web analytics

Archive for the ‘Artikel’

KESADARAN BERYADNYA

August 06, 2013 By: teja Category: Artikel

Om Swastyastu
Om Aviganamastu Namo Sidham
Om Anobadrah Kratavoyantu Visvatah

Keseharian  kita  sesungguhnya  tidak  lepas  dari  aktivitas  beryadnya.  Mengapa, bagaimana,  kapan   seharusnya  kita  melakukan yadnya?  yajurveda  XXIII.  62 menjelaskan  : ”ayam yajno bhuvanasya nabhih” Yadnya ini adalah pusatnya alam semesta. Maka  untuk  mencapai  tujuannya  manusia  melakukan  melalui  yadnya.
Bhagavad Gita :

III.10 “Sahayajnah prajah srstava, puro’vaca prajapatih,

Anena prasavis yadhvam, eso vo’stu istakamadhuk”.

Dengan yajna engkau akan mengembang (srsti), kata Prajapati,

dan ia (yajna) akan menjadi kamadhuk dari keinginanmu.

Bagaimana seharusnya umat hindu melaksanakan yadnya?, bhagavadgitha VII.11-13  mengajarkan  kepada  kita yadnya  seharusnya  dilaksanakan  sesuai  dengan  1) aturan kitab suci (widhi-dresto), 2) tanpa mengharapkan imbalan (lascarya/iklas), 3) disadari sebagai  kewajiban yang harus dilakukan, 4)tidak untuk pamer, 5) ada makanan yang dibagikan, 6) ada mantra yang diucapkandan, 7) ada pemberian amal sedekah dan 8)dilaksanakan dengan penuh keyakinan

Yadnya yang merupakan dasar pengabdian kita baik kehadapan Hyang Widhi wasa, para  Pitra,  para  Rsi,  sesama  manusia  dan Bhuta  kala,  menjadi  sarana  untuk berkomunikasi  menjaga  keselarasan  hubungan  dalam  kerangka  Tri  Hita  Karana. Sesuai dengan  inti  ajarannya  bahwa  hidup  harus  senan-tiasa  berada  dalam , maka menurut tuntunan dari Tri Hita Karana ini beryadnya pun kita harus berada dalam keseimbangan.  Yadnya yang seimbang adalah yadnya  didasari kesucian  pikiran, dilakukan  secara tulus,  iklas  dan  kejujuran  berdasarkan  wiweka. Yajur  veda memberi  tuntunan  kepada  kita  tentang  bagaimana  seharusnya  kita melaksanakan yadnya tersebut :

Sarmasyavadhutam rakso ‘vadhuta aratayo ‘dityas tvagasi prati

tva ‘ditirvettu; dhisana ‘si parvati prati tva dityastvag vettu

divaskambhanirasi dhisana si parvateyi prati tva parvati vetta

yajur veda I.I.19

Yadnya adalah pemberi kebahagiaan, mengakhiri sifat pamrih dan kebiasaan kikir
serta melindungi daerah bagian dalam seperti kulit melindungi tubuh. Semoga
yang melakukan yadnya menyadari arti pentingnya. Pengucapan veda mantra yang
benar merupakan yadnya sendiri. Yadnya yang dilakukan pada hari tertentu juga
memberi perlindungan seperti kulit melindungi tubuh. Yadnya adalah penyangga
matahari yang cemerlang perwujudan dari cerita veda. Semoga kami menyadari
yadnya sebagai pembawa hujan dan pemberi pengetahuan spiritual

Terhadap setiap yadnya yang  dilakukan, haruslah difahami terlebih dahulu makna dan  tujuannya.  Kita  harus  memahami  tatwanya mengapa  yadnya  itu  dilakukan, seharusnya dilakukan.  Dengan  memahami  hal  ini,  kita  mengatahui  bentuk dan pilihan-pilihan tingkatan yadnya yang bisa dilakukan sesuai dengan kempuan yang kita miliki. Kemudian setelah memahami tatwanya, kita juga harus memahami tata cara (etika)  pelaksanaannya. Bagaimana seharusnya yadnya ini dilaksanakan, siapa saja seharusnya terlibat didalamnya, bagaimana sistematika/urut-urutanan pelaksanaanya, sehingga yadnya tersebut dapat berjalan dengan baik.

