<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>PHDI Surabaya</title>
	<atom:link href="http://phdi-sby.org/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://phdi-sby.org</link>
	<description>Parisada Hindu Dharma Kota Surabaya</description>
	<lastBuildDate>Wed, 07 Sep 2011 09:36:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.4</generator>
		<item>
		<title>MAKNA UNIVERSAL “OM SWASTYASTU”</title>
		<link>http://phdi-sby.org/?p=178</link>
		<comments>http://phdi-sby.org/?p=178#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Sep 2011 09:36:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Om Swastyastu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://phdi-sby.org/?p=178</guid>
		<description><![CDATA[UMAT Hindu di Indonesia, kalau saling berjumpa dengan sesamanya, umumnya mengucapkan Om Swastyastu. Salam umat ini sekarang telah menjadi salam resmi dalam sidang-sidang Dewan Perwakilan Daerah (DPD) di Jakarta. Selanjutnya perlu kita pahami bersama makna apa yang berada di balik ucapan Om Swastyastu tersebut. Umat Hindu di India umumnya mengucapkan Namaastu kalau bertemu dengan sesamanya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family: Candara; font-size: x-small;">UMAT  Hindu di Indonesia, kalau saling berjumpa dengan sesamanya, umumnya  mengucapkan Om Swastyastu. Salam umat ini sekarang telah menjadi salam  resmi dalam sidang-sidang  Dewan Perwakilan Daerah (DPD) di Jakarta.</span></p>
<p><span style="font-family: Candara; font-size: x-small;">Selanjutnya  perlu kita pahami bersama makna apa yang berada di balik ucapan Om  Swastyastu tersebut. Umat Hindu di India umumnya mengucapkan Namaastu  kalau bertemu dengan  sesamanya. Bahkan, ucapan itu dilakukan secara umum oleh masyarakat  India. Para pandita maupun pinandita dalam memanjatkan pujastawa sering  kita dengar menutup pujastawanya dengan Om naamo namah.</span></p>
<p><span style="font-family: Candara; font-size: x-small;">Inti  semua ucapan itu pada kata naama, yang dalam bahasa Sansekerta artinya  menghormat. Dalam bahasa Jawa Kuno disebut dengan sembah.</span></p>
<p><span style="font-family: Candara; font-size: x-small;">Kata  sembah dalam bahasa Jawa Kuno memiliki lima arti. Sembah berarti  menghormati, menyayangi, memohon, menyerahkan diri dan menyatukan diri.</span></p>
<p><span style="font-family: Candara; font-size: x-small;">Karena  itu, umat Hindu di Bali mengenal adanya Panca Sembah yang diuraikan  dalam lontar Panca Sembah. Dalam tradisi Hindu di Bali ada sembah ke  bhuta, ke manusa, ke pitra,  ke dewa dan Hyang Widhi.</span></p>
<p><span style="font-family: Candara; font-size: x-small;">Kalau  menyembah bhuta atau alam semesta tangan dicakupkan di pusar. Sembah  seperti itu berarti untuk mencurahkan kasih sayang kita pada alam untuk  menjaga kelestariannya.  Menyembah sesama atau pitra, mencakupkan tangan di dada. Sembah seperti  itu adalah untuk menghormati sesama manusia. Menyembah dewa tangan  dicakupkan di selaning lelata yaitu di antara kening di atas mata. Hanya  menyembah Tuhanlah tangan dikatupkan dengan  sikap anjali di atas ubun-ubun. Ini artinya hanya menyembah Tuhanlah  kita serahkan diri secara bulat dan satukan diri sepenuh hati.</span></p>
<p><span style="font-family: Candara; font-size: x-small;">Salam  Om Swastyastu yang ditampilkan dalam bahasa Sansekerta dipadukan dari  tiga kata yaitu: Om, swasti dan astu. Istilah Om ini merupakan istilah  sakral sebagai sebutan  atau seruan pada Tuhan Yang Mahaesa. Om adalah seruan yang tertua  kepada Tuhan dalam Hindu. Setelah zaman Puranalah Tuhan Yang Mahaesa itu  diseru dengan ribuan nama. Kata Om sebagai seruan suci kepada Tuhan  yang memiliki tiga fungsi kemahakuasaan Tuhan. Tiga  fungsi itu adalah, mencipta, memelihara dan mengakhiri segala  ciptaan-Nya di alam ini.</span></p>
<p><span style="font-family: Candara; font-size: x-small;">Mengucapkan Om itu artinya seruan untuk memanjatkan doa atau puja dan puji pada Tuhan.</span></p>
<p><span style="font-family: Candara; font-size: x-small;">Dalam  Bhagawad Gita kata Om ini dinyatakan sebagai simbol untuk memanjatkan  doa pada Tuhan. Karena itu mengucapkan Om dengan sepenuh hati berarti  kita memanjatkan doa  pada Tuhan yang artinya ya Tuhan.</span></p>
<p><span style="font-family: Candara; font-size: x-small;">Setelah  mengucapkan Om dilanjutkan dengan kata swasti. Dalam bahasa Sansekerta  kata swasti artinya selamat atau bahagia, sejahtera. Dari kata inilah  muncul istilah swastika,  simbol agama Hindu yang universal. Kata swastika itu bermakna sebagai  keadaan yang bahagia atau keselamatan yang langgeng sebagai tujuan  beragama Hindu. Lambang swastika itu sebagai visualisasi dari dinamika  kehidupan alam semesta yang memberikan kebahagiaan  yang langgeng.</span></p>
<p><span style="font-family: Candara; font-size: x-small;">Menurut  ajaran Hindu alam semesta ini berproses dalam tiga tahap. Pertama, alam  ini dalam keadaan tercipta yang disebut Srsti. Kedua, dalam keadaan  stabil menjadi tempat  dan sumber kehidupan yang membahagiakan. Keadaan alam yang dinamikanya  stabil memberikan kebahagiaan itulah yang disebut swastika.</span></p>
<p><span style="font-family: Candara; font-size: x-small;">Dalam  istilah swastika itu sudah tersirat suatu konsep bahwa dinamika alam  yang stabil itulah sebagai dinamika yang dapat memberikan kehidupan yang  bahagia dan langgeng.  Dinamika alam yang stabil adalah dinamika yang sesuai dengan hak  asasinya masing-masing. Ketiga, adalah alam ini akan kembali pada Sang  Pencipta. Keadaan itulah yang disebut alam ini akan pralaya atau dalam  istilah lain disebut kiamat.</span></p>
<p><span style="font-family: Candara; font-size: x-small;">Kata  astu sebagai penutup ucapan Swastyastu itu berarti semoga. Dengan  demikian Om Swastyastu berarti: Ya Tuhan semoga kami selamat. Tentu,  tidak ada manusia yang hidup  di dunia ini tidak mendambakan keselamatan atau kerahayuan di bumi ini.</span></p>
<p><span style="font-family: Candara; font-size: x-small;">Jadi,  salam Om Swastyastu itu, meskipun ia terkemas dalam bahasa Sansekerta  bahasa pengantar kitab suci Veda, makna yang terkandung di dalamnya  sangatlah universal. Pada  hakikatnya semua salam yang muncul dari komunitas berbagai agama  memiliki arti dan makna yang universal. Yang berbeda adalah kemasan  bahasanya sebagai ciri khas budayanya. Dengan Om Swastyastu itu doa  dipanjatkan untuk keselamatan semua pihak tanpa kecuali.</span></p>
<p><span style="font-family: Candara; font-size: x-small;">Salam  Om Swastyastu itu tidak memilih waktu. Ia dapat diucapkan pagi, siang,  sore dan malam. Semoga salam Om Swastyastu bertuah untuk meraih karunia  Tuhan memberikan  umat manusia keselamatan.</span></p>
<h3><strong><span style="font-family: Arial Black; color: #632423; font-size: x-small;">Om Shanti Shanti Shanti Om &#8230;</span></strong></h3>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://phdi-sby.org/?feed=rss2&#038;p=178</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KUPASAN MANTRAM- MANTRAM TRI SANDHYA</title>
		<link>http://phdi-sby.org/?p=166</link>
		<comments>http://phdi-sby.org/?p=166#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Aug 2011 12:55:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://phdi-sby.org/?p=166</guid>
		<description><![CDATA[Mantram Pertama Puja Trisandhya terdiri atas 6 mantram. Mantram pertama disebut gayatri mantram, menurut nama iramanya, yaitu gayatri. Irama-irama lain misalnya: anustup tristup canustup pragathah jagati dan sebagainya Di dalam Rg Veda III. 62. 10, kata bhur bhuvah svah tidak ada pada mantram ini. Tambahan bhur bhuvah svah itu terdapat pada Yajur Veda Putih 36. 3. Gayatri mantram [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table border="0" cellspacing="1" cellpadding="1" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td bgcolor="#CCCCCC"><strong>Mantram Pertama</strong></td>
</tr>
<tr>
<td>
<ol>
<li>Puja Trisandhya terdiri atas 6 mantram. Mantram pertama disebut <em>gayatri mantram</em>, menurut nama iramanya, yaitu gayatri. Irama-irama lain misalnya:
<ol>
<li>anustup</li>
<li>tristup</li>
<li>canustup</li>
<li>pragathah</li>
<li>jagati</li>
<li>dan sebagainya</li>
</ol>
<p>Di dalam Rg Veda III. 62. 10, kata <em>bhur bhuvah svah</em> tidak ada pada mantram ini. Tambahan <em>bhur bhuvah svah</em> itu terdapat pada Yajur Veda Putih 36. 3.</p>
<p>Gayatri mantram adalah mantram yang paling mulia di antara semua mantra. Ia adalah ibu mantram, dinyanyikan oleh semua mantra. la adalah ibu mantram, dinyanyikan oleh semua orang beragama Hindu waktu sembahyang.</p>
<p>Mengapa mantram ini yang paling mulia, ibu dari semua mantram? Inilah keterangannya:</p>
<table border="1" cellspacing="1" cellpadding="4" width="100%" bgcolor="#FFFFCC">
<tbody>
<tr>
<td><em><strong>One reason why the gayatri is considered to be the most representative prayer in the Vedas is that is capable of possesing &#8220;dhi&#8221;, higher intelligence which brings him knowledge, material and transendental. What the eye is to the body &#8220;dhi&#8221; or intelligence is to the mind</strong></em>.</p>
<p>(The Call of Vedas, p. 108-109).</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Suatu sebab mengapa gayatri dipandang dan yang mewakili segala di dalam Veda ialah karena ia adalah doa untuk daya kekuatan yang dapat dimiliki orang ialah: &#8220;dhi&#8221; yaitu kecerdasan yang tinggi yang memberikan padanya pengetahuan, materi dan kemampuan mengatasi hal-hal keduniawian. Sebagai halnya mata bagi badan, demikian “dhi” atau kecerdasan untuk pikiran.</li>
<li><strong>Wijaksara<br />
</strong>Wijaksara <em>Om</em> adalah huruf atau suku kata suci dalam agama Hindu. Biasanya tiap-tiap mantram mulai dengan huruf ini. Pada gayatri mantram <em>Om</em> adalah lambang dari semua ini, alam semesta yaitu <em>bhur loka</em>, <em>bhuvah loka</em> dan <em>svah loka</em>.</li>
</ol>
<table border="1" cellspacing="2" cellpadding="2" width="100%" bgcolor="#FFE0C1">
<tbody>
<tr>
<td width="15%"></td>
<td width="30%"></td>
<td width="51%"></td>
</tr>
<tr>
<td width="15%">Mandukya Upanisad 1</td>
<td width="30%">Aum ity etad aksaram idam sarvam, tasyopavyakhayanam, bhutam bhavad bhavisyad iti sarvam aum kara eva.</td>
<td width="51%">Aum, suku kata ini adalah semua ini. Keterangan tentang ini adalah demikian: semuanya, masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang, ini semuanya hanyalah suku kata aum. Dan apapun pula yang lain di luar tiga waktu itu, tiadalah lain hanya suku kata aum saja.</td>
</tr>
<tr>
<td width="15%">Taittiriya Upanisad. 1.8.1</td>
<td width="30%">Aum iti brahma, aum itidam sarvam, aum ity etad anukrtir ha sma va apyo sravayetyasravayanti aum iti samani gayanti, aum Somiti sastrani samsanti, aum ity adhvaryuh, pratigaram pratigrhati,, aum iti brahma prasauti, aum ity agnihotram anujanati, aum iti brahmanah pravaksyanmaha, brahmopapnavaniti brahmanaivopapnoti</td>
<td width="51%">Aum adalah Brahma. Aum adalah semua ini. Aum sesungguhnya ini adalah persetujuan. Dalam mengucapkan &#8220;lafalkan&#8221; mereka mengucapkan. Dengan Aum, mereka menyanyikan nyanyian saman. Dengan aum, som, mereka mengucapkan doa-doa. Dengan aum pendeta mengucapkan puji-puji pengantar. Dengan aum, sescorang mempersembahkan sajian-sajian pada api.Dengan aum seorang Brabmana mulai mengucapkan, &#8220;semoga saya sampai pada Brahman&#8221;; demikianlah karena ingin iapun sampai pada Brahman.</td>
</tr>
<tr>
<td width="15%">Jnanasiddhanta 18.5</td>
<td width="30%">Isana tu ma karo&#8217;bhud<br />
A madhyam mordhvam eva ca<br />
Ukaro&#8217; dhas ca<br />
Om karam iti tad viduh</td>
<td width="51%">Isana adalah suara Ma<br />
A ada di tengah-tengah<br />
Ma di bagian atas<br />
Dan suara U di bawah<br />
Kesatuannya disebut suara Om.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%" bgcolor="#999999">
<tbody>
<tr>
<td width="80%"><span style="color: #000000;"><strong>Mantram Kedua</strong></span></td>
<td width="20%" align="right"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Pada mantram ini pemuja memuja Tuhan seru sekalian alam, yang suci tak ternoda. Beliau hanya tunggal tidak ada yang kedua. Mantram ini adalah salah satu dari suatu rangkaian mantram yang panjang disebut <em>Catur Veda Sirah</em> (Empat Veda Kepala).</p>
<p><em>Catur Veda Sirah</em> ini adalah salinan Narayana Upanisad, sebuah Upanisad kecil. Di sini dinyatakan bahwa Tuhan adalah segalanya yang luput dan segala noda. Tuhan itu hanya Esa belaka.</td>
</tr>
<tr>
<td>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%" bgcolor="#999999">
<tbody>
<tr>
<td width="80%"><strong><span style="color: #000000;">Mantram Ketiga</span></strong></td>
<td width="20%" align="right"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Oleh pemuja Tuhan yang Tunggal disebut dengan banyak nama. Beliau disebut Siwa, Mahadewa, Iswara, Parameswara, Brahma, Wisnu dan Rudra. Masih banyak lagi sebutan-Nya. Di dalam kitab-kitab suci agama Hindu kila dapati sebutan beliau berpuluh-puluh banyaknya. Tuhan dipuja orang dalam berbagai-bagai perwujudan-Nya.</td>
</tr>
<tr>
<td>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%" bgcolor="#999999">
<tbody>
<tr>
<td width="80%"><strong><span style="color: #000000;">Mantram Keempat</span></strong></td>
