<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>PHDI Surabaya</title>
	<atom:link href="http://phdi-sby.org/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://phdi-sby.org</link>
	<description>Parisada Hindu Dharma Kota Surabaya</description>
	<lastBuildDate>Fri, 27 Aug 2010 16:33:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Satyam-Siwam-Sundaram Menuju Moksartam Jagadhita</title>
		<link>http://phdi-sby.org/?p=92</link>
		<comments>http://phdi-sby.org/?p=92#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Jul 2010 15:45:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>I Gede Kukuh Adi Perdana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://phdi-sby.org/?p=92</guid>
		<description><![CDATA[Dharma Wacana Oleh: Ida Begawan Dwija NS Satyam – Siwam – Sundaram adalah tatanan kehidupan masyarakat yang taat beragama (Hindu),<a href="http://phdi-sby.org/?p=92" class="searchmore">Read the Rest...</a><div class="clr"></div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1 style="text-align: center;">Dharma Wacana</h1>
<p style="text-align: center;">Oleh: Ida Begawan Dwija NS</p>
<p>Satyam – Siwam – Sundaram adalah tatanan kehidupan masyarakat yang taat beragama (Hindu), saling menyayangi, dan sejahtera.</p>
<p style="text-align: center;"><strong> </strong><strong>TAAT BERAGAMA HINDU (SATYAM)</strong></p>
<ol>
<li>Keyakinan pada Panca Srada:</li>
</ol>
<p style="padding-left: 30px;">1.1.    Widhi Tattwa</p>
<p style="padding-left: 60px;">Agama Pramana: Percaya pada Hyang Widhi karena mempelajari kitab-kitab suci.</p>
<p style="padding-left: 60px;">Pratiyaksa Pramana: Percaya pada Hyang Widhi karena mendapat vibrasi kesucian sebagai hasil ketekunan meditasi.</p>
<p style="padding-left: 60px;">Anumana Pramana: Percaya pada Hyang Widhi dari kesimpulan berdasarkan logika, unsur-unsur aktivitas, sebab-akibat, keharusan, kesempurnaan dan keteraturan.</p>
<p style="padding-left: 60px;">Upamana Pramana: Percaya pada Hyang Widhi dari analogi berdasarkan perbandingan unsur-unsur metafora (penciptaan), struktural (bahan ciptaan) dan kausal (akibat dari suatu sebab).</p>
<p style="padding-left: 60px;"><span id="more-92"></span></p>
<p style="padding-left: 30px;">1.2.    Atma Tattwa</p>
<p style="padding-left: 60px;">Percaya bahwa Atman identik dengan Brahman, karena itu ada empat jalan menuju kepada-Nya, yaitu:</p>
<ul style="padding-left: 60px;">
<li>Bhakti Marga:</li>
</ul>
<p style="padding-left: 120px;">Menyembah, memuja, menghormati dan menyayangi Hyang Widhi dengan segala ciptaan-Nya.</p>
<ul style="padding-left: 60px;">
<li>Karma Marga:</li>
</ul>
<p style="padding-left: 120px;">Bekerja, berbuat mencapai tujuan hidup dilandasi ajaran Veda.</p>
<ul style="padding-left: 60px;">
<li>Jnana Marga:</li>
</ul>
<p style="padding-left: 120px;">Belajar dan mengajar mengembangkan Ilmu Pengetahuan untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia.</p>
<ul style="padding-left: 60px;">
<li>Yoga Marga:</li>
</ul>
<p style="padding-left: 120px;">Olah badan dan pikiran untuk menghubungkan Atma dengan Paramaatma.</p>
<p style="padding-left: 30px;">1.3.    Purnabhawa</p>
<p style="padding-left: 60px;">Percaya bahwa Atman akan terus mengalami samsara (reinkarnasi) bilamana belum memenuhi syarat kesucian untuk bersatu dengan Brahman; karena itu ada beberapa upaya untuk selalu menjaga kesucian:</p>
<ul style="padding-left: 30px;">
<li>Sistacara:</li>
</ul>
<p style="padding-left: 90px;">Kehidupan suci yang membentuk susila.</p>
<ul style="padding-left: 30px;">
<li>Atmanastusti:</li>
</ul>
<p style="padding-left: 90px;">Bekerja, berbuat mencapai tujuan hidup dilandasi ajaran Veda.</p>
<ul style="padding-left: 30px;">
<li>Catur Ashrama:</li>
</ul>
<p style="padding-left: 90px;">Empat jenjang kehidupan: Brahmacari, Gryahasta, Wanaprastha, dan Biksuka.</p>
<p style="padding-left: 30px;">1.4.    Karmaphala</p>
<p style="padding-left: 60px;">Percaya bahwa perbuatan yang baik akan membuahkan kebaikan, sedangkan perbuatan yang jahat akan menuai keburukan; karena itu tetaplah berpegang pada Trikaya Parisudha (tiga kesucian/ kebaikan):</p>
<ul style="padding-left: 30px;">
<li>Kayika Parisudha: Perbuatan yang baik yang terdiri dari Ahimsa (tidak membunuh/ menyakiti), Tan Mamandung (tidak mencuri/ korupsi), Tan Paradara (tidak berzina).</li>
<li>Wacika Parisudha: Perkataan yang baik terdiri dari Tan ujar apregas (tidak berkata kasar/ memaki), Tan ujar ahala (tidak berkata bohong/ membual), Tan ujar pisuna (tidak memfitnah), Satya wacana (berkata jujur/ menepati janji).</li>
<li>Manacika Parisudha: Pikiran yang baik terdiri dari Tan Adengkya ri drwyaning len (tidak dengki pada kepunyaan orang lain), Mamituhwa ri hananing karmaphala (percaya pada hukum karma-phala), Masih ring sarwa satwa (sayang kepada semua mahluk ciptaan Hyang Widhi).</li>
</ul>
<p style="padding-left: 30px;">1.5.    Moksha</p>
<p style="padding-left: 60px;">Percaya akan terjadinya kemanunggalan Atman dengan Brahman (Hyang Widhi) apabila kesucian Atman sudah setara dengan kesucian Brahman, melalui Catur Purushaartha:</p>
<ul style="padding-left: 30px;">
<li>Dharma: Ajaran Agama sebagai landasan segala aspek kehidupan.</li>
<li>Artha: Wara nugraha Hyang Widhi berupa benda-benda materi.</li>
<li>Kama: Kemampuan mencukupi kebutuhan hidup.</li>
<li>Moksha: Tercapainya kesejahteraan lahir-bathin sebagai tahapan menuju kemanunggalan Atman-Brahman.</li>
</ul>
<p style="padding-left: 30px;"> </p>
<p>Tiga Kerangka Agama Hindu Dipandang Sebagai Satu Kesatuan, Dalam Artian Adanya Saling Keterkaitan Aspek-Aspek Yang Bertujuan Membentuk Kesempurnaan.</p>
<p style="padding-left: 30px;">2.1.    Tattwa</p>
<p style="padding-left: 90px;">Pemahaman inti ajaran Veda.</p>
<ul>
<li> 
<ul>
<li>Susila</li>
</ul>
</li>
</ul>
<p style="padding-left: 90px;">Perilaku baik, yang terbentuk dari pemahaman Tattwa, meliputi antara lain:</p>
<ul style="padding-left: 30px;">
<li>  Sadacara</li>
</ul>
<p style="padding-left: 120px;">Taat pada peraturan, norma, atau perundang-undangan yang berlaku.</p>
<ul style="padding-left: 30px;">
<li>  Sad Tatayi</li>
</ul>
<p style="padding-left: 120px;">Menghindari dosa karena: Agnida (membakar), Wisada (meracun), Atharwa (menggunakan ilmu hitam), Sastraghna (mengamuk), Dratikrama (memperkosa), Rajapisuna (memfitnah).</p>
<ul style="padding-left: 30px;">
<li>  Sad Ripu</li>
</ul>
<p style="padding-left: 120px;">Waspada adanya enam musuh dalam diri sendiri: Kama (nafsu), Lobha (serakah), Kroda (marah), Mada (mabuk), Moha (sombong), Matsarya (cemburu, dengki, irihati).</p>
<ul style="padding-left: 30px;">
<li>  Asada Brata</li>
</ul>
<p style="padding-left: 120px;">Dharma (yakin pada hakekat kebenaran), Satya (setia pada nusa-bangsa-negara), Tapa (mengendalikan diri), Dama (tenang dan sabar), Wimatsarira (tidak dengki, iri, serakah), Hrih (punya rasa malu), Titiksa (tidak gusar), Anusuya (tidak bertabiat jahat), Yadnya (rela berkorban), Dana (dermawan), Dhrti (menjaga kesucian), dan Ksama (suka memaafkan).</p>
<ul style="padding-left: 30px;">
<li>  Dasa Indria</li>
</ul>
<p style="padding-left: 120px;">Kemampuan mengendalikan indria: Srotendria (pendengaran), Twakindria (rabaan kulit), Granendria (penciuman), Caksundria (penglihatan), Wakindria (lidah), Panindria (gerakan tangan), Payundria (membuang kotoran), Jihwendria (gerakan kaki), Pastendria (alat kelamin).</p>
<ul style="padding-left: 30px;">
<li>  Yama Brata</li>
</ul>
<p style="padding-left: 120px;">Anrsamsa (tidak egois), Ksama (pemaaf), Satya (setia), Ahimsa (tidak menyakiti hati), Dama (sabar), Arjawa (tulus-ikhlas), Pritih (welas asih), Prasada (tidak berpikir buruk), Madhurya (bermuka manis secara tulus), Mardawa (tutur kata yang lemah lembut).</p>
<ul style="padding-left: 30px;">
<li>  Niyama Brata</li>
</ul>
<p style="padding-left: 120px;">Dana (dermawan), Ijya (rajin sembahyang), Tapa (mengendalikan diri), Dhyana (menyadari kebesaran Hyang Widhi), Swadhiyaya (rajin belajar), Upasthanigraha (menjaga kesucian hubungan sex), Brata (mengekang nafsu), Upawasa (berpuasa), Mona (mengendalikan kata-kata), Snana (menjaga kesucian dan kebersihan diri).</p>
<p style="padding-left: 30px;">2.3.    Upacara</p>
<p style="padding-left: 30px;">Ritual yang dilakukan untuk menguatkan Tattwa dan Susila sebagai pengembangan nalar manusia dalam menjalin hubungan dengan Hyang Widhi yang berdampak pada kesehatan spiritual dan emosional.</p>
<p style="padding-left: 30px;"> </p>
<p><strong>Saling Menyayangi (Siwam)</strong></p>
<ol>
<li>Tattwamasi</li>
</ol>
<p style="padding-left: 30px;">Percaya bahwa semua umat manusia di dunia adalah sama-sama mahluk utama ciptaan Hyang Widhi, sehingga bila kita sayang pada diri sendiri hendaknya juga sayang kepada orang lain, sebaliknya bila kita tidak senang menyakiti diri sendiri, janganlah menyakiti orang lain.</p>
<ol style="padding-left: 30px;">
<li>Sagilik-Saguluk, Salunglung -Sabayantaka: Umat manusia hendaknya bersatu bersama-sama menghadapi musuh yang merupakan bahaya mengancam semesta.</li>
<li>Paras-Paros Sarpanaya: Selalu menghargai pendapat orang lain, bertindak tidak hanya untuk kepentingan diri sendiri, tetapi mengutamakan kepentingan umum dengan perspektif persatuan dan kesatuan.</li>
<li>Saling Asah, Saling Asih, Saling Asuh: Saling mengingatkan, menyayangi dan membantu kesulitan orang lain.</li>
</ol>
<p style="padding-left: 30px;"> </p>
<p><strong>Kesejahteraan Bersama (Sundaram)</strong></p>
<p style="padding-left: 30px;">Kesejahteraan yang dicita-citakan dalam Vedanta adalah kesejahteraan umat manusia secara universal, meliputi fisik dan non-fisik yaitu Spiritual, Emosional, Intelektual dan Fisik.</p>
<p style="padding-left: 30px;">Kesejahteraan yang tidak merata bagi umat manusia belumlah dapat disebut sebagai keberhasilan, melainkan justru merupakan pemacu untuk mengupayakan bantuan baik berupa pikiran, tenaga, materi dan perhatian.</p>
<p style="padding-left: 30px;"> </p>
<p><strong>Kepemimpinan Menuju Satyam- Siwam – Sundaram</strong></p>
<p style="padding-left: 30px;">Kelompok individu atau masyarakat pastilah mempunyai pemimpin yang dipilih untuk menuntun anggotanya menuju masyarakat yang Satyam-Siwam-Sundaram. Ia hendaknya memenuhi criteria :</p>
<ol style="padding-left: 30px;">
<li>Astha Brata
<ol>
<li>Indra Brata: adil</li>
<li>Yama Brata: berani menghukum yang salah</li>
<li>Surya Brata: melindungi yang lemah</li>
<li>Candra Brata: menciptakan kedamaian</li>
<li>Bayu Brata: menguatkan ketahanan</li>
<li>Kwera Brata: memakmurkan</li>
<li>Baruna Brata: memusnahkan adharma</li>
<li>Agni Brata: mendorong semangat</li>
</ol>
</li>
<li>Sad-Guna
<ol>
<li>Sandhi mudah memecahkan kesulitan</li>
<li>Wigrha berpengaruh</li>
<li>Jana perintahnya dituruti</li>
<li>Sana pandai menyesuaikan diri</li>
<li>Wisesa bijaksana</li>
<li>Srya mendapat simpati/ disenangi</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p style="text-align: center;"> </p>
<p style="text-align: center;"><a class="wp-caption" title="File PDF" href="http://phdi-sby.org/wp-content/uploads/2010/07/Dharma-Wacana-16-Juli-2010-Oleh-Ida-Begawan-Dwija-NS.pdf" target="_blank">Download File dalam Bentuk PDF</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://phdi-sby.org/?feed=rss2&amp;p=92</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PANCA SRADDHA LIMA KEYAKINAN UMAT HINDU</title>
		<link>http://phdi-sby.org/?p=79</link>
		<comments>http://phdi-sby.org/?p=79#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Jun 2010 18:44:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>teja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://phdi-sby.org/?p=79</guid>
		<description><![CDATA[Dharma Wacana pada Hari Purnama, Kamis, tgl 27 Mei 2010 Di Pura Agung Jagat Karana Surabaya oleh: Prof. I Made<a href="http://phdi-sby.org/?p=79" class="searchmore">Read the Rest...</a><div class="clr"></div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Dharma Wacana pada Hari Purnama, Kamis, tgl 27 Mei 2010</p>
<p style="text-align: center;">Di Pura Agung Jagat Karana Surabaya</p>
<p style="text-align: center;">oleh: Prof. I Made Londen Batan</p>
<p style="text-align: center;">(Ketua I PHDI Kota Surabaya)</p>
<p>Ratu Pandita Lanang Istri yang saya sucikan,</p>
<p>Para Pinandita Lanang Istri yang saya sucikan,</p>
<p>Ibu bapak umat hindu yang saya hormati,</p>
<p>adik-adik kecil, siswa dan mahasiswa yang saya banggakan.</p>
<p>Sebelum saya menyampaikan dharma wacana, ijinkan saya pada hari yang berbahagia ini – pada Persembahyangan Purnama malam ini &#8211; menyampaikan penganjali umat:</p>
<p>Om Swastyastu,</p>
<p><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p>Tujuan Hidup Umat Hindu adalah moksartham jagadhita – kesejahteraan dan kebahagiaan yang abadi. Kesejahteraan – sifatnya duniawi (jagat), artinya sesuatu yang bisa diukur. Misalnya sejahtera dikatakan dengan mempunyai mobil mewah, punya hotel, rumah mewah dll, yang sifatnya duniawi. Sedangkan bahagia, sangat sulit diukur, misalnya ada keluarga kecil kelihatan bahagia setelahbisa membelikan anaknya sebuah sepeda, bahkan ada yang nampak bahagia, karena bisa makan hamburger di Mc Donald. Artinya kebahagiaa itu sangat sulit diukur. Bagaimana kita bisa mencapai tujuan hidup tersebut, para resi kita menyusun sebuah tuntutan hidup (way of life) – yang disebut sebagai Panca Shraddha, yang artinya lima keyakinan untuk mencapai moksa, atau sering disebut sebagai lima dasar agama Hindu. Apa saja Panca Shraddha tersebut, dan bagaimana menjalankannya, agar tujuan hidup – bersatunya Atman dengan Brahman, sehingga manusia terlepas dari ikatan duniawi, terlepas dari kelahiran kembali, bebas dari belenggu hidup dstnya.</p>
<p><span id="more-79"></span></p>
<p>Ibu, Bapak dan Adik-adik sedharma sekalian</p>
<p><strong>1. KeyakinanTerhadap Adanya Tuhan (Widhi Sraddha)</strong></p>
<p>Angkasa yang luas nan jauh disana, lautan yang luas dengan ombaknya, gunung yang tinggi menjulang ke langit, langit yang biru nan indah, ada matahari, bulan dan bintang dan galaksi lainnya serta adanya manusia dengan segala sifatnya, ada tumbuh-tumbuhan, adanya berbagai jenis binatang, dstnya. Siapa yang menciptakan semuanya itu? Pertanyaan tersebut tidak ada yang bisa menjawab, sekalipun ahli antropologi, ahli ilmu falak, ahli ilmu bumi tidak bisa menjawab dengan pasti semuanya itu. Disamping itu kita sering mendengar adanya bencana alam, ada lumpur Lapindo, ada Puting Beliung atau kejadian yang aneh-aneh, misalnya anak kecil masih tetap hidup, walaupun sudah tertimbun reruntuhan bangunan selama tiga hari akibat gempa bumi. Andaikata kita mengenang semuanya itu, maka kita yakin dan percaya ada kekuatan yang bijaksana dan cerdas yang mengadakan dan mengatur alam ini. Apa sebenarnya kekuatan itu? Ada yang menyebut hukum alam. Bagaimana itu semuanya bisa terjadi? Sangat sulit menjawabnya dengan pasti. Karena dari ceritera kakek nenek, hal tersebut sudah ada! Siapa yang menciptakannya? Karena ketidaktahuan tersebut, maka umat Hindu percaya dengan adaNYA kekuatan diluar manusia, yang menciptakan Bumi dan segala isi dan kejadiannya, yaitu Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Kuasa – Maha Pengasih, Penyayang, Pelindung, Adil dan tidak bisa terbayangkan). Atas dasar tersebut umat Hindu percaya dan yakin dengan adanya <strong>Tuhan</strong>.</p>
<p>Ibu, Bapak dan Adik-adik sedharma sekalian</p>
<p><strong>2. KeyakinanTerhadap Adanya Atma (Jivatma) Pada Manusia</strong></p>
<p>Tuhan Yang Maha Esa, yang bersifat Maha Kekal, tanpa awal dan akhir disebut sebagai Wiyapaka nirwikara. Wiyapaka berarti meresap, berada di segala temat, pada makhluk, juga pada manusia.</p>