Karena  keterbatasan  yang  kita  miliki,  kita  menggunakan  lambang-lambang  untuk mengkomunikasikan  rasa  syukur  kita terhadap berbagai  anugrah  yang  telah  kita nikmati,  baik  dari  Sang  Maha  Pencipta,  Para  Rsi  maupun  Pitara  (leluhur).  Untuk itulah  kita membutuhkan  berbagai  upakara  untuk  beryadnya.  Dalam  menentukan upakara yadna, ajaran Hindu sangat fleksibel mengatur ketentuan ini. Ada Sembilan tingkatan  yang  bisa  dipilih  salah  satu,  sesuai  dengan  kemampuan  yang  dimiliki. Apakah  jika memilih  tingkatan  upakara  yang  paling  sederhana  karena  kemapuan yang  terbatas,  yadnya  dapat  mencapai  tujuannya? Sepanjang  dilaksanakan berdasarkan 1) aturan kitab suci  (widhi-dresto), 2)  tanpa mengharapkan imbalan(lascarya/iklas),  3)disadari  sebagai  kewajiban  yang  harus dilakukan, 4) tidak untuk  pamer,  5) ada makanan  yang  dibagikan,  6)ada mantra yang diucapkan, 7)ada pemberian amal sedekah dan 8)dilaksanakan dengan penuh keyakinan tentu jawabannya ya, bukan karena kemegahan upakaranya semata

Manajemen Yadnya.

Yadnya harus dilakukan secara efektif dan efisien. Efektif artinya yadnya harus sampai pada tujuannya maka yadnya harus didasari oleh pemahaman tatwanya dan dilakukan sesuai dengan tata caranya. Efisien berarti pelaksanaan yadnya, apapun bentuknya harus dilakukan dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang dimiliki untuk yadnya tersebut sesuai dengan tingkat pengorbanan yang ingin dilakukan tanpa mengurangi maknanya, karena yadnya bukanlah pemborosan. Sudah mulai banyak saat ini pelaksanaan yadnya yang dilakukan secara bersama-sama. Ini adalah salah satu bentuk pelaksanaan yadnya yang efisien. Dalam kasus ini muncul dua pertanyaan penting (i) apakah kita harus melaksanakan yadnya dengan upakara (banten) yang besar walaupun itu memberatkan secara ekonomi bagi yang melaksanakannya? (ii) apakah kita salah melaksanakan yadnya dengan banten yang besar kalau kita mampu tulus dan iklas dalam melaksanakannya? Kedua pertanyaan ini memiliki jawaban “tidak”.


Yadnya tidak bisa dilakukan dengan berpura-pura sehingga dilakukan dengan memaksakan diri.  Suatu contoh pada suatu piodalan di Pura, begitu melihat tetangganya bikin banten dengan buah-buahan impor, yang lain memaksakan diri dengan membuat banten dengan kue-kue impor pula supaya tampak tampil beda. Jika hal ini terjadi yadnya yang dilakukan sudah dicemari oleh persaingan, gengsi dan keinginan untuk mendapatkan penghargaan yang berle-bihan melalui yadnya tersebut dan yadnya tidak semata-semata didasari kesucian hati dan ditujukan untuk persembahan yang mulia.