<td width="20%" align="right"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Pemuja mengatakan dirinya serba hina serba kurang serba lemah. Hina kerjanya, hina diri pribadinya, hina lahirnya. Karena itu ia mohon kepada Tuhan untuk dilindungi dan dibersihkan dari segala noda. Tuhanlah pelindung tertinggi dan Tuhanlah melimpahkan kesucian untuk dia yang setia mengamalkan ajaran-Nya. Dalam mantram ini pemuja mengatakan pengakuannya bahwa ia adalah mahluk yang lemah.</td>
</tr>
<tr>
<td>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%" bgcolor="#999999">
<tbody>
<tr>
<td width="80%"><strong>Mantram Kelima</strong></td>
<td width="20%" align="right"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Pemuja mohon ampun kepada Tuhan, penyelamat semua makhluk. Ia mohon dibebaskan dari semua papa, semua kehinaan dan dosa. Ia mohon untuk dijaga, karena beliaulah penjaga semua makhluk di manapun dan kapanpun juga. Tuhan adalah kuasa tertinggi atas segala yang ada ini.</td>
</tr>
<tr>
<td>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%" bgcolor="#999999">
<tbody>
<tr>
<td width="80%"><strong><span style="color: #000000;">Mantram Keenam</span></strong></td>
<td width="20%" align="right"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Apa saja dosa anggota badan, apa saja dosa kata-kata dan apa saja dosa pikiran, pemuja memohon kepada Tuhan untuk diampuni. Manusia tidak dapat bebas dari dosa karena ia diselubungi oleh khilaf dan lalai. Bila seseorang dapat membersihkan diri dengan amal kebajikan maka kabut kekhilafan yang menyelubungi sang Pribadi akan menipis dan akan memancarkan cahaya kesucian dari Sang Pribadi yang mengantar seseorang ke alam kesadaran. Atas dasar ini kelepasan akan lebih mudah diperoleh.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>Sumber : <a href="http://www.babadbali.com/canangsari/trisandhya-kupasan.htm" target="_blank">Babad Bali</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://phdi-sby.org/?feed=rss2&#038;p=166</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TRI SANDHYA</title>
		<link>http://phdi-sby.org/?p=160</link>
		<comments>http://phdi-sby.org/?p=160#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Aug 2011 12:48:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Persembhyangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://phdi-sby.org/?p=160</guid>
		<description><![CDATA[Pemujaan kepada Tuhan dapat dilaksanakan dengan banyak cara. Salah satu di antaranya ialah dengan bersembahyang tiap hari. Kita yang beragama Hindu bersembahyang tiga kali sehari, pagi, siang dan malam hari. Sembahyang demikian disebut sembahyang Trisandhya. Mantram yang dipakaipun disebut mantram Trisandhya. Mantram ini ditulis dalam bahasa Sansekerta, bahasa orang Hindu jaman dahulu. Kita boleh bersembahyang dengan duduk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pemujaan kepada Tuhan dapat dilaksanakan dengan banyak cara. Salah satu di antaranya ialah dengan bersembahyang tiap hari. Kita yang beragama Hindu bersembahyang tiga kali sehari, pagi, siang dan malam hari. Sembahyang demikian disebut sembahyang <em>Trisandhya</em>. Mantram yang dipakaipun disebut mantram <em>Trisandhya</em>.</p>
<p>Mantram ini ditulis dalam bahasa Sansekerta, bahasa orang Hindu jaman dahulu. Kita boleh bersembahyang dengan duduk bersila, duduk bersimpuh atau berdiri tegak sesuai dengan tempat yang tersedia. Sikap duduk bersila disebut <em>padmasana</em>. Sikap duduk bersimpuh disebut <em>bajrasana</em> dan yang berdiri disebut <em>padasana</em>.</p>
<p>Setelah sikap badan itu baik, dilanjutkan dengan <em>pranayama</em>. <em>Pranayama</em> artinya mengatur jalannya nafas. Gunanya: untuk menenangkan pikiran dan mendiamkan badan mengikuti jalannya pikiran, bila pikiran dan badan sudah tenang maka barulah mulai bersembahyang.</p>
<p>Sikap tangan waktu bersernbahyang disebut sikap <em>amusti</em>. Mata memandang ujung hidung dan pikiran ditujukan kepada Sanghyang Widhi. Dalam keadaan seperti itu, <em>sabda</em>, <em>bayu</em>, <em>idep</em> harus dalam keadaan seimbang.</p>
<p>Sebelum mengucapkan mantram, kedua tangan kita bersihkan dengan mantram demikian:</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Tangan Kanan</strong></p>
<p style="text-align: center;">
<table id="wp-table-reloaded-id-8-no-1" class="wp-table-reloaded wp-table-reloaded-id-8">
<thead>
	<tr class="row-1 odd">
		<th class="column-1">MANTRA</th><th class="column-2">ARTI</th>
	</tr>
</thead>
<tbody>
	<tr class="row-2 even">
		<td class="column-1">Om suddha mam svaha</td><td class="column-2">Om bersihkanlah hamba</td>
	</tr>
</tbody>
</table>
</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Tangan Kiri</strong></p>
<p style="text-align: center;">
<table id="wp-table-reloaded-id-9-no-1" class="wp-table-reloaded wp-table-reloaded-id-9">
<thead>
	<tr class="row-1 odd">
		<th class="column-1">MANTRA</th><th class="column-2">ARTI</th>
	</tr>
</thead>
<tbody>
	<tr class="row-2 even">
		<td class="column-1">Om ati suddha mam svaha</td><td class="column-2">Om lebih bersihkanlah hamba. </td>
	</tr>
</tbody>
</table>
</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Mantra Trisandhya</strong></p>
<p style="text-align: center;">
<table id="wp-table-reloaded-id-10-no-1" class="wp-table-reloaded wp-table-reloaded-id-10">
<thead>
	<tr class="row-1 odd">
		<th class="column-1">No</th><th class="column-2">MANTRA</th><th class="column-3">ARTI</th>
	</tr>
</thead>
<tbody class="row-hover">
	<tr class="row-2 even">
		<td class="column-1">1</td><td class="column-2">Om bhur bhuvah svah<br />
tat savitur varenyam<br />
bhargo devasya dhimahi<br />
dhiyo yo nah pracodayat</td><td class="column-3">Om adalah bhur bhuvah svah<br />
Kita memusatkan pikiran pada kecemerlangan dan kemuliaan Sanghyang Widhi, Semoga Ia berikan semangat pikiran kita</td>
	</tr>
	<tr class="row-3 odd">
		<td class="column-1">2</td><td class="column-2">Om Narayana evedwam sarvam<br />
yad bhutam yac ca bhavyam<br />
niskalanko niranjano<br />
nirvikalpo nirakhyatah<br />
suddho deva eko<br />
narayana na dvitiyo<br />
asti kascit.</td><td class="column-3">Om Narayana adalah semua ini apa yang telah ada dan apa yang akan ada, bebas dari noda, bebas dari kotoran, bebas dari perubahan tak dapat digambarkan, sucilah dewa narayana, Ia hanya satu tidak ada yang kedua</td>
	</tr>
	<tr class="row-4 even">
		<td class="column-1">3</td><td class="column-2">Om tvam siwah tvam mahadevah<br />
Iswarah paramesvarah<br />
brahma visnusca rudrasca<br />
purusah parikirtitah</td><td class="column-3">Om Engkau dipanggil Siwa, Mahadewa, Iswara, Parameswara, Brahma, Wisnu, Rudra, dan Purusa</td>
	</tr>
	<tr class="row-5 odd">
		<td class="column-1">4</td><td class="column-2">Om papo'ham papakarmaham<br />
papatma papasambhavah<br />
trahi mam pundarikaksa<br />
sabahyabhyantarah sucih</td><td class="column-3">Om hamba ini papa, perbuatan hamba papa, diri hamba papa, kelahiran hamba papa, lindungilah hamba Sanghyang Widhi, sucikanlan jiwa dan raga hamba</td>
	</tr>
	<tr class="row-6 even">
		<td class="column-1">5</td><td class="column-2">Om ksamasva mam mahadeva<br />
sarvaprani hitankara<br />
mam moca sarva papebhyah<br />
palayasva sada siva</td><td class="column-3">Om ampunilah hamba Sanghyang Widhi, yang memberikan keselamatan kepada semua makhluk, bebaskanlah hamba dari segala dosa, lindungilah oh Sang Hyang Widhi</td>
	</tr>
	<tr class="row-7 odd">
		<td class="column-1">6</td><td class="column-2">Om ksantavyah kayiko dosah<br />
ksantavyo. vaciko mama<br />
ksantavyo manaso dosah<br />
tat pramadat ksamasva mam</td><td class="column-3">Om ampunilah dosa anggota badan hamba, ampunilah dosa perkataan hamba, ampunilah dosa pikiran hamba, ampunilah hamba dari kelalaian hamba.</td>
	</tr>
	<tr class="row-8 even">
		<td class="column-1">7</td><td class="column-2">Om Santih, Santih, Santih Om.</td><td class="column-3">Om. damai. damai, damai, Om.</td>
	</tr>
</tbody>
</table>
</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: left;">Ingin mengetahui lebih detail mengenai maksud dari masing-masing bab dalam Tri Sandya ? Silahkan kunjungi halaman <strong><a href="http://phdi-sby.org/?p=166" target="_blank">KUPASAN MANTRAM- MANTRAM TRI SANDHYA.</a></strong></p>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;"><strong>Sumber : <a href="http://www.babadbali.com/canangsari/trisandhya-utuh.htm" target="_blank">Babad Bali</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://phdi-sby.org/?feed=rss2&#038;p=160</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Doa / Mantra Sehari &#8211; hari</title>
		<link>http://phdi-sby.org/?p=155</link>
		<comments>http://phdi-sby.org/?p=155#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Aug 2011 12:28:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Persembhyangan]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Mantram Sehari - hari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://phdi-sby.org/?p=155</guid>
		<description><![CDATA[Sumber : Babad Bali]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<span class="wp-table-reloaded-table-description-id-7 wp-table-reloaded-table-description">Daftar mantra - mantra yang digunakan sesuai dengan waktunya. </span>

<table id="wp-table-reloaded-id-7-no-1" class="wp-table-reloaded wp-table-reloaded-id-7">
<thead>
	<tr class="row-1 odd">
		<th class="column-1">Fungsi</th><th class="column-2">Mantra</th><th class="column-3">Terjemahan</th>
	</tr>
</thead>
<tbody class="row-hover">
	<tr class="row-2 even">
		<td class="column-1">Pada waktu bangun pagi</td><td class="column-2">Om, Utedanim bhagavantah syamota prapitva uta madhye ahnam, utodinau madhvantan tsuryasya vayam devanam sumantausyama.(Atharva Veda III.16.4)</td><td class="column-3">"Ya Tuhan Yang Maha Pemurah! Jadikanlah kami selalu bernasib baik pada pagi hari ini, menjelang tengah hari, apalagi matahari tepat di tengah-tengah dan seterusnya. Semoga para Dewa berkenaan menganugharkan rakhmat-Nya kepada kami".</td>
	</tr>
	<tr class="row-3 odd">
		<td class="column-1">Menggosok gigi	</td><td class="column-2">Om Cri Dewi Bhatrimsa Yogini namah</td><td class="column-3">Om, sujud pada (sakti-Mu) Cri Dewi Bhatrimsa (dan) Yogini.<br />
</td>
	</tr>
	<tr class="row-4 even">
		<td class="column-1">Membersihkan mulut</td><td class="column-2">Om Um Phat astraya namah.</td><td class="column-3">Om, sujud kepada Um, astra Phat (itu).</td>
	</tr>
	<tr class="row-5 odd">
		<td class="column-1">Mencuci muka</td><td class="column-2">Om Um Waktra Paricuddha mam swaha.</td><td class="column-3">Om, Om (dewi) membersihkan muka hamba.</td>
	</tr>
	<tr class="row-6 even">
		<td class="column-1">Pada waktu mandi</td><td class="column-2">Om, Gangga-Amrta-Sarira Cuddha Mam Swaha.</td><td class="column-3">Om, Amrta dari Gangga, membuat badan hamba suci.</td>
	</tr>
	<tr class="row-7 odd">
		<td class="column-1">Pada waktu berpakaian</td><td class="column-2">Kaupina Brahma-Samyuktah, mekhala Wisnu-Samsmrtah Antarwasewaro dewah, bandham astu Sada Ciwa.</td><td class="column-3">Penutup berpakaian adalah Brahma, pengikat pinggang (adalah) Wisnu, penutup tubuh (oleh) Iswara (dan) Sada Ciwa pengikat semuanya.<br />
</td>
	</tr>
	<tr class="row-8 even">
		<td class="column-1">Pada waktu menjelang makan</td><td class="column-2">Om Hiranyagarbhah samavartatagre bhutasya jatah patikreka asit, sa dadhara prithivim dyam utema kasmai devaya havisa vidhema.</td><td class="column-3">Ya Tuhan Yang Maha Pengasih! Engkau asal alam semesta dan satu-satunya kekuatan awal, Engkau yang memelihara semua mahluk, seluruh bumi dan langit. Kami memuja Engkau.</td>
	</tr>
	<tr class="row-9 odd">
		<td class="column-1">Pada waktu sesudah makan</td><td class="column-2">Om Purnamadah purnamidam Purnat murnam adaya purnasya purnam adaya purnam evavasisyate.</td><td class="column-3">Ya Tuhan Yang Maha Sempurna! Yang membuat alam sempurna. Alam ini akan lenyap dalam kesempurnaanMu. Engkau adalah kekal. Kami mendapat makanan yang cukup dan atas anugrah-Mu kami menghaturkan terima kasih.</td>
	</tr>
	<tr class="row-10 even">
		<td class="column-1">Sebelum memulai pekerjaan atau kegiatan</td><td class="column-2">Om Avighnam astu namasiddham.</td><td class="column-3">Ya Tuhan semoga tiada halngan dan berhasil.</td>
	</tr>
	<tr class="row-11 odd">
		<td class="column-1">Memohon perlindungan</td><td class="column-2">Om Apasyam gopam anipadyamanam a ca para ca prthibhih carantam sa sadhricih sa visucir vasana.</td><td class="column-3">Ya Tuhan! hamba memandang Engkau Maha Pelindung, yang terus bergerak tanpa berhenti, maju dan mundur di atas bumi. Ia yang mengenakan hiasan yang serba meriah, muncul dan mengembara terus bersama bumi ini.</td>
	</tr>
	<tr class="row-12 even">
		<td class="column-1">Mohon kebenaran (jalan yang benar)</td><td class="column-2">Om A visvadevam satpatim suktai adya vrnimahe stayasavam sawitaram.</td><td class="column-3">Ya Tuhan Yang Maha Agung! dengan kidung kami memujaMu, Tuhan sumber kebaikan! Engkau Maha Cemerlang yang memiliki takdir yang maha benar.</td>
	</tr>
	<tr class="row-13 odd">
		<td class="column-1">Salam Penganjali<br />
(salam penghormatan) </td><td class="column-2">Om Svastyastu.</td><td class="column-3">Semoga selalu ada dalam keadaan baik (selamat) atas karunia Tuhan (Hyang Widhi Wasa).</td>
	</tr>
	<tr class="row-14 even">
		<td class="column-1">Salam Penganjali<br />