<p>Didalam Veda Parikrama dikatakan: Satu That yang tersembunyi dalam setiap makhluk yang mengisi semuanya yang merupakan jiwa bathin semua makhluk. Raja dari semua pebuatan, yang tinggi dalam setiap makhluk, saksi yang hanya ada dalam pikirannya saja. Atman atau Jivatman adala percikan Tuhan yang ada pada setiap manusia. Sehari-hari kita sering mendengar Hati Nurani, cahaya yang ada dalam diri setiap makhluk, cahaya kejujuran yang ada pada manusia. Atman tidak dipengaruhi oleh badan kasar kita (buana alit), karena atman adalah bagian dari Brahman (disebut sebagai a little Brachman). Dengan adanya keyakinan terhadap Atman, umat hindu akan berusaha berpikir, berkata dan berbuat sesuai dengan hati nurani untuk mencapi tujuan hidup. Artinya, umat hindu sadar, bahwa di dalam dirinya ada percikan Tuhan yang maha tahu, apa yang sudah kita lakukan, sehingga kita selalu berpikir untuk berbuat baik, agar moksa yang dituju dapat tercapai. Atman pada hakekatnya adalah Brahman yang ada didalam setiap makhluk, maka atman luput dari WISAYA (Keadaan lahir, sakit, mati dll), akan tetapi jiwa (sebagai saktinya atman) bisa kena wisaya, karena dapat digelapkan oleh badan rohani (menangis, memfitnah, berbohong, mencaci), dapat ditekan oleh badan jasmani (sakit, merana, luka dsb). Dalam kitab Bhagawadgita ditegaskan sebagai berikut: Orang yang jiwanya tidak terikat oleh sentuhan duniawi, akan mendapat kebahagiaan bathin, dan orang yang suksmanya selalu manunggal dengan Brahman itu, ia akan mencapai kebahagiaan abadi. Oleh karena itu, kita selalu melakukan sembahyang, mendekatkan diri kepada-NYA, agar jiwa kita bebas dari ikatan badan rohani – disebut sebagai Bathin kita tenang – perasaan tenang, pikiran jernih bebas dari belengu MAYA (bebas dari khayalan).</p>
<p>Ibu, Bapak dan umat se-dharma,</p>
<p><strong>3. KeyakinanTerhadap Adanya Hukum Karma (Karma Phala)</strong></p>
<p>Karma – berarti perbuatan, pahala – berarti hasil. Karma Phala adalah hasil dari perbuatan – dan banyak yang menyebut sebagai Hukum Sebab Akibat – sangat terkenal dengan HUKUM KARMA.</p>
<p>Bagaimaa keyakinan terhadap Hukum Karma ini ada? Tiada lain disebabkan adanya tujuan hidup, yaitu moksa. Artinya untuk mencapai tujuan hidup tersebut, maka kita harus tahu benar, mana yang benar dan mana yang salah. Hukum Karma menuntun umat hindu mencapai Moksa. Hal ini sangat kita yakini, bahwa untuk menuju ke kebahagiaan yang abadi, kita harus membebaskan badan kita, jiwa kita dan atman dari hal-hal yang melanggar hukum, melanggaran aturan2, melanggar norma2 hidup dan agama. Agar kita umat hindu senantiasa ingat dengan Atman/Brahman, maka kita harus berbuat baik, agar kita mendapatkan pahala yang baik dari hasil perbuatan tersebut, karena apa yang kita lakukan tercatat dalam pikiran dan hati kita. Hal ini akan dapat mempengaruhi watak kita dan juga berpenbagruh terhadap jiwa kita. Hukum karma juga kita yakini dapat diterima oleh anak cucu atau keturunan kita. Banyak contoh yang bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, seseorang pada masa hidupnya mencari dan mendapatkan kekayaan dengan cara tidak halal (melawan dharma), hidup mewah. Namun setelah meninggal dan kekayaannya diwarisi oleh anak cucunya, maka watak anak cucunya tidk waras (gila), tidak normal dan bahkan sekejap mereka sudah menghabiskan dan menghambur-hamburkan kekayaan itu sampai ludes, sehingga akhirnya menjadi orang yang melarat. Untuk hal yang demikian, kita sering mendengar “ITULAH KARMANYA”. Oleh karena itu, marilah kita jalani hidup ini berdasarkan Dharma.</p>
<p>Ibu, Bapak dan umat se-dharma yang saya banggakan,</p>
<p><strong>4. Keyakinan Pada Kelahiran Kembali (Punarbawa Tattwa) </strong></p>
<p>Banyak orang menyangsikan dan bahkan mencemoh adanya kelahiran kembali (punarbawa) ini. Sebagai manusia yang merasa diri sangat kecil dihadapan Hyang Widhi, kita dapat merasakan kejadian-kejadian yang aneh-aneh mengenai kelahiran atau bakat-bakat dan keadaan kehidupan manusia sehari-hari. Ada seseorang (anak kecil) mempunyai sifat atau watak tidak berbeda dengan leluhurnya (nenek moyangnya). Secara ilmu genetika, faktor keturunan akan berlanjut pada anak cucunya, termasuk sifat, kesenangan (hobby), ukuran tubuh, dan bahkan kecerdasan. Ahli genetika tidak menampik teori, bahwa gen-gen seseorang yang lahir dari bukan keluarga dapat muncul pada seseorang yang baru lahir. Hal tersebut didasarkan atas sejarah kehidupan manusia yang dimulai dari 2 manusia berlainan jenis (Adam dan Hawa), kemudian lahir manusia-manusia dengan berbagai bentuk tubuh, sifat, watak, kemampuan, dan bahkan cita-cita yang sama dengan manusia sebelumnya. Agama Hindu mengajarkan kapada kita semua untuk berpikir, berkata dan berbuat baik (Tri Kaya Parisudha), agar di kehidupan yang akan datang kita bisa menjelma tetap sebagai manusia yang mulia, bukan sebagai binatang (akibat dari perbuatan sebelumnya). Bahkan, jika memungkinkan kita tidak perlu menjelma kembali ke dunia, karena sudah menemukan kebahagian yang abadi, artinya Atman sudah bersatu dengan Brahman. Philosofi hidup (Filsafat Punarbawa) ini akan mengajarkan kepada kita untuk selalu berbuat baik, agar dosa kita berkurang (kalau mungkin habis – sempurna), sehingga kita tidak perlu lahir kembali untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan sebelumnya.</p>
<p>Perlu saya tambahkan, bahwa filsafat Karma dan Punarbawa adalah merupakan sebuah proses yang terjalin sangat erat satu dengan yang lainnya. Karma adalah perbuatan yang meliputi pikiran, perkataan, dan tingkah laku jasmni (perbuatan), sedangkan PUNARBAWA adalah perwujudan dari kesimpulan semuanya itu.</p>
<p>Ibu, Bapak dan umat se-dharma yang saya banggakan,</p>
<p><strong>5. Keyakinan Terhadap Adanya Moksa (Bersatunya Atman dengan Brahman)</strong></p>
<p>Moksa atau Mukti atau Nirwana berarti sebuah kebebasan, kemerdekaan. Merdeka atau bebas dari ikatan karma, kelahiran, kematian dan belenggu maya/penderitaan duniawi. Moksa adalah tujuan akhir umat hindu, di dalam veda disebut sebagai Moksartham Jagaditiha Ya Ca Iti Dharma. Pengertian ini sangat mendasar, yaitu mencapai kebahagiaan lahir dan bathin dengan jalan Dharma. Bagaimana kita menuju ke tujuan tersebut? Ini yang perlu kita pahami, bahwa setiap manusia tiada yang sempurna. Oleh karena itu, marilah kita selalu mendekatkan diri dan berbakti kepadaNYA, agar apa yang kita pikirkan, yang akan kita katakan dan lakukan selalu dijalan Dharma. Kita datang ke Pura saat ini untuk bersembahyang – mendekatkan dan berbakti (Ngaturan bakti) kehadapan Ida Hyang Widhi Wasa. Kita berdoa agar dunia dengan segala isinya selamat, baik, hidup kita sejahtera dan bahagia dst. Demikian pula, kitab suci telah menyediakan dan menuntun bagaimana caranya melaksanakan pelepasan diri dari ikatan maya, sehingga akhirnya atman dapat beratu dengan Brahman, sehingga penderitaan dapat dikikis habis dan tidak menjelma kembali ke dunia sebagai hukuman, tetapi sebagai penolong sesama manusia yaitu sebagai AWATARA. Banyak hal yang perlu kita lakukan, yang tertuang di dalam kitab suci Wedha, antara lain Yadnya (Dewa Yadnya, Resi, Pitra, Manusa, dan Buta Yadnya), Yoga (Jnana, Bhakti dan Karma Yoga) atau Marga, yaitu jalan yang bisa kita lewati untuk menyembah dan berbakti kepada Hyang Widhi.</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Ibu, bapak dan adik2 sekalian, demikian Dharma Wacana singkat yang bisa saya sampaikan, terima kasih banyak atas perhatiannya. Jika yang ada salah dalam tutur kata, pengucapan dan penyampaian, saya mohon maaf yang se-besar2-nya, dan dengan ini saya akhiri Dharwa Wacana ini dengan parama shanti:</p>
<p>Om Shanti Shanti Shanti Om.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://phdi-sby.org/?feed=rss2&amp;p=79</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>INTERNALISASI DHARMA (Yadnya) JALAN MENUJU  KEBAHAGIAAN ABADI</title>
		<link>http://phdi-sby.org/?p=75</link>
		<comments>http://phdi-sby.org/?p=75#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Jun 2010 18:35:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>teja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://phdi-sby.org/?p=75</guid>
		<description><![CDATA[(Path to The God, Jalan Menuju Tuhan) oleh : Dr IGK Paridjata Westra, M.Agr.S., M.Agr.Sc., DVM (Litbang PHDI – Surabaya)<a href="http://phdi-sby.org/?p=75" class="searchmore">Read the Rest...</a><div class="clr"></div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">(Path to The God, Jalan Menuju Tuhan)</p>
<p style="text-align: center;">oleh :</p>
<p style="text-align: center;">Dr IGK Paridjata Westra, M.Agr.S., M.Agr.Sc., DVM</p>
<p style="text-align: center;">(Litbang PHDI – Surabaya)</p>
<p style="text-align: center;">
<p><strong>LATAR BELAKANG</strong></p>
<p>Kita, khususnya masyarakat Hindu di Jawa Timur sangat sedih dan prihatin mengamati berbagai fenomena yang terjadi di Bali. Bali bukan lagi Bali yang dulu lagi, yang dahulu indah alamnya, dan lestari budayanya, damai (canti) dan toleran masyarakatnya, dll. Alam dan manusia seolah sangat erat bersahabat, dan kejujuran (satyam) terpancar dari gerak dan tingkah laku tutur kata kehidupan masyaraknya.</p>
<p>Namun Bali kini sedang diselimuti berbagai masalah, tantangan sangat komplek, sehingga seolah sukar diurai ujung pangkalnya. Mari perhatikan hal-hal berikut :</p>
<p>A.   Parahyangan :</p>
<p>1.    Banyak sudah umat kita yang secara sadar telah meninggalkan keyakinannya. Hal ini sungguh sangat memprihatinkan dan menyedihkan (Kenapa???)</p>
<p>2.    Beberapa tempat ibadah (pure) sudah tidak terurus dan ada yang digusur</p>
<p>3.    Sementara umat yang ada di luar Bali sangat sulit untuk membangun rumah ibadah</p>
<p>4.    Rumah ibadah non-Hindu semakin banyak.</p>
<p><span id="more-75"></span></p>
<p>B.   Pawongan :</p>
<p>1.    Terjadi kesenjangan ekonomi, antar daerah dan wilayah (utara – selatan)</p>
<p>2.    Rendahnya tingkat partisipasi pendidikan, khususnya di pedesaan dan umumnya perempuan.</p>
<p>3.    Angka penyandang buta aksara &gt;5% (Direktoran Pendidikan Luas Sekolah, 2007)</p>
<p>4.    Kontong – kantong kemiskinan meningkat di semua kabupaten dan kota (data Bali Post 12 Juli 2006)</p>
<p>5.    Umat tidak sepenuhnya menjadi tuan rumah di negerinya sendiri, sector - sector ekonomi (usaha) tidak dikuasai oleh umat. Umat kebanyakan hanya <span style="text-decoration: underline;">sebagai pembantu</span> (pramu saji, pramu wisma, pramu niaga, sopir taksi, tukang, buruh, tenaga upahan lain) di negeri sendiri, baik pada sector informal dan formal</p>
<p>6.    Meski Bali mengandalkan (dominasi) sector pariwisata, namun yang menikmati bukan umat kebanyakan. Umat kebanyakan bukan menjadi pemain utama, sebagain umat hanya jadi penenton dan tetap miskin dan terbelakang</p>
<p>7.    Pengangguran juga meningkat, karena semakin sulit dan terbatasnya lapangan kerja (termasuk pengangguran tenaga terdidik)</p>
<p>8.    Kriminalitas (pencurian) bermotif ekonomi juga meningkat deras terutama di kota-kota, dan khusus pada momen (bulan) tertentu. Misal menjelang Hari Raya Tertentu.</p>
<p>C.   Palemahan :</p>
<p>1.    Lingkungan (ekosistem) Bali sudah banyak rusak, seperti pantai banyak tergusur, dataran banyak yang sudah bepeng-bopeng, sehingga Bali seolah –olah menjadi lebih sempit</p>
<p>2.    Kawasan hutan juga banyak rusak, karena adanya perambah liar</p>
<p>3.    Konversi lahan pertanian (sawah dan tegalan) menjadi kawasan perumahan dan industri. Bukankah ini akan membuat semakin terkurasnya sumberdaya alam (SDA) Bali ?</p>
<p>4.    Banjir dan tanah longsor yang terjadi baru-baru ini, adalah indikasi kuat rusaknya ekosistem di Bali.</p>
<p>D.  Permasalahan lain :</p>
<p>1.    Masalah sosial yang semakin meningkat, seperti banyak komplik, kekerasan antar banjar, bahkan komplik dalam keluarga (saudara) sering kita dengar (<span style="text-decoration: underline;">komplik sesama orang Bali, moral hazard</span>)</p>
<p>2.    Meningkatnya jumlah orang yang menggunakan obat psikotropika (narkoba)</p>
<p>3.    Kehidupan bebas, materialistik, egoistik semakin terasa, serta semakin jauh dari nilai humanism</p>
<p>4.    Kehidupan sek bebas juga  semakin terbuka, dll., termasuk adanya lokasi PSK.</p>
<p>5.    Permasalahan struktur sosial (kasta) juga menjadi isu yang belum selesai. Hal ini sekaligus menunjukkan masih adanya keangkuhan sosial</p>
<p>6.    Komplik antar lembaga pembina agama, juga belum terselesaikan</p>
<p>7.    Bali belum bebas dari ancaman terorisme, dll</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>TANTANGAN YANG DIHADAPI</strong></p>
<p>Kita (masyarakat dan pemerintah – Bali) juga sangat prihatin terhadap tantangan yang sedang dan akan dihadapi Bali di waktu yang akan datang. Tantangan ini tidak ringan, kalau tidak pandai kita menanganinya, maka semakin berat beban yang ditanggung Bali. Mari kita cermati tantangan tsb :</p>
<p>1.    Meningkatnya jumlah penduduk, khususnya <span style="text-decoration: underline;">pendatang</span>, baik mereka yang punya skill dan yang tanpa skill (pengangguran).</p>
<p>2.    Sementara orang Bali yang miskin disingkirkan (transmigrasi) ke berbagai daerah terpencil di luar Bali dan mereka tidak terurus sama sekali, bagai anak ayam kehilangan induknya (saya mengamati sendiri hal ini di suatu desa di Kota Mobagu, Sulut)</p>
<p>3.    Penetrasi budaya asing, melalui torisme, investror, dll., sekaligus dengan <span style="text-decoration: underline;">life style</span>-nya (materialistik, egoistik) yang berbeda dengan budaya Bali</p>
<p>4.    Perkembangan lembaga-lembaga keagamaan (pusat studi Injil, lembaga dakwah, Sufi, kelompok pengajian, dll). Hal tsb dapat memperkaya khasanah budaya Bali (lebih plurar), atau sekaligus jug dapat menghancurkan nilai-nilai budaya tradisional yang kita junjung tinggi, termasuk keyakinan kita, dll.</p>
<p>5.    Semakin meningkatnya populasi non – Bali dan semakin sempaitnya ruang (space) bagi kehidupan masyarakat, terbatasnya sumber daya alam, dll.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>APA AKAR PERMASALAHAN  BALI</strong></p>
<p>Permasalahan  (fenomena, fakta) Bali yang saya uraikan di atas, cepat atau lambat akan dapat menjadikan derita (penderitaan umat) dan kehancuran Bali, sekaligus Hindu, bila kita tidak dapat menemukan solusinya yang tepat. Bali bukan lagi menjadi The island of paradise (pulau dewata), dll., Bali hanya tinggal kenangan. Saya tidak tahu pasti apakah akan terjadi 10 – 20 tahun yang akan datang ???</p>
<p>Pertanyaan : <span style="text-decoration: underline;">KENAPA MASALAH tersebut DI ATAS  ITU DAPAT TERJADI ?</span>.</p>
<p>Hasil analisis (kajian) dan dapat saya simpulkan sementara, sbb :</p>
<p>1.    Lemahnya kesadaran Shrada kita. Hasil analisis saya (mengambil sampel di beberapa daerah), mereka tidak memahami keyakinannya sendiri (filosofi). Apa makna atau hakekat keyakinan Shrada tsb. Dalam Bahasa Bhagavad Githa (BG) disebut sebagai <span style="text-decoration: underline;">The Science of being</span> (<span style="text-decoration: underline;">Ilmu Pembebasan manusia dari segala keterikatan dan kebodohan, Shrada adalah sepirit untuk bangkit, untuk bekerja keras, untuk pengabdian, mencapai kebahagian abadi untuk semua kehidupan</span>)</p>
<p>2.    Mereka juga sangat minim pengetahuannya terhadap tata kerama (etika, karma) kehidupan yang dalam bahasa BG disebut sebagai <span style="text-decoration: underline;">The art of living.</span> Hal ini bersumber karena kelemahan Shrada (point 1)</p>
<p>3.    Praktek keagamaan yang disebut dengan ritual (dengan konsep panca Yadnya) sangat marak, namun Yadnya diartikan dalam dimensi upacara saja bhakti ke YME, yang sempit tanpa makna universal (hakekat kehidupan, <span style="text-decoration: underline;">the nature of life</span>) sebagai hakekat (esensi) agama itu sebenarnya. Yadnya yang demikian tidak optimal dalam meningkatkan kualitas hidup manusia (fisikal dan spiritual) dan memelihara kelestarian alam Bali</p>
<p>4.    Ketidak seimbangan praktek Yadnya vertical (upacara, dengan cost yang berlimpah) dengan praktek Yadnya horizontal (membangun nilai – nilai kemanusiaan, membangun harkat dan martabat manusia dan seluruh kehidupan)</p>
<p>5.    Kepedulian Pemerintah Bali terhadap umat, <em>misleading</em>, tidak tepat sasaran, tidak tepat pada akar maslahnya, termasuk kepedulian terhadap umat Hindu di luar Bali.</p>
<p>6.    Konsep pembangunan (perizinan) pemerintah tidak sepenuhnya berpihak kepada orang Bali dan atau umat Hindu, terutama dalam kaitannya dengan membangun keajegan Bali. Pemerintah cenderung lebih banyak mengejar keuntungan sementara melalui peningkatan PAD, tanpa peduli akibatnya di masa depan (pembangunan hotel, resort, pemungkinan, industri, dll), dengan menggusur lahan pertanian, kawasan hutan, wilayah suci, dll. Sementara izin pembangunan tempat ibadah non- Hindhu marak.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>APA SOLUSINYA</strong></p>