Berbagai pertanyaan lain yang harus didiskusikan dalam diri masing-masing berkaitan dengan yadnya antara lain :

  1. Adakah kita telah peduli dengan keberadaan tempat-tempat suci kita, disamping telah mampu membuat banten yang besar dalam Dewa Yadnya?
  2. Adakah kita telah peduli dengan kualitas dan kompetensi keturunan sebagai generasi yang suputra, disamping telah mampu melaksanakan upacara pitra yadnya yang besar-besaran?
  3. Adakah kita telah peduli dengan keberadaan para guru, pandita, pinandita atas ketulusan pelayanan yang telah dilakukan untuk kita?
  4. Adakah kita telah peduli terhadap sesame yang terbelit baik permasalahan social, ekonomi dan sebagainya, adakah tergerak hati kita untuk menyisihkan sebagian dari harta kita miliki untuk mereka-meraka yang memiliki kecerdasan tetapi tidak memiliki dana untuk melanjutkan sekolah, mereka yang menderita sakit karena tidak memiliki biaya berobat, dan banyak lagi permasalahan social dan ekonomi yang lain, disamping telah mampu melaksanakan berbagai manusa yadnya yang besar-besar
  5. Adakah kita telah peduli terhadap kelestarian lingkungan yang telah memberikan kita sumber-sumber kehidupan, disamping telah melaksanakan upacara pecaruan dan tawur dalam tingkatan yang paling tinggi?

Jawaban atas semua pertanyaan ini adalah kemampuan kita dalam memahami,
mengelola dan menyeimbangkan pelaksanaan yadnya

MAKNA UNIVERSAL “OM SWASTYASTU”

September 07, 2011 By: admin Category: Artikel

UMAT Hindu di Indonesia, kalau saling berjumpa dengan sesamanya, umumnya mengucapkan Om Swastyastu. Salam umat ini sekarang telah menjadi salam resmi dalam sidang-sidang Dewan Perwakilan Daerah (DPD) di Jakarta.

Selanjutnya perlu kita pahami bersama makna apa yang berada di balik ucapan Om Swastyastu tersebut. Umat Hindu di India umumnya mengucapkan Namaastu kalau bertemu dengan sesamanya. Bahkan, ucapan itu dilakukan secara umum oleh masyarakat India. Para pandita maupun pinandita dalam memanjatkan pujastawa sering kita dengar menutup pujastawanya dengan Om naamo namah.

Inti semua ucapan itu pada kata naama, yang dalam bahasa Sansekerta artinya menghormat. Dalam bahasa Jawa Kuno disebut dengan sembah.

Kata sembah dalam bahasa Jawa Kuno memiliki lima arti. Sembah berarti menghormati, menyayangi, memohon, menyerahkan diri dan menyatukan diri.

Karena itu, umat Hindu di Bali mengenal adanya Panca Sembah yang diuraikan dalam lontar Panca Sembah. Dalam tradisi Hindu di Bali ada sembah ke bhuta, ke manusa, ke pitra, ke dewa dan Hyang Widhi.

Kalau menyembah bhuta atau alam semesta tangan dicakupkan di pusar. Sembah seperti itu berarti untuk mencurahkan kasih sayang kita pada alam untuk menjaga kelestariannya. Menyembah sesama atau pitra, mencakupkan tangan di dada. Sembah seperti itu adalah untuk menghormati sesama manusia. Menyembah dewa tangan dicakupkan di selaning lelata yaitu di antara kening di atas mata. Hanya menyembah Tuhanlah tangan dikatupkan dengan sikap anjali di atas ubun-ubun. Ini artinya hanya menyembah Tuhanlah kita serahkan diri secara bulat dan satukan diri sepenuh hati.

Salam Om Swastyastu yang ditampilkan dalam bahasa Sansekerta dipadukan dari tiga kata yaitu: Om, swasti dan astu. Istilah Om ini merupakan istilah sakral sebagai sebutan atau seruan pada Tuhan Yang Mahaesa. Om adalah seruan yang tertua kepada Tuhan dalam Hindu. Setelah zaman Puranalah Tuhan Yang Mahaesa itu diseru dengan ribuan nama. Kata Om sebagai seruan suci kepada Tuhan yang memiliki tiga fungsi kemahakuasaan Tuhan. Tiga fungsi itu adalah, mencipta, memelihara dan mengakhiri segala ciptaan-Nya di alam ini.

Mengucapkan Om itu artinya seruan untuk memanjatkan doa atau puja dan puji pada Tuhan.