(salam penghormatan) </td><td class="column-2">Om santhi, Santhi, Santhi, Om.</td><td class="column-3">Semoga damai, damai di dunia, damai di akhirat dan damai selalu.<br />
</td>
	</tr>
	<tr class="row-15 odd">
		<td class="column-1">Doa Menjelang makan	</td><td class="column-2">Om Ang kang kasol kaya isana ya namah, svasti-svasti sarva deva bhuta sukha, pradhana purusa sang yoga ya namah.</td><td class="column-3">Ya Hyang Widhi, yang bergelar Isana, hamba persembahkan seluruh makanan ini kehadapan-Mu, semoga semua makhluk berbahagia.<br />
</td>
	</tr>
	<tr class="row-16 even">
		<td class="column-1">Doa Mulai Makan	</td><td class="column-2">Om Anugraha Amertadi sanjivani ya namah svaha.</td><td class="column-3">Ya Hyang Widhi, semoga makanan ini menjadi penghidupan hamba lahir bathin yang suci.<br />
</td>
	</tr>
	<tr class="row-17 odd">
		<td class="column-1">Doa Selesai Makan	</td><td class="column-2">Om Dhirgayur astu, avighnam astu subham astu Om Sriyam bhavantu, purnam bhavantu, ksama sampurna ya namah svaha.</td><td class="column-3">Ya Hyang Widhi, semoga makanan yang telah masuk ke dalam badan hamba memberi kekuatan, keselamatan, panjang umur dan tak kena halngan apapun. Demikian pula agar hamba mendapatkan kebahagiaan dan suka cita dengan sempurna.</td>
	</tr>
	<tr class="row-18 even">
		<td class="column-1">Doa Selesai Makan <br />
Dapat pula menggunakan doa (mantra) berikut:</td><td class="column-2">Om Annapate annasya no dehyanmi vasya susminah, pra-pra dataram taris urjam no dhehi dvipade catuspade. <br />
(Yajur Veda XI.83)</td><td class="column-3">Ya Hyang Widhi, Engkau penguasa makanan, anugrahkanlah makanan ini memberikan kekuatan, menjauhkan dari penyakit. Selanjutnya bimbinglah kami, anugrahkanlah kekuatan kepada mahluk berkaki empat dan dua.</td>
	</tr>
	<tr class="row-19 odd">
		<td class="column-1">Doa saat melakukan Yadnya Sesa (Ngejot)</td><td class="column-2">"Om Sarva bhuta sukha pretebhyah svaha".</td><td class="column-3">Ya Hyang Widhi, hamba berikan sedikit kepada sarwa bhuta agar tidak mengacau.</td>
	</tr>
	<tr class="row-20 even">
		<td class="column-1">Doa Memulai Sesuatu Kegiatan</td><td class="column-2">Om Avighnam astu namo sidham Om Sidhirastu tad astu astu svaha.</td><td class="column-3">Ya Hyang Widhi, semoga atas perkenan-Mu tiada suatu halangan bagi kami memulai pekerjaan (kegiatan) ini dan semoga sukses.</td>
	</tr>
	<tr class="row-21 odd">
		<td class="column-1">Doa Mohon Inspirasi</td><td class="column-2">Om Pra no devi sarasvati vajebhir vajinivati dhinam avinyavantu. <br />
(Rg Veda VI.61.4)</td><td class="column-3">Ya Hyang Widhi, Hyang Saraswati Yang Maha Agung dan Kuasa, Engkau sebagai sumber ilmu pengetahuan, semoga Engkau memelihara kecerdasan kami.</td>
	</tr>
	<tr class="row-22 even">
		<td class="column-1">Doa Memohon Kesehatan</td><td class="column-2">Om Vata a vatu bhesajam sambhu majobhu no hrde, pra na ayumsi tarisat. <br />
(Rg Veda X.1986.1)</td><td class="column-3">Ya hyang Widhi, semoga Wayu menghembuskan angin sejuk-Nya kepada kami. Wayu yang memberikan kesehatan dan kesejahteraan kepada kami. Semoga Ia memberikan umur panjang kepada kami.</td>
	</tr>
	<tr class="row-23 odd">
		<td class="column-1">Doa Mohon Bimbingan Spiritual </td><td class="column-2">Om Asato ma sadgamaya tamasoma ma tyotir gamaya mrtor ma amrtam gamaya. <br />
(Brh. Ar. Up. XL.15)</td><td class="column-3">Ya Hyang Widhi, bimbinglah kami dari yang tidak benar menuju yang benar. Bimbinglah kami dari kegelapan pikiran menuju cahaya (pengetahuan) yang terang. Bimbinglah kami dari kematian menuju kehidupan yang abadi.</td>
	</tr>
	<tr class="row-24 even">
		<td class="column-1">Doa Mohon Kebahagiaan dan Keberuntungan :</td><td class="column-2">Om sarve bhavantu sukhinah sarve santu niramayah sarve bhadrani pasyantu ma kascid duhkha bhag bhavet</td><td class="column-3">Ya Hyang Widhi, semoga semuanya memperoleh kebahagiaan, semoga semuanya terbebas dari penderitaan, semoga semuanya dapat memperoleh keberuntungan, semoga tiada kedukaan.</td>
	</tr>
	<tr class="row-25 odd">
		<td class="column-1">Doa Memulai Belajar </td><td class="column-2">Om Agne naya supatha raye asman visvani deva vayunani vidvan, yuyodhyasmaj juhuranam eno bhuyistam te namauktim vidhema. <br />
(Rg Veda I.189.1)</td><td class="column-3">Ya Hyang Widhi (Hyang Agni), tunjukkanlah kepada kami jalan yang benar untuk mencapai kesejahteraan; Hyang Widhi yang mengetahui semua kewajiban, lenyapkanlah dosa kami yang menyengsarakan kami. kami memuja Engkau.</td>
	</tr>
	<tr class="row-26 even">
		<td class="column-1">Doa Menghilangkan Rasa Takut</td><td class="column-2">Om Om Jaya jivad sarira raksan dadasi me, Om Mjum sah vaosat mrityun jaya namah svaha.</td><td class="column-3">Ya Hyang Widhi Yang Maha Jaya, yang mengatasi segala kematian, kami memuja-Mu. Lindungilah kami dari mara bahaya</td>
	</tr>
	<tr class="row-27 odd">
		<td class="column-1">Doa Selesai Melakukan Kegiatan</td><td class="column-2">Om Deva suksma parama acintya ya namah svaha sarva karya prasidhantam. Om Shanti, Shanti, Shanti, Om.</td><td class="column-3">Ya Hyang Widhi dalam wujud Parama Acintya yang maha gaib dan maka karya, atas rakhmat-Mu maka pekerjaan ini sukses. Semoga damai selalu.</td>
	</tr>
	<tr class="row-28 even">
		<td class="column-1">Doa Sebelum Tidur</td><td class="column-2">Om Yajjagrato duram udaiti daivam tad u suptasya tatha iva iti, durangamam jyotisam jyotir ekam tanme manah siva samkalpam astu. <br />
(Yajur Veda XXXIV.1)</td><td class="column-3">Ya hyang Widhi, Engkau nampak jauh dari orang yang tidur, nampak jauh dari orang yang terjaga. Engkau sinar utama, yang nampak jauh itu, semoga pikiran kami senantiasa mengarah kepada Engkau, yang baik itu.</td>
	</tr>
	<tr class="row-29 odd">
		<td class="column-1">Doa Untuk Ketabahan Hidup:</td><td class="column-2">Om Krdhi na udhvarny carathaya jivase.</td><td class="column-3">Ya Hyang Widhi, semoga kami bisa tetap tegak dalam perjalanan hidup kami</td>
	</tr>
	<tr class="row-30 even">
		<td class="column-1">Doa Untuk Orang Meninggal <br />
(yang disampaikan/diucapkan saat bela sungkawa):</td><td class="column-2">Om vayur anilam amrtam athedam bhasmantam sariram Om krato smara, klie smara, krtam smara. <br />
(Yajur Veda XL.15)</td><td class="column-3">Ya Hyang Widhi, Penguasa hidup, pada saat kematian ini semoga ia mengingat wijaksana suci Om, semoga ia mengingat Engkau Yang Maha Kuasa dan kekal abadi. Ingat pula kepada karmanya. Semoga ia mengetahui bahwa Atma adalah abadi dan badan ini akhirnya hancur menjadi abu.</td>
	</tr>
	<tr class="row-31 odd">
		<td class="column-1">Saat melihat atau mendengar orang meninggal:</td><td class="column-2">Om svargantu, moksantu, sunyantu, murcantu, Om ksama sampurna ya namah svaha.</td><td class="column-3">Ya Hyang Widhi, semogalah arwah almarhum mencapai sorga, manunggal dengan-Mu, mencapai keheningan tanpa suka-duka. Ampunilah ia, semoga sempurna atas Kemahakuasaan-Mu.</td>
	</tr>
	<tr class="row-32 even">
		<td class="column-1">Saat mengunjungi orang sakit:</td><td class="column-2">Om sarva vighna sarva klesa, sarva lara roga vinasa ya namah.</td><td class="column-3">Ya Hyang Widhi, semoga segala halangan, segala penyakit, segala penderitaan dan gangguan binasa oleh-Mu.</td>
	</tr>
	<tr class="row-33 odd">
		<td class="column-1">Doa Untuk Pembukaan Rapat (sidang) atau Seminar</td><td class="column-2">Om sam gacchadhvam sam vadadhvam sam vo manamsi janatam, devo bhagam yatha purve samjanana upasate. <br />
(Rg. Veda X.191.2)<br />
<br />
samano mantrah samitih samani samanam manah saha cittam esam, samanam mantram abhi mantraye vah samanena vo havisa juhomi. <br />
(Rg Veda X.191.3) <br />
<br />
samani va akutih samana hrdayani vah samanam astu vo mano yatha vah susahasati. <br />
(Rg Veda X.191.4)</td><td class="column-3">Ya Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa), semogalah pertemuan dan rapat ini mencapai satu kesepakatan. Semoga tercapai tujuan bersama, kesepakatan bersama satu dalam pikiran menuju stau tujuan. <br />
<br />
Ya Hyang Widhi, Engkau canangkan satu tujuan, tujuan bersama kami sekalian, kami adakan pemujaan dengan persembahan bersama, agar tujuan kami satu, seia dan sekata.</td>
	</tr>
	<tr class="row-34 even">
		<td class="column-1">Doa Untuk Menutup Suatu Pertemuan</td><td class="column-2">Om dyauh santir antariksam santih prthiva santir apah santir osadhayah santih vanaspatayah santir visve devah santir brahma santih sarvam santih santir eva santih sa ma santir edhi.<br />
(Yayur Veda XXXVI.17)</td><td class="column-3">Ya Hyang Widhi Yang Maha Kuasa, anugrahkanlah kedamaian di langit, damai di angkasa, damai di bumi, damai di air, damai pada tumbuh-tumbuhan, damai pada pepohonan, damai bagi para Dewata, damailah Brahma, damailah alam semesta, semogalah kedamaian senantiasa datang pada kami.</td>
	</tr>
	<tr class="row-35 odd">
		<td class="column-1"></td><td class="column-2"></td><td class="column-3"></td>
	</tr>
</tbody>
</table>

<p>Sumber : <a title="Daftar Mantra di Babad Bali" href="http://www.babadbali.com/canangsari/doa.htm" target="_blank">Babad Bali</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://phdi-sby.org/?feed=rss2&#038;p=155</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hari Raya Galungan di India</title>
		<link>http://phdi-sby.org/?p=132</link>
		<comments>http://phdi-sby.org/?p=132#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Dec 2010 16:39:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://phdi-sby.org/?p=132</guid>
		<description><![CDATA[Hari raya Hindu untuk mengingatkan umat atas pertarungan antara adharma melawan dharma dilaksanakan juga oleh umat Hindu di India. Bahkan kemungkinan besar, parayaan hari raya Galungan di Indonesia mendapat inspirasi atau direkonstruksi dari perayaan upacara Wijaya Dasami di India. Ini bisa dilihat dari kata &#8220;Wijaya&#8221; (bahasa Sansekerta) yang bersinonim dengan kata &#8220;Galungan&#8221; dalam bahasa Jawa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari raya Hindu untuk mengingatkan umat atas pertarungan antara  adharma melawan dharma dilaksanakan juga oleh umat Hindu di India.  Bahkan kemungkinan besar, parayaan hari raya Galungan di Indonesia  mendapat inspirasi atau direkonstruksi dari perayaan upacara Wijaya  Dasami di India. Ini bisa dilihat dari kata &#8220;Wijaya&#8221; (bahasa Sansekerta)  yang bersinonim dengan kata &#8220;Galungan&#8221; dalam bahasa Jawa Kuna. Kedua  kata itu artinya &#8220;menang&#8221;.</p>
<p>Hari Raya Wijaya Dasami di India  disebut pula &#8220;Hari Raya Dasara&#8221;. Inti perayaan Wijaya Dasami juga  dilakukan sepuluh hari seperti Galungan dan Kuningan. Sebelum puncak  perayaan, selama sembilan malam umat Hindu di sana melakukan upacara  yang disebut Nawa Ratri (artinya sembilan malam). Upacara Nawa Ratri itu  dilakukan dengan upacara persembahyangan yang sangat khusuk dipimpin  oleh pendeta di rumah-rumah penduduk. Nawa Ratri lebih menekankankan  nilai-nilai spiritual sebagai dasar perjuangan melawan adharma. Pada  hari kesepuluh berulah dirayakan Wijaya Dasami atau Dasara. Wijaya  Dasami lebih menekankan pada rasa kebersamaan, kemeriahan dan  kesemarakan untuk masyarakat luas.</p>
<p><span id="more-132"></span></p>
<p>Perayaan Wijaya Dasami  dirayakan dua kali setahun dengan perhitungan tahun Surya. Perayaan  dilakukan pada bulan Kartika (Oktober) dan bulan Waisaka (April).  Perayaan Dasara pada bulan Waisaka atau April disebut pula Durgha Nawa  Ratri. Durgha Nawa Ratri ini merupakan perayaan untuk kemenangan dharma  melawan adharma dengan ilustrasi cerita kemenangan Dewi Parwati (Dewi  Durgha) mengalahkan raksasa Durgha yang bersembunyi di dalam tubuh  Mahasura yaitu lembu raksasa yang amat sakti. Karena Dewi Parwati  menang, maka diberi julukan Dewi Durgha. Dewi Durgha di India dilukiskan  seorang dewi yang amat cantik menunggang singa. Selain itu diyakini  sebagai dewi kasih sayang dan amat sakti. Pengertian sakti di India  adalah kuat, memiliki kemampuan yang tinggi. Kasih sayang sesungguhnya  kasaktian yang paling tinggi nilainya. Berbeda dengan di Bali. Kata  sakti sering diartikan sebagai kekuatan yang berkonotasi angker, seram,  sangat menakutkan.</p>
<p>Perayaan Durgha Nawa Ratri adalah perjuangan  umat untuk meraih kasih sayang Tuhan. Karunia berupa kasih sayang Tuhan  adalah karunia yang paling tinggi nilainya. Untuk melawan adharma  pertama-tama capailah karunia Tuhan berupa kasih sayang Tuhan. Kasih  sayang Tuhanlah merupakan senjata yang paling ampuh melawan adharma.</p>
<p>Sedangkan  upacara Wijaya Dasami pada bulan Kartika (Oktober) disebut Rama Nawa  Ratri. Pada Rama Nawa Ratri pemujaan ditujukan pada Sri Rama sebagai  Awatara Wisnu. Selama sembilan malam umat mengadakan kegiatan keagamaan  yang lebih menekankan pada bobot spiritual untuk mendapatkan kemenangan  rohani dan menguasai, keganasan hawa nafsu. Pada hari kesepuluh atau  hari Dasara, umat merayakan Wijaya Dasami atau kemenangan hari  kesepuluh. Pada hari ini, kota menjadi ramai. Di mana-mana, orang  menjual panah sebagai lambang kenenangan. Umumnya umat membuat ogoh-ogoh  berbentuk Rahwana, Kumbakarna atau Surphanaka. Ogoh-ogoh besar dan  tinggi itu diarak keliling beramai-ramai. Di lapangan umum sudah  disiapkan pementasan di mana sudah ada orang yang terpilih untuk  memperagakan tokoh Rama, Sita, Laksmana dan Anoman.</p>