<p>Saya penawarkan solusi atas berbagai permasalahan yang saya urai di atas, adalah  <span style="text-decoration: underline;">MEMBANGUN KEMBALI BUDAYA YADNYA</span> (<span style="text-decoration: underline;">Dharma</span>) di Bali, melalui 2 (dua model pendekatan terpadu dan program, sbb :</p>
<p><strong>Pendekatan Pendidikan (Education) </strong></p>
<p>1. <span style="text-decoration: underline;">Program Pendidikan Keagamaan sbb</span> :</p>
<p>1.1. Pembentukan Kader – kader Pedharma Wacana yang unggul dalam</p>
<p>jumlah dan kualitas, untuk : Menyebarluaskan pemahaman yang benar</p>
<p>tentang hakekat Veda (BG) karena :</p>
<p>(a)                       Veda dinyatakan sebagai sumber pengetahuan  kekal (<span style="text-decoration: underline;">The Eternal knowledge</span>) dan sumber spirit untuk mencapai kehidupan bahagia</p>
<p>(b)                       Veda adalah sumber  pemikiran dan dasar dari segala perbuatan benar Artinya : Pikiran dan perbuatan manusia yang benar, penuh kasih sayang, bakti, penuh ketulusan, ikhlas, siap berkorban menolong sesama, kalau bersumber dari Veda</p>
<p>(c) Veda adalah sumber utama Yadnya. Yadnya, disebut sebagai representasi paling utama dari perbuatan manusia Hindu khususnya</p>
<p>(d)                       Yadnya dan Veda merupakan dua fondasi utama yang bersifat integral dari Budaya Veda (Vedic culture). <span style="text-decoration: underline;">Budaya Bali adalah budaya Hindú atau budaya Yadnya (Dharma) yang bersumber dari Veda</span></p>
<p>(e)                       Meningkatkan pemahaman Srada yang sesungguhnya dan sebar luaskan nilai nilai keyakinan yang ada dalam Veda (BG). Dalam <span style="text-decoration: underline;">The Vedic Study</span> Studi tentang Veda, (Satyakam Varma, 1984) disebutkan sbb : “<span style="text-decoration: underline;">It’s a sacred duty of all the Vedic adherents to study and teach as well as to listen and to talk about Veda</span>” (Adalah kwajiban suci bagi setiap pengikut Veda untuk mempelajari dan mewacanakan Veda….).</p>
<p>Bagaimana kita mau menyebarkan nilai (kebenaran Brahman), kepada <span style="text-decoration: underline;">orang lain, kalau kita sendiri tidak memahami ajaran agama kita ?. </span></p>
<p>1.2. Mendirikan Pusat Studi Veda (BG) di tiap Kabupaten dan Kota di Bali, untuk :</p>
<p>(a)                       Tingkat Dasar (<span style="text-decoration: underline;">Primary</span>)</p>
<p>(b)                       Tingkat Menengah (<span style="text-decoration: underline;">Intermediate</span>)</p>
<p>(c) Tingkat Maju (<span style="text-decoration: underline;">Advance</span>)</p>
<p>Fungsinya, adalah membentuk dan menghasilkan manusia Hindhu baru pengikut Veda (<span style="text-decoration: underline;">Vedic adherent, or followers</span>) untuk semua tingkatan (umur) menuju kejayaan Hindu masa depan di Bali dan luar Bali. Kader-kader ini diharapkan dapat menjadi panutan (pikiran, perkataan dan perbuatan)</p>
<p>1.3. Me-<span style="text-decoration: underline;">review</span> dan merivitalisasi hakekat berbagai ritual dan Samskara agar</p>
<p>dapat memeri manfaat bagikehidupan manusia dan alamnya, dengan</p>
<p>mengkaji aspek :</p>
<p>(a)                       Harus bersumber dari Weda sebagai sumber pengetahuan kebenaran</p>
<p>absolute (disebut juga sebagai pengetahuan suci sehingga</p>
<p>kebenarannya tidak tergantung dari fungsi waktu dan tempat) tentang</p>
<p>ilmu kehidupan (<span style="text-decoration: underline;">The science of being</span>) dan etika kehidupan (<span style="text-decoration: underline;">The art of</span></p>
<p><span style="text-decoration: underline;">living</span>)</p>
<p>a.1. Penerapannya disesuaikan dengan adat setempat (desa kala</p>
<p>patra). Namun jangan sampai adat (alat) yang mendominasi tujuan</p>
<p>a.2. Penerapannya harus mengacu pada hakekat, bukan kehendak (nafsu), sehingga tidak menimbulkan iri dan dengki (gejolak sosial)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>2. Program Pendidikan Luar Sekolah (PLS)</p>
<p>Meningkatkan (mempercepat) Program Pemberantasan Buta Aksara sesuai dengan Inpres No.5 Tahun 2006, baik untuk (a) pendidikan Keaksaran dasar dan (b) pendidikan keaksaraan lanjut. Data menunjukkan bali masih termasuk daerah merah (penyandang Buta Aksara &gt;5%). Hal ini dapat dilakukan melalui kegiatan PKK di tingkat desa (dusun, banjar) melibatkan tokoh masyarakat dan tokoh agama. Sumber dana dan program berasal dari Dinas Pendidikan Kabupaten dan Kota.</p>
<p><strong>Pendekatan Ekonomi</strong></p>
<p><strong>1. Sasaran</strong></p>
<p>Pendekatan ekonomi masyarakat dilakukan dengan program dan sasaran yang jelas (prioritas)  yaitu :</p>
<p>(a) keluarga atau rumah tangga miskin</p>
<p>(b) keluarga berpengasilan rendah dan</p>
<p>(c) kelompok masyarakat yang paling rentan dari akibat tekanan ekonomi.</p>
<p>(the most vulnerable society)</p>
<p><strong>2. Program (Skema Pemberdayaan)</strong></p>
<p>Usaha-usaha (pemberdayaan) ini dapat dilakukan melalui program-program dan kelembagaan sbb :</p>
<p>2.1. Pengembangan Usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) ditingkat</p>
<p>Banjar</p>
<p>2.2. Meningkatkan Program Nasional pemberdayaan masyarakat (PNPM),</p>
<p>melalui kelompok – kelompok masyarakat dan lembaga pendidikan</p>
<p>(khusus Perguruan tinggi)</p>
<p>2.3. Menggalakkan usaha perkoperasian dengan sasaran keluarga miskin</p>
<p>2.4. Meningkatkan peran sektor perbankan untuk mengucurkan pendaan</p>
<p>(kridit lunak) untuk UMKM dan PNPM</p>
<p>2.5. Meningkatkan keterlibatan keluarga miskin dalam program pemberdayaan</p>
<p>kecamatan dan desa (kelurahan)</p>
<p>2.6. Meningkatkan pendidikan kewirausahaan (entrepreneurship) melalui</p>
<p>kader-kader pembangunan desa (kelurahan)</p>
<p>2.7. Pembangunan sentra – sentra ekonomi di pedesaan untuk pembangunan</p>
<p>pedesaan, mengeliminasi kemiskinan, mencegah urbanisasi.</p>
<p>2.8. dll.</p>
<p><strong>3. Pendekatan Kebijakan Pemerintah</strong></p>
<p>Pemerintah Bali (TK I dan II) seharusnya  dapat menata kehidupan masyarakat yang lebih baik, sesuai tradisi Bali (mempertahankan budaya, dan kehidupan yang lebih sejahtera. Hal ini dapatdilkukan dengan mengatur :</p>
<p>3.1. Perizinan tempat tinggal</p>
<p>3.2. Pembatasan masuknya penduduk luar Bali yang tidak memiliki tempat</p>
<p>tinggal jelas dan pekerjaan jelas, agar tidak menjadi beban pemerintah.</p>
<p>3.3. Perizinan banungan (tidak menggunakan lahan-lahan produktif dan atau</p>
<p>lingkungan yang disucikan)</p>
<p>3.4. Kerjasama dengan sektor per-bankan, agar dapat membantu sektor</p>
<p>UMKM, home industri di pedesaan yang melibatkan tenaga kerja orang-</p>
<p>orang Bali</p>
<p>3.5. Mendirikan lembaga pelatihan kewirausahaan</p>
<p>3.6. Mendirikan perbankan khusus untuk umat Hindhu, sesuai ajaran Dharma</p>
<p>3.7. dll.</p>
<p><strong>4. Pendekatan Partisipatif</strong></p>
<p>Pendekatan partisipatif, adalah keterlibatan masyarakat secara luas di tingkat desa (banjar), desa sd. Kecamatan., melibatkan tokoh formal dan informal. Masyarakat adalah pelaku (subject sekaligus object) program, sekaligus sebagai pengontol (monev) pelaksanaan serta peningkmat hasil program. Bimbingan pemerintah (dinas terkait) dan lembaga independen lain termasuk perguruan tinggi, akan menentukan arah dan keberhasilan program.</p>
<p>Perlu dibentuk suatu Forum Pemberdayaan Masyarakat (FPM) yang menyangkut berbagai aspek kehidupan di tingkat Kecamatan dan Desa. Peran pemerintah, adalah memfasilitasi kegiatan program.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">1. Catatan 2</span> :</p>
<p>1.    Betapa pentingnya pengetahuan (philosofi) dalam Veda (BG)</p>
<p>(a)    Pengetahuan ibarat sinar penerangan yang dapat mencerdaskan, menyadarkan dan mensucikan hati manusia</p>
<p>(b)    Persembahan Ilmu Pengetahuan lebih mulia dari pada persembahan materi (Baca Mantran Gayatri dan BG IV : 33)</p>
<p>(c)     Tiada sesuatu dalam dunia ini dapat menyamai Ilmu Pengetahuan (BG IV : 38)</p>
<p>(d)    Ia yang memiliki kepercayaan dan menguasai panca indrianya mencapai Ilmu Pengetahuan, setelah memiliki Ilmu Pengetahuan, dengan segera ia menemuai kedamaian abadi (BG IV : 39)</p>
<p>(e)    Orang yang memiliki Ilmu Pengetahuan menunjukkan karakter : e.1. Rendah hati (tidak sombong, angkuh, dll), e.2. Berperilaku sederhana dan e.3. Bersifat toleran.</p>
<p>(f)       Dengan demikian pelajari Veda (BG) dan pengetahuan keduniawian lainnya, sebarkan pengetahun tsb, sehingga Bali menjadi maju, sejahtera dan damai</p>
<p>2.    Pemahaman Yadnya (Dharma) yang komprehensif :</p>
<p>(a)    Dalam Satyakam Varma (1984) disebutkan bahwa <span style="text-decoration: underline;">Yadnya is a primary and foremost duty of every humanbeing for securing a good future within this life and beyond</span> (Yadnya, adalah kewajiban manusia yang utama dan pertama untuk memperoleh kebahagiaan semasa hidupnya, atau sesudah mati)</p>
<p>(b)    <span style="text-decoration: underline;">Our good or bad acts (karma) become the deciding factors for our future life and birth</span> (Baik buruk karma kita akan menentukan hidup dan kelahiran yang akan datang). Hentikanlah kebencian, keangkuhan dan kekerasan di Bali, agar Bali kedepan menjadi lebih baik</p>
<p>(c)     <span style="text-decoration: underline;">Dalam The Introduction to BG, </span>disebut bahwa : Pada setiap kehidupan melekat Dharma, yaitu : kewajiban atau pelayanan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan tsb. Jadi hakekat hidup, adalah bekerja, (berkarma) melayani. Oleh karena itu, khususnya manusia &#8212;siapapun dia : Brahmana, kesatria, wesia dan sudra), lakukanlah kewajiban dan pelayanan ini, sebaik-baiknya berdasar penetahuan Veda (BG), untuk hidup mencapai kehidupan berbahagia. Artinya : Umat harus mau dan mampu mengambil kesempatan kerja baik disektor informal, dan formal, agar tidak diambil oleh orang luar. Lakukanlah kewajibanmu sesuai hakekat kehidupan tsb.</p>
<p>(d)    Praktek agama Hindu &#8212;disebut juga sebagai budaya Veda (Vedic culture) berbasis pada :</p>
<p>d.1. Pembelajaran kitab-kitab suci sebagai sumber pengetahuan abadi</p>
<p>(hukum yang kekal, absolut)</p>
<p>d.2. Menerapkan Yadnya (berkarma, di Bali disebut etika) dalam</p>
<p>kehidupan sehari-hari yang bersumber dari pengetahuan abadi</p>
<p>tsb</p>
<p>d.3. Melaksanakan pemujaan, ritual yang berdasar pengetahaun abadi</p>
<p>Artinya : laksanakan praktek keagamaan secara proporsional</p>
<p><strong>PENUTUP</strong></p>
<p>Secara ringkas saya sampaikan, bahwa permasalahan Bali (Umat dan lingkungannya) disebabkan karena lemahnya (terbatas) pengetahuan (philosofi) sebagai sumber dari segala sumber : pemikiran dan perbuatan. Dengan meningkatkan pengetahuan akan tumbuh kesucian hati dan pikiran, meningkatnya kesadaran dan kecerdasan umat. Muaranya, adalah perbuatan yang baik (Yadnya, Dharma) dan kahirnya dicapai kebahagian hidup.</p>
<p>Integrasi pendekatan pendidikan, ekonomi dan dibarengi dengan kebijkan pemerintah yang berpihak kepada umat, serta keterlibatan masyarakat (sebagai object sekaligus sebagai subject) secara terpadu (integrated approaches) akan dapat mempertahankan Bali (umat Hindhu khususnya) dari keterpurukan dan tereliminasi dari persaingan kehidupan yang semaikin berat dimasa datang. Kesadaran dan kepedulian serta kerja keras secara tulus (sesuai ajran Dharma&#8212;melayani&#8211;) tokoh umat, pengurus PHDI, Perguruan Tinggi dan siapa saja, kepada umat Hindhu akan dapat menolong menyelamatkan Bali</p>
<p>Demikian yang dapat saya usulkan untuk bahan renungan dalam Pesamuan Agung PHDI di Bali dan Lembaga kajian strategis ajeg Bali, Kita semua mengharapkan agar Bali (umat Hindu) dapat menjadi tuan yang baik di negerinya sendiri (Home land). Semoga Bali menjadi sejahtera, bahagia dan dinamis.</p>
<p>Om Canti-Canti-Canti Om.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Penulis</span> :</p>
<p>Dr IGK Paridjata Westra, M.Agr.S., M.Agr.Sc., DVM</p>
<p>(Dosen FKH – Unair)</p>
<p>Alamat : Jl. Taman Sutorejo Timur No. 19- Surabaya</p>
<p>TLp. (031) 5933543. HP. 0818594297. E-mail : artsew@indo.net.id</p>
<p>Sumbangan Pemikirna untuk :</p>
<p>1.    Pesamuan Agung PHDI di Denpasar</p>
<p>2.    Lembaga Kajian Strategis Ajeg Bali</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://phdi-sby.org/?feed=rss2&amp;p=75</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Makna Ajaran Dharma dari Sang Hyang Aji Saraswati dalam Kehidupan Modern</title>
		<link>http://phdi-sby.org/?p=51</link>
		<comments>http://phdi-sby.org/?p=51#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 May 2010 10:11:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>I Gede Kukuh Adi Perdana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://phdi-sby.org/?p=51</guid>
		<description><![CDATA[Catur Widya Sesana Darma Wacana Hari Suci Saraswati Pura Agung Jagat Karana, Surabaya 3-1-2009 Oleh: Prof. Ir I Nyoman Sutantra MSc.<a href="http://phdi-sby.org/?p=51" class="searchmore">Read the Rest...</a><div class="clr"></div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Catur Widya Sesana</strong></p>
<p style="text-align: center;">Darma Wacana Hari Suci Saraswati</p>
<p style="text-align: center;">Pura Agung Jagat Karana, Surabaya 3-1-2009</p>
<p style="text-align: center;">Oleh: Prof. Ir I Nyoman Sutantra MSc. PhD</p>
<p style="text-align: center;">(Ketua Walaka PHDI Prov. Jatim)</p>
<p>Om Swastyastu,</p>
<p style="text-align: justify;">Mari kita bersama-sama pada Hari Saraswati yang kita sucikan ini, di Utama Mandala Pura Agung Jagat Karana yang kita sucikan memanjatkan Puja Astung Karah, Parama Astuti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa karena atas asung kerta wara nugraha Nya kita semua masih diberi kesempatan untuk ngaturang pedek bhakti, kita masih diberi kesempatan untuk hidup dengan tuntunnan ajaran Sang Hyang Aji Saraswati.</p>
<p style="text-align: justify;">Selama 210 hari kita umat Hindu telah mendapat pencerahan dan tuntunan hidup dari ajaran Sang Hyang Aji Saraswati untuk melawan segala godaan, ancaman kehidupan baik yang datang dari dalam diri dan dari luar diri kita. Tentunya sebagian dari kita dapat dengan teguh dan santun melawan segala godaan tersebut, namun juga banyak dari kita justru terjebak dan terbelenggu dari berbagai macam godaan kehidupan tersebut. Banyak yang sangat menderita akibat belenggu dari godaan tersebut namun walau hanya sedikit masih ada pula yang justru sangat menikmati godaan tersebut, yang tentunya nikmat tersebut hanya bersifat sementara. Godaan dan ancaman hidup di jaman modern ini sangat beragam dan menggiurkan yang sangat menjebak dengan segala cara menggrogoti pikiran, perkataan dan perbuatan manusia bagaikan virus ganas yang mengganggu kesehatan moral, spirituar dan material dari manusia. Hanya mereka yang masih teguh memegang jalan Dharma dengan mengikuti ajaran Sang Hyang Aji Saraswati yang akan dapat melawan godaan dan ancaman dalam kehidupan dengan cerdas, bijak dan santun untuk menuju kehidupan yang rukun, damai dan sejahtera atau Moksartham Jagadita Ya Ca Iti Dharma.