Dalam Bhagawad Gita kata Om ini dinyatakan sebagai simbol untuk memanjatkan doa pada Tuhan. Karena itu mengucapkan Om dengan sepenuh hati berarti kita memanjatkan doa pada Tuhan yang artinya ya Tuhan.

Setelah mengucapkan Om dilanjutkan dengan kata swasti. Dalam bahasa Sansekerta kata swasti artinya selamat atau bahagia, sejahtera. Dari kata inilah muncul istilah swastika, simbol agama Hindu yang universal. Kata swastika itu bermakna sebagai keadaan yang bahagia atau keselamatan yang langgeng sebagai tujuan beragama Hindu. Lambang swastika itu sebagai visualisasi dari dinamika kehidupan alam semesta yang memberikan kebahagiaan yang langgeng.

Menurut ajaran Hindu alam semesta ini berproses dalam tiga tahap. Pertama, alam ini dalam keadaan tercipta yang disebut Srsti. Kedua, dalam keadaan stabil menjadi tempat dan sumber kehidupan yang membahagiakan. Keadaan alam yang dinamikanya stabil memberikan kebahagiaan itulah yang disebut swastika.

Dalam istilah swastika itu sudah tersirat suatu konsep bahwa dinamika alam yang stabil itulah sebagai dinamika yang dapat memberikan kehidupan yang bahagia dan langgeng. Dinamika alam yang stabil adalah dinamika yang sesuai dengan hak asasinya masing-masing. Ketiga, adalah alam ini akan kembali pada Sang Pencipta. Keadaan itulah yang disebut alam ini akan pralaya atau dalam istilah lain disebut kiamat.

Kata astu sebagai penutup ucapan Swastyastu itu berarti semoga. Dengan demikian Om Swastyastu berarti: Ya Tuhan semoga kami selamat. Tentu, tidak ada manusia yang hidup di dunia ini tidak mendambakan keselamatan atau kerahayuan di bumi ini.

Jadi, salam Om Swastyastu itu, meskipun ia terkemas dalam bahasa Sansekerta bahasa pengantar kitab suci Veda, makna yang terkandung di dalamnya sangatlah universal. Pada hakikatnya semua salam yang muncul dari komunitas berbagai agama memiliki arti dan makna yang universal. Yang berbeda adalah kemasan bahasanya sebagai ciri khas budayanya. Dengan Om Swastyastu itu doa dipanjatkan untuk keselamatan semua pihak tanpa kecuali.

Salam Om Swastyastu itu tidak memilih waktu. Ia dapat diucapkan pagi, siang, sore dan malam. Semoga salam Om Swastyastu bertuah untuk meraih karunia Tuhan memberikan umat manusia keselamatan.

Om Shanti Shanti Shanti Om …

KUPASAN MANTRAM- MANTRAM TRI SANDHYA

August 07, 2011 By: admin Category: Artikel

Mantram Pertama
  1. Puja Trisandhya terdiri atas 6 mantram. Mantram pertama disebut gayatri mantram, menurut nama iramanya, yaitu gayatri. Irama-irama lain misalnya:
    1. anustup
    2. tristup
    3. canustup
    4. pragathah
    5. jagati
    6. dan sebagainya

    Di dalam Rg Veda III. 62. 10, kata bhur bhuvah svah tidak ada pada mantram ini. Tambahan bhur bhuvah svah itu terdapat pada Yajur Veda Putih 36. 3.

    Gayatri mantram adalah mantram yang paling mulia di antara semua mantra. Ia adalah ibu mantram, dinyanyikan oleh semua mantra. la adalah ibu mantram, dinyanyikan oleh semua orang beragama Hindu waktu sembahyang.

    Mengapa mantram ini yang paling mulia, ibu dari semua mantram? Inilah keterangannya:

    One reason why the gayatri is considered to be the most representative prayer in the Vedas is that is capable of possesing “dhi”, higher intelligence which brings him knowledge, material and transendental. What the eye is to the body “dhi” or intelligence is to the mind.

    (The Call of Vedas, p. 108-109).