<p>Puncak dari  atraksi perjuangan dharma itu yakni Sri Rama melepaskan anak panah di  atas panggung yang telah dipersiapkan sebelumnya. Panah itu diatur  sedemikian rupa sehingga begitu ogoh-ogoh Rahwana kena panah Sri Rama,  ogoh-ogoh itu langsung terbakar dan masyarakat penontonpun  bersorak-sorai gembira-ria. Orang yang memperagakan diri sebagai Sri  Rama, Dewi Sita, Laksmana dan Anoman mendapat penghormatan luar biasa  dari masyarakat Hindu yang menghadiri atraksi keagamaan itu. Anak-anak  ramai-ramai dibelikan panah-panahan untuk kebanggaan mereka mengalahkan  adharma.</p>
<p>Kalau kita simak makna hari raya Wijaya Dasami yang  digelar dua kali setahun yaitu pada bulan April (Waisaka) dan pada bulan  Oktober (Kartika) adalah dua perayaan yang bermakna untuk mendapatkan  kasih sayang Tuhan. Kasih sayang itulah suatu &#8220;sakti&#8221; atau kekuatan  manusia yang maha dahsyat untuk mengalahkan adharma. Sedangkan pada  bulan Oktober atau Kartika pemujaan ditujukan pada Sri Rama. Sri Rama  adalah Awatara Wisnu sebagai dewa Pengayoman atau pelindung dharma. Jadi  dapat disimpulkan bahwa tujuan filosofi dari hari raya Wijaya Dasami  adalah mendapatkan kasih sayang dan perlindungan Tuhan. Kasih sayang dan  perlindungan itulah merupakan kekuatan yang harus dicapai oleh menusia  untuk memenangkan dharma. Kemenangan dharma adalah terjaminnya kehidupan  yang bahagia lahir batin.</p>
<p>Kemenangan lahir batin atau dharma  menundukkan adharma adalah suatu kebutuhan hidup sehari-hari. Kalau  kebutuhan rohani seperti itu dapat kita wujudkan setiap saat maka hidup  yang seperti itulah hidup yang didambakan oleh setiap orang. Agar orang  tidak sampai lupa maka setiap Budha Kliwon Dungulan, umat diingatkan  melalui hari raya Galungan yang berdemensi ritual dan spiritual.</p>
<p>(Sumber: Buku &#8220;Yadnya dan Bhakti&#8221; oleh Ketut Wiana, terbitan Pustaka Manikgeni)</p>
<p>Disunting dan diedit seperlunya dari halaman <a href="http://www.parisada.org/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=804&amp;Itemid=29" target="_blank">www.parisada.org</a></p>
<p><a href="http://phdi-sby.org/?p=129" target="_blank">Makna Hari Raya Galungan dan Kuningan</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://phdi-sby.org/?feed=rss2&#038;p=132</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hari Raya Galungan dan Kuningan</title>
		<link>http://phdi-sby.org/?p=129</link>
		<comments>http://phdi-sby.org/?p=129#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Dec 2010 16:36:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://phdi-sby.org/?p=129</guid>
		<description><![CDATA[Kata &#8220;Galungan&#8221; berasal dari bahasa Jawa Kuna yang artinya menang atau bertarung. Galungan juga sama artinya dengan dungulan, yang juga berarti menang. Karena itu di Jawa, wuku yang kesebelas disebut Wuku Galungan, sedangkan di Bali wuku yang kesebelas itu disebut Wuku Dungulan. Namanya berbeda, tapi artinya sama saja. Seperti halnya di Jawa dalam rincian pancawara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Kata &#8220;Galungan&#8221; berasal dari bahasa Jawa Kuna yang artinya menang atau  bertarung. Galungan juga sama artinya dengan dungulan, yang juga berarti  menang. Karena itu di Jawa, wuku yang kesebelas disebut Wuku Galungan,  sedangkan di Bali wuku yang kesebelas itu disebut Wuku Dungulan. Namanya  berbeda, tapi artinya sama saja. Seperti halnya di Jawa dalam rincian  pancawara ada sebutan Legi sementara di Bali disebut Umanis, yang  artinya sama: manis.</p>
<p style="text-align: justify;">Agak sulit untuk memastikan bagaimana asal-usul Hari Raya Galungan  ini. Kapan sebenarnya Galungan dirayakan pertamakali di Indonesia,  terutama di Jawa dan di daerah lain khususnya di Bali. Drs. I Gusti  Agung Gede Putra (mantan Dirjen Bimas Hindu dan Buddha Departemen Agama  RI) memperkirakan, Galungan telah lama dirayakan umat Hindu di Indonesia  sebelum hari raya itu populer dirayakan di Pulau Bali. Dugaan ini  didasarkan pada lontar berbahasa Jawa Kuna yang bernama Kidung Panji  Amalat Rasmi. Tetapi, kapan tepatnya Galungan itu dirayakan di luar Bali  dan apakah namanya juga sama Galungan, masih belum terjawab dengan  pasti.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-129"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Namun di Bali, ada sumber yang memberikan titik terang.  Menurut lontar Purana Bali Dwipa, Galungan pertama kali dirayakan pada  hari Purnama Kapat, Budha Kliwon Dungulan, tahun Saka 804 atau tahun 882  Masehi. Dalam lontar itu disebutkan:</p>
<blockquote style="text-align: justify;"><p>Punang aci Galungan ika ngawit, Bu, Ka, Dungulan sasih kacatur, tanggal 15, isaka 804. Bangun indria Buwana ikang Bali rajya.</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Artinya:<br />
Perayaan (upacara) Hari Raya Galungan itu pertama-tama  adalah pada hari Rabu Kliwon, (Wuku) Dungulan sasih kapat tanggal 15,  tahun 804 Saka. Keadaan Pulau Bali bagaikan Indra Loka.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Makna Filosofis Galungan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Galungan adalah suatu upacara sakral yang memberikan kekuatan  spiritual agar mampu membedakan mana dorongan hidup yang berasal dari  adharma dan mana dari budhi atma yaitu berupa suara kebenaran (dharma)  dalam diri manusia.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain itu juga memberi kemampuan untuk  membeda-bedakan kecendrungan keraksasaan (asura sampad) dan kecendrungan  kedewaan (dewa sampad). Harus disadari bahwa hidup yang berbahagia atau  ananda adalah hidup yang memiliki kemampuan untuk menguasai  kecenderungan keraksasaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Galungan adalah juga salah satu  upacara agama Hindu untuk mengingatkan manusia secara ritual dan  spiritual agar selalu memenangkan Dewi Sampad untuk menegakkan dharma  melawan adharma. Dalam lontar Sunarigama, Galungan dan rincian  upacaranya dijelaskan dengan mendetail. Mengenai makna Galungan dalam  lontar Sunarigama dijelaskan sebagai berikut:</p>
<blockquote style="text-align: justify;"><p>Budha Kliwon Dungulan Ngaran Galungan patitis ikang janyana samadhi, galang apadang maryakena sarwa byapaning idep</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Artinya:</p>
<p style="text-align: justify;">Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan, arahkan  ber-satunya rohani supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk  melenyapkan segala kekacauan pikiran.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, inti Galungan adalah menyatukan kekuatan rohani agar mendapat  pikiran dan pendirian yang terang. Bersatunya rohani dan pikiran yang  terang inilah wujud dharma dalam diri. Sedangkan segala kekacauan  pikiran itu (byaparaning idep) adalah wujud adharma. Dari konsepsi  lontar Sunarigama inilah didapatkan kesimpulan bahwa hakikat Galungan  adalah merayakan me-nangnya dharma melawan adharma.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk  memenangkan dharma itu ada serangkaian kegiatan yang dilakukan sebelum  dan setelah Galungan. Sebelum Galungan ada disebut Sugihan Jawa dan  Sugihan Bali. Kata Jawa di sini sama dengan Jaba, artinya luar. Sugihan  Jawa bermakna menyucikan bhuana agung (bumi ini) di luar dari manusia.  Sugihan Jawa dirayakan pada hari Wrhaspati Wage Wuku Sungsang, enam hari  sebelum Galungan. Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada hari  Sugihan Jawa itu merupakan Pasucian dewa kalinggania pamrastista batara  kabeh (Penyucian Dewa, karena itu hari penyucian semua bhatara).</p>
<p style="text-align: justify;">Pelaksanaan upacara ini adalah dengan membersihkan segala tempat dan  peralatan upacara di masing-masing tempat suci. Sedangkan pada hari  Jumat Kliwon Wuku Sungsang disebutkan: Kalinggania amretista raga  tawulan (Oleh karenanya menyucikan badan jasmani masing-masing). Karena  itu Sugihan Bali disebutkan menyucikan diri sendiri. Kata bali dalam  bahasa Sansekerta berarti kekuatan yang ada di dalam diri. Dan itulah  yang disucikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada Redite Paing Wuku Dungulan diceritakan Sang  Kala Tiga Wisesa turun mengganggu manusia. Karena itulah pada hari  tersebut dianjurkan anyekung jñana, artinya: mendiamkan pikiran agar  jangan dimasuki oleh Butha Galungan. Dalam lontar itu juga disebutkan  nirmalakena (orang yang pikirannya selalu suci) tidak akan dimasuki oleh  Butha Galungan.Pada hari Senin Pon Dungulan disebut Penyajaan Galungan. Pada hari ini  orang yang paham tentang yoga dan samadhi melakukan pemujaan. Dalam  lontar disebutkan, &#8220;Pangastawaning sang ngamong yoga samadhi.&#8221; Pada hari  Anggara Wage wuku Dungulan disebutkan Penampahan Galungan. Pada hari  inilah dianggap sebagai hari untuk mengalahkan Butha Galungan dengan  upacara pokok yaitu membuat banten byakala yang disebut pamyakala lara  melaradan. Umat kebanyakan pada hari ini menyembelih babi sebagai  binatang korban. Namun makna sesungguhnya adalah pada hari ini hendaknya  membunuh sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikian urutan upacara yang mendahului Galungan. Setelah hari raya  Galungan yaitu hari Kamis Umanis wuku Dungulan disebut Manis Galungan.  Pada hari ini umat mengenang betapa indahnya kemenangan dharma. Umat  pada umumnya melam-piaskan kegembiraan dengan mengunjungi tempat-tempat  hiburan terutama panorama yang indah. Juga mengunjungi sanak saudara  sambil bergembira-ria.</p>
<p style="text-align: justify;">Hari berikutnya adalah hari Sabtu Pon  Dungulan yang disebut hari Pemaridan Guru. Pada hari ini, dilambangkan  dewata kembali ke sorga dan meninggalkan anugrah berupa kadirghayusaan  yaitu hidup sehat panjang umur. Pada hari ini umat dianjurkan  menghaturkan canang meraka dan matirta gocara. Upacara tersebut  barmakna, umat menikmati waranugraha Dewata.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada hari Jumat Wage  Kuningan disebut hari Penampahan Kuningan. Dalam lontar Sundarigama  tidak disebutkan upacara yang mesti dilangsungkan. Hanya dianjurkan  melakukan kegiatan rohani yang dalam lontar disebutkan Sapuhakena  malaning jnyana (lenyapkanlah kekotoran pikiran). Keesokan harinya,  Sabtu Kliwon disebut Kuningan. Dalam lontar Sundarigama disebutkan,  upacara menghaturkan sesaji pada hari ini hendaknya dilaksana-kan pada  pagi hari dan hindari menghaturkan upacara lewat tengah hari. Mengapa?  Karena pada tengah hari para Dewata dan Dewa Pitara &#8220;diceritakan&#8221;  kembali ke Swarga (Dewa mur mwah maring Swarga).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jenis &#8211; Jenis Hari Raya Galungan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Meskipun Galungan itu disebut &#8220;Rerahinan Gumi&#8221; artinya semua umat wajib  melaksanakan, ada pula perbedaan dalam hal perayaannya. Berdasarkan  sumber-sumber kepustakaan lontar dan tradisi yang telah berjalan dari  abad ke abad telah dikenal adanya tiga jenis Galungan yaitu: Galungan  (tanpa ada embel-embel), Galungan Nadi dan Galungan Nara Mangsa.  Penjelasannya adalah sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: justify;">Galungan</p>
<p style="text-align: justify;">Adalah hari raya yang wajib dilakukan oleh umat Hindu untuk merayakan  kemenangan dharma melawan adharma. Berdasarkan keterangan lontar  Sundarigama disebutkan &#8220;Buda Kliwon Dungulan ngaran Galungan.&#8221; Artinya,  Galungan itu dirayakan setiap Rabu Kliwon wuku Dungulan. Jadi Galungan  itu dirayakan, setiap 210 hari karena yang dipakai dasar menghitung  Galungan adalah Panca Wara, Sapta Wara dan Wuku. Kalau Panca Waranya  Kliwon, Sapta Waranya Rabu, dan wukunya Dungulan, saat bertemunya ketiga  hal itu disebut Hari Raya Galungan.</p>
<p style="text-align: justify;">Galungan Nadi</p>
<p style="text-align: justify;">Galungan yang pertama dirayakan oleh umat Hindu  di Bali berdasarkan lontar Purana Bali Dwipa adalah Galungan Nadi yaitu  Galungan yang jatuh pada sasih Kapat (Kartika) tanggal 15 (purnama)  tahun 804 Saka (882 Masehi) atau pada bulan Oktober.</p>
<p style="text-align: justify;">Disebutkan dalam lontar itu, bahwa pulau Bali saat dirayakan Galungan  pertama itu bagaikan Indra Loka. Ini menandakan betapa meriahnya  perayaan Galungan pada waktu itu. Perbedaannya dengan Galungan biasa  adalah dari segi besarnya upacara dan kemeriahannya. Memang merupakan  suatu tradisi di kalangan umat Hindu bahwa kalau upacara agama yang  digelar bertepatan dengan bulan purnama maka mereka akan melakukan  upacara lebih semarak. Misalnya upacara ngotonin atau upacara hari  kelahiran berdasarkan wuku, kalau bertepatan dengan purnama mereka  melakukan dengan upacara yang lebih utama dan lebih meriah. Disamping  karena ada keyakinan bahwa hari Purnama itu adalah hari yang diberkahi  oleh Sanghyang Ketu yaitu Dewa kecemerlangan. Ketu artinya terang (lawan  katanya adalah Rau yang artinya gelap). Karena itu Galungan, yang  bertepatan dengan bulan purnama disebut Galungan Nadi. Galungan Nadi ini  datangnya amat jarang yaitu kurang lebih setiap 10 tahun sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">Galungan Nara Mangsa</p>
<p style="text-align: justify;">Galungan Nara Mangsa jatuh bertepatan  dengan tilem sasih Kapitu atau sasih Kesanga. Dalam lontar Sundarigama  disebutkan sebagai berikut:</p>