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-51"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum kita membahas ajaran Dharma dari Sang Hyang Aji Saraswati secara lebih detail, mari kita bersama sama dengan jujur dan bijak melihat dan memahami secara lebih dalam apa yang telah terjadi dalam kehidupan masyarakat akibat berbagai godaan dan ancaman hidup untuk dapat menjadi pelajaran hidup kita kedepan dan untuk dapat lebih memperkuat keteguhan kita memegang ajaran Dharma. Banyak sekali yang telah terjadi yang diluar jalur ajaran Dharma yang merusak tatanan kehidupan rukun, damai dan sejahtera atau menuju kehidupan Moksartham Jagatdhita Yaca Iti Dharma. Kekerasan di Mumbai yang telah membunuh tidak kurang dari 200 orang dan melukai ratusan orang lainnya, kerusuhan di Yunani, peperangan yang terjadi di Jalur Gaza, bentrokan yang terjadi di Maluku, di Jakarta, terakhir bentrokan pemuda di Tuban dan juga ditempat lainnya, pembunuhan secara mutilasi yang banyak terjadi pada akhir-akhir ini, semua itu sangat erat kaitannya dengan godaan dan ancaman hidup dan ketidak mampuan manusia memegang teguh jalan cinta kasih, kebijakan, tanggung jawab, dan kebenaran yang merupakan 4 pokok ajaran Sang Hyang Aji Saraswati. Korupsi, perselingkuhan, narkoba, perjudian tumbuh berkembang dimasyarakat dan sangat sulit untuk diberantas. Ada guru-guru yang melakukan kekerasan kepada anak didiknya, siswa dan mahasiswa melakukan kekerasan kepada yuniornya. Yang lebih menyedihkan lagi adalah banyaknya ”video mesum” yang dilakukan oleh siswa tingkat SMP, SMA dan juga Mahasiswa beredar di masyarakat disamping banyaknya pesta minuman keras dan pesta narkoba yang dilakukan oleh pelajar, mahasiswa dan juga orang tua. Masyarakat kita telah banyak yang mabuk, dimabukan oleh godaan-godan harta, tahta dan wanita yang diluar jalan kebenaran. Niccolo Machiavelli seorang tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah kemanusiaan dari Italia pada abad 15 mengatakan bahwa, karena harta, tahta dan wanita, manusia bisa menjadi srigala sesamanya. Kemabukan sudah merambah ke segala lapisan masyarakat. Penguasa dimabukan oleh kekuasaannya sehingga dengan segala cara berusaha mempertahankan kekuasaannya, menggunakan kekuasaannya dengan segala cara untuk memperkaya diri, dan untuk kepentingan sendiri atau kelompoknya. Orang kaya telah mabuk oleh kekayaannya, mempertahankan dengan segala cara kekayaannya, menggunakan kekayaannya dengan segala cara untuk merebut kekuasaan yang akan dapat digunakan untuk mengembangkan kekayaannya. Orang yang kuat dimabukan oleh kekuatannya sehingga dia selalu menindas yang lemah untuk dapat mempertahankan kekuatannya. Orang yang merasa bebas, merdeka dimabukan oleh kebebasan, bernaung dibalik kebebasan dan kemerdekaan, eforia kebebasan melakukan segala cara seenaknya sendiri diluar etika kesantunan, melakukan pesta miras, pesta narkoba, pesta sek, membuat dan menyebarkan video mesum. Mereka semua yang terjangkit mabuk, yang telah terbelenggu oleh godaan hidup tersebut selalu pula dengan segala cara mencari pembenaran dari segala perbuatan yang telah dilakukan. Kondisi seperti itulah yang membuat kehidupan manusia di jaman modern semakin panas, makin rapuh, makin mudah tergoda, makin mudah teresonansi dan terpengaruh oleh godaan dan terbelunggu oleh kepentingan individu dan kelompok sehingga kehidupan masyarakat makin jauh dari kerukunan, kedamaian, keharmonisan, keadilan dan kesejahteraan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam menghadapi kehidupan modern seperti ini, didasari oleh kesadara dan keyakinan akan makna dan pentingnya jalan Dharma untuk menapak kehidupan, maka leluhur kita telah mengingatkan kita umat manusia melalui sebuah tembang ginada sebagai berikut.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><strong><em>Anak liu ngangwang kita;</em></strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong><em>Tuare dadi, pituturin;</em></strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong><em>Dharmane kalahang momo;</em></strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong><em>Corahe ngalahang patut;</em></strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong><em>Dahat keweh jue metingkah;</em></strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong><em>Ngudiang Cening;</em></strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong><em>Pagehang jue  ngabe Dharme.</em></strong></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Tembang tersebut telah mengingatkan kepada kita bahwa akan ada kehidupan di jaman modern, dimana banyak orang akan berlaku seenaknya sendiri tidak melihat dan memperhitungkan orang lain dan masyarakat, dan hanya memperhitungkan kepentingan diri sendiri. Dan orang semacam itu sudah tidak lagi dapat dinasehati, sudah melupakan dan tidak lagi taat kepada Catur Guru. Orang tua sebagai guru Rupake sudah tidak lagi dipercaya, dipatuhi dan dipanuti. Guru di sekolah sebagai guru Pengajian sudah tidak lagi ditiru dan digugu dan juga tidak dapat menjadi panutan dari murid-muridnya. Pemerintah sebagai guru Wisesa dengan segala perunadangan dan peraturanya dalam mengayomi rakyat juga sudah tidak lagi dipatuhi, ditaati dan mungkin juga sudah tidak lagi dapat menjamin kedamaian, keadilan dan kesejahteraan bagi masyarakat. Para Brahmana, orang suci, tokoh-tokoh agama yang di tugasi Tuhan Sang Maha Mengetahui sebagai guru Swadiaya yang menunjukan jalan kebenaran kepada umat manusia juga sudah tidak lagi dipercaya, sudah tidak lagi dapat memberi kesejukan kepada masyarakat. Dalam kondisi seperti itu, umat manusia terutama umat Hindu yang meyakini Saraswati dinasehati melalui tembang tersebut bahwa kita harus tetap berada pada jalan yang benar, tidak tergoda, tidak ikut mabuk, dan tetap tegar menuju kehidupan yang Mokshartam Jagadhita Ya Ca Iti Dharma maka kita harus tetap teguh memegang dan menjalankan 4 pokok ajaran Dharma sebagai ajaran Sang Hyang Aji Saraswati. Didalam Bagavad Gita sudah dikatakan bahwa: jika manusia tidak dapat mengendalikan diri dan pikirannya yang lari bagaikan kuda liar, maka ia akan menjadi sapi perahan dari nafsunya dari panca indrianya, manusia seperti itu akan kehilangan wiweka atau kebijaksanaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Berikut mari kita bersama-sama sebagai umat Hindu khususnya dan sebagai umat manusia secara umum, memahami dan kemudian berusaha menjalankan 4 pokok ajaran Dharma dari Sang Hyang Aji Saraswati yang disebut ajaran <strong><em>Catur Widya Sesana</em></strong>. Ajaran Sang Hyang Aji Saraswati tercakup melalui simbulisasi dan pemaknaan dari Dewi Saraswati itu sendiri. Ajaran Dharma yang pertama adalah disimbulkan dengan Dewi Saraswati sebagai simbul <strong>Guru Rupaka</strong> yang cantik molek dengan penuh cinta kasih melalui senyum yang tulus kepada semua umat manusia. Dewi Saraswati yang selalu memberikan senyum yang menyejukan kepada semua orang dan dengan kecantikan dan kelembutan sebagai seorang ibu yang selalu dapat meberi keteduhan kepada semua orang. Simbul yang pertama ini mengandung makna ”cinta kasih” yang tulus dan luhur sebagai guru dan ibu bagi semua umat manusia. Cinta kasih yang diberikan secara tulus dan luhur itulah sebagai benih dari kehidupan yang damai, rukun dan tenteram. Mereka yang tanpa cinta kasih atau memberi cinta kasih yang tidak tulus dan tidak luhur adalah sebagai benih rusaknya tatanan kehidupan masyarakat dan juga akan merendahkan martabat manusia sebagai mahluk utama ciptaan Tuhan. Karena ajaran yang pertama dari Dewi Saraswati inilah maka seorang tokoh sastra dan agama Hindu dunia yang amat terkenal, Rabindranath Tagore mengatakan dengan kata-kata indah bahwa:</p>
<blockquote><p><strong><em>Dunia diciptakan oleh sang pencipta Tuhan Yang Maha Esa adalah sebagai panggung drama kehidupan bagi umat manusia dalam menjalankan cinta kasih yang luhur secara tulus tanpa pamrih.</em></strong></p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Dalam Itihasa Maha Barata, Panca Pandawa adalah sebagai contoh yang sangat baik dalam menjalankan cinta kasih yang luhur dengan tulus. Dalam keadaan tergoda, tersiksa, tersingkirkan, terperdaya, terbuang dan tertindas sekalipun mereka Panca Pandawa tidak pernah meninggalkan kehidupan cinta kasih yang luhur dan tulus. Dengan segala cara dan kelicikannya Duryadana bersama saudaranya dan pamannya Sakuni terus berusaha menyingkirkan dan bahkan membinasakan Panca Pandawa agar mereka tidak dapat menuntut haknya terhadap kerajaan Astina Pura. Salah satu kelicikan besar dilakukan Duryadana untuk membinasakan Pandawa adalah dengan berpura-pura berbaik hati membangunkan Pendawa sebuah istana mewah, tetapi semua itu dibangun dari kardus atau dari bahan yang mudah terbakar yang tidak lain maksud licik yang tersimpan didalamnya adalah untuk membinasakan Pandawa. Pada saat pembukaan penempatan istana dalam acara penyerahan istana tersebut kepada Pandawa, Duryadana dengan niat jelek yang terselubung ia menyelenggarakan pesta di istana tersebut dengan mabuk-mabukan yang maksudkan agar pendawa mabuk dan tertidur nyenyak, pada saat itulah istannya dibakar sehingga Pendawa akan terbakar semuanya. Tetapi karena Pandawa selalu mewujudkan cinta kasih yang luhur dan selalu menjalankan Dharma maka mereka mendapat pertolongan dari pamannya patih Yudara dengan dibuatkan lubang penyelamat dibawah istana sehingga dia bisa selamat dari api. Dengan mengetahui Pandawa masih selamat, maka Duryadana terus mencari jalan untuk dapat membinasakan atau menyingkirkan Pandawa dari Astina Pura. Duryadana masih tetap tidak merasa bersalah dan selalu mencari pembenaran dari apa yang telah dilakukan yang tidak pernah diakuinya, dan tidak pernah berhenti untuk berusaha menyngkirkan Pendawa. Kelicikan berikut yang dilakukan Duryadana dengan arsitektur dan sutradaranya adalah pamanya Sakuni yaitu permainan dadu yang dilakukan secara licik yang dipersiapkan untuk mengalahkan dan menyingkirkan Pandawa dari Astina Pura. Permainan dadu tersebut agar terlihat permainannya sportif dan tidak ada rekayasa maka diadakan di istana Astina Pura dengan disaksikan raja Drestarata ayah Duryadana dan para pembesar, penasehat dan para guru istana. Disinilah terjadi peristiwa besar dalam sejarah kebudayaan dan moralitas, dimana Pandawa karena kalah main dadu yang dirancang secara licik oleh Sakuni, sesuai dengan taruhan yang telah dirancang baik oleh Sakuni, maka Pandawa harus meninggalkan Astina Pura selama 13 tahun untuk pergi ke huatan, istrinya drupadi dipermalukan dengan cara yang tidak bermoral didepan raja, pejabat, penasehat dan guru istana. Begitu besar penyiksaan, penindasan dan pelecehan moral yang merusak tatanan budaya dan moralitas yang dilakukan oleh Duryadana kepada pendawa yang selalu di ingat dalam sejarah budaya dan moralitas, namun Pundawa masih tetap teguh menjaga cinta kasih yang tulus dan luhur, tidak terpancing oleh tindakan yang emosional diluar kendali tata krama Dharma. Karena keteguhannya menjalankan cinta kasih yang luhur tesebut maka pada akhir kehidupannya setelah memenangkan perang suci yang besar melawan Kurawa (Duryadana) Pandawa dapat meninggalkan alam ini dan mendapat tempat di alam Surga. Dari ajaran cinta kasih dan pengalaman sejarah dalam Itihasa tersebut para leluhur kita umat Hindu mengingatkan kita agar selalu menjaga cinta kasih walau dalam kondisis apapun, melalui sebuah tembang sinom sebagai berikut.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><strong><em>Diastu tuara, ada ngerunguang;</em></strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong><em>Setate ngaturang miyik;</em></strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong><em>Diastu layu, ya kekutang;</em></strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong><em>Kajekjekya kaentungan;</em></strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong><em>Bungan sandat, ilang ilid;</em></strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong><em>Nanging ambunya mengalub;</em></strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong><em>Miyik nayne, menganyudang;</em></strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong><em>Tan side pacang, mamegatin;</em></strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong><em>Rasa kedaut;</em></strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong><em>Sane hilang, buin teke.</em></strong></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Tembang tersebut mengingatkan kita bahwa walaupun kita disia-sia, diremehkan dan tidak diperhatikan, namun kita harus selalu memberikan kebaikan, memberi cinta kasih yang luhur dan tulus. Walaupun kita ditinggalkan, disingkirkan dan dibuang sampai hilang tidak kelihatan, namun karma kita dengan cinta kasih yang selalu kita lakukan akan selalu teringat dihati setiap orang. Ketulusan dan keluhuran cinta kasih yang selalu kita tebarkan dalam setiap jengkal kehidupan kita akan terus melekat dalam ingatan masyarakat bagaikan wanginya bunga sandat walau bunganya tidak kelihatan namun wanginya masih terus menyebar dan tidak akan dapat dilupakan. Kehidupan yang penuh cinta kasih itulah yang membuat setiap orang akan tertarik, yang dulu membenci akan menjadi mengasihi, yang dulu meninggalkan kita akan datang mencari kita, yang dulu mencemohkan akan datang untuk menghormati. Karena kesadaran akan makna yang besar dari arti senyim dan cinta kasih dari Dewi Saraswati inilah, maka dalam mencapai kesuksesan dalam kehidupan modern para tokoh banyak yang mengatakan kata kata indah yaitu ”The Power of Smile to success” atau kekuatan dari senyum dan cinta kasih untuk menuju kesuksesan hidup.</p>
<p style="text-align: justify;">Ajaran yang kedua adalah disimbulkan oleh sebuah kotak, sebagai simbul <strong>Guru</strong> <strong>Pengajian</strong>, yang berisi lontar yang memuat ilmu pengetahuan yang di pegang oleh Dewi Saraswati. Kotak lontar tersebut  mengandung makna sebagai simbul guru Pengajian yang meberi: kecerdasan, pengetahuan, kejujuran, kesadaran dan kebijaksanaan. Ini mengandung filsafat dan konsep pendidikan yang sangat dalam, jika filsafat dan konsep ini dilupakan atau tidak diikuti maka proses pendidikan tidak akan dapat mengahasilkan sumber daya manusia yang cerdas, berpengetahuan, jujur, penuh kesadaran dan bijak. Manusia yang cerdas, berpengetahuan tapi tidak jujur dan tidak memiliki kesadaran maka tidak akan pernah bisa menjadi manusia bijak, dan manusia yang tidak bijak seperti itu akan penuh dengan kesombongan, egoisme dan arogansi. Ajaran Dewi Saraswati mengatakan bahwa proses pendidikan adalah proses membangun karakter (character building) yaitu membuat manusia menjadi jujur, sadar dan bijak dan membangun ketrampilan atau kemampuan hidup (capacity building) yaitu membuat manusia cerdas, berpengetahuan dan trampil dalam memecahkan persoalan hidup dengan santun dan bijak. Apa yang kita lihat, dengar dan rasakan dalam kehidupan adalah data yang harus diolah dengan kecerdasan dan kejujuran hingga dapat menjadi informasi yang bermakna bagi kehidupan. Jika semua data itu tidak kita olah dengan kecerdasan dan kejujuran maka ia dapat menjadi gosip yang meresahkan, menjadi asutan yang memecah belah masyarakat dan juga dapat menjadi hal yang menyakitkan atau menggoda manusia untuk berbuat dosa. Kecerdasan saja tidaklah cukup untuk mengolah data kehidupan, ia harus disertai dengan kejujuran. Kejujuranlah yang dapat membuat data menjadi suatu informasi yang bermakna. Informasi yang bermakna tersebut haruslah kemudian dipahami dan diformulasikan secara jujur dan disadari maknanya secara mendalam agar dapat menjadi ilmu pengetahuan yang bermakna yang akan dapat membantu manusia dalam menyelesaikan permasalahan kehidupan. Ilmu pengetahuan yang tidak dihasilkan dari informasi yang benar dan bermakna, serta tidak diformulasikan secara jujur dengan kesadaran dan pemahaman yang mendalam terhadap makna untuk kehidupan, maka pengetahuan tersebut akan dapat menjadi pengetahuan yang menyesatkan. Untuk dapat menyelesaikan persoalan hidup hingga dapat mewujudkan kehidupan yang rukun, damai, tenteram, makmur dan sejahtera, maka pengetahuan yang bermakna untuk kehidupan harus diterapkan secara jujur dan bijak serta dengan kesadaran yang mandalam tentang maknanya dalam kehidupan. Tanpa kejujuran, kesadaran dan kebijakan, pengetahuan atau kecerdasan akan dapat membuat orang menjadi sombong, arogan, dan egois yang dapat membahayakan tatanan kehidupan manusia. Seperti dikatakan dalam Veda:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Jika tidak dituntun dengan jalan Dharma maka kecerdasan, kekayaan (artha), dan kekuasaan (kama) adalah tiga hal utama yang dapat mendorong manusia untuk berbuat dosa.