    Suatu sebab mengapa gayatri dipandang dan yang mewakili segala di dalam Veda ialah karena ia adalah doa untuk daya kekuatan yang dapat dimiliki orang ialah: “dhi” yaitu kecerdasan yang tinggi yang memberikan padanya pengetahuan, materi dan kemampuan mengatasi hal-hal keduniawian. Sebagai halnya mata bagi badan, demikian “dhi” atau kecerdasan untuk pikiran.

  2. Wijaksara
    Wijaksara Om adalah huruf atau suku kata suci dalam agama Hindu. Biasanya tiap-tiap mantram mulai dengan huruf ini. Pada gayatri mantram Om adalah lambang dari semua ini, alam semesta yaitu bhur lokabhuvah loka dan svah loka.
Mandukya Upanisad 1 Aum ity etad aksaram idam sarvam, tasyopavyakhayanam, bhutam bhavad bhavisyad iti sarvam aum kara eva. Aum, suku kata ini adalah semua ini. Keterangan tentang ini adalah demikian: semuanya, masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang, ini semuanya hanyalah suku kata aum. Dan apapun pula yang lain di luar tiga waktu itu, tiadalah lain hanya suku kata aum saja.
Taittiriya Upanisad. 1.8.1 Aum iti brahma, aum itidam sarvam, aum ity etad anukrtir ha sma va apyo sravayetyasravayanti aum iti samani gayanti, aum Somiti sastrani samsanti, aum ity adhvaryuh, pratigaram pratigrhati,, aum iti brahma prasauti, aum ity agnihotram anujanati, aum iti brahmanah pravaksyanmaha, brahmopapnavaniti brahmanaivopapnoti Aum adalah Brahma. Aum adalah semua ini. Aum sesungguhnya ini adalah persetujuan. Dalam mengucapkan “lafalkan” mereka mengucapkan. Dengan Aum, mereka menyanyikan nyanyian saman. Dengan aum, som, mereka mengucapkan doa-doa. Dengan aum pendeta mengucapkan puji-puji pengantar. Dengan aum, sescorang mempersembahkan sajian-sajian pada api.Dengan aum seorang Brabmana mulai mengucapkan, “semoga saya sampai pada Brahman”; demikianlah karena ingin iapun sampai pada Brahman.
Jnanasiddhanta 18.5 Isana tu ma karo’bhud
A madhyam mordhvam eva ca
Ukaro’ dhas ca
Om karam iti tad viduh
Isana adalah suara Ma
A ada di tengah-tengah
Ma di bagian atas
Dan suara U di bawah
Kesatuannya disebut suara Om.
Mantram Kedua
Pada mantram ini pemuja memuja Tuhan seru sekalian alam, yang suci tak ternoda. Beliau hanya tunggal tidak ada yang kedua. Mantram ini adalah salah satu dari suatu rangkaian mantram yang panjang disebut Catur Veda Sirah (Empat Veda Kepala).

Catur Veda Sirah ini adalah salinan Narayana Upanisad, sebuah Upanisad kecil. Di sini dinyatakan bahwa Tuhan adalah segalanya yang luput dan segala noda. Tuhan itu hanya Esa belaka.