<blockquote style="text-align: justify;"><p>Yan Galungan nuju sasih Kapitu, Tilem Galungan, mwang sasih kesanga, rah 9, tenggek 9, Galungan Nara Mangsa ngaran.</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Artinya:</p>
<p style="text-align: justify;">Bila Wuku Dungulan bertepatan dengan sasih Kapitu,  Tilem Galungannya dan bila bertepatan dengan sasih Kesanga rah 9,  tenggek 9, Galungan Nara Mangsa namanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam lontar Sanghyang Aji Swamandala ada menyebutkan hal yang hampir sama sebagai berikut:</p>
<blockquote style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Nihan  Bhatara ring Dalem pamalan dina ring wong Bali, poma haywa lali  elingakna. Yan tekaning sasih Kapitu, anemu wuku Dungulan mwang tilem  ring Galungan ika, tan wenang ngegalung wong Baline, Kala Rau ngaranya  yan mengkana. Tan kawasa mabanten tumpeng. Mwah yan anemu sasih Kesanga,  rah 9 tenggek 9, tunggal kalawan sasih Kapitu, sigug ya mengaba gering  ngaran. Wenang mecaru wong Baline pabanten caru ika, nasi cacahan maoran  keladi, yan tan anuhut ring Bhatara ring Dalem yanya manurung, moga ta  sira kapereg denira Balagadabah.</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Artinya:</p>
<p style="text-align: justify;">Inilah petunjuk  Bhatara di Pura Dalem (tentang) kotornya hari (hari buruk) bagi manusia,  semoga tidak lupa, ingatlah. Bila tiba sasih Kapitu bertepatan dengan  wuku Dungulan dan Tilem, pada hari Galungan itu, tidak boleh merayakan  Galungan, Kala Rau namanya, bila demikian tidak dibenarkan menghaturkan  sesajen yang berisi tumpeng. Dan bila bertepatan dengan sasih Kasanga  rah 9, tenggek 9 sama artinya dengan sasih kapitu. Tidak baik itu,  membawa penyakit adanya. Seyogyanya orang mengadakan upacara caru yaitu  sesajen caru, itu nasi cacahan dicampur ubi keladi. Bila tidak mengikuti  petunjuk Bhatara di Pura Dalam (maksudnya bila melanggar) kalian akan  diserbu oleh Balagadabah.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikianlah dua sumber pustaka lontar  yang berbahasa Jawa Kuna menjelaskan tentang Galungan Nara Mangsa. Dalam  lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada hari Galungan Nara Mangsa  disebutkan &#8220;Dewa Mauneb bhuta turun&#8221; yang artinya, Dewa tertutup (tapi)  Bhutakala yang hadir. Ini berarti Galungan Nara Mangsa itu adalah  Galungan raksasa, pemakan daging manusia. Oleh karena itu pada hari  Galungan Nara Mangsa tidak dilang-sungkan upacara Galungan sebagaimana  mestinya terutama tidak menghaturkan sesajen &#8220;tumpeng Galungan&#8221;. Pada  Galungan Nara Mangsa justru umat dianjurkan menghaturkan caru, berupa  nasi cacahan bercampur keladi.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikian pengertian Galungan Nara  Mangsa. Palaksanaan upacara Galungan di Bali biasanya diilustrasikan  dengan cerita Mayadanawa yang diuraikan panjang lebar dalam lontar Usana  Bali sebagai lambang, pertarungan antara aharma melawan adharma. Dharma  dilambangkan sebagai Dewa Indra sedangkan adharma dilambangkan oleh  Mayadanawa. Mayadanawa diceritakan sebagai raja yang tidak percaya pada  adanya Tuhan dan tidak percaya pada keutamaan upacara agama.</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber: Buku &#8220;Yadnya dan Bhakti&#8221; oleh Ketut Wiana, terbitan Pustaka Manikgeni</p>
<p style="text-align: justify;">Disunting dan diedit seperlunya dari halaman <a href="http://www.parisada.org/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=804&amp;Itemid=29" target="_blank">www.parisada.org</a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://phdi-sby.org/?p=132" target="_blank">Hari Raya Galungan di India</a></p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://phdi-sby.org/?feed=rss2&#038;p=129</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Daftar Guru Agama Hindu Kota Surabaya</title>
		<link>http://phdi-sby.org/?p=122</link>
		<comments>http://phdi-sby.org/?p=122#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Dec 2010 05:18:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Data]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://phdi-sby.org/?p=122</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>
<table id="wp-table-reloaded-id-4-no-1" class="wp-table-reloaded wp-table-reloaded-id-4">
<thead>
	<tr class="row-1 odd">
		<th class="column-1">No</th><th class="column-2">Jabatan</th><th class="column-3">Nama</th><th class="column-4">Alamat</th><th class="column-5">Telepon</th>
	</tr>
</thead>
<tbody>
	<tr class="row-2 even">
		<td class="column-1">1</td><td class="column-2">Guru Saraswati I Pura Segara Kenjeran</td><td class="column-3">Drs.I Made Suweca</td><td class="column-4">Jl.Sahabudin No. 33 Surabaya</td><td class="column-5">031-3817432</td>
	</tr>
	<tr class="row-3 odd">
		<td class="column-1">2</td><td class="column-2">Guru Saraswati I Pura Segara Kenjeran</td><td class="column-3">Drs.I Made Gunartha</td><td class="column-4">Jl.Bambang Suntoro No. 30 Surabaya</td><td class="column-5">031-3810369</td>
	</tr>
	<tr class="row-4 even">
		<td class="column-1">3</td><td class="column-2">Guru Saraswati I Pura Segara Kenjeran</td><td class="column-3">Dra.Ni Made Sri Ardani</td><td class="column-4">Jl.Sahabudin No. 33 Surabaya</td><td class="column-5">031-3817432</td>
	</tr>
	<tr class="row-5 odd">
		<td class="column-1">4</td><td class="column-2">Guru Saraswati I Pura Segara Kenjeran</td><td class="column-3">Dra.Desak Putu Kartini</td><td class="column-4">Jl.Bambang Suntoro No. 30 Surabaya</td><td class="column-5">031-3810369</td>
	</tr>
	<tr class="row-6 even">
		<td class="column-1">5</td><td class="column-2">Guru Saraswati I Pura Segara Kenjeran</td><td class="column-3">Ir.I Wayan Wijana&amp;Dwi Jatmiko S.Ag</td><td class="column-4">Jl.Kolonel Sukardi No.19 Surabaya</td><td class="column-5"></td>
	</tr>
	<tr class="row-7 odd">
		<td class="column-1">6</td><td class="column-2">Guru Saraswati II Pura Agung J.K Perak</td><td class="column-3">Drs.I ketut Arta &amp; Wayan Suanda</td><td class="column-4">Jl.Karang menjangan IB/23 Surabaya</td><td class="column-5">031-5924843</td>
	</tr>
	<tr class="row-8 even">
		<td class="column-1">7</td><td class="column-2">Guru Saraswati II Pura Agung J.K Perak</td><td class="column-3">Drs. Dewa Putu Adnyana</td><td class="column-4">Griya Permata Hijau Blok N/10 Surabaya</td><td class="column-5"></td>
	</tr>
	<tr class="row-9 odd">
		<td class="column-1">8</td><td class="column-2">Guru Saraswati II Pura Agung J.K Perak</td><td class="column-3">I Made Budi Astika SE.S.Ag. 	</td><td class="column-4">Nginden II/ 	</td><td class="column-5"></td>
	</tr>
	<tr class="row-10 even">
		<td class="column-1">9</td><td class="column-2">Guru Saraswati III Sektor Wonocolo</td><td class="column-3">Drs.Sunyoto</td><td class="column-4"></td><td class="column-5"></td>
	</tr>
	<tr class="row-11 odd">
		<td class="column-1">10</td><td class="column-2">Guru Saraswati III Sektor Wonocolo</td><td class="column-3">Winarno S.Ag</td><td class="column-4"></td><td class="column-5"></td>
	</tr>
	<tr class="row-12 even">
		<td class="column-1">11</td><td class="column-2">Guru Saraswati IV Sektor Ampel,Bulak B. 	</td><td class="column-3"> Ibu Putu Astiarini</td><td class="column-4"></td><td class="column-5"></td>
	</tr>
	<tr class="row-13 odd">
		<td class="column-1">12</td><td class="column-2">Guru Saraswati V Pura Tirta Empul</td><td class="column-3">Drs.I Wayan Runtun</td><td class="column-4">Babadan III/1 Wiyung Surabaya</td><td class="column-5">031-7532545</td>
	</tr>
	<tr class="row-14 even">
		<td class="column-1">13</td><td class="column-2">Guru Saraswati VI SDN Banyu Urip</td><td class="column-3">I Gusti Ngurah Robie SPd.</td><td class="column-4">Banyu Urip Lor Gg.Barat No.4 Surabaya</td><td class="column-5"></td>
	</tr>
	<tr class="row-15 odd">
		<td class="column-1">14</td><td class="column-2">Guru Saraswati VI SDN Banyu Urip</td><td class="column-3">I Wayan Wisnawahadi</td><td class="column-4">Simo Pomahan Baru No.79 Surabaya</td><td class="column-5">031-7494626</td>
	</tr>
	<tr class="row-16 even">
		<td class="column-1">15</td><td class="column-2">Guru Saraswati VI SDN Banyu Urip</td><td class="column-3">Mujadi</td><td class="column-4"></td><td class="column-5"></td>
	</tr>
</tbody>
</table>
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://phdi-sby.org/?feed=rss2&#038;p=122</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Satyam-Siwam-Sundaram Menuju Moksartam Jagadhita</title>
		<link>http://phdi-sby.org/?p=92</link>
		<comments>http://phdi-sby.org/?p=92#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Jul 2010 15:45:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://phdi-sby.org/?p=92</guid>
		<description><![CDATA[Dharma Wacana Oleh: Ida Begawan Dwija NS Satyam – Siwam – Sundaram adalah tatanan kehidupan masyarakat yang taat beragama (Hindu), saling menyayangi, dan sejahtera.  TAAT BERAGAMA HINDU (SATYAM) Keyakinan pada Panca Srada: 1.1.    Widhi Tattwa Agama Pramana: Percaya pada Hyang Widhi karena mempelajari kitab-kitab suci. Pratiyaksa Pramana: Percaya pada Hyang Widhi karena mendapat vibrasi kesucian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1 style="text-align: center;">Dharma Wacana</h1>
<p style="text-align: center;">Oleh: Ida Begawan Dwija NS</p>
<p>Satyam – Siwam – Sundaram adalah tatanan kehidupan masyarakat yang taat beragama (Hindu), saling menyayangi, dan sejahtera.</p>
<p style="text-align: center;"><strong> </strong><strong>TAAT BERAGAMA HINDU (SATYAM)</strong></p>
<ol>
<li>Keyakinan pada Panca Srada:</li>
</ol>
<p style="padding-left: 30px;">1.1.    Widhi Tattwa</p>
<p style="padding-left: 60px;">Agama Pramana: Percaya pada Hyang Widhi karena mempelajari kitab-kitab suci.</p>
<p style="padding-left: 60px;">Pratiyaksa Pramana: Percaya pada Hyang Widhi karena mendapat vibrasi kesucian sebagai hasil ketekunan meditasi.</p>
<p style="padding-left: 60px;">Anumana Pramana: Percaya pada Hyang Widhi dari kesimpulan berdasarkan logika, unsur-unsur aktivitas, sebab-akibat, keharusan, kesempurnaan dan keteraturan.</p>
<p style="padding-left: 60px;">Upamana Pramana: Percaya pada Hyang Widhi dari analogi berdasarkan perbandingan unsur-unsur metafora (penciptaan), struktural (bahan ciptaan) dan kausal (akibat dari suatu sebab).</p>
<p style="padding-left: 60px;"><span id="more-92"></span></p>
<p style="padding-left: 30px;">1.2.    Atma Tattwa</p>
<p style="padding-left: 60px;">Percaya bahwa Atman identik dengan Brahman, karena itu ada empat jalan menuju kepada-Nya, yaitu:</p>
<ul style="padding-left: 60px;">
<li>Bhakti Marga:</li>
</ul>
<p style="padding-left: 120px;">Menyembah, memuja, menghormati dan menyayangi Hyang Widhi dengan segala ciptaan-Nya.</p>
<ul style="padding-left: 60px;">
<li>Karma Marga:</li>
</ul>
<p style="padding-left: 120px;">Bekerja, berbuat mencapai tujuan hidup dilandasi ajaran Veda.</p>
<ul style="padding-left: 60px;">
<li>Jnana Marga:</li>
</ul>
<p style="padding-left: 120px;">Belajar dan mengajar mengembangkan Ilmu Pengetahuan untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia.</p>
<ul style="padding-left: 60px;">
<li>Yoga Marga:</li>
</ul>
<p style="padding-left: 120px;">Olah badan dan pikiran untuk menghubungkan Atma dengan Paramaatma.</p>
<p style="padding-left: 30px;">1.3.    Purnabhawa</p>
<p style="padding-left: 60px;">Percaya bahwa Atman akan terus mengalami samsara (reinkarnasi) bilamana belum memenuhi syarat kesucian untuk bersatu dengan Brahman; karena itu ada beberapa upaya untuk selalu menjaga kesucian:</p>
<ul style="padding-left: 30px;">
<li>Sistacara:</li>
</ul>
<p style="padding-left: 90px;">Kehidupan suci yang membentuk susila.</p>
<ul style="padding-left: 30px;">
<li>Atmanastusti:</li>
</ul>
<p style="padding-left: 90px;">Bekerja, berbuat mencapai tujuan hidup dilandasi ajaran Veda.</p>
<ul style="padding-left: 30px;">
<li>Catur Ashrama:</li>
</ul>
<p style="padding-left: 90px;">Empat jenjang kehidupan: Brahmacari, Gryahasta, Wanaprastha, dan Biksuka.</p>
<p style="padding-left: 30px;">1.4.    Karmaphala</p>
<p style="padding-left: 60px;">Percaya bahwa perbuatan yang baik akan membuahkan kebaikan, sedangkan perbuatan yang jahat akan menuai keburukan; karena itu tetaplah berpegang pada Trikaya Parisudha (tiga kesucian/ kebaikan):</p>
<ul style="padding-left: 30px;">
<li>Kayika Parisudha: Perbuatan yang baik yang terdiri dari Ahimsa (tidak membunuh/ menyakiti), Tan Mamandung (tidak mencuri/ korupsi), Tan Paradara (tidak berzina).</li>
<li>Wacika Parisudha: Perkataan yang baik terdiri dari Tan ujar apregas (tidak berkata kasar/ memaki), Tan ujar ahala (tidak berkata bohong/ membual), Tan ujar pisuna (tidak memfitnah), Satya wacana (berkata jujur/ menepati janji).</li>
<li>Manacika Parisudha: Pikiran yang baik terdiri dari Tan Adengkya ri drwyaning len (tidak dengki pada kepunyaan orang lain), Mamituhwa ri hananing karmaphala (percaya pada hukum karma-phala), Masih ring sarwa satwa (sayang kepada semua mahluk ciptaan Hyang Widhi).</li>
</ul>
<p style="padding-left: 30px;">1.5.    Moksha</p>
<p style="padding-left: 60px;">Percaya akan terjadinya kemanunggalan Atman dengan Brahman (Hyang Widhi) apabila kesucian Atman sudah setara dengan kesucian Brahman, melalui Catur Purushaartha:</p>
<ul style="padding-left: 30px;">