</em></strong></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Yudistira saudara paling tua dari Panca Pandawa adalah sebagai contoh nyata seseorang yang sangat memahami <em>Catur Widya Sesana</em>ajaran Sang Hyang Aji Saraswati sehingga mampu dengan konsisten memanfaatkan kecerdasan, menegakan kejujuran, kesadaran dengan penuh bijak dalam segala aspek kehidupannya. Dalam suatu saat ketika berada ditengah hutan, Yudistira sedang bersemadi adik-adiknya pergi menelusuri hutan, dan karena haus maka mereka dengan leluasa tanpa etika langsung minum air danau kecil yang ditemuinya dihutan. Ternyata air danau tersebut beracun dan keempat adik Yudistira yaitu Bima, Arjuna, Nakula dan Sahadewa meninggal. Yudistira selesai dari semadinya mengetahui adiknya tidak ada ditempat maka ia langsung mencari adiknya ternayata didapati adiknay semua meninggal, namun ia tetap dapat mengendalikan diri dari kesedihan dan kemarahan atau kekalutan. Dengan kecerdasan, kejujuran, kesadaran dan kebijakan dia berusaha memahami kenyataan atau data hidup yang sedang dihadapinya. Dia duduk bersila dengan menyatukan bayu, sabda dan idepnya dia berdoa dan menanyakan dengan penuh santun dan tulus kepada penguasa alam disekitarnya mengapa adiknya bisa meninggal. Karena keluhuran budhinya dan ketaanya dalam menapaki jalan Dharma, maka dia mendapat jawaban yaitu suara dari penguasa danau tersebut sebagai berikut, ”wahai Yudistira manusia luhur, aku sudah memperingati adikmu agar melakukan atur piuning, minta ijin dengan etis dan santun terlebih dulu sebelum meminum air danau itu tapi tidak diikuti. Adik-adikmu telah bertindak diluar etika kesantunan yang diajarkan dalam Dharma, wahai Yudistri manusia yang sangat paham tentang Dharma. Air danau tersebut sengaja diberi racun karena banyak orang-orang merusak danau ini dengan mengambil airnya tanpa aturan sehingga mengganggu tatanan kehidupan dihutan ini”. Lalu dengan santun dan penuh ketulusan Yudistira memohon agar semua dosa adiknya dibebankan pada dirinya: tuan yang bijak dan murah hati, bebankanlah semua dosa adik hamba kepada hamba dan hamba rela untuk dibunuh karena hamba tidak mampu mendidik adik-adik hamba sehingga mereka berlaku tidak etis dan tidak santun kepada tuan dan hamba mohon agar mereka diberi kesempatan untuk memperbaiki karmanya. Penguasa danau kembali menjawab, ”wahai Yudistira, sebelum aku mengabulkan permintaanmu untuk mengampuni adikmu, kau Yudistira sebagai manusia bijak harus menjawab pertanyaanku, jika kau bisa menjawab akan ku pertimbangkan permintaanmu”.  Astung karah, terima kasih tuan kata Yudistira, mudah-mudahan Tuhan memberi pencerahan hingga hamba bisa memberi jawaban yang memuaskan tuan. Pertanyaanku yang pertama kata penguasa danau adalah: bagaimana menurut kamu manusia yang dikatakan utama? Mohon ampun jika hamba salah karena keterbatasan hamba, kata Yudistira dengan santun: manusia utama menurut hamba adalah manusia yang selalu dengan tulus mengedepankan cinta kasih yang luhur, memberdayakan kecerdasannya secara jujur, penuh kesadaran dengan selalu bijak dan adil, selalu berdoa dan memanjatkan astung karah atas segala karunia yang didapat serta dengan penuh komitmen dan tanggung jawab terhadap segala karma yang dilakukan serta segala karmanya dilakukan dengan landasan kebenaran dan pemahaman yang mendalam terhadap sang diri sejati dan makna dari kehidupan dan perjalanan hidup. Yudistira kau telah menjawab pertanyaanku yang pertama dengan baik, pertanyaanku berikut adalah: apa makna dari kehidupan di dunia fana ini Yudistira? Ampun tuan: makna kehidupan bagi hamba adalah kesempatan luhur bagi manusia untuk membangun karma yang baik, niskama karma, satwika karma dengan selalu memegang teguh <em>Catur Widya Sesana </em>ajaran Sang Hyang Aji Saraswati sebagai jalan untuk kembali keasalnya yaitu Brahman. Wahai Yudistira, kau betul-betul putra dari dewi Saraswati yang telah mengajarkan jalan kehidupan untuk kembali kepada asalnya yaitu Brahman. Aku akan memenuhi permintaanmu yaitu menghidupkan kembali satu dari 4 adikmu, kau boleh memilih yang mana untuk dihidupkan kembali. Yudistira terdiam sejenak kemudian berucap dengan santun: ampun tuan hanmba mohon dihidupkan kembali adik hamba Nakula. Oh Yudistira: mengapa kau minta Nakula dan bukan Arjuna, padahal Arjuna mempunyai kekuatan yang luar biasa yang dapat membawa kemenangan jika kau nanti berperang melawan Duryadana, begitu kata penguasa danau menguji Yudistira. Ampun tuan: hamba lebih memperhatikan kehidupan yang adil yang tidak menyakiti siapapun dibandingkan memenangkan peperangan. Hamba mempunyai 2 ibu yaitu ibu Dewi Kunti dan Dewi Madrim, hamba tidak ingin salah satu beliau bersedih karena ketidak adilan. Ibu hamba Dewi Kunti sudah punya putra hidup yang melayani beliau yaitu hamba, Dewi Madrim tentu memerlukan putranya untuk dapat melayani beliau untuk itulah demi keadilan hamba mohonkan agar adik hamba Nakula dapat dihidupkan kembali. Aduuuh Yudistira kau betul-betul manusia utama, demikian sang penguasa danau yang ternyata adalah Dewa Dharma yang menyamar untuk menguji Yudistira, dan akhirnya semua adiknya dihidupkan kembali. Semua kisah itu menggambarkan kepada kita bagaimana manusia utama seperti Yudistira menghadapi cobaan dan tantangan hidupnya dengan tetap teguh memegang Dharma sehingga dapat mencapai hidup yang selalu rukun, damai dan sejahtera.</p>
<p style="text-align: justify;">Ajaran yang ketiga adalah disimbulkan oleh alat musik, sebagai simbul <strong>Guru Wisesa</strong>, yang dibawa Dewi Saraswati. Setiap alat musik jika dimainkan dengan benar suarnya akan selalu dapat menghibur, menghilangkan kesedihan dan memberikan suasana keindahan. Dan begitu juga setiap alat musik jika dimainkan dengan benar mempunyai suara unik yang berbeda yang dengan mudah dapat dibedakan antara alat musik yang satu dan yang lainya. Sifat menghibur dari alat musik tersebut mengandung  makna filsafat yang amat dalam yaitu bahwa setiap orang harus tidak mengejek, mencemoh dan mengeluh dan selalu santun, menghargai, memberi apresiasi, bersyukur, astung karah, memanjatkan doa dalam setiap aspek kehidupan atau setiap karma yang dilakukan serta pada setiap pahala dan karunia yang didapat. Makna filsafat dari perbedaan suara dari setiap alat musik adalah bahwa: setiap orang harus dengan komitmen tinggi selalu siap bertanggungjawab terhadap setiap karma yang dilakukan dengan keyakinan yang dalam terhadap hukum<strong><em>karma pala.</em></strong> Kisah Lubdaka seorang pemburu, yang setiap hari kegiatannya adalah berburu hanya untuk menyambung hidupnya dan tidak pernah mengambil sesuatu yang berlebihan dari apa yang dibutuhkan untuk hidupnya. Suatu saat Lubdaka berburu seharian penuh, namun malang nasibnya dia tidak mendapat hasil apa-apa sampai kemalaman dan ia terjebak dihutan dalam kegelapan, begitu gelap karena bulan mati namun langit cerah sehingga bintang-bintang bertebaran dilangit bagaikan penuntun perjalanan Lubdaka. Walaupun berada dan terjebak dalam kegelapan tersebut, namun Lubdaka masih tenang dan sabar serta selalu memanjatkan doa: astung karah Tuhan, telah menciptakan bintang-bintang yang dapat memberikan hamba petunjuk arah yang dapat menyelamatkan hamba dari kegelapan. Lubdaka berjalan mengikuti arah bintang-bintang dan akhirnya melihat pantulan cahaya bintang berkilau-kilau, yang ternyata itu adalah danau yang airnya begitu jernih. Kembali Lubdaka berdoa: astung karah Tuhan telah menciptakan danau yang jernih untuk dapat menghilangkan dahaga hamba yang selama sehari belum minum. Disamping danau tersebut terdapat sebatang pohon tinggi, kembali Lubdaka berdoa: astung karah Tuhan telah menciptakan pohan yang dapat mudah hamba daki untuk menyelamatkan hamba dari serangan binatang buas pada malam hari. Sampai diatas pohon dia temukan tempat yang baik untuk duduk yang aman dengan daun yang rimbun, kembali Lubdaka berdoa: astung karah Tuhan telah menciptakan tempat hamba berlindung dengan daun yang rindang untuk dapat hamba petik agar hamba tidak tertidur selalu sadar sampai pagi dan selamat dari serangan binatang buas. Begitulah kehidupan Lubdaka yang selalu berdoa, bersyukur, astung karah dalam kondisi apapun yang dihadapinya dalam kehidupan. Bertepatan pula pada malam yang gelap tersebut adalah malam dimana Dewa Siwa sedang bersemadi yang juga disebut malam Siwa (Siwa Ratri), sehingga doa-doa Lubdaka yang tulus itu sangat berkenan bagi Dewa Siwa. Karena itulah Lubdaka setelah meninggal, arwahnya langsung dijemput oleh pasukan Dewa Siwa untuk mendapatkan tempat di alam Surga atau Siwaloka. Sifat yang selalu bersyukur, astung karah, apresiasi, berdoa, bertanggung jawab, sadar hukum karma-pala dan berpikir positif terhadap kehidupan adalah merupakan intisari dari ajaran ketiga dari <em>Catur Widya Sesana.</em> Terkait dengan kekuatan dari apresiasi dari ajaran ini, Noelle C. Nelson dan Jeannine Lemare Calaba menulis sebuah buku yang laris dengan judul: ”The Power of Appreciation”, dimana dikatakan bahwa kekuatan apresiasi adalah sebagai kunci menuju kehidupan yang penuh daya. Makna filsafat lain yang terkandung dalam alat musik yang dibawa Dewi Saraswati juga meliputi bahwa: setiap orang dalam menjalani kehidupan harus selalu siap berkorban  dan bertanggungjawab secara tulus tanpa pamrih. Terkait dengan kesiapan melakukan pengorbanan yang tulus, dalam Niti Satra diungkapkan sebagai berikut.</p>
<p style="text-align: center;"><em>Korbankan kepentingan pribadi, untuk menyelamatkan keluarga;</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Korbankan kepentingan keluarga, untuk menyelamatkan desa;</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Korbankan kepentingan desa, untuk menyelamatkan wilayah;</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Korbankan kepentingan wilayah, untuk kepentingan negara;</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Korbankan semua kepentingan, untuk menyelamatkan roh.</em></p>
<p>Sloka Niti Sastra diatas menunjukan bahwa ia yang tidak siap berkorban secara tulus, atau yang tidak siap ber Yajna secara lascarya, maka ia tidak akan dapat menyelamatkan keutuhan keluarga, desa, wilayah, negara apa lagi menyelamatkan rohnya atau menyelamatkan dirinya dari perbuatan dosa.  Terkait dengan tanggungjawab, dalam Niti Sastra disebutkan sebagai berikut.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><strong><em>Setiap orang menerima pahala dari karmanya sendiri;</em></strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong><em>Seorang ibu menerima dosa yang diperbuat anak-anaknya;</em></strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong><em>Suami menerima dosa yang diperbuat oleh istrinya;</em></strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong><em>Guru menerima dosa yang diperbuat oleh muridnya;</em></strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong><em>Raja menerima dosa yang diperbuat oleh rakyatnya;</em></strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong><em>Purohita kerajaan menerima dosa yang diperbuat oleh raja.</em></strong></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Tembang diatas menggambarkan bagaimana paran dan tanggung jawab sang catur guru dalam membangun kehidupan yang penuh bijak yang bebas dari perbuatan dosa. Ibu dan suami adalah <em>Guru Rupaka </em>yang bertanggung jawab terhadap dosa anak-anaknya, mendidik anak-anaknya agar terhindar dari perbuatan dosa. Guru disini dimaksudkan sebagai <em>Guru Pengajian </em>yang bertanggung jawab terhadap dosa anak didiknya, mendidik anaknya agar berbudi pekerti baik terhindar dari perbuatan dosa. Raja dalam hal ini adalah sebagai <em>Guru Wisesa </em>yang bertanggung jawab terhadap dosa dari rakyatnya, membina dan membimbing rakyatnya agar terhindar dari perbuatan dosa. Purohito adalah sebagai <em>Guru Awadiaya </em>yang bertanggung jawab terhadap dosa para pemimpin, memberi pencerahan kepada para pemimpin agar selalu terhindar dari perbuatan dosa.</p>
<p style="text-align: justify;">Ajaran yang keempat adalah disimbulkan oleh genitri, sebagai simbul <strong>Guru Swadiaya</strong>, yang dibawa oleh oleh Dewi Saraswati yang melingkar tanpa ujung dan pangkal. Makna fislafat dari genitri tersebut adalah bahwa kehidupan adalah perjalanan sementara sang diri untuk menuju kembali kepada asalnya. Setiap orang harus secara mendalam memahami sang diri dan makna dari kehidupan serta memahami sangkan paraning dumadi. Kesadaran bahwa Atman adalah sang diri yang bersumber dari Brahman merupakan suatu hal yang wajib bagi setiap orang. Kesadaran dan pemahaman yang mendalam dari konsep ”<strong><em>Brahman Atman aekyam” dan ”Satyam Eva Jayate” </em></strong>adalah merupakan keharusan bagi setiap umat manusia. DR. Hunter D. Adam menulis puisi yang sangat menarik yang mengandung konsep kehidupan yang sangat dalam. Secara ringkas dikatakan hidup ini seperti halnya kita keluar dari rumah untuk sebuah kegiatan tertentu kemudian perjalanan untuk menuju rumah. Kalau kita tidak tahu rumah kita atau asal kita, kita tidak tahu jalan menuju rumah maka tentu kita tidak akan sampai dirumah dan kita tersesat. Empat kalimat penting dalam puisinya yang sangat menarik adalah:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><strong><em>All of life is a coming home;</em></strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong><em>All of us…all the restless hard on the world;</em></strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong><em>All try to find the way home;</em></strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong><em>You don’t even know when you are walking in the circle.</em></strong></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Genitri kalau kita ikuti butir demi butirnya maka kita akan kembali ketempat dari mana kita mulai, itulah kehidupan. Kita harus mengetahui dari mana kita berasal dan bagaimana jalan hidup yang benar untuk kembali kepada asal kita. Kemanapun, dengan jalan apapun asal jalan yang sesuai jalan Dharma, atau melingkar sesuai lingkaran genitri, maka kita akan bertemu sang diri Atman, Brahman aekyam. Sebuah kisah Dewa Ruci yaitu merupakan kisah perjuangan hidup Bima adik Yudistira yang mengikuti dengan teguh jalan Dharma, ajaran Sang Hyang Aji Saraswati, sehingga dia menemukan dirinya yang sejati yang disebut Dewa Ruci yang Dewa yang berstana pada badannya yang tidak lain adalah sang Atman. Bima dengan penuh cinta kasih, ketulusan, kejujuran, kesadaran, kebijaksanaan, astung karah, tanggung jawab berjuang melawan segala rintangan untuk mencari tirta Kamandalu di tengah samudra yang merupakan tugas dari gurunya. Kepatuhan, cinta kasihnya dan tanggung jawabnya secara tulus kepada sang guru membuat tugas berat yang penuh tantangan dapat dijalani dengan baik oleh Bima. Tantangan yang dihadapi adalah ombak yang amat dahsyat, naga yang amat besar dan ganas, namun dengan pegangan Dharma dia dapat melewati dengan baik segala rintangan dan akhirnya ketemu manusia kecil yang persis seperti dirinya. Bima bertanya siapa orang kecil yang persis seperti dirinya itu, lalu untuk mengetahui itu Bima diminta masuk ketelinga manusia kecil itu. Bima tidak percaya apa yang diminta orang kecil tersebut. Namun akhirnya Bima tersedot dengan sendirinya memasuki lubang telinga manusia kecil itu, Bima menemukan keajaiban yaitu semua yang ada di alam semesta ada juga pada diri orang kecil tersebut, Bima kemudian duduk bersemadi. Pada saat itu terdengan suara, Bima pahamilah dan sadarlah bahwa aku adalah Dewa Ruci yaitu sang Atman adalah dirimu, Aku berstana pada badan kasar yang sementara ini kau pandang sebagai dirimu, kau bukan badan kasar itu wahai putra Kunti, kau adalah Aku dan Aku adalah dirimu. Ketahuilah Bima bahwa apapun yang kau lakukan dalam hidup, apapun karmamu dalam kehidupanmu adalah usaha untuk mencapai dirimu sendiri, adalah usaha untuk kembali pada asalmu yaitu kembali kepadaku. Kau akan dapat kembali kepada Brahman ke tempat asalmu jika kau dapat menjalini Dharma dalam hidupmu, ikutilah segala ajaran Sang Hyang Aji Saraswati maka kau akan kembali kepada Brahman.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai umat Hindu kita patut memanjatkan Astung Karah kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa karena telah diciptakan Sang Hyang Aji Saraswati yang selalu menuntun manusia melalui ajarannya untuk hidup melalui jalan yang dapat membawa kita kembali kepada asalnya yaitu Brahman. Sebagai umat Hindu mari kita selalu menyembah dan mentaati ajaran Sang Hyang Aji Saraswati, seperti para leluhur kita selalu mengngatkan kita lewat sebuah tembang sinom sebagai berikut.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><strong><em>Sembah, pangubakti titiang;</em></strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong><em>Ring Ida Hyang Prama Kawi;</em></strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong><em>Sang Hyang Saraswati puja;</em></strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong><em>Sweca Ratu manyunarin;</em></strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong><em>Manah titiang miasa kerti;</em></strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong><em>Merarapan, tembang kidung;</em></strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong><em>Sat sat tekine akupak;</em></strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong><em>Yening ratu manyuwecaning;</em></strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong><em>Nunas suluh;</em></strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong><em>Manah titiang sida galang</em></strong></p>
