adakan pemujaan dengan persembahan bersama, agar tujuan kami satu, seia dan sekata.
Doa Untuk Menutup Suatu PertemuanOm dyauh santir antariksam santih prthiva santir apah santir osadhayah santih vanaspatayah santir visve devah santir brahma santih sarvam santih santir eva santih sa ma santir edhi.
(Yayur Veda XXXVI.17)
Ya Hyang Widhi Yang Maha Kuasa, anugrahkanlah kedamaian di langit, damai di angkasa, damai di bumi, damai di air, damai pada tumbuh-tumbuhan, damai pada pepohonan, damai bagi para Dewata, damailah Brahma, damailah alam semesta, semogalah kedamaian senantiasa datang pada kami.

Sumber : Babad Bali

Hari Raya Galungan di India

December 13, 2010 By: admin Category: Artikel

Hari raya Hindu untuk mengingatkan umat atas pertarungan antara adharma melawan dharma dilaksanakan juga oleh umat Hindu di India. Bahkan kemungkinan besar, parayaan hari raya Galungan di Indonesia mendapat inspirasi atau direkonstruksi dari perayaan upacara Wijaya Dasami di India. Ini bisa dilihat dari kata “Wijaya” (bahasa Sansekerta) yang bersinonim dengan kata “Galungan” dalam bahasa Jawa Kuna. Kedua kata itu artinya “menang”.

Hari Raya Wijaya Dasami di India disebut pula “Hari Raya Dasara”. Inti perayaan Wijaya Dasami juga dilakukan sepuluh hari seperti Galungan dan Kuningan. Sebelum puncak perayaan, selama sembilan malam umat Hindu di sana melakukan upacara yang disebut Nawa Ratri (artinya sembilan malam). Upacara Nawa Ratri itu dilakukan dengan upacara persembahyangan yang sangat khusuk dipimpin oleh pendeta di rumah-rumah penduduk. Nawa Ratri lebih menekankankan nilai-nilai spiritual sebagai dasar perjuangan melawan adharma. Pada hari kesepuluh berulah dirayakan Wijaya Dasami atau Dasara. Wijaya Dasami lebih menekankan pada rasa kebersamaan, kemeriahan dan kesemarakan untuk masyarakat luas.

Read the rest of this entry →

Hari Raya Galungan dan Kuningan

December 13, 2010 By: admin Category: Artikel

Kata “Galungan” berasal dari bahasa Jawa Kuna yang artinya menang atau bertarung. Galungan juga sama artinya dengan dungulan, yang juga berarti menang. Karena itu di Jawa, wuku yang kesebelas disebut Wuku Galungan, sedangkan di Bali wuku yang kesebelas itu disebut Wuku Dungulan. Namanya berbeda, tapi artinya sama saja. Seperti halnya di Jawa dalam rincian pancawara ada sebutan Legi sementara di Bali disebut Umanis, yang artinya sama: manis.

Agak sulit untuk memastikan bagaimana asal-usul Hari Raya Galungan ini. Kapan sebenarnya Galungan dirayakan pertamakali di Indonesia, terutama di Jawa dan di daerah lain khususnya di Bali. Drs. I Gusti Agung Gede Putra (mantan Dirjen Bimas Hindu dan Buddha Departemen Agama RI) memperkirakan, Galungan telah lama dirayakan umat Hindu di Indonesia sebelum hari raya itu populer dirayakan di Pulau Bali. Dugaan ini didasarkan pada lontar berbahasa Jawa Kuna yang bernama Kidung Panji Amalat Rasmi. Tetapi, kapan tepatnya Galungan itu dirayakan di luar Bali dan apakah namanya juga sama Galungan, masih belum terjawab dengan pasti.