<li>Dharma: Ajaran Agama sebagai landasan segala aspek kehidupan.</li>
<li>Artha: Wara nugraha Hyang Widhi berupa benda-benda materi.</li>
<li>Kama: Kemampuan mencukupi kebutuhan hidup.</li>
<li>Moksha: Tercapainya kesejahteraan lahir-bathin sebagai tahapan menuju kemanunggalan Atman-Brahman.</li>
</ul>
<p style="padding-left: 30px;"> </p>
<p>Tiga Kerangka Agama Hindu Dipandang Sebagai Satu Kesatuan, Dalam Artian Adanya Saling Keterkaitan Aspek-Aspek Yang Bertujuan Membentuk Kesempurnaan.</p>
<p style="padding-left: 30px;">2.1.    Tattwa</p>
<p style="padding-left: 90px;">Pemahaman inti ajaran Veda.</p>
<ul>
<li> 
<ul>
<li>Susila</li>
</ul>
</li>
</ul>
<p style="padding-left: 90px;">Perilaku baik, yang terbentuk dari pemahaman Tattwa, meliputi antara lain:</p>
<ul style="padding-left: 30px;">
<li>  Sadacara</li>
</ul>
<p style="padding-left: 120px;">Taat pada peraturan, norma, atau perundang-undangan yang berlaku.</p>
<ul style="padding-left: 30px;">
<li>  Sad Tatayi</li>
</ul>
<p style="padding-left: 120px;">Menghindari dosa karena: Agnida (membakar), Wisada (meracun), Atharwa (menggunakan ilmu hitam), Sastraghna (mengamuk), Dratikrama (memperkosa), Rajapisuna (memfitnah).</p>
<ul style="padding-left: 30px;">
<li>  Sad Ripu</li>
</ul>
<p style="padding-left: 120px;">Waspada adanya enam musuh dalam diri sendiri: Kama (nafsu), Lobha (serakah), Kroda (marah), Mada (mabuk), Moha (sombong), Matsarya (cemburu, dengki, irihati).</p>
<ul style="padding-left: 30px;">
<li>  Asada Brata</li>
</ul>
<p style="padding-left: 120px;">Dharma (yakin pada hakekat kebenaran), Satya (setia pada nusa-bangsa-negara), Tapa (mengendalikan diri), Dama (tenang dan sabar), Wimatsarira (tidak dengki, iri, serakah), Hrih (punya rasa malu), Titiksa (tidak gusar), Anusuya (tidak bertabiat jahat), Yadnya (rela berkorban), Dana (dermawan), Dhrti (menjaga kesucian), dan Ksama (suka memaafkan).</p>
<ul style="padding-left: 30px;">
<li>  Dasa Indria</li>
</ul>
<p style="padding-left: 120px;">Kemampuan mengendalikan indria: Srotendria (pendengaran), Twakindria (rabaan kulit), Granendria (penciuman), Caksundria (penglihatan), Wakindria (lidah), Panindria (gerakan tangan), Payundria (membuang kotoran), Jihwendria (gerakan kaki), Pastendria (alat kelamin).</p>
<ul style="padding-left: 30px;">
<li>  Yama Brata</li>
</ul>
<p style="padding-left: 120px;">Anrsamsa (tidak egois), Ksama (pemaaf), Satya (setia), Ahimsa (tidak menyakiti hati), Dama (sabar), Arjawa (tulus-ikhlas), Pritih (welas asih), Prasada (tidak berpikir buruk), Madhurya (bermuka manis secara tulus), Mardawa (tutur kata yang lemah lembut).</p>
<ul style="padding-left: 30px;">
<li>  Niyama Brata</li>
</ul>
<p style="padding-left: 120px;">Dana (dermawan), Ijya (rajin sembahyang), Tapa (mengendalikan diri), Dhyana (menyadari kebesaran Hyang Widhi), Swadhiyaya (rajin belajar), Upasthanigraha (menjaga kesucian hubungan sex), Brata (mengekang nafsu), Upawasa (berpuasa), Mona (mengendalikan kata-kata), Snana (menjaga kesucian dan kebersihan diri).</p>
<p style="padding-left: 30px;">2.3.    Upacara</p>
<p style="padding-left: 30px;">Ritual yang dilakukan untuk menguatkan Tattwa dan Susila sebagai pengembangan nalar manusia dalam menjalin hubungan dengan Hyang Widhi yang berdampak pada kesehatan spiritual dan emosional.</p>
<p style="padding-left: 30px;"> </p>
<p><strong>Saling Menyayangi (Siwam)</strong></p>
<ol>
<li>Tattwamasi</li>
</ol>
<p style="padding-left: 30px;">Percaya bahwa semua umat manusia di dunia adalah sama-sama mahluk utama ciptaan Hyang Widhi, sehingga bila kita sayang pada diri sendiri hendaknya juga sayang kepada orang lain, sebaliknya bila kita tidak senang menyakiti diri sendiri, janganlah menyakiti orang lain.</p>
<ol style="padding-left: 30px;">
<li>Sagilik-Saguluk, Salunglung -Sabayantaka: Umat manusia hendaknya bersatu bersama-sama menghadapi musuh yang merupakan bahaya mengancam semesta.</li>
<li>Paras-Paros Sarpanaya: Selalu menghargai pendapat orang lain, bertindak tidak hanya untuk kepentingan diri sendiri, tetapi mengutamakan kepentingan umum dengan perspektif persatuan dan kesatuan.</li>
<li>Saling Asah, Saling Asih, Saling Asuh: Saling mengingatkan, menyayangi dan membantu kesulitan orang lain.</li>
</ol>
<p style="padding-left: 30px;"> </p>
<p><strong>Kesejahteraan Bersama (Sundaram)</strong></p>
<p style="padding-left: 30px;">Kesejahteraan yang dicita-citakan dalam Vedanta adalah kesejahteraan umat manusia secara universal, meliputi fisik dan non-fisik yaitu Spiritual, Emosional, Intelektual dan Fisik.</p>
<p style="padding-left: 30px;">Kesejahteraan yang tidak merata bagi umat manusia belumlah dapat disebut sebagai keberhasilan, melainkan justru merupakan pemacu untuk mengupayakan bantuan baik berupa pikiran, tenaga, materi dan perhatian.</p>
<p style="padding-left: 30px;"> </p>
<p><strong>Kepemimpinan Menuju Satyam- Siwam – Sundaram</strong></p>
<p style="padding-left: 30px;">Kelompok individu atau masyarakat pastilah mempunyai pemimpin yang dipilih untuk menuntun anggotanya menuju masyarakat yang Satyam-Siwam-Sundaram. Ia hendaknya memenuhi criteria :</p>
<ol style="padding-left: 30px;">
<li>Astha Brata
<ol>
<li>Indra Brata: adil</li>
<li>Yama Brata: berani menghukum yang salah</li>
<li>Surya Brata: melindungi yang lemah</li>
<li>Candra Brata: menciptakan kedamaian</li>
<li>Bayu Brata: menguatkan ketahanan</li>
<li>Kwera Brata: memakmurkan</li>
<li>Baruna Brata: memusnahkan adharma</li>
<li>Agni Brata: mendorong semangat</li>
</ol>
</li>
<li>Sad-Guna
<ol>
<li>Sandhi mudah memecahkan kesulitan</li>
<li>Wigrha berpengaruh</li>
<li>Jana perintahnya dituruti</li>
<li>Sana pandai menyesuaikan diri</li>
<li>Wisesa bijaksana</li>
<li>Srya mendapat simpati/ disenangi</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p style="text-align: center;"> </p>
<p style="text-align: center;"><a class="wp-caption" title="File PDF" href="http://phdi-sby.org/wp-content/uploads/2010/07/Dharma-Wacana-16-Juli-2010-Oleh-Ida-Begawan-Dwija-NS.pdf" target="_blank">Download File dalam Bentuk PDF</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://phdi-sby.org/?feed=rss2&#038;p=92</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PANCA SRADDHA LIMA KEYAKINAN UMAT HINDU</title>
		<link>http://phdi-sby.org/?p=79</link>
		<comments>http://phdi-sby.org/?p=79#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Jun 2010 18:44:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>teja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://phdi-sby.org/?p=79</guid>
		<description><![CDATA[Dharma Wacana pada Hari Purnama, Kamis, tgl 27 Mei 2010 Di Pura Agung Jagat Karana Surabaya oleh: Prof. I Made Londen Batan (Ketua I PHDI Kota Surabaya) Ratu Pandita Lanang Istri yang saya sucikan, Para Pinandita Lanang Istri yang saya sucikan, Ibu bapak umat hindu yang saya hormati, adik-adik kecil, siswa dan mahasiswa yang saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Dharma Wacana pada Hari Purnama, Kamis, tgl 27 Mei 2010</p>
<p style="text-align: center;">Di Pura Agung Jagat Karana Surabaya</p>
<p style="text-align: center;">oleh: Prof. I Made Londen Batan</p>
<p style="text-align: center;">(Ketua I PHDI Kota Surabaya)</p>
<p>Ratu Pandita Lanang Istri yang saya sucikan,</p>
<p>Para Pinandita Lanang Istri yang saya sucikan,</p>
<p>Ibu bapak umat hindu yang saya hormati,</p>
<p>adik-adik kecil, siswa dan mahasiswa yang saya banggakan.</p>
<p>Sebelum saya menyampaikan dharma wacana, ijinkan saya pada hari yang berbahagia ini – pada Persembahyangan Purnama malam ini &#8211; menyampaikan penganjali umat:</p>
<p>Om Swastyastu,</p>
<p><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p>Tujuan Hidup Umat Hindu adalah moksartham jagadhita – kesejahteraan dan kebahagiaan yang abadi. Kesejahteraan – sifatnya duniawi (jagat), artinya sesuatu yang bisa diukur. Misalnya sejahtera dikatakan dengan mempunyai mobil mewah, punya hotel, rumah mewah dll, yang sifatnya duniawi. Sedangkan bahagia, sangat sulit diukur, misalnya ada keluarga kecil kelihatan bahagia setelahbisa membelikan anaknya sebuah sepeda, bahkan ada yang nampak bahagia, karena bisa makan hamburger di Mc Donald. Artinya kebahagiaa itu sangat sulit diukur. Bagaimana kita bisa mencapai tujuan hidup tersebut, para resi kita menyusun sebuah tuntutan hidup (way of life) – yang disebut sebagai Panca Shraddha, yang artinya lima keyakinan untuk mencapai moksa, atau sering disebut sebagai lima dasar agama Hindu. Apa saja Panca Shraddha tersebut, dan bagaimana menjalankannya, agar tujuan hidup – bersatunya Atman dengan Brahman, sehingga manusia terlepas dari ikatan duniawi, terlepas dari kelahiran kembali, bebas dari belenggu hidup dstnya.</p>
<p><span id="more-79"></span></p>
<p>Ibu, Bapak dan Adik-adik sedharma sekalian</p>
<p><strong>1. KeyakinanTerhadap Adanya Tuhan (Widhi Sraddha)</strong></p>
<p>Angkasa yang luas nan jauh disana, lautan yang luas dengan ombaknya, gunung yang tinggi menjulang ke langit, langit yang biru nan indah, ada matahari, bulan dan bintang dan galaksi lainnya serta adanya manusia dengan segala sifatnya, ada tumbuh-tumbuhan, adanya berbagai jenis binatang, dstnya. Siapa yang menciptakan semuanya itu? Pertanyaan tersebut tidak ada yang bisa menjawab, sekalipun ahli antropologi, ahli ilmu falak, ahli ilmu bumi tidak bisa menjawab dengan pasti semuanya itu. Disamping itu kita sering mendengar adanya bencana alam, ada lumpur Lapindo, ada Puting Beliung atau kejadian yang aneh-aneh, misalnya anak kecil masih tetap hidup, walaupun sudah tertimbun reruntuhan bangunan selama tiga hari akibat gempa bumi. Andaikata kita mengenang semuanya itu, maka kita yakin dan percaya ada kekuatan yang bijaksana dan cerdas yang mengadakan dan mengatur alam ini. Apa sebenarnya kekuatan itu? Ada yang menyebut hukum alam. Bagaimana itu semuanya bisa terjadi? Sangat sulit menjawabnya dengan pasti. Karena dari ceritera kakek nenek, hal tersebut sudah ada! Siapa yang menciptakannya? Karena ketidaktahuan tersebut, maka umat Hindu percaya dengan adaNYA kekuatan diluar manusia, yang menciptakan Bumi dan segala isi dan kejadiannya, yaitu Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Kuasa – Maha Pengasih, Penyayang, Pelindung, Adil dan tidak bisa terbayangkan). Atas dasar tersebut umat Hindu percaya dan yakin dengan adanya <strong>Tuhan</strong>.</p>
<p>Ibu, Bapak dan Adik-adik sedharma sekalian</p>
<p><strong>2. KeyakinanTerhadap Adanya Atma (Jivatma) Pada Manusia</strong></p>
<p>Tuhan Yang Maha Esa, yang bersifat Maha Kekal, tanpa awal dan akhir disebut sebagai Wiyapaka nirwikara. Wiyapaka berarti meresap, berada di segala temat, pada makhluk, juga pada manusia.</p>
<p>Didalam Veda Parikrama dikatakan: Satu That yang tersembunyi dalam setiap makhluk yang mengisi semuanya yang merupakan jiwa bathin semua makhluk. Raja dari semua pebuatan, yang tinggi dalam setiap makhluk, saksi yang hanya ada dalam pikirannya saja. Atman atau Jivatman adala percikan Tuhan yang ada pada setiap manusia. Sehari-hari kita sering mendengar Hati Nurani, cahaya yang ada dalam diri setiap makhluk, cahaya kejujuran yang ada pada manusia. Atman tidak dipengaruhi oleh badan kasar kita (buana alit), karena atman adalah bagian dari Brahman (disebut sebagai a little Brachman). Dengan adanya keyakinan terhadap Atman, umat hindu akan berusaha berpikir, berkata dan berbuat sesuai dengan hati nurani untuk mencapi tujuan hidup. Artinya, umat hindu sadar, bahwa di dalam dirinya ada percikan Tuhan yang maha tahu, apa yang sudah kita lakukan, sehingga kita selalu berpikir untuk berbuat baik, agar moksa yang dituju dapat tercapai. Atman pada hakekatnya adalah Brahman yang ada didalam setiap makhluk, maka atman luput dari WISAYA (Keadaan lahir, sakit, mati dll), akan tetapi jiwa (sebagai saktinya atman) bisa kena wisaya, karena dapat digelapkan oleh badan rohani (menangis, memfitnah, berbohong, mencaci), dapat ditekan oleh badan jasmani (sakit, merana, luka dsb). Dalam kitab Bhagawadgita ditegaskan sebagai berikut: Orang yang jiwanya tidak terikat oleh sentuhan duniawi, akan mendapat kebahagiaan bathin, dan orang yang suksmanya selalu manunggal dengan Brahman itu, ia akan mencapai kebahagiaan abadi. Oleh karena itu, kita selalu melakukan sembahyang, mendekatkan diri kepada-NYA, agar jiwa kita bebas dari ikatan badan rohani – disebut sebagai Bathin kita tenang – perasaan tenang, pikiran jernih bebas dari belengu MAYA (bebas dari khayalan).</p>
<p>Ibu, Bapak dan umat se-dharma,</p>
<p><strong>3. KeyakinanTerhadap Adanya Hukum Karma (Karma Phala)</strong></p>
<p>Karma – berarti perbuatan, pahala – berarti hasil. Karma Phala adalah hasil dari perbuatan – dan banyak yang menyebut sebagai Hukum Sebab Akibat – sangat terkenal dengan HUKUM KARMA.</p>