</blockquote>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p>Om Shanti, Shanti, Shanti Om.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://phdi-sby.org/?feed=rss2&amp;p=51</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Konflik Umat Hindu, No Way !!!!</title>
		<link>http://phdi-sby.org/?p=48</link>
		<comments>http://phdi-sby.org/?p=48#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 May 2010 10:05:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>I Gede Kukuh Adi Perdana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://phdi-sby.org/?p=48</guid>
		<description><![CDATA[Om Swastiastu Mohon maaf sebelumnya atas subjeknya yang keras. Saya rasa, inilah saatnya kita umat Hindu di akar rumput untuk<a href="http://phdi-sby.org/?p=48" class="searchmore">Read the Rest...</a><div class="clr"></div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Om Swastiastu Mohon maaf sebelumnya atas subjeknya yang keras. Saya rasa, inilah saatnya kita umat Hindu di akar rumput untuk segera mengambil sikap.  Hal ini mengingat dalam pengamatan saya, beberapa oknum Pengurus Parisadha dari kedua belah pihak terlalu menuruti emosi. Padahal mereka semua adalah orang yang berpendidikan, dan dari segi usia sudah tidak bisa dibilang muda lagi.Tidakkah mereka sadar bahwa sebagian besar masyarakat hindu di akar rumput kita itu belum siap untuk mendengar perang statemen di mass media. Mungkin bagi mereka, itu hanya sebagai permainan perang kata-kata atau urat syaraf, tp tidakkah mereka sadar apa pengaruhnya bagi umat di akar rumput????</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-48"></span></p>
<p>Tidakkah mereka sadar akan ajaran Weda bahwa Pemimpin itu harus memberikan suri teladan bagi pengikutnya, dan bagi mereka yang pintar dan mempunyai keahlian itu wajib untuk membimbing yang lain di jalan dharma???? Berkacalah pada keadan sekitar. Tidakkah mereka melihat, membaca dan atau mendengar tentang berbagai konflik perpecahan di NU, PKB, PDI P atau bahkan Poso??<br />
Apakah mereka justru merasa konflik tersebut suatu trend yang harus diikuti??? Kebebasan berorganisasi dan berpendapat itu adalah Hak Asasi Manusia. Namun apakah mereka harus selalu mengutamakan hak daripada kewajiban???</p>
<p>Lihatlah bagaimana masyarakat Inggris mensikapi kalangan bangsawan atau kerajaan. Berkacalah bagaimana Nelson Mandela dan masyarakat Afrika Selatan dengan arif dan jernih menyudahi konflik akibat Apartheid di Afrika. Atau gak usah jauh-jauh mengambil contoh, lihatlah bagaimana masyarakat Jogjakarta bersikap atas kalangan Keraton yang berbeda dengan saudara-saudaranya di Solo. Atau bagaimana masyarakat ambon sekarang bersusah payah untuk bangkit dari perpecahan.</p>
<p>Saya tidak habis pikir, hanya memperebutkan pengaruh kok sampai mengorbankan umat.Bersikaplah yang jernih sesuai ajaran Weda. Mengapa tidak berkompetisi secara positif. Silahkan berlomba-lomba untuk menawarkan program atau kegiatan sehingga biarlah umat yang menilai mana yang bagus dan patut diikuti. Sayang sungguh disayang. Dengan segala embel-embel gelar kesarjanaan yang mentereng bahkan ada yang berpredikat lulusan luar negeri bersikap seperti itu. Dalam menyikapi permasalahan ini, kiranya kita mengamati dan menganalisa dengan hati nurani yang bersih. Jika kita berbicara dalam konteks diskusi, menurut hemat saya masih dalam koridor. Namun jika kita sudah mengambil sikap untuk memihak oknum-oknum tersebut, mohon kiranya dipikirkan secara matang. Buat apa kita berkelahi. Apakah kita ingin melihat Bali seperti Ambon atau Poso???  Ketika Gus Dur dan Hasyim Muzadi konflik di NU, kaum pinisepuh NU segera turun tangan tuk menjernihkan dan mendinginkan suasana. Bagaimana dengan di Hindu, kemanakah kaum pinisepuh kita itu??? Saya jadi teringat postingan Jero Mangku Sudiada, kita umat Hindu di Bali sibuk berantem, para pendatang akhirnya dengan leluasa membuat bom atau mengkonversi umat.</p>
<p>Mohon maaf jika postingan saya bernada keras karena merupakan cermin kegalauan hati saya terhadap sikap oknum-oknum ini. Semoga kita tetap bisa bersatu dengan segala perbedaan yang ada.</p>
<p>Om Awighnam Astu Namo Sidham Swaha<br />
Om Dirghayur Astu Tat Astu Astu Swaha<br />
Om Ano Badravo Kratavo Yantu Visvatah<br />
Om Shanti Shanti Shanti Om</p>
<p style="text-align: right;">Ketut Hadi</p>
<p style="text-align: right;">Source :   HDNet</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://phdi-sby.org/?feed=rss2&amp;p=48</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengapa Orang Bali Gampang Pindah Agama ?</title>
		<link>http://phdi-sby.org/?p=44</link>
		<comments>http://phdi-sby.org/?p=44#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 May 2010 09:53:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>I Gede Kukuh Adi Perdana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://phdi-sby.org/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[Diskusi tentang &#8220;Muhammad Kadek Rihardika bin Ketut Pandika&#8221; sekalipun terlihat main-main saja, sebenarnya mengandung dua pertanyaan yang cukup menarik. Mengapa<a href="http://phdi-sby.org/?p=44" class="searchmore">Read the Rest...</a><div class="clr"></div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Diskusi tentang &#8220;Muhammad Kadek Rihardika bin Ketut Pandika&#8221; sekalipun terlihat main-main saja, sebenarnya mengandung dua pertanyaan yang cukup menarik. Mengapa orang Bali relative mudah pindah agama? Dan apa yang harus dilakukan untuk mencegahnya? Sudah ada penelitian tentang orang-orang Bali yang pindah ke Kristen di Bali, dilakukan oleh Drs Nyoman Wijaya, dosen sejarah di Faksas Unud, untuk thesis S2. Penelitian ini dan hasilnya diterbitkan berupa sebuah buku tebal, dibiayai oleh sebuah Yayasan Kristen di Bali. Saya belum membaca buku tersebut. Menurut Pak Made Titib ada 7 atau 9 hal yang menyebabkan orang-orang Bali pindah ke agama Kristen. Sebab yang utama adalah masalah kemiskinan, masalah ekonomi. Sebab-sebab yang lain, adalah adat, kasta, agama (ini tidak menunjukkan urutannya) dll</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-44"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Karena buku ini berdasarkan penelitian, wawancara dengan orang-orang Bali yang sudah menjadi Kristen, apa yang disampaikan di dalamnya dapat diterima kebenarannya. Jadi benar bahwa soal pindah agama, dalam ini ke agama Kristen lebih banyak didorong oleh masalah perut. Tetapi bagimana kita menjelaskan orang-orang Bali yang berpendidikan baik, berkedudukan baik, berasal dari keluaga puri, dari griya, bahkan putra pedanda, putra pendiri Dwijendra, PGA Hindu pindah agama, umumnya ke Islam, karena ikut istri?</p>
<p>Di bawah ini saya coba mengemukakan beberapa sebab, berdasarkan pengamatan saja, karena saya tidak melakukan penelitian, misalnya wawancara dengan mereka yang pindah agama.</p>
<p><strong>Pertama, melaksanakan tanpa memikirkan.</strong></p>
<p>Orang Bali lebih banyak melaksanakan agamanya dari pada memikirkannya. Ini juga dikatakan oleh Miguel Covarrubias di dalam bukunya &#8220;Island of Bali&#8221;. Ini tidak sekedar berarti orang Bali melaksanakan berbagai ritual saja, tetapi juga di dalam tingkah laku etiknya. Be good! Do good! Dua hal inilah sebetulnya inti agama Hindu. Itulah yang dilaksanakan oleh orang Bali. Dan ini saja sebetulnya sudah cukup, asalkan kita hidup di dalam masyarakat yang homogen (Hindu). Atau di dalam masyarakat majemuk dari agama-agama Timur. Tetapi ini saja sama sekali tidak cukup bila kita hidup di dalam masyarakat heterogin, yang terdiri dari agama-agama Kristen dan Islam. Kenapa? Karena kedua agama ini merupakan agama missi yang agresif.</p>
<p><strong>Kedua, hegemoni makna keagamaan.</strong></p>
<p>Konsep dan makna keagamaan dewasa ini ditentukan oleh agama Kristen dan Islam. Ini adalah hasil dari keaktifan mereka di dalam wacana keagamaan. Mereka dapat mendiktekan definisi dan menentukan mana agama yang benar dan mana yang salah. Misalnya soal paham ketuhanan monotheisme, agama bumi vs agama langit, tentang nabi dll. Orang-orang Bali (Hindu) karena tidak memiliki pemahaman yang cukup tentang agamanya, apalagi tentang agama lain, tidak mampu berpartisipasi di dalam wacana ini. Akibatnya mereka hanya mengikuti saja apa yang didiktekan oleh agama Kristen dan Islam. Hal paling maksimal yang dapat dilakukan oleh orang Bali, adalah mematut-matut diri di depan cermin yang dipasang oleh agama lain (Kristen dan Islam). ini berarti, secara sadar atau tidak, kita mengakui bahwa agama mereka lebih tinggi,lebih bermutu dari agama kita. Kita menerima saja konsep yang didiktekan oleh Kristen dan Islam, tanpa daya kritis sama sekali. Kita mengikuti strategi &#8220;saya juga&#8221; (me too). Agama saya juga monoteis, agama saya juga punya nabi, agama saya juga agama langit.</p>
<p>Tetapi konsep yang kita terima secara formal tidak menemukan pijakan di dalam realitas. Misalnya soal monoteisme, di dalam praktek kita masih bicara tentang &#8220;Betara Pura Rawamangun&#8221; &#8220;Betara Pura Bekasi&#8221;. Betara Pura Rawamangun &#8220;lunga&#8221; ke Pura Bekasi, waktu piodalan di Bekasi. Betara pura Bekasi bersama para Ida Betara di seluruh Jabotabek &#8220;ngiring&#8221; Ida Betara Gunung Salak melasti ke Cilicing. Kemudian soal nabi. Kita sibuk mencari-cari siapa nabi Hindu.</p>
<p>Seharusnya kita mengkaji apa monoteisme itu? Bagaimana perbandingannya dengan paham ketuhanan yang lain seperti politeisme, panteisme. Betulkah monoteisme lebih unggul dari paham ketuhanan yang lain? Apa nabi itu? Bagaimana kehidupan para nabi itu, khususnya kehidupan moralnya, bila dibandingkan dengan para maharesi Hindu atau para pendiri agama-agama Timur seperti Mahavira, Buddha, Guru Nanak, Kong Hu Cu, atau dengan para maharesi baru Hindu seperti Vivekananda, Ramana, Gandhi misalnya.</p>
<p>Demikian juga tentang agama langit dan agama bumi. Kita seharusnya mempelajari apa isi dari agama-agama ini, apa keunggulan agama-agama ini? Apakah ia mengajarkan nilai-nilai yang cocok dengan kemanusiaan dewasa ini? Bagaimana dengan ajaran tentang kebencian dan kekerasan yang demikian banyak terdapat di dalam kitab suci mereka, dan juga di dalam praktek kehidupan nyata? Kita tidak mampu melakukan purwa paksa (kritik atas ajaran agama lain) karena kita tidak memiliki pengetahuan untuk itu. Dan tidak punya kemauan pula.</p>
<p>Di dalam sebuah wilayah jajahan, si terjajah, secara terang-terangan atau tersembunyi mengagumi bahkan memuja si penjajah. Fakta bahwa si pejajah dapat menjajah merupakan bukti bahwa si penjajah lebih hebat dari si terjajah. Si terjajah, secara diam-diam atau terang-terang ingin meniru si pejajah. Hal yang di bawah ini contohnya.</p>
<p><strong>Ketiga, semua agama sama saja.</strong></p>
<p>Pendapat ini biasanya berkembang di kalangan para penekun &#8220;spritiualitas&#8221; &#8211; tidak semuanya &#8211; yang kemudian diikuti oleh sebagian umat Hindu awam. Saya tidak asal menolak pandangan ini. Saya ingin ditunjukkan bukti atau argumenasi dimana samanya? Apakah ada kesamaan di antara ajaran-ajaran, doktrin-doktrin, dogma-dogma utama yang merupakan pilar dari agama-agama itu? Jawaban ini tidak pernah muncul. Jawab yang diberikan biasanya merujuk kepada &#8220;pengalaman&#8221;. Yang dimaksud disini adalah pengalaman mistis. Jawaban ini sama sekali tidak meyakinkan saya. Pengalaman ini bersifat sangat personal. Berapa banyak orang Hindu yang mau memiliki pengalaman ini? Dari yang mau berapa banyak yang mampu memperolehnya? Dari yang mengaku memperolehnya bagaimana ia dapat di verifikasi atau difalsifikasi? Dan apakah orang-orang dari agama lain juga mencari pengalaman semacam itu? Saya pikir tidak. Tugas utama dari agama-agama tersebut adalah mewujudkan perintah kitab suci atau pendirinya untuk membuat agamanya sebagai satu-satunya agama di dunia. Kita dapat menyebut ini adalah agenda imperialisme agama. Paham triumpalis ini yang menjadi daya dorong (driving force) yang melahirkan semangat dan gairah missi dan dakwah dari kedua agama tersebut. Mereka pergi ke seluruh pelosok dunia untuk mejalankan perintah agung (great commission) ini.</p>
<p>Sementara pengalaman itu pasti berharga bagi yang menginginkan dan mendapatkannya, mengatakan bahwa dengan pengalaman itu saja semua permasalahan dunia dapat diselesaikan, adalah pernyataan yang naïve dan menyesatkan. Urusan agama apalagi urusan dunia sama sekali bukan hanya soal pengalaman ini. Kita tidak dapat menyelesaikan suatu tantangan dengan sekedar lari ke dalam.</p>
<p>Dampak dari kesamenisme banyak dan serius. Di antaranya adalah, pertama tentu saja, ini mendorong atau tidak menghalangi orang Bali (Hindu) untuk pindah agama. Bila kita konsekuen dengan dalil bahwa semua agama sama, seharusnya kita tidak mempermasalahkan dan tidak perlu melakukan apapun. Kedua, pandangan ini tidak mendorong orang-orang Bali untuk mempelajari agama-agama lain. Digabung dengan yang pertama, hal ini menyebabkan kita semakin tidak mampu terlibat dalam wacana agama, tidak mampu merespon tantangan yang disampaikan oleh agama-agama yang lain, terutama yang berkaitan dengan upaya konversi mereka.</p>
<p>Sikap ini, menurut Dr Frank Gaetano Morales, membuat agama Hindu seperti cermin atau panggung kosong. Siapa saja dapat bermain di panggung itu, dengan lakonnya sendiri, dengan pemainnya sendiri, di depan para penonton Hindu atas biaya agama Hindu. Peran Hindu baru dibutuhkan, jika rombongan asing itu memerlukan satu tokoh antagonis. Tentu tidak aneh bila para penonton (yang adalah orang-orang Hindu) akan mengagumi dan memilih para pemain asing itu dari pada pemain Hindu yang hanya berperan sebagai tokoh buruk.</p>
<p>Siapakah yang akan memilih agama, yang justru mengagungkan agama-agama lain di atas dirinya sendiri? Tanya Dr Morales.</p>
<p>Di samping soal prinsip di atas, dari aspek citra, pernyataan bahwa semua agama sama saja, yang disampaikan oleh orang Hindu dalam kedudukan sebagai minoritas, dalam pandangan saya, mirip upaya orang miskin yang ingin sekali diakui saudara oleh orang kaya, yang justru terus-menerus menolak dan menghinanya. Siapakah yang ingin mengikuti suatu agama yang menumbuhkan mental terjajah?</p>
<p><strong>Keempat, kemalasan intelektual.</strong></p>
<p>Ketiga hal tersebut di atas menyebabkan kita terbuai dalam suasana aman dan nyaman. Kita bukan saja tidak mampu, tetapi juga tidak mau merespon wacana dari agama lain. Kita tidak ingin mengganggu rasa aman dan nyaman kita. Sekalipun jika rasa aman dan nyaman itu adalah palsu. Kita telah menjadi malas secara intelektual.</p>
<p>Ketika Media Hindu menerbitkan buku &#8220;Hindu Agama Terbesar di Dunia&#8221; tahun 2004, yang diselenggarakan oleh KMHDI Jakarta, yang bereaksi keras justru orang-orang Hindu (Bali) sendiri. Orang-orang dari agama lain, diam-diam saja. Ini tampak ketika acara bedah buku ini di Pura Bekasi pada awal terbitnya buku ini yang diselenggarakan oleh PHDI Bekasi dengan KMHDI Jakarta. Reaksi dari peserta demikian keras. Ada yang mempertanyakan apakah buku tidak akan menimbulkan reaksi dari pihak lain? Mengapa melakukan perbandingan semacam itu? Bahkan ada yang mengatakan saya (sebagai editor) berpandangan sempit. Mengapa tidak menulis buku yang memuat kebaikan-kebaikan semua agama?</p>
<p>Semula saya marah mendengar penyataan-pernyataan ini, bukan karena saya tidak suka dikritik, tetapi karena saya melihat semuanya itu muncul dari ketakutan. Apa yang membuat kita begitu ketakutan? Tetapi kemudian saya senang, karena saya berhasil membangunkan orang-orang Bali ini yang, terlalu lama terkantuk-kantuk dalam lamunan tentang dunia yang damai dan indah di dalam angan-angannya. Mereka memang bangun secara terkaget-kaget, seperti orang yang pantatnya tersundut bara keloping. Bukankah suasana semacam itu juga sering muncul di HDNet ini? Kita belum bisa membedakan purwa paksa dengan kebencian dan menjelek-jelekkan agama. Dan kita tidak mau belajar.</p>