Read the rest of this entry →

Daftar Guru Agama Hindu Kota Surabaya

December 13, 2010 By: admin Category: Data

NoJabatanNamaAlamatTelepon
1Guru Saraswati I Pura Segara KenjeranDrs.I Made SuwecaJl.Sahabudin No. 33 Surabaya031-3817432
2Guru Saraswati I Pura Segara KenjeranDrs.I Made GunarthaJl.Bambang Suntoro No. 30 Surabaya031-3810369
3Guru Saraswati I Pura Segara KenjeranDra.Ni Made Sri ArdaniJl.Sahabudin No. 33 Surabaya031-3817432
4Guru Saraswati I Pura Segara KenjeranDra.Desak Putu KartiniJl.Bambang Suntoro No. 30 Surabaya031-3810369
5Guru Saraswati I Pura Segara KenjeranIr.I Wayan Wijana&Dwi Jatmiko S.AgJl.Kolonel Sukardi No.19 Surabaya
6Guru Saraswati II Pura Agung J.K PerakDrs.I ketut Arta & Wayan SuandaJl.Karang menjangan IB/23 Surabaya031-5924843
7Guru Saraswati II Pura Agung J.K PerakDrs. Dewa Putu AdnyanaGriya Permata Hijau Blok N/10 Surabaya
8Guru Saraswati II Pura Agung J.K PerakI Made Budi Astika SE.S.Ag. Nginden II/
9Guru Saraswati III Sektor WonocoloDrs.Sunyoto
10Guru Saraswati III Sektor WonocoloWinarno S.Ag
11Guru Saraswati IV Sektor Ampel,Bulak B. Ibu Putu Astiarini
12Guru Saraswati V Pura Tirta EmpulDrs.I Wayan RuntunBabadan III/1 Wiyung Surabaya031-7532545
13Guru Saraswati VI SDN Banyu UripI Gusti Ngurah Robie SPd.Banyu Urip Lor Gg.Barat No.4 Surabaya
14Guru Saraswati VI SDN Banyu UripI Wayan WisnawahadiSimo Pomahan Baru No.79 Surabaya031-7494626
15Guru Saraswati VI SDN Banyu UripMujadi

Satyam-Siwam-Sundaram Menuju Moksartam Jagadhita

July 22, 2010 By: admin Category: Artikel

Dharma Wacana

Oleh: Ida Begawan Dwija NS

Satyam – Siwam – Sundaram adalah tatanan kehidupan masyarakat yang taat beragama (Hindu), saling menyayangi, dan sejahtera.

 TAAT BERAGAMA HINDU (SATYAM)

  1. Keyakinan pada Panca Srada:

1.1.    Widhi Tattwa

Agama Pramana: Percaya pada Hyang Widhi karena mempelajari kitab-kitab suci.

Pratiyaksa Pramana: Percaya pada Hyang Widhi karena mendapat vibrasi kesucian sebagai hasil ketekunan meditasi.

Anumana Pramana: Percaya pada Hyang Widhi dari kesimpulan berdasarkan logika, unsur-unsur aktivitas, sebab-akibat, keharusan, kesempurnaan dan keteraturan.

Upamana Pramana: Percaya pada Hyang Widhi dari analogi berdasarkan perbandingan unsur-unsur metafora (penciptaan), struktural (bahan ciptaan) dan kausal (akibat dari suatu sebab).

Read the rest of this entry →

PANCA SRADDHA LIMA KEYAKINAN UMAT HINDU

June 06, 2010 By: teja Category: Artikel

Dharma Wacana pada Hari Purnama, Kamis, tgl 27 Mei 2010

Di Pura Agung Jagat Karana Surabaya

oleh: Prof. I Made Londen Batan

(Ketua I PHDI Kota Surabaya)

Ratu Pandita Lanang Istri yang saya sucikan,

Para Pinandita Lanang Istri yang saya sucikan,

Ibu bapak umat hindu yang saya hormati,

adik-adik kecil, siswa dan mahasiswa yang saya banggakan.

Sebelum saya menyampaikan dharma wacana, ijinkan saya pada hari yang berbahagia ini – pada Persembahyangan Purnama malam ini – menyampaikan penganjali umat:

Om Swastyastu,

PENDAHULUAN

Tujuan Hidup Umat Hindu adalah moksartham jagadhita – kesejahteraan dan kebahagiaan yang abadi. Kesejahteraan – sifatnya duniawi (jagat), artinya sesuatu yang bisa diukur. Misalnya sejahtera dikatakan dengan mempunyai mobil mewah, punya hotel, rumah mewah dll, yang sifatnya duniawi. Sedangkan bahagia, sangat sulit diukur, misalnya ada keluarga kecil kelihatan bahagia setelahbisa membelikan anaknya sebuah sepeda, bahkan ada yang nampak bahagia, karena bisa makan hamburger di Mc Donald. Artinya kebahagiaa itu sangat sulit diukur. Bagaimana kita bisa mencapai tujuan hidup tersebut, para resi kita menyusun sebuah tuntutan hidup (way of life) – yang disebut sebagai Panca Shraddha, yang artinya lima keyakinan untuk mencapai moksa, atau sering disebut sebagai lima dasar agama Hindu. Apa saja Panca Shraddha tersebut, dan bagaimana menjalankannya, agar tujuan hidup – bersatunya Atman dengan Brahman, sehingga manusia terlepas dari ikatan duniawi, terlepas dari kelahiran kembali, bebas dari belenggu hidup dstnya.

Read the rest of this entry →


Switch to our mobile site