<p>Bagaimaa keyakinan terhadap Hukum Karma ini ada? Tiada lain disebabkan adanya tujuan hidup, yaitu moksa. Artinya untuk mencapai tujuan hidup tersebut, maka kita harus tahu benar, mana yang benar dan mana yang salah. Hukum Karma menuntun umat hindu mencapai Moksa. Hal ini sangat kita yakini, bahwa untuk menuju ke kebahagiaan yang abadi, kita harus membebaskan badan kita, jiwa kita dan atman dari hal-hal yang melanggar hukum, melanggaran aturan2, melanggar norma2 hidup dan agama. Agar kita umat hindu senantiasa ingat dengan Atman/Brahman, maka kita harus berbuat baik, agar kita mendapatkan pahala yang baik dari hasil perbuatan tersebut, karena apa yang kita lakukan tercatat dalam pikiran dan hati kita. Hal ini akan dapat mempengaruhi watak kita dan juga berpenbagruh terhadap jiwa kita. Hukum karma juga kita yakini dapat diterima oleh anak cucu atau keturunan kita. Banyak contoh yang bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, seseorang pada masa hidupnya mencari dan mendapatkan kekayaan dengan cara tidak halal (melawan dharma), hidup mewah. Namun setelah meninggal dan kekayaannya diwarisi oleh anak cucunya, maka watak anak cucunya tidk waras (gila), tidak normal dan bahkan sekejap mereka sudah menghabiskan dan menghambur-hamburkan kekayaan itu sampai ludes, sehingga akhirnya menjadi orang yang melarat. Untuk hal yang demikian, kita sering mendengar “ITULAH KARMANYA”. Oleh karena itu, marilah kita jalani hidup ini berdasarkan Dharma.</p>
<p>Ibu, Bapak dan umat se-dharma yang saya banggakan,</p>
<p><strong>4. Keyakinan Pada Kelahiran Kembali (Punarbawa Tattwa) </strong></p>
<p>Banyak orang menyangsikan dan bahkan mencemoh adanya kelahiran kembali (punarbawa) ini. Sebagai manusia yang merasa diri sangat kecil dihadapan Hyang Widhi, kita dapat merasakan kejadian-kejadian yang aneh-aneh mengenai kelahiran atau bakat-bakat dan keadaan kehidupan manusia sehari-hari. Ada seseorang (anak kecil) mempunyai sifat atau watak tidak berbeda dengan leluhurnya (nenek moyangnya). Secara ilmu genetika, faktor keturunan akan berlanjut pada anak cucunya, termasuk sifat, kesenangan (hobby), ukuran tubuh, dan bahkan kecerdasan. Ahli genetika tidak menampik teori, bahwa gen-gen seseorang yang lahir dari bukan keluarga dapat muncul pada seseorang yang baru lahir. Hal tersebut didasarkan atas sejarah kehidupan manusia yang dimulai dari 2 manusia berlainan jenis (Adam dan Hawa), kemudian lahir manusia-manusia dengan berbagai bentuk tubuh, sifat, watak, kemampuan, dan bahkan cita-cita yang sama dengan manusia sebelumnya. Agama Hindu mengajarkan kapada kita semua untuk berpikir, berkata dan berbuat baik (Tri Kaya Parisudha), agar di kehidupan yang akan datang kita bisa menjelma tetap sebagai manusia yang mulia, bukan sebagai binatang (akibat dari perbuatan sebelumnya). Bahkan, jika memungkinkan kita tidak perlu menjelma kembali ke dunia, karena sudah menemukan kebahagian yang abadi, artinya Atman sudah bersatu dengan Brahman. Philosofi hidup (Filsafat Punarbawa) ini akan mengajarkan kepada kita untuk selalu berbuat baik, agar dosa kita berkurang (kalau mungkin habis – sempurna), sehingga kita tidak perlu lahir kembali untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan sebelumnya.</p>
<p>Perlu saya tambahkan, bahwa filsafat Karma dan Punarbawa adalah merupakan sebuah proses yang terjalin sangat erat satu dengan yang lainnya. Karma adalah perbuatan yang meliputi pikiran, perkataan, dan tingkah laku jasmni (perbuatan), sedangkan PUNARBAWA adalah perwujudan dari kesimpulan semuanya itu.</p>
<p>Ibu, Bapak dan umat se-dharma yang saya banggakan,</p>
<p><strong>5. Keyakinan Terhadap Adanya Moksa (Bersatunya Atman dengan Brahman)</strong></p>
<p>Moksa atau Mukti atau Nirwana berarti sebuah kebebasan, kemerdekaan. Merdeka atau bebas dari ikatan karma, kelahiran, kematian dan belenggu maya/penderitaan duniawi. Moksa adalah tujuan akhir umat hindu, di dalam veda disebut sebagai Moksartham Jagaditiha Ya Ca Iti Dharma. Pengertian ini sangat mendasar, yaitu mencapai kebahagiaan lahir dan bathin dengan jalan Dharma. Bagaimana kita menuju ke tujuan tersebut? Ini yang perlu kita pahami, bahwa setiap manusia tiada yang sempurna. Oleh karena itu, marilah kita selalu mendekatkan diri dan berbakti kepadaNYA, agar apa yang kita pikirkan, yang akan kita katakan dan lakukan selalu dijalan Dharma. Kita datang ke Pura saat ini untuk bersembahyang – mendekatkan dan berbakti (Ngaturan bakti) kehadapan Ida Hyang Widhi Wasa. Kita berdoa agar dunia dengan segala isinya selamat, baik, hidup kita sejahtera dan bahagia dst. Demikian pula, kitab suci telah menyediakan dan menuntun bagaimana caranya melaksanakan pelepasan diri dari ikatan maya, sehingga akhirnya atman dapat beratu dengan Brahman, sehingga penderitaan dapat dikikis habis dan tidak menjelma kembali ke dunia sebagai hukuman, tetapi sebagai penolong sesama manusia yaitu sebagai AWATARA. Banyak hal yang perlu kita lakukan, yang tertuang di dalam kitab suci Wedha, antara lain Yadnya (Dewa Yadnya, Resi, Pitra, Manusa, dan Buta Yadnya), Yoga (Jnana, Bhakti dan Karma Yoga) atau Marga, yaitu jalan yang bisa kita lewati untuk menyembah dan berbakti kepada Hyang Widhi.</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Ibu, bapak dan adik2 sekalian, demikian Dharma Wacana singkat yang bisa saya sampaikan, terima kasih banyak atas perhatiannya. Jika yang ada salah dalam tutur kata, pengucapan dan penyampaian, saya mohon maaf yang se-besar2-nya, dan dengan ini saya akhiri Dharwa Wacana ini dengan parama shanti:</p>
<p>Om Shanti Shanti Shanti Om.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://phdi-sby.org/?feed=rss2&#038;p=79</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>INTERNALISASI DHARMA (Yadnya) JALAN MENUJU  KEBAHAGIAAN ABADI</title>
		<link>http://phdi-sby.org/?p=75</link>
		<comments>http://phdi-sby.org/?p=75#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Jun 2010 18:35:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>teja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://phdi-sby.org/?p=75</guid>
		<description><![CDATA[(Path to The God, Jalan Menuju Tuhan) oleh : Dr IGK Paridjata Westra, M.Agr.S., M.Agr.Sc., DVM (Litbang PHDI – Surabaya) LATAR BELAKANG Kita, khususnya masyarakat Hindu di Jawa Timur sangat sedih dan prihatin mengamati berbagai fenomena yang terjadi di Bali. Bali bukan lagi Bali yang dulu lagi, yang dahulu indah alamnya, dan lestari budayanya, damai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">(Path to The God, Jalan Menuju Tuhan)</p>
<p style="text-align: center;">oleh :</p>
<p style="text-align: center;">Dr IGK Paridjata Westra, M.Agr.S., M.Agr.Sc., DVM</p>
<p style="text-align: center;">(Litbang PHDI – Surabaya)</p>
<p style="text-align: center;">
<p><strong>LATAR BELAKANG</strong></p>
<p>Kita, khususnya masyarakat Hindu di Jawa Timur sangat sedih dan prihatin mengamati berbagai fenomena yang terjadi di Bali. Bali bukan lagi Bali yang dulu lagi, yang dahulu indah alamnya, dan lestari budayanya, damai (canti) dan toleran masyarakatnya, dll. Alam dan manusia seolah sangat erat bersahabat, dan kejujuran (satyam) terpancar dari gerak dan tingkah laku tutur kata kehidupan masyaraknya.</p>
<p>Namun Bali kini sedang diselimuti berbagai masalah, tantangan sangat komplek, sehingga seolah sukar diurai ujung pangkalnya. Mari perhatikan hal-hal berikut :</p>
<p>A.   Parahyangan :</p>
<p>1.    Banyak sudah umat kita yang secara sadar telah meninggalkan keyakinannya. Hal ini sungguh sangat memprihatinkan dan menyedihkan (Kenapa???)</p>
<p>2.    Beberapa tempat ibadah (pure) sudah tidak terurus dan ada yang digusur</p>
<p>3.    Sementara umat yang ada di luar Bali sangat sulit untuk membangun rumah ibadah</p>
<p>4.    Rumah ibadah non-Hindu semakin banyak.</p>
<p><span id="more-75"></span></p>
<p>B.   Pawongan :</p>
<p>1.    Terjadi kesenjangan ekonomi, antar daerah dan wilayah (utara – selatan)</p>
<p>2.    Rendahnya tingkat partisipasi pendidikan, khususnya di pedesaan dan umumnya perempuan.</p>
<p>3.    Angka penyandang buta aksara &gt;5% (Direktoran Pendidikan Luas Sekolah, 2007)</p>
<p>4.    Kontong – kantong kemiskinan meningkat di semua kabupaten dan kota (data Bali Post 12 Juli 2006)</p>
<p>5.    Umat tidak sepenuhnya menjadi tuan rumah di negerinya sendiri, sector - sector ekonomi (usaha) tidak dikuasai oleh umat. Umat kebanyakan hanya <span style="text-decoration: underline;">sebagai pembantu</span> (pramu saji, pramu wisma, pramu niaga, sopir taksi, tukang, buruh, tenaga upahan lain) di negeri sendiri, baik pada sector informal dan formal</p>
<p>6.    Meski Bali mengandalkan (dominasi) sector pariwisata, namun yang menikmati bukan umat kebanyakan. Umat kebanyakan bukan menjadi pemain utama, sebagain umat hanya jadi penenton dan tetap miskin dan terbelakang</p>
<p>7.    Pengangguran juga meningkat, karena semakin sulit dan terbatasnya lapangan kerja (termasuk pengangguran tenaga terdidik)</p>
<p>8.    Kriminalitas (pencurian) bermotif ekonomi juga meningkat deras terutama di kota-kota, dan khusus pada momen (bulan) tertentu. Misal menjelang Hari Raya Tertentu.</p>
<p>C.   Palemahan :</p>
<p>1.    Lingkungan (ekosistem) Bali sudah banyak rusak, seperti pantai banyak tergusur, dataran banyak yang sudah bepeng-bopeng, sehingga Bali seolah –olah menjadi lebih sempit</p>
<p>2.    Kawasan hutan juga banyak rusak, karena adanya perambah liar</p>
<p>3.    Konversi lahan pertanian (sawah dan tegalan) menjadi kawasan perumahan dan industri. Bukankah ini akan membuat semakin terkurasnya sumberdaya alam (SDA) Bali ?</p>
<p>4.    Banjir dan tanah longsor yang terjadi baru-baru ini, adalah indikasi kuat rusaknya ekosistem di Bali.</p>
<p>D.  Permasalahan lain :</p>
<p>1.    Masalah sosial yang semakin meningkat, seperti banyak komplik, kekerasan antar banjar, bahkan komplik dalam keluarga (saudara) sering kita dengar (<span style="text-decoration: underline;">komplik sesama orang Bali, moral hazard</span>)</p>
<p>2.    Meningkatnya jumlah orang yang menggunakan obat psikotropika (narkoba)</p>
<p>3.    Kehidupan bebas, materialistik, egoistik semakin terasa, serta semakin jauh dari nilai humanism</p>
<p>4.    Kehidupan sek bebas juga  semakin terbuka, dll., termasuk adanya lokasi PSK.</p>
<p>5.    Permasalahan struktur sosial (kasta) juga menjadi isu yang belum selesai. Hal ini sekaligus menunjukkan masih adanya keangkuhan sosial</p>
<p>6.    Komplik antar lembaga pembina agama, juga belum terselesaikan</p>
<p>7.    Bali belum bebas dari ancaman terorisme, dll</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>TANTANGAN YANG DIHADAPI</strong></p>
<p>Kita (masyarakat dan pemerintah – Bali) juga sangat prihatin terhadap tantangan yang sedang dan akan dihadapi Bali di waktu yang akan datang. Tantangan ini tidak ringan, kalau tidak pandai kita menanganinya, maka semakin berat beban yang ditanggung Bali. Mari kita cermati tantangan tsb :</p>
<p>1.    Meningkatnya jumlah penduduk, khususnya <span style="text-decoration: underline;">pendatang</span>, baik mereka yang punya skill dan yang tanpa skill (pengangguran).</p>
<p>2.    Sementara orang Bali yang miskin disingkirkan (transmigrasi) ke berbagai daerah terpencil di luar Bali dan mereka tidak terurus sama sekali, bagai anak ayam kehilangan induknya (saya mengamati sendiri hal ini di suatu desa di Kota Mobagu, Sulut)</p>
<p>3.    Penetrasi budaya asing, melalui torisme, investror, dll., sekaligus dengan <span style="text-decoration: underline;">life style</span>-nya (materialistik, egoistik) yang berbeda dengan budaya Bali</p>
<p>4.    Perkembangan lembaga-lembaga keagamaan (pusat studi Injil, lembaga dakwah, Sufi, kelompok pengajian, dll). Hal tsb dapat memperkaya khasanah budaya Bali (lebih plurar), atau sekaligus jug dapat menghancurkan nilai-nilai budaya tradisional yang kita junjung tinggi, termasuk keyakinan kita, dll.</p>
<p>5.    Semakin meningkatnya populasi non – Bali dan semakin sempaitnya ruang (space) bagi kehidupan masyarakat, terbatasnya sumber daya alam, dll.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>APA AKAR PERMASALAHAN  BALI</strong></p>
<p>Permasalahan  (fenomena, fakta) Bali yang saya uraikan di atas, cepat atau lambat akan dapat menjadikan derita (penderitaan umat) dan kehancuran Bali, sekaligus Hindu, bila kita tidak dapat menemukan solusinya yang tepat. Bali bukan lagi menjadi The island of paradise (pulau dewata), dll., Bali hanya tinggal kenangan. Saya tidak tahu pasti apakah akan terjadi 10 – 20 tahun yang akan datang ???</p>
<p>Pertanyaan : <span style="text-decoration: underline;">KENAPA MASALAH tersebut DI ATAS  ITU DAPAT TERJADI ?</span>.</p>
<p>Hasil analisis (kajian) dan dapat saya simpulkan sementara, sbb :</p>
<p>1.    Lemahnya kesadaran Shrada kita. Hasil analisis saya (mengambil sampel di beberapa daerah), mereka tidak memahami keyakinannya sendiri (filosofi). Apa makna atau hakekat keyakinan Shrada tsb. Dalam Bahasa Bhagavad Githa (BG) disebut sebagai <span style="text-decoration: underline;">The Science of being</span> (<span style="text-decoration: underline;">Ilmu Pembebasan manusia dari segala keterikatan dan kebodohan, Shrada adalah sepirit untuk bangkit, untuk bekerja keras, untuk pengabdian, mencapai kebahagian abadi untuk semua kehidupan</span>)</p>
<p>2.    Mereka juga sangat minim pengetahuannya terhadap tata kerama (etika, karma) kehidupan yang dalam bahasa BG disebut sebagai <span style="text-decoration: underline;">The art of living.</span> Hal ini bersumber karena kelemahan Shrada (point 1)</p>
<p>3.    Praktek keagamaan yang disebut dengan ritual (dengan konsep panca Yadnya) sangat marak, namun Yadnya diartikan dalam dimensi upacara saja bhakti ke YME, yang sempit tanpa makna universal (hakekat kehidupan, <span style="text-decoration: underline;">the nature of life</span>) sebagai hakekat (esensi) agama itu sebenarnya. Yadnya yang demikian tidak optimal dalam meningkatkan kualitas hidup manusia (fisikal dan spiritual) dan memelihara kelestarian alam Bali</p>