Mantram Ketiga
Oleh pemuja Tuhan yang Tunggal disebut dengan banyak nama. Beliau disebut Siwa, Mahadewa, Iswara, Parameswara, Brahma, Wisnu dan Rudra. Masih banyak lagi sebutan-Nya. Di dalam kitab-kitab suci agama Hindu kila dapati sebutan beliau berpuluh-puluh banyaknya. Tuhan dipuja orang dalam berbagai-bagai perwujudan-Nya.
Mantram Keempat
Pemuja mengatakan dirinya serba hina serba kurang serba lemah. Hina kerjanya, hina diri pribadinya, hina lahirnya. Karena itu ia mohon kepada Tuhan untuk dilindungi dan dibersihkan dari segala noda. Tuhanlah pelindung tertinggi dan Tuhanlah melimpahkan kesucian untuk dia yang setia mengamalkan ajaran-Nya. Dalam mantram ini pemuja mengatakan pengakuannya bahwa ia adalah mahluk yang lemah.
Mantram Kelima
Pemuja mohon ampun kepada Tuhan, penyelamat semua makhluk. Ia mohon dibebaskan dari semua papa, semua kehinaan dan dosa. Ia mohon untuk dijaga, karena beliaulah penjaga semua makhluk di manapun dan kapanpun juga. Tuhan adalah kuasa tertinggi atas segala yang ada ini.
Mantram Keenam
Apa saja dosa anggota badan, apa saja dosa kata-kata dan apa saja dosa pikiran, pemuja memohon kepada Tuhan untuk diampuni. Manusia tidak dapat bebas dari dosa karena ia diselubungi oleh khilaf dan lalai. Bila seseorang dapat membersihkan diri dengan amal kebajikan maka kabut kekhilafan yang menyelubungi sang Pribadi akan menipis dan akan memancarkan cahaya kesucian dari Sang Pribadi yang mengantar seseorang ke alam kesadaran. Atas dasar ini kelepasan akan lebih mudah diperoleh.

Sumber : Babad Bali

Hari Raya Galungan di India

December 13, 2010 By: admin Category: Artikel

Hari raya Hindu untuk mengingatkan umat atas pertarungan antara adharma melawan dharma dilaksanakan juga oleh umat Hindu di India. Bahkan kemungkinan besar, parayaan hari raya Galungan di Indonesia mendapat inspirasi atau direkonstruksi dari perayaan upacara Wijaya Dasami di India. Ini bisa dilihat dari kata “Wijaya” (bahasa Sansekerta) yang bersinonim dengan kata “Galungan” dalam bahasa Jawa Kuna. Kedua kata itu artinya “menang”.

Hari Raya Wijaya Dasami di India disebut pula “Hari Raya Dasara”. Inti perayaan Wijaya Dasami juga dilakukan sepuluh hari seperti Galungan dan Kuningan. Sebelum puncak perayaan, selama sembilan malam umat Hindu di sana melakukan upacara yang disebut Nawa Ratri (artinya sembilan malam). Upacara Nawa Ratri itu dilakukan dengan upacara persembahyangan yang sangat khusuk dipimpin oleh pendeta di rumah-rumah penduduk. Nawa Ratri lebih menekankankan nilai-nilai spiritual sebagai dasar perjuangan melawan adharma. Pada hari kesepuluh berulah dirayakan Wijaya Dasami atau Dasara. Wijaya Dasami lebih menekankan pada rasa kebersamaan, kemeriahan dan kesemarakan untuk masyarakat luas.

(more…)

Hari Raya Galungan dan Kuningan

December 13, 2010 By: admin Category: Artikel

Kata “Galungan” berasal dari bahasa Jawa Kuna yang artinya menang atau bertarung. Galungan juga sama artinya dengan dungulan, yang juga berarti menang. Karena itu di Jawa, wuku yang kesebelas disebut Wuku Galungan, sedangkan di Bali wuku yang kesebelas itu disebut Wuku Dungulan. Namanya berbeda, tapi artinya sama saja. Seperti halnya di Jawa dalam rincian pancawara ada sebutan Legi sementara di Bali disebut Umanis, yang artinya sama: manis.

Agak sulit untuk memastikan bagaimana asal-usul Hari Raya Galungan ini. Kapan sebenarnya Galungan dirayakan pertamakali di Indonesia, terutama di Jawa dan di daerah lain khususnya di Bali. Drs. I Gusti Agung Gede Putra (mantan Dirjen Bimas Hindu dan Buddha Departemen Agama RI) memperkirakan, Galungan telah lama dirayakan umat Hindu di Indonesia sebelum hari raya itu populer dirayakan di Pulau Bali. Dugaan ini didasarkan pada lontar berbahasa Jawa Kuna yang bernama Kidung Panji Amalat Rasmi. Tetapi, kapan tepatnya Galungan itu dirayakan di luar Bali dan apakah namanya juga sama Galungan, masih belum terjawab dengan pasti.