<p>Demikianlah jawaban saya terhadap pertanyaan : mengapa orang Bali (relative) mudah pindah agama? Secara singkat dapat dikatakan penyebabnya adalah &#8220;kompleks rendah diri agama&#8221; (religious inferiority complex). Lalu pertanyaan kedua, bagaimana mencegah perpindahan agama yang begitu gampang itu? Masalah-masalah yang telah disebutkan oleh Nyoman Wijaya harus diselesaikan. Dan yang lebih penting kompleks rendah diri agama ini juga harus diselesaikan. Jika masalah kedua ini tidak dapat diselesaikan, penyelesaian masalah-masalah pertama tadi tidak akan ada gunanya. Banyak upaya diperlukan. Seluruh komponen masyarakat Hindu yang sadar harus mengambil tanggung jawab. Tugas Media Hindu bersama buku-buku yang diterbitkannya adalah untuk menghancurkan religious inferiority complex yang sudah kronis dan melumpuhkan ini!</p>
<p>(Seorang kawan, anggota HDNet juga, yang secara tetap tiap bulan menyumbang Rp. 1.000.000,- untuk Dana Punia Lokasamgraha (DPL), satu kali bertanya pada saya &#8220;apa yang ada dibelakang karakter Media Hindu dan buku-buku yang diterbitkannya? Apakah ada pengalaman pribadi?&#8221; Saya harap tulisan di atas menjawab pertanyaan tersebut).</p>
<p>selesai.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://phdi-sby.org/?feed=rss2&amp;p=44</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Proposal Renovasi Lingkungan Pura Agung Jagat Karana Surabaya</title>
		<link>http://phdi-sby.org/?p=41</link>
		<comments>http://phdi-sby.org/?p=41#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 May 2010 09:15:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>I Gede Kukuh Adi Perdana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://phdi-sby.org/?p=41</guid>
		<description><![CDATA[Riwayat Pura dan Permasalahannya. Pura Agung Jagat Karana dibangun mulai tahun 1968 dan mulai digunakan pada tahun 1969, merupakan Pura<a href="http://phdi-sby.org/?p=41" class="searchmore">Read the Rest...</a><div class="clr"></div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<h3><span style="color: #000000;"><strong>Riwayat Pura dan Permasalahannya.</strong></span></h3>
<p style="text-align: justify;">Pura Agung Jagat Karana dibangun mulai tahun 1968 dan mulai digunakan pada tahun 1969, merupakan Pura Khayangan Jagat untuk Umat Hindu di Kota Surabaya dan sekitarnya, yang terletak di Jalan Ikan Lumba-lumba No. 1 Surabaya (Kelurahan Perak Barat Kecamatan Krembangan Kota Surabaya) dengan luas area 7.703 m2 yang terdiri dari Mandala Utama (Jeroan), Mandala Madya (Jaba Tengah) dan Mandala Nista (Jaba Luar) dengan sarana persembahyangan berupa tempat pemujaan utama dan sarana pendukung lainnya sebagaimana Lay Out Plan terlampir, yang rata-rata umur bangunannya sudah diatas 20 tahun (tanggal 20 September 1987 diresmikan oleh Gubernur KDH Tingkat I Jawa Timur Bpk. WAHONO) dengan bahan bangunan utama adalah beton dan pasangan batu bata (campuran spesi pasir, kapur dan semen).</p>
<p style="text-align: justify;">Penataan/ Renovasi/ Pembangunan kembali Pura Agung Jagat Karana Surabaya sudah dimulai sejak tanggal 10 Maret 2003 s/d 23 Juli 2005 dengan merenovasi bangunan utamanya yaitu Padmasana lengkap dengan 2 buah Pepelik, Penglurah, Bale Pesantian/ Bale Sari dan 2 buah Apit Lawang dan  bangunan yang lainnya, akan dilaksanakan penataan/ renovasinya secara bertahap.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-41"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Untuk tahun 2009, sesuai dengan kesepakatan rapat antara Banjar Surabaya PHDI/ WHDI Kota Surabaya, Yayasan Jagat Karana, Paguyuban Punia Kerti beserta Tokoh-tokoh Umat Hindu Surabaya, disepakati untuk merenovasi beberapa bangunan di lingkungan Pura Agung Jagat Karana Surabaya,  dengan skala prioritas, pertimbangan, diantaranya di   :</p>
<h3>MANDALA UTAMA (JEROAN)  :</h3>
<blockquote><p><strong>Bale Pawedan</strong></p></blockquote>
<blockquote>
<ol>
<li>Ketinggian lantai bangunan sudah tidak sesuai dengan pelataran Padmasana sesuai aturan Asta Kosala &#8211; kosali seharusnya, minimal mendekati sama.</li>
<li>Bahan kayu yang ada dari kayu jati, seharusnya untuk Parahyangan dipakai kayu cendana, menengen, cempaka, majegau dan suren (salah satu).</li>
</ol>
</blockquote>
<blockquote><p><strong>Membangun Bale Panjang</strong></p></blockquote>
<blockquote><p><strong> Dimaksudkan, jika umat bersembahyang di siang hari lebih nyaman terhindar dari panas terik matahari danhujan.</strong></p></blockquote>
<blockquote><p><strong>Kori Agung</strong></p></blockquote>
<blockquote>
<ol>
<li>Kondisi fisik bangunan sudah mulai rapuh.</li>
<li>Ketinggian bangunan dari segi etika dan estetika, akibat beberapa kali peninggian halaman MandalaUtama berpengaruh patokan perhitungan sesuai dengan uraian Smerti Astabhumi/ Asta Kosali yangmenetapkan bilangan dengan Asta Dewata/ Astawara.</li>
</ol>
</blockquote>
<blockquote style="text-align: center;"><p><img src="http://farm3.static.flickr.com/2599/3942270189_d3131caa72.jpg" border="0" alt="" /></p></blockquote>
<blockquote style="text-align: center;"><p>Keadaan Utama Mandala saat ini.</p></blockquote>
<h3>MANDALA MADYA (JABA TENGAH)  :</h3>
<blockquote><p><strong>Beji</strong></p></blockquote>
<blockquote>
<ol>
<li>Lantai lingkungan beji sudah ambles.</li>
<li>Padmasari, besarannya harus disesuaikan akibat renovasi Padmasana.</li>
<li>Dengan perkembangan jumlah umat yang bersembahyang ukuran panjang lebar beji, kolam danpemagaran perlu penyesuaian.</li>
</ol>
</blockquote>
<blockquote><p><strong>Bale Agung dan Bale Serbaguna</strong></p></blockquote>
<blockquote>
<ol>
<li>Atap asbes motif genteng sudah mulai bocor/ retak-retak akibat usia.</li>
<li>Pemasangan plafond, listplank dan pengecatan.</li>
</ol>
</blockquote>
<h3>MANDALA NISTA<strong>(JABA LUAR)</strong> :</h3>
<blockquote><p><strong>Kantin, KM/WC, dan Tempat Ambulans</strong></p></blockquote>
<blockquote>
<ol>
<li>Bangunannya 1 (satu) lantai dijadikan 2 (dua) lantai yang difungsikan untuk kantor sekretariat bersamaantara Banjar 	    Surabaya, PHDI Jawa Timur/ Kota Surabaya dan Yayasan Jagat Karana Surabaya.</li>
</ol>
</blockquote>
<blockquote><p><strong>Pos Jaga</strong></p></blockquote>
<blockquote>
<ol>
<li>Bangunan yang ada semi permanen dijadikan permanen.</li>
</ol>
</blockquote>
<h3>Pagar Keliling pada Mandala Utama, Madya dan Nista :</h3>
<ol>
<li>Kondisi fisik pagar rata-rata sudah sangat rapuh (besi beton nampak dan sudah karatan akibat air laut termasuk spesinya sudah mengelupas dan batu batanya juga senawanan).</li>
<li>Dikawatirkan sewaktu-waktu pagar bisa roboh dan memakan korban (pagar sebelah Timur berbatasan dengan rumah tangga dan sebelah Utara berbatasan dengan sekolah/ lapangan olah raga SD, SMP dan SMA Hang Tuah Surabaya).</li>
<li>Ketinggian pagar kurang memenuhi syarat, akibat beberapa kali diadakan pengurugan areal Pura.</li>
</ol>
<blockquote style="text-align: center;"><p><img src="http://farm3.static.flickr.com/2455/3943074252_22f9a1f602.jpg" border="0" alt="" /></p></blockquote>
<blockquote style="text-align: center;"><p>Tembok Pura yang sudah direnovasi (Belakang Padmasana)</p></blockquote>
<h3>Bentuk Kegiatan yang Dilaksanakan</h3>
<p>Bentuk kegiatan dan jadwal kegiatan beserta anggarannya selengkapnya dapat anda download disini.</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://phdi-sby.org/?feed=rss2&amp;p=41</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Loka Sabha VIII PHDI dan MUSCAB IV WHDI Kota Surabaya</title>
		<link>http://phdi-sby.org/?p=39</link>
		<comments>http://phdi-sby.org/?p=39#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 May 2010 08:59:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>I Gede Kukuh Adi Perdana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://phdi-sby.org/?p=39</guid>
		<description><![CDATA[LOKA SABHA VIII PHDI DAN MUSCAB IV WHDI KOTA SURABAYA Selaku umat beragama yang patuh, marilah kita bersama-sama dengan hati<a href="http://phdi-sby.org/?p=39" class="searchmore">Read the Rest...</a><div class="clr"></div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong><br />
LOKA SABHA VIII PHDI DAN MUSCAB IV WHDI KOTA SURABAYA</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Selaku umat beragama yang patuh, marilah kita bersama-sama dengan hati yang sejuk, penuh ketulusan memanjatkan Puja Astuti, Puja Astungkara, Angayubagya ke hadapan Ida Hyang Widhi Wasa, karena atas Asung Kertha Waranugraha-Nya kita bisa berkumpul menyelenggarakan Loka Sabha PHDI VIII dan Musyawarah Cabang WHDI IV kota Surabaya pada hari ini Minggu 15 Juni 2008,dengan suasana yang penuh kebersamaan, damai dan rukun, demikian kata pembuka dari sambutan oleh Ketua Panitia Loka Sabha VIII Parisada Hindu Dharma Indonesia Kota Surabaya Prof. Ir. I Nyoman Sutantra, MSc, PhD, yang sehari-harinya adalah Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (LPPM-ITS). Ditambahkan juga oleh Prof. Nyoman Sutantra, bahwa pertemuan dan perhelatan yang dilakukan di Pura Agung Jagat Karana, jalan Lumba-lumba No 1 Surabaya ini sangat istimewa, mengandung dan menyiratkan beberapa keistimewaan, yaitu:<span id="more-39"></span></p>
<ol>
<li style="text-align: justify;">Keistimewaan yang pertama adalah kita bangsa Indonesia baru saja merayakan 100 tahun Kebangkitan Nasional, sehingga besar harapan kita bahwa pertemuan kita dijiwai oleh semangat persatuan dan kebangkitan nasional dalam wadah NKRI. Karena semangat itu jugalah maka thema dari Loka Sabha VIII PHDI kali ini adalah: ”Dengan Loka Sabha Kita Mantapkan Pemahaman dan Pengamalan Ajaran Agama Hindu untuk Kerukunan Umat. Maknanya adalah kita bersama mengajak umat Hindu dan seluruh umat manusia untuk mengamalkan ajaran Agama sebaik-baiknya untuk dapat membangun kebersamaan, kerukunan dan kedamaian seluruh umat manusia, sehingga umat manusia bisa hidup jagatdhita dan moksartham. Sedangkan thema dari Muscab WHDI IV adalah: Melalui Muscab WHDI kota Surabaya kita membangun moral dan kejayaan bangsa. Adapun makna dari tema ini adalah bahwa umat Hindu melalui peran wanitanya mengajak seluruh umat manusia untuk menjaga dan membangun moral untuk kita bisa hidup lebih bijak, lebih cerdas, lebih santun berada dijalan yang benar demi kejayaan bangsa Indonesia yang kita cintai bersama.</li>
<li style="text-align: justify;">Keistimewaan yang kedua adalah Surabaya sebagai kota domisili kita bersama, baru saja menerima penghargaan Adipura, tiga kali berturut-turut, kita ucapkan selamat dan terima kasih kepada bapak Wali Kota Surabaya atau yang mewakili yang berkenan hadir pada hari ini. Kita doakan bersama semoga Surabaya terus berkembang menjadi Cyber City yang sejahtera, aman, damai berwawasan lingkungan. Umat Hindu dengan konsep Tri Hita Karana yaitu konsep hidup yang harmonis dengan Tuhan untuk hidup lebih bermoral, harmonis sesama manusia untuk hidup lebih damai dan santun, dan harmonis dengan lingkungan untuk hidup lebih sehat dan sejahtera akan bisa berpartisipasi dan berkontribusi dalam membangun Surabaya. Dengan konsep Tri Hita Karana tersebut umat Hindu dituntun secara tulus untuk melakukan penanaman pohon bunga, pohon berbuah, pohon berumbi, dan pohon berdaun pada sepertiga pekarangan rumahnya sebagai paru-paru palemahan, sehingga sangat membantu penyerapan CO2 yang menjadi penyebab utama terjadinya <em>global warming</em>.</li>
<li style="text-align: justify;">Keistimewaan yang ketiga adalah bahwa pertemuan ini untuk pertama kalinya digabung antara Loka Sabha PHDI dan Muscab WHDI dengan penuh rasa kebersamaan dan kekeluargaan. Hal ini didukung oleh tuntunan sastra yang diyakini umat Hindu yang isinya:</li>
</ol>
<p style="padding-left: 60px;"><em>Jika ada kebajikan dihati, maka akan ada ketentraman rumah tangga;</em></p>
<p style="padding-left: 60px;"><em>Jika ada ketentraman rumah tangga, akan ada keajegan daerah;</em></p>
<p style="padding-left: 60px;"><em>Jika ada keajegan daerah, maka akan ada keajegan negara.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Kebersamaan ini menunjukan keinginan yang kuat dari umat Hindu Surabaya untuk membangun kebajikan dan membangun keluarga yang tenteram yang jagatdhita sehingga dapat berpartisipasi positif dalam membangun Surabaya dan bangsa secara ajeg.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada Loka Sabha VIII ini diundang sejumlah 113 peserta dan 107 peninjau yang terdiri dari PHDI Provinsi Jawa Timur, PHDI Kota Surabaya, wakil PHDI Kecamatan, wakil WHDI Kota, wakil Banjar Surabaya, wakil Sektor-sektor di Banjar Surabaya, wakil organisasi bernafaskan Hindu, wakil Yayasan bernafaskan Hindu, wakil generasi muda Hindu, wakil TPKH/UKKH Perguruan Tinggi di Surabaya, wakil Swastika Taruna, wakil Paguyuban bernafaskan Hindu, dan sejumlah tokoh umat Hindu Surabaya. Dalam Muscab IV WHDI kota Surabaya diundang sejumlah 100 peserta. Pada kegiatan yang dilaksanakan satu hari penuh dilakukan tiga tugas mulia umat yang sangat penting yaitu: melakukan evaluasi terhadap kegiatan keumatan yang telah diselenggarakan selama periode 2003-2008 untuk dapat dijadikan pengalaman dan pelajaran berharga bagi kita umat Hindu Surabaya; yang kedua adalah menyusun progam untuk 5 tahun kedepan sebagai kelanjutan dan perbaikan dari apa yang telah dilakukan 5 tahun sebelumnya; yang ketiga adalah memilih kepengurusan PHDI dan WHDI kota Surabaya yang dipercaya dan didukung bersama dalam menjalankan program 5 tahun kedepan. Ketiga tugas ini adalah tugas mulia, dengan kemulian yang ada dihati umat Hindu yakin tugas mulia tersebut dapat terlaksana dengan baik, penuh kerukunan dan kedamaian.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam melakukan evaluasi kegiatan kita semua sepatutnya bijak dan cerdas untuk melihat kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman baik masa kini maupun masa depan (berdasar analisa SWOT). Berdasarkan hasil evaluasi inilah kita harus juga secara bijak dan cerdas untuk menyusun program yang Spesifik atau jelas, program yang terukur (Measureable), program yang terjangkau (Achieveable), program yang Realistic untuk dikerjakan, dan program yang memiliki batasan waktu (Time), sehingga dikatakan program kedepan harus SMART. Dalam kita bersama memilih kepengurusan juga sepatutnya kita lakukan dengan penuh kebijaksanaan dan kecerdasan melalui semangat Apresiasi, Partisipasi dan Kontribusi, imbuh Prof. Nyoman Sutantra yang juga adalah Ketua Walaka PHDI Provinsi Jatim ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesuai dengan AD/ART PHDI Kota Surabaya, yang mengacu kepada AD/ART PHDI Provinsi JATIM dan PHDI Pusat, maka pada Loka Sabha VIII PHDI Kota Surabaya ini dipilih Pengurus yang terdiri dari Paruman Pandita, Paruman Walaka dan Pengurus PHDI Kota Surabaya. Sebagai Ketua Paruman Pandita terpilih Pandita Gede Anom J.K Manuaba, sedangkan Prof. Dr. Ir. I Made Arya Djoni, MSc dipilih sebagai Ketua Paruman Walaka. I Wayan Suraba SH terpilih sebagai Ketua Pengurus PHDI Kota Surabaya masa bhakti 2008-2013 secara aklamasi setelah masing-masing perwakilan Parisada Kecamatan se-kota Surabaya memberikan tanggapan atas laporan Kegiatan Kerja Pengurus Parisada masa bhakti 2003-2008 pada sesi pandangan umum acara Loka Sabha.</p>
<p style="text-align: center;">Gambar 1. Panitia Loka Sabha foto bersama Wakil Wali Kota Surabaya</p>
<p style="text-align: justify;">Pada Muscab IV Wanita Hindu Dharma Indonesia Kota Surabaya terpilih Ni Putu Murni A.S., A.Md.Kep sebagai Ketuanya. Kedua organisasi Induk Agama Hindu di Surabaya ini  juga menetapkan program kerja masing-masing selama 5 (lima) tahun yang dituangkan dalam Surat Keputusan.</p>
<p style="text-align: center;">Gambar 2. Pengurus WHDI Kota Surabaya 2008-2013</p>
<p style="text-align: justify;">Hal yang menarik yang perlu disimak dan dihayati pada acara ini adalah tidak dipergunakannya kata “Laporan Pertanggungjawaban” Pengurus PHDI, seperti yang biasa ditemui pada kegiatan suatu organisasi, melainkan laporan kegiatan-kegiatan program kerja untuk dipertanggungjawabkan. Hal ini dilakukan, karena pengurus sudah menyusun program kerja dan berusaha melakukan kegiatan pembinaan dan pelayanan Umat dengan penuh tanggung jawab dan rasa “NGAYAH dan BHAKTI” baik kepada Umat maupun kehadapan Ida Hyang Widhi Wasa,  jelas Ketua PHDI Kota Surabaya masa bhakti 2003-2008 I Made Sumerta, A.Md. Kep. Lebih jauh disampaikan oleh I Made Sumerta, bahwa hubungan antara PHDI, WHDI, Banjar Surabaya dan Yayasan Puniakerti pada masa kepengurusannya sangat harmonis. Oleh karena itu hubungan tersebut harus tetap dijaga dan ditingkatkan oleh Pengurus baru. Pada kesempatan lain Sekretaris PHDI Ir. Ketut Gotra Astika, S.Ag menyampaikan, bahwa pada masa kepengurusan tahun 2003-2008 sudah dilaksanakan pelatihan Pinandita dan Serati. Dari pelatihan tersebut 28 Pinandita tersertifikasi untuk dapat melayani umat dalam melaksanakan Yadnya. Selain itu dibentuk juga Paguyuban Pamangku/Pinandita Dharma Kriya Shanti,  yang diketui oleh Pinandita I Ketut Sudana, S.Ag.</p>