<p>4.    Ketidak seimbangan praktek Yadnya vertical (upacara, dengan cost yang berlimpah) dengan praktek Yadnya horizontal (membangun nilai – nilai kemanusiaan, membangun harkat dan martabat manusia dan seluruh kehidupan)</p>
<p>5.    Kepedulian Pemerintah Bali terhadap umat, <em>misleading</em>, tidak tepat sasaran, tidak tepat pada akar maslahnya, termasuk kepedulian terhadap umat Hindu di luar Bali.</p>
<p>6.    Konsep pembangunan (perizinan) pemerintah tidak sepenuhnya berpihak kepada orang Bali dan atau umat Hindu, terutama dalam kaitannya dengan membangun keajegan Bali. Pemerintah cenderung lebih banyak mengejar keuntungan sementara melalui peningkatan PAD, tanpa peduli akibatnya di masa depan (pembangunan hotel, resort, pemungkinan, industri, dll), dengan menggusur lahan pertanian, kawasan hutan, wilayah suci, dll. Sementara izin pembangunan tempat ibadah non- Hindhu marak.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>APA SOLUSINYA</strong></p>
<p>Saya penawarkan solusi atas berbagai permasalahan yang saya urai di atas, adalah  <span style="text-decoration: underline;">MEMBANGUN KEMBALI BUDAYA YADNYA</span> (<span style="text-decoration: underline;">Dharma</span>) di Bali, melalui 2 (dua model pendekatan terpadu dan program, sbb :</p>
<p><strong>Pendekatan Pendidikan (Education) </strong></p>
<p>1. <span style="text-decoration: underline;">Program Pendidikan Keagamaan sbb</span> :</p>
<p>1.1. Pembentukan Kader – kader Pedharma Wacana yang unggul dalam</p>
<p>jumlah dan kualitas, untuk : Menyebarluaskan pemahaman yang benar</p>
<p>tentang hakekat Veda (BG) karena :</p>
<p>(a)                       Veda dinyatakan sebagai sumber pengetahuan  kekal (<span style="text-decoration: underline;">The Eternal knowledge</span>) dan sumber spirit untuk mencapai kehidupan bahagia</p>
<p>(b)                       Veda adalah sumber  pemikiran dan dasar dari segala perbuatan benar Artinya : Pikiran dan perbuatan manusia yang benar, penuh kasih sayang, bakti, penuh ketulusan, ikhlas, siap berkorban menolong sesama, kalau bersumber dari Veda</p>
<p>(c) Veda adalah sumber utama Yadnya. Yadnya, disebut sebagai representasi paling utama dari perbuatan manusia Hindu khususnya</p>
<p>(d)                       Yadnya dan Veda merupakan dua fondasi utama yang bersifat integral dari Budaya Veda (Vedic culture). <span style="text-decoration: underline;">Budaya Bali adalah budaya Hindú atau budaya Yadnya (Dharma) yang bersumber dari Veda</span></p>
<p>(e)                       Meningkatkan pemahaman Srada yang sesungguhnya dan sebar luaskan nilai nilai keyakinan yang ada dalam Veda (BG). Dalam <span style="text-decoration: underline;">The Vedic Study</span> Studi tentang Veda, (Satyakam Varma, 1984) disebutkan sbb : “<span style="text-decoration: underline;">It’s a sacred duty of all the Vedic adherents to study and teach as well as to listen and to talk about Veda</span>” (Adalah kwajiban suci bagi setiap pengikut Veda untuk mempelajari dan mewacanakan Veda….).</p>
<p>Bagaimana kita mau menyebarkan nilai (kebenaran Brahman), kepada <span style="text-decoration: underline;">orang lain, kalau kita sendiri tidak memahami ajaran agama kita ?. </span></p>
<p>1.2. Mendirikan Pusat Studi Veda (BG) di tiap Kabupaten dan Kota di Bali, untuk :</p>
<p>(a)                       Tingkat Dasar (<span style="text-decoration: underline;">Primary</span>)</p>
<p>(b)                       Tingkat Menengah (<span style="text-decoration: underline;">Intermediate</span>)</p>
<p>(c) Tingkat Maju (<span style="text-decoration: underline;">Advance</span>)</p>
<p>Fungsinya, adalah membentuk dan menghasilkan manusia Hindhu baru pengikut Veda (<span style="text-decoration: underline;">Vedic adherent, or followers</span>) untuk semua tingkatan (umur) menuju kejayaan Hindu masa depan di Bali dan luar Bali. Kader-kader ini diharapkan dapat menjadi panutan (pikiran, perkataan dan perbuatan)</p>
<p>1.3. Me-<span style="text-decoration: underline;">review</span> dan merivitalisasi hakekat berbagai ritual dan Samskara agar</p>
<p>dapat memeri manfaat bagikehidupan manusia dan alamnya, dengan</p>
<p>mengkaji aspek :</p>
<p>(a)                       Harus bersumber dari Weda sebagai sumber pengetahuan kebenaran</p>
<p>absolute (disebut juga sebagai pengetahuan suci sehingga</p>
<p>kebenarannya tidak tergantung dari fungsi waktu dan tempat) tentang</p>
<p>ilmu kehidupan (<span style="text-decoration: underline;">The science of being</span>) dan etika kehidupan (<span style="text-decoration: underline;">The art of</span></p>
<p><span style="text-decoration: underline;">living</span>)</p>
<p>a.1. Penerapannya disesuaikan dengan adat setempat (desa kala</p>
<p>patra). Namun jangan sampai adat (alat) yang mendominasi tujuan</p>
<p>a.2. Penerapannya harus mengacu pada hakekat, bukan kehendak (nafsu), sehingga tidak menimbulkan iri dan dengki (gejolak sosial)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>2. Program Pendidikan Luar Sekolah (PLS)</p>
<p>Meningkatkan (mempercepat) Program Pemberantasan Buta Aksara sesuai dengan Inpres No.5 Tahun 2006, baik untuk (a) pendidikan Keaksaran dasar dan (b) pendidikan keaksaraan lanjut. Data menunjukkan bali masih termasuk daerah merah (penyandang Buta Aksara &gt;5%). Hal ini dapat dilakukan melalui kegiatan PKK di tingkat desa (dusun, banjar) melibatkan tokoh masyarakat dan tokoh agama. Sumber dana dan program berasal dari Dinas Pendidikan Kabupaten dan Kota.</p>
<p><strong>Pendekatan Ekonomi</strong></p>
<p><strong>1. Sasaran</strong></p>
<p>Pendekatan ekonomi masyarakat dilakukan dengan program dan sasaran yang jelas (prioritas)  yaitu :</p>
<p>(a) keluarga atau rumah tangga miskin</p>
<p>(b) keluarga berpengasilan rendah dan</p>
<p>(c) kelompok masyarakat yang paling rentan dari akibat tekanan ekonomi.</p>
<p>(the most vulnerable society)</p>
<p><strong>2. Program (Skema Pemberdayaan)</strong></p>
<p>Usaha-usaha (pemberdayaan) ini dapat dilakukan melalui program-program dan kelembagaan sbb :</p>
<p>2.1. Pengembangan Usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) ditingkat</p>
<p>Banjar</p>
<p>2.2. Meningkatkan Program Nasional pemberdayaan masyarakat (PNPM),</p>
<p>melalui kelompok – kelompok masyarakat dan lembaga pendidikan</p>
<p>(khusus Perguruan tinggi)</p>
<p>2.3. Menggalakkan usaha perkoperasian dengan sasaran keluarga miskin</p>
<p>2.4. Meningkatkan peran sektor perbankan untuk mengucurkan pendaan</p>
<p>(kridit lunak) untuk UMKM dan PNPM</p>
<p>2.5. Meningkatkan keterlibatan keluarga miskin dalam program pemberdayaan</p>
<p>kecamatan dan desa (kelurahan)</p>
<p>2.6. Meningkatkan pendidikan kewirausahaan (entrepreneurship) melalui</p>
<p>kader-kader pembangunan desa (kelurahan)</p>
<p>2.7. Pembangunan sentra – sentra ekonomi di pedesaan untuk pembangunan</p>
<p>pedesaan, mengeliminasi kemiskinan, mencegah urbanisasi.</p>
<p>2.8. dll.</p>
<p><strong>3. Pendekatan Kebijakan Pemerintah</strong></p>
<p>Pemerintah Bali (TK I dan II) seharusnya  dapat menata kehidupan masyarakat yang lebih baik, sesuai tradisi Bali (mempertahankan budaya, dan kehidupan yang lebih sejahtera. Hal ini dapatdilkukan dengan mengatur :</p>
<p>3.1. Perizinan tempat tinggal</p>
<p>3.2. Pembatasan masuknya penduduk luar Bali yang tidak memiliki tempat</p>
<p>tinggal jelas dan pekerjaan jelas, agar tidak menjadi beban pemerintah.</p>
<p>3.3. Perizinan banungan (tidak menggunakan lahan-lahan produktif dan atau</p>
<p>lingkungan yang disucikan)</p>
<p>3.4. Kerjasama dengan sektor per-bankan, agar dapat membantu sektor</p>
<p>UMKM, home industri di pedesaan yang melibatkan tenaga kerja orang-</p>
<p>orang Bali</p>
<p>3.5. Mendirikan lembaga pelatihan kewirausahaan</p>
<p>3.6. Mendirikan perbankan khusus untuk umat Hindhu, sesuai ajaran Dharma</p>
<p>3.7. dll.</p>
<p><strong>4. Pendekatan Partisipatif</strong></p>
<p>Pendekatan partisipatif, adalah keterlibatan masyarakat secara luas di tingkat desa (banjar), desa sd. Kecamatan., melibatkan tokoh formal dan informal. Masyarakat adalah pelaku (subject sekaligus object) program, sekaligus sebagai pengontol (monev) pelaksanaan serta peningkmat hasil program. Bimbingan pemerintah (dinas terkait) dan lembaga independen lain termasuk perguruan tinggi, akan menentukan arah dan keberhasilan program.</p>
<p>Perlu dibentuk suatu Forum Pemberdayaan Masyarakat (FPM) yang menyangkut berbagai aspek kehidupan di tingkat Kecamatan dan Desa. Peran pemerintah, adalah memfasilitasi kegiatan program.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">1. Catatan 2</span> :</p>
<p>1.    Betapa pentingnya pengetahuan (philosofi) dalam Veda (BG)</p>
<p>(a)    Pengetahuan ibarat sinar penerangan yang dapat mencerdaskan, menyadarkan dan mensucikan hati manusia</p>
<p>(b)    Persembahan Ilmu Pengetahuan lebih mulia dari pada persembahan materi (Baca Mantran Gayatri dan BG IV : 33)</p>
<p>(c)     Tiada sesuatu dalam dunia ini dapat menyamai Ilmu Pengetahuan (BG IV : 38)</p>
<p>(d)    Ia yang memiliki kepercayaan dan menguasai panca indrianya mencapai Ilmu Pengetahuan, setelah memiliki Ilmu Pengetahuan, dengan segera ia menemuai kedamaian abadi (BG IV : 39)</p>
<p>(e)    Orang yang memiliki Ilmu Pengetahuan menunjukkan karakter : e.1. Rendah hati (tidak sombong, angkuh, dll), e.2. Berperilaku sederhana dan e.3. Bersifat toleran.</p>
<p>(f)       Dengan demikian pelajari Veda (BG) dan pengetahuan keduniawian lainnya, sebarkan pengetahun tsb, sehingga Bali menjadi maju, sejahtera dan damai</p>
<p>2.    Pemahaman Yadnya (Dharma) yang komprehensif :</p>
<p>(a)    Dalam Satyakam Varma (1984) disebutkan bahwa <span style="text-decoration: underline;">Yadnya is a primary and foremost duty of every humanbeing for securing a good future within this life and beyond</span> (Yadnya, adalah kewajiban manusia yang utama dan pertama untuk memperoleh kebahagiaan semasa hidupnya, atau sesudah mati)</p>
<p>(b)    <span style="text-decoration: underline;">Our good or bad acts (karma) become the deciding factors for our future life and birth</span> (Baik buruk karma kita akan menentukan hidup dan kelahiran yang akan datang). Hentikanlah kebencian, keangkuhan dan kekerasan di Bali, agar Bali kedepan menjadi lebih baik</p>
<p>(c)     <span style="text-decoration: underline;">Dalam The Introduction to BG, </span>disebut bahwa : Pada setiap kehidupan melekat Dharma, yaitu : kewajiban atau pelayanan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan tsb. Jadi hakekat hidup, adalah bekerja, (berkarma) melayani. Oleh karena itu, khususnya manusia &#8212;siapapun dia : Brahmana, kesatria, wesia dan sudra), lakukanlah kewajiban dan pelayanan ini, sebaik-baiknya berdasar penetahuan Veda (BG), untuk hidup mencapai kehidupan berbahagia. Artinya : Umat harus mau dan mampu mengambil kesempatan kerja baik disektor informal, dan formal, agar tidak diambil oleh orang luar. Lakukanlah kewajibanmu sesuai hakekat kehidupan tsb.</p>
<p>(d)    Praktek agama Hindu &#8212;disebut juga sebagai budaya Veda (Vedic culture) berbasis pada :</p>
<p>d.1. Pembelajaran kitab-kitab suci sebagai sumber pengetahuan abadi</p>
<p>(hukum yang kekal, absolut)</p>
<p>d.2. Menerapkan Yadnya (berkarma, di Bali disebut etika) dalam</p>
<p>kehidupan sehari-hari yang bersumber dari pengetahuan abadi</p>
<p>tsb</p>
<p>d.3. Melaksanakan pemujaan, ritual yang berdasar pengetahaun abadi</p>
<p>Artinya : laksanakan praktek keagamaan secara proporsional</p>
<p><strong>PENUTUP</strong></p>
<p>Secara ringkas saya sampaikan, bahwa permasalahan Bali (Umat dan lingkungannya) disebabkan karena lemahnya (terbatas) pengetahuan (philosofi) sebagai sumber dari segala sumber : pemikiran dan perbuatan. Dengan meningkatkan pengetahuan akan tumbuh kesucian hati dan pikiran, meningkatnya kesadaran dan kecerdasan umat. Muaranya, adalah perbuatan yang baik (Yadnya, Dharma) dan kahirnya dicapai kebahagian hidup.</p>
<p>Integrasi pendekatan pendidikan, ekonomi dan dibarengi dengan kebijkan pemerintah yang berpihak kepada umat, serta keterlibatan masyarakat (sebagai object sekaligus sebagai subject) secara terpadu (integrated approaches) akan dapat mempertahankan Bali (umat Hindhu khususnya) dari keterpurukan dan tereliminasi dari persaingan kehidupan yang semaikin berat dimasa datang. Kesadaran dan kepedulian serta kerja keras secara tulus (sesuai ajran Dharma&#8212;melayani&#8211;) tokoh umat, pengurus PHDI, Perguruan Tinggi dan siapa saja, kepada umat Hindhu akan dapat menolong menyelamatkan Bali</p>
<p>Demikian yang dapat saya usulkan untuk bahan renungan dalam Pesamuan Agung PHDI di Bali dan Lembaga kajian strategis ajeg Bali, Kita semua mengharapkan agar Bali (umat Hindu) dapat menjadi tuan yang baik di negerinya sendiri (Home land). Semoga Bali menjadi sejahtera, bahagia dan dinamis.</p>
<p>Om Canti-Canti-Canti Om.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Penulis</span> :</p>
<p>Dr IGK Paridjata Westra, M.Agr.S., M.Agr.Sc., DVM</p>
<p>(Dosen FKH – Unair)</p>
<p>Alamat : Jl. Taman Sutorejo Timur No. 19- Surabaya</p>
<p>TLp. (031) 5933543. HP. 0818594297. E-mail : artsew@indo.net.id</p>
<p>Sumbangan Pemikirna untuk :</p>
<p>1.    Pesamuan Agung PHDI di Denpasar</p>
<p>2.    Lembaga Kajian Strategis Ajeg Bali</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://phdi-sby.org/?feed=rss2&#038;p=75</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