(more…)

Satyam-Siwam-Sundaram Menuju Moksartam Jagadhita

July 22, 2010 By: admin Category: Artikel

Dharma Wacana

Oleh: Ida Begawan Dwija NS

Satyam – Siwam – Sundaram adalah tatanan kehidupan masyarakat yang taat beragama (Hindu), saling menyayangi, dan sejahtera.

 TAAT BERAGAMA HINDU (SATYAM)

  1. Keyakinan pada Panca Srada:

1.1.    Widhi Tattwa

Agama Pramana: Percaya pada Hyang Widhi karena mempelajari kitab-kitab suci.

Pratiyaksa Pramana: Percaya pada Hyang Widhi karena mendapat vibrasi kesucian sebagai hasil ketekunan meditasi.

Anumana Pramana: Percaya pada Hyang Widhi dari kesimpulan berdasarkan logika, unsur-unsur aktivitas, sebab-akibat, keharusan, kesempurnaan dan keteraturan.

Upamana Pramana: Percaya pada Hyang Widhi dari analogi berdasarkan perbandingan unsur-unsur metafora (penciptaan), struktural (bahan ciptaan) dan kausal (akibat dari suatu sebab).

(more…)

PANCA SRADDHA LIMA KEYAKINAN UMAT HINDU

June 06, 2010 By: teja Category: Artikel

Dharma Wacana pada Hari Purnama, Kamis, tgl 27 Mei 2010

Di Pura Agung Jagat Karana Surabaya

oleh: Prof. I Made Londen Batan

(Ketua I PHDI Kota Surabaya)

Ratu Pandita Lanang Istri yang saya sucikan,

Para Pinandita Lanang Istri yang saya sucikan,

Ibu bapak umat hindu yang saya hormati,

adik-adik kecil, siswa dan mahasiswa yang saya banggakan.

Sebelum saya menyampaikan dharma wacana, ijinkan saya pada hari yang berbahagia ini – pada Persembahyangan Purnama malam ini – menyampaikan penganjali umat:

Om Swastyastu,

PENDAHULUAN

Tujuan Hidup Umat Hindu adalah moksartham jagadhita – kesejahteraan dan kebahagiaan yang abadi. Kesejahteraan – sifatnya duniawi (jagat), artinya sesuatu yang bisa diukur. Misalnya sejahtera dikatakan dengan mempunyai mobil mewah, punya hotel, rumah mewah dll, yang sifatnya duniawi. Sedangkan bahagia, sangat sulit diukur, misalnya ada keluarga kecil kelihatan bahagia setelahbisa membelikan anaknya sebuah sepeda, bahkan ada yang nampak bahagia, karena bisa makan hamburger di Mc Donald. Artinya kebahagiaa itu sangat sulit diukur. Bagaimana kita bisa mencapai tujuan hidup tersebut, para resi kita menyusun sebuah tuntutan hidup (way of life) – yang disebut sebagai Panca Shraddha, yang artinya lima keyakinan untuk mencapai moksa, atau sering disebut sebagai lima dasar agama Hindu. Apa saja Panca Shraddha tersebut, dan bagaimana menjalankannya, agar tujuan hidup – bersatunya Atman dengan Brahman, sehingga manusia terlepas dari ikatan duniawi, terlepas dari kelahiran kembali, bebas dari belenggu hidup dstnya.

(more…)

INTERNALISASI DHARMA (Yadnya) JALAN MENUJU KEBAHAGIAAN ABADI

June 06, 2010 By: teja Category: Artikel

(Path to The God, Jalan Menuju Tuhan)

oleh :

Dr IGK Paridjata Westra, M.Agr.S., M.Agr.Sc., DVM

(Litbang PHDI – Surabaya)

LATAR BELAKANG

Kita, khususnya masyarakat Hindu di Jawa Timur sangat sedih dan prihatin mengamati berbagai fenomena yang terjadi di Bali. Bali bukan lagi Bali yang dulu lagi, yang dahulu indah alamnya, dan lestari budayanya, damai (canti) dan toleran masyarakatnya, dll. Alam dan manusia seolah sangat erat bersahabat, dan kejujuran (satyam) terpancar dari gerak dan tingkah laku tutur kata kehidupan masyaraknya.