<p style="text-align: center;">Gambar 3. Pawintenan Pamangku di Pura Agung Jagat Karana Surabaya</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai penerus, I Wayan Suraba dalam kata sambutan setelah terpilih sebagai Ketua menyampaikan, bahwa dalam pembinaan dan pelayanan umat kedepan PHDI Kota Surabaya tidak mungkin bekerja sendiri, harus tetap menjalin kerjasama dengan organisasi/lembaga umat Hindu lain, seperti WHDI, Banjar Surabaya, Yayasan Jagat Karana Surabaya, Paguyuban Punia Kerti, UKKH Perguruan Tinggi dan organisasi pemuda hindu lainnya, termasuk sampradaya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada kesempatan terpisah, Ni Putu Murni ketua WHDI baru terpilih, menyatakan kepengurusannya akan diisi oleh tenaga-tenaga muda yang masih sangat segar, sehingga kegiatan organisasi yang dipimpinnya akan bisa mengikuti perkembangan umat dan organisasi wanita lainnya, khususnya organisasi wanita yang di kota Surabaya. Dalam pembinaan dan pelayanan Umat, WHDI siap bekerjasama dengan PHDI, Banjar, Yayasan Jagat Karana, Paguyuban Punia Kerti dan organisasi Hindu lainnya di Surabaya. Tidak lupa juga kami sampaikan terima kasih kepada Ibu Ni Wayan Sudiati, selaku ketua WHDI masa bhakti 2003-2008, yang telah membesarkan nama WHDI di kota Pahlawan, imbuh Bu WHDI yang baru ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Tepat pkl 19.00 Loka Sabha VIII PHDI dan Muscab IV WHDI Kota Surabaya ditutup oleh Ketua PHDI Provinsi Jatim dengan rasa syukur – Astungkara atas Asung Kertha Waranugraha Ida Hyang Widhi Wasa, bahwa pelaksanaan 2 kegiatan ini berjalan lancar, tertib, dan sukses sesuai dengan jadwal yang direncanakan. Sebelum penutupan, dilaksanakan Wisuda Samskara Pengurus PHDI dan WHDI Kota Surabaya yang baru dipimpin oleh Pandita Gede Anom J.K. Manuaba. Selanjutnya acara ditutup dengan Parama Shanti. (Batan08).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://phdi-sby.org/?feed=rss2&amp;p=39</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pernyataan Sikap KMHDI</title>
		<link>http://phdi-sby.org/?p=31</link>
		<comments>http://phdi-sby.org/?p=31#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 May 2010 04:31:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>I Gede Kukuh Adi Perdana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://phdi-sby.org/?p=31</guid>
		<description><![CDATA[PERNYATAAN SIKAP KESATUAN MAHASISWA HINDU DHARMA INDONESIA (KMHDI) TOLAK RUU PORNOGRAFI !!! Om Anobadrah Kretawoyanthu Wiswatah Merdeka…….!!! Wahai Ibu Pertiwi<a href="http://phdi-sby.org/?p=31" class="searchmore">Read the Rest...</a><div class="clr"></div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>PERNYATAAN  SIKAP<br />
KESATUAN MAHASISWA HINDU DHARMA INDONESIA<br />
(KMHDI)<br />
TOLAK RUU PORNOGRAFI !!! </strong></p>
<p>Om Anobadrah Kretawoyanthu Wiswatah<br />
Merdeka…….!!!<br />
Wahai Ibu Pertiwi Lihatlah Anak – Anak Mu Berjuang  Mempertahankan Warisanmu!!!</p>
<p>Dengan Hormat,</p>
<p>Rancangan Undang-Undang Pornografi (RUU Pornografi) kembali ramai  dibicarakan berbagai kalangan. Masyarakat Indonesia menyoroti berbagai  pasal yang dinilai diskriminatif dan cenderung mengancam keutuhan budaya  dan keanekaragaman bangsa. Ada beberapa hal yang menjadi sorotan di  dalam RUU Pornografi tersebut antara lain; definisi pornografi itu  sendiri, (pasal 1) larangan dan pembatasan,  otoriterisme lembaga  pemerintah, peranan masyarakat (Pasal 21)  yang menyatakan Masyarakat  dapat berperan serta dalam melakukan pencegahan terhadap pembuatan,  penyebarluasan, dan penggunaan pornografi. Ini artinya masyarakat dapat  berperan aktif untuk turut melakukan pencegahan bahkan penggeledahan  terhadap pihak lainnya dan kemungkinan bisa melampaui wewenang aparatur  negara. Hal tersebut memungkinkan semua orang melakukan swiping dan  kekerasan terhadap warga lainnya dengan dalih pornografi. Hingga sanksi  pidana yang terlalu menciderai batasan normal sebuah peraturan  perundang-undangan yang baik. Hampir dapat dikatakan tidak ada orang  yang menginginkan bangsa ini hancur karena pornografi. Bagaimanapun  perlu ada sebuah alat yang membendung efek pornografi itu. Namun, alat  tersebut jangan sampai menimbulkan masalah yang baru.<span id="more-31"></span></p>
<p>Draft  pertama UU APP dianggap sangat represif dan menghancurkan budaya  masyarakat, khususnya perempuan. Selain ketidakjelasan definisi, juga  telah menimbulkan multi tafsir dan beberapa pasal yang terkandung di  dalamnya dianggap mengancam keBhinekaan Bangsa ini. Kini dengan kembali  dibahas RUU Pornografi di lembaga legislatif, kami sebagai anak bangsa  merasa bertanggung jawab untuk memberikan pemikiran demi kepentingan  terbaik bangsa serta mempererat kesatuan dan persatuan demi NKRI tetap  jaya berlandaskan Pancasila, Bhineka Tunggal Ika dan UUD 1945.</p>
<p>RUU Pornografi tersebut tidak mencerminkan keanekaragaman budaya  bangsa dan ekspresi seni budaya. Bangsa Indonesia dikenal dengan  keanekaragaman budaya antara daerah dan memiliki ciri khas tersendiri  yang tidak bisa disamakan antara daerah yang satu dengan daerah lainnya.  Dalam RUU tersebut, keanekaragaman budaya tersebut akan terancam.  Pelaksanaannya tentu akan mengancam keutuhan bangsa dan negara karena  pasti akan ada kelompok tertentu yang akan memaksakan kehendak dengan  dalih menjalankan amanat undang-undang yang jelas-jelas menciderai  kebhinekaan warga negara.</p>
<p>Berdasarkan hal tersebut Pimpinan  Pusat Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (PP KMHDI) dengan tegas  menolak disahkannya RUU Pornografi, karena:</p>
<ol>
<li>KMHDI      menilai dengan  disahkan serta diberlakukannya RUU ini menjadi UU akan      menimbulkan  konflik horizontal dan membuka celah disintegrasi NKRI      mengingat  Proses pembahasan RUU Pornografi telah menyalahi prosedur dalam       tata tertib pembahasan Undang-Undang di DPR. Di mana proses konsultasi,       sosialisasi dan partisipasi publik tidak secara serius disertakan  dalam      RUU Pornografi ini.</li>
<li>RUU      Pornografi memunculkan keresahan sosial,  intervensi negara yang berlebihan      terhadap kebebasan individual   yang membuktikan bahwa negara      melanggar Hak asasi warga negara.  Makna Pasal 28 dan pasal 29 UUD 1945 yg      jadi dasar konsiderans  bermakna kebebasan, sehingga tugas negara untuk      melindunginya. Tapi  dalam RUU Pornografi malah lebih banyak aturan      melarang dengan  ancaman dibandingkan kata-kata melindungi. Ada kesalahan      spirit  dari RUU Pornografi.</li>
<li>Definisi       kata pornografi dalam RUU Pornografi ini substansinya sangat tidak  jelas      dan sangat berpotensi mengganggu kehidupan bersama di  masyarakat karena      akan mengarahkan orang pada suatu cara pandangan  moral tertentu dan      kepentingan tertentu. (lihat pasal 1, kata;  &#8220;yang dapat membangkitkan      hasrat seksual dan atau melanggar  nilai-nilai kesusilaan dalam      masyarakat&#8221;).</li>
<li>RUU      Pornografi melanggar pasal 5 huruf g UU No.  10 tahun 2004 tentang      Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Di  mana, UU yang baik adalah      peraturan yang sesuai dengan asas  kejelasan rumusan. Makna ketelanjangan      terlalu abscurd apalagi bisa  ditafsirkan oleh masyarakat sebagai alasan      melakukan pencegahan  atau main hakim sendiri atas nama penegakan hukum UU      Pornografi.  Ini rawan multitafsir, pasal-pasal nya sangat elastis.      Sementara  hukum Pidana harus memenuhi unsur-unsur secara tegas didasarkan       asas legalitas.</li>
<li>RUU       Pornografi merupakan bentuk intervensi moral warga negara oleh  negara, dan      pemaksaan standar moral salah satu kelompok kepada  semua warga negara      (penjelasan Pasal 3, yang menyangkut asas dan  tujuan). Hal tersebut      terlihat sangat jelas dalam urusan  berpakaian. Urusan berpakaian masuk      dalam Norma Kesopanan, dan  Norma Kesopanan masuk dalam budaya. Di UUD 1945      budaya berada dalam  Pasal 32 UUD 1945, namun RUU Pornografi malah masuk      domain pasal  29 yang mengatur soal Agama. Norma Agama berbeda dengan norma       Kesopanan. Kalau menggunakan Norma agama, pertanyaannya Agama manakah  yang      dipakai sebagai landasan?</li>
<li>RUU      Pornografi menimbulkan aksi sepihak  masyarakat yang akan menimbulkan      konflik horizontal (hal tersebut  dapat dilihat dalam pasal 22 RUU ini).</li>
<li>RUU      Pornografi mengancam keragaman budaya bangsa,  kebebasan berkesenian, dan      kebebasan berekspresi.</li>
<li>RUU      Pornografi mengancam kebebasan pers dan  informasi.</li>
<li>RUU      Pornografi tumpang  tindih dengan peraturan yang lain (berbicara persoalan      pornografi,  ternyata sudah diatur secara lebih detail dan menyeluruh dalam       peraturan sebelumnya yakni: KUHP, UU Perlindungan anak, UU Pers, UU       Perfilman), lantas mengapa di buat RUU lagi, dan menghabiskan uang  rakyat      untuk undang &#8211; undang yang tidak bisa mensejahterakan  rakyat.</li>
<li>Dibanding      masalah  pornografi, masih banyak masalah bangsa yang perlu mendapat       perhatian utama seperti masalah korupsi, masalah kemiskinan dan masalah       pendidikan.</li>
</ol>
<p style="text-align: left;">Dengan memperhatikan  alasan &#8211; alasan diatas dan mempertimbangkan persatuan dan kesatuan  bangsa, terjaminya Hak Asasi Warga Negara serta mempertahankan Demokrasi  di negeri ini. maka kami Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia  (KMHDI) dengan ini menolak RUU Pornografi dan Segera Hentikan Pembahasan  RUU Pornografi.</p>
<p>Satyam Eva Jayate!!</p>
<p>Om Santih,  Santih, Santih Om</p>
<p>Semoga semua mahkluk, hidup berdampingan  dengan damai dan bahagia</p>
<p style="text-align: right;">Jakarta, 21 September 2008<br />
Pimpinan Pusat KMHDI</p>
<p>I Gde Dharma Nugraha<br />
Presidium</p>
<p style="text-align: left;">Kontak Person:<br />
I Gde Dharma Nugraha –  081584052250/02133842260<br />
I.G.A. Anom Gautama A.P.  – 08179651008<br />
www.kmhdi.org<br />
presidium@kmhdi.org</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://phdi-sby.org/?feed=rss2&amp;p=31</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Daftar Paruman Sulinggih dan Paruman Walaka</title>
		<link>http://phdi-sby.org/?p=25</link>
		<comments>http://phdi-sby.org/?p=25#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 May 2010 04:22:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>I Gede Kukuh Adi Perdana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Data]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://phdi-sby.org/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[DAFTAR PARUMAN SULINGGIH &#38; PARUMAN WALAKA PERIODE 2008-2013 NO JABATAN NAMA ALAMAT TELP FLEXI HP I PARUMAN SULINGGIH 1 Ketua<a href="http://phdi-sby.org/?p=25" class="searchmore">Read the Rest...</a><div class="clr"></div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">DAFTAR PARUMAN SULINGGIH &amp; PARUMAN WALAKA PERIODE  2008-2013</p>
<table style="text-align: center; height: 609px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="498">
<tbody>
<tr height="21">
<td width="34" height="21"><strong>NO</strong></td>
<td width="274"><strong>JABATAN</strong></td>
<td width="302"><strong>NAMA</strong></td>
<td width="275"><strong>ALAMAT</strong></td>
<td width="63"><strong>TELP</strong></td>
<td width="113"><strong>FLEXI</strong></td>
<td width="129"><strong>HP</strong></td>
</tr>
<tr height="21">
<td height="21">I</td>
<td><strong>PARUMAN  SULINGGIH</strong></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
</tr>
<tr height="21">
<td height="21" align="right">1</td>
<td>Ketua</td>
<td>Pandita  Ida Gede Anom   Negara JKM.</td>
<td>Pasraman  Bila Wali  Kenjeran</td>
<td align="right">3894576</td>
<td></td>
<td>081550721133</td>
</tr>
<tr height="21">
<td height="21" align="right">2</td>
<td>Wakil Ketua</td>
<td>Jero  mangku I Nyoman   Wendhi</td>
<td>Kupang Praupan II/5A</td>
<td align="right">5616579</td>
<td></td>
<td>0317214890</td>
</tr>
<tr height="21">
<td height="21" align="right">3</td>
<td>Sekretaris</td>
<td>Jero  mangku I Ketut   Sedana S.Ag</td>
<td>JL.Ikan Mungsing   VII/54</td>
<td align="right">3544295</td>
<td></td>
<td>08123201004</td>
</tr>
<tr height="21">
<td height="21" align="right">4</td>
<td>Anggota</td>
<td>Jero  mangku I Made   Gede Samudra</td>
<td>JL.Ngagel Mulyo XII/4</td>
<td align="right">5053324</td>
<td></td>
<td>03172025882</td>
</tr>
<tr height="21">
<td height="21" align="right">5</td>
<td>Anggota</td>
<td>Jero  mangku Drs.I   Negah Mariasa M.Hum</td>
<td>JL.Aquamarin  3/24</td>
<td></td>
<td align="right">72155838</td>
<td>081550721133</td>
</tr>
<tr height="21">
<td height="21" align="right">6</td>
<td>Anggota</td>
<td>Jero  mangku I Made   Suatra</td>
<td>GriyaKebraon PRT   X/03-05</td>
<td align="right">7665406</td>
<td></td>
<td></td>
</tr>
<tr height="21">
<td height="21" align="right">7</td>
<td>Anggota</td>
<td>Jero  mangku Gusti   Nyoman Sardjana</td>
<td>Siwalan  Kerto Timur   I/94</td>
<td align="right">8436785</td>
<td></td>
<td>0816530466</td>
</tr>
<tr height="21">
<td height="21">II</td>
<td><strong>PARUMAN  WALAKA</strong></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
</tr>
<tr height="21">
<td height="21" align="right">1</td>
<td>Ketua</td>
<td>Prof.DR.Ir.I  Made   Arya Djoni</td>
<td>Perum ITS /4 Kali   kepiting</td>
<td align="right">3893211</td>
<td></td>
<td>08156209832</td>
</tr>
<tr height="21">
<td height="21" align="right">2</td>
<td>Wakil Ketua</td>
<td>Drs.Ida  Bagus   Bhayangkara MM.Ak.</td>
<td>Pumpungan V/36</td>
<td align="right">5998509</td>
<td></td>
<td>081330752756</td>
</tr>
<tr height="21">
<td height="21" align="right">3</td>
<td>Sekretaris</td>
<td>Drs.Ec.I  Dewa Ketut   Raka Ardiana MM</td>
<td>Wisma Indah B-1</td>
<td align="right">8707261</td>
<td></td>
<td></td>
</tr>
<tr height="21">
<td height="21" align="right">4</td>
<td>Anggota</td>
<td>Ir.Ketut  Ginarta</td>
<td>Perum Taman Pondok   Jati G/18</td>
<td align="right">7874708</td>
<td></td>
<td style="text-align: center;">08123032190</td>
</tr>
<tr height="21">
<td height="21" align="right">5</td>
<td>Anggota</td>
<td>Ir.Ketut  Dunia   Pd.Eng.S.Ag</td>
<td>JL.Fisika Perum ITS   C/16</td>
<td align="right">5931077</td>
<td></td>
<td>081332489262</td>
</tr>
<tr height="21">
<td height="21" align="right">6</td>
<td>Anggota</td>
<td>Drs.Nyoman  Naya   Sudjana SS.MA</td>
<td>Gunung Anyar Harapan   ZA/4</td>
<td align="right">8702987</td>
<td></td>
<td></td>
</tr>
<tr height="21">
<td height="21" align="right">7</td>
<td>Anggota</td>
<td>Dr.I  Ketut Edi   Sudiarta Sp.Og.</td>
<td>JL.Taman Bendul   Merisi Sel 33</td>
<td align="right">8493331</td>
<td></td>
<td>08123071699</td>
</tr>
<tr height="21">
<td height="21" align="right">8</td>
<td>Anggota</td>
<td>Dr.Drs.Ida  Bagus   Wirawan Msi</td>
<td>JL.Semolowaru Tengah   XVI/5</td>
<td align="right">7402087</td>
<td></td>
<td>08123152060</td>
</tr>
<tr height="21">
<td height="21" align="right">9</td>
<td>Anggota</td>
<td>I Gusti  Ketut Adnyana</td>
<td>Candi Lempung 47 B/23</td>
<td align="right">59484605</td>
<td></td>
<td>081331115857</td>
</tr>
<tr height="21">
<td height="21" align="right">10</td>
<td>Anggota</td>
<td>Dr.Ir.I  Ketut Buda   A.Msc</td>
<td>Jl.Teknik Sipil J/53</td>
<td align="right">5992484</td>
<td align="right">72126235</td>
<td>081331341715</td>
</tr>
<tr height="21">
<td height="21" align="right">11</td>
<td>Anggota</td>
<td>Anak Agung  Gede Rai   Suartika</td>
<td>Tenggumung Baru 168</td>
<td align="right">3724876</td>
<td></td>
<td>085850625557</td>
</tr>
</tbody>
</table>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://phdi-sby.org/?feed=rss2&amp;p=25</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