Namun Bali kini sedang diselimuti berbagai masalah, tantangan sangat komplek, sehingga seolah sukar diurai ujung pangkalnya. Mari perhatikan hal-hal berikut :

A.   Parahyangan :

1.    Banyak sudah umat kita yang secara sadar telah meninggalkan keyakinannya. Hal ini sungguh sangat memprihatinkan dan menyedihkan (Kenapa???)

2.    Beberapa tempat ibadah (pure) sudah tidak terurus dan ada yang digusur

3.    Sementara umat yang ada di luar Bali sangat sulit untuk membangun rumah ibadah

4.    Rumah ibadah non-Hindu semakin banyak.

(more…)

Makna Ajaran Dharma dari Sang Hyang Aji Saraswati dalam Kehidupan Modern

May 19, 2010 By: admin Category: Artikel

Catur Widya Sesana

Darma Wacana Hari Suci Saraswati

Pura Agung Jagat Karana, Surabaya 3-1-2009

Oleh: Prof. Ir I Nyoman Sutantra MSc. PhD

(Ketua Walaka PHDI Prov. Jatim)

Om Swastyastu,

Mari kita bersama-sama pada Hari Saraswati yang kita sucikan ini, di Utama Mandala Pura Agung Jagat Karana yang kita sucikan memanjatkan Puja Astung Karah, Parama Astuti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa karena atas asung kerta wara nugraha Nya kita semua masih diberi kesempatan untuk ngaturang pedek bhakti, kita masih diberi kesempatan untuk hidup dengan tuntunnan ajaran Sang Hyang Aji Saraswati.

Selama 210 hari kita umat Hindu telah mendapat pencerahan dan tuntunan hidup dari ajaran Sang Hyang Aji Saraswati untuk melawan segala godaan, ancaman kehidupan baik yang datang dari dalam diri dan dari luar diri kita. Tentunya sebagian dari kita dapat dengan teguh dan santun melawan segala godaan tersebut, namun juga banyak dari kita justru terjebak dan terbelenggu dari berbagai macam godaan kehidupan tersebut. Banyak yang sangat menderita akibat belenggu dari godaan tersebut namun walau hanya sedikit masih ada pula yang justru sangat menikmati godaan tersebut, yang tentunya nikmat tersebut hanya bersifat sementara. Godaan dan ancaman hidup di jaman modern ini sangat beragam dan menggiurkan yang sangat menjebak dengan segala cara menggrogoti pikiran, perkataan dan perbuatan manusia bagaikan virus ganas yang mengganggu kesehatan moral, spirituar dan material dari manusia. Hanya mereka yang masih teguh memegang jalan Dharma dengan mengikuti ajaran Sang Hyang Aji Saraswati yang akan dapat melawan godaan dan ancaman dalam kehidupan dengan cerdas, bijak dan santun untuk menuju kehidupan yang rukun, damai dan sejahtera atau Moksartham Jagadita Ya Ca Iti Dharma.

(more…)

Konflik Umat Hindu, No Way !!!!

May 19, 2010 By: admin Category: Artikel

Om Swastiastu Mohon maaf sebelumnya atas subjeknya yang keras. Saya rasa, inilah saatnya kita umat Hindu di akar rumput untuk segera mengambil sikap.  Hal ini mengingat dalam pengamatan saya, beberapa oknum Pengurus Parisadha dari kedua belah pihak terlalu menuruti emosi. Padahal mereka semua adalah orang yang berpendidikan, dan dari segi usia sudah tidak bisa dibilang muda lagi.Tidakkah mereka sadar bahwa sebagian besar masyarakat hindu di akar rumput kita itu belum siap untuk mendengar perang statemen di mass media. Mungkin bagi mereka, itu hanya sebagai permainan perang kata-kata atau urat syaraf, tp tidakkah mereka sadar apa pengaruhnya bagi umat di akar rumput????

(more…)


Switch to our mobile site