LOKA SABHA VIII PHDI DAN MUSCAB IV WHDI KOTA SURABAYA

Selaku umat beragama yang patuh, marilah kita bersama-sama dengan hati yang sejuk, penuh ketulusan memanjatkan Puja Astuti, Puja Astungkara, Angayubagya ke hadapan Ida Hyang Widhi Wasa, karena atas Asung Kertha Waranugraha-Nya kita bisa berkumpul menyelenggarakan Loka Sabha PHDI VIII dan Musyawarah Cabang WHDI IV kota Surabaya pada hari ini Minggu 15 Juni 2008,dengan suasana yang penuh kebersamaan, damai dan rukun, demikian kata pembuka dari sambutan oleh Ketua Panitia Loka Sabha VIII Parisada Hindu Dharma Indonesia Kota Surabaya Prof. Ir. I Nyoman Sutantra, MSc, PhD, yang sehari-harinya adalah Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (LPPM-ITS). Ditambahkan juga oleh Prof. Nyoman Sutantra, bahwa pertemuan dan perhelatan yang dilakukan di Pura Agung Jagat Karana, jalan Lumba-lumba No 1 Surabaya ini sangat istimewa, mengandung dan menyiratkan beberapa keistimewaan, yaitu:

  1. Keistimewaan yang pertama adalah kita bangsa Indonesia baru saja merayakan 100 tahun Kebangkitan Nasional, sehingga besar harapan kita bahwa pertemuan kita dijiwai oleh semangat persatuan dan kebangkitan nasional dalam wadah NKRI. Karena semangat itu jugalah maka thema dari Loka Sabha VIII PHDI kali ini adalah: ”Dengan Loka Sabha Kita Mantapkan Pemahaman dan Pengamalan Ajaran Agama Hindu untuk Kerukunan Umat. Maknanya adalah kita bersama mengajak umat Hindu dan seluruh umat manusia untuk mengamalkan ajaran Agama sebaik-baiknya untuk dapat membangun kebersamaan, kerukunan dan kedamaian seluruh umat manusia, sehingga umat manusia bisa hidup jagatdhita dan moksartham. Sedangkan thema dari Muscab WHDI IV adalah: Melalui Muscab WHDI kota Surabaya kita membangun moral dan kejayaan bangsa. Adapun makna dari tema ini adalah bahwa umat Hindu melalui peran wanitanya mengajak seluruh umat manusia untuk menjaga dan membangun moral untuk kita bisa hidup lebih bijak, lebih cerdas, lebih santun berada dijalan yang benar demi kejayaan bangsa Indonesia yang kita cintai bersama.
  2. Keistimewaan yang kedua adalah Surabaya sebagai kota domisili kita bersama, baru saja menerima penghargaan Adipura, tiga kali berturut-turut, kita ucapkan selamat dan terima kasih kepada bapak Wali Kota Surabaya atau yang mewakili yang berkenan hadir pada hari ini. Kita doakan bersama semoga Surabaya terus berkembang menjadi Cyber City yang sejahtera, aman, damai berwawasan lingkungan. Umat Hindu dengan konsep Tri Hita Karana yaitu konsep hidup yang harmonis dengan Tuhan untuk hidup lebih bermoral, harmonis sesama manusia untuk hidup lebih damai dan santun, dan harmonis dengan lingkungan untuk hidup lebih sehat dan sejahtera akan bisa berpartisipasi dan berkontribusi dalam membangun Surabaya. Dengan konsep Tri Hita Karana tersebut umat Hindu dituntun secara tulus untuk melakukan penanaman pohon bunga, pohon berbuah, pohon berumbi, dan pohon berdaun pada sepertiga pekarangan rumahnya sebagai paru-paru palemahan, sehingga sangat membantu penyerapan CO2 yang menjadi penyebab utama terjadinya global warming.
  3. Keistimewaan yang ketiga adalah bahwa pertemuan ini untuk pertama kalinya digabung antara Loka Sabha PHDI dan Muscab WHDI dengan penuh rasa kebersamaan dan kekeluargaan. Hal ini didukung oleh tuntunan sastra yang diyakini umat Hindu yang isinya:

Jika ada kebajikan dihati, maka akan ada ketentraman rumah tangga;

Jika ada ketentraman rumah tangga, akan ada keajegan daerah;

Jika ada keajegan daerah, maka akan ada keajegan negara.

Kebersamaan ini menunjukan keinginan yang kuat dari umat Hindu Surabaya untuk membangun kebajikan dan membangun keluarga yang tenteram yang jagatdhita sehingga dapat berpartisipasi positif dalam membangun Surabaya dan bangsa secara ajeg.

Pada Loka Sabha VIII ini diundang sejumlah 113 peserta dan 107 peninjau yang terdiri dari PHDI Provinsi Jawa Timur, PHDI Kota Surabaya, wakil PHDI Kecamatan, wakil WHDI Kota, wakil Banjar Surabaya, wakil Sektor-sektor di Banjar Surabaya, wakil organisasi bernafaskan Hindu, wakil Yayasan bernafaskan Hindu, wakil generasi muda Hindu, wakil TPKH/UKKH Perguruan Tinggi di Surabaya, wakil Swastika Taruna, wakil Paguyuban bernafaskan Hindu, dan sejumlah tokoh umat Hindu Surabaya. Dalam Muscab IV WHDI kota Surabaya diundang sejumlah 100 peserta. Pada kegiatan yang dilaksanakan satu hari penuh dilakukan tiga tugas mulia umat yang sangat penting yaitu: melakukan evaluasi terhadap kegiatan keumatan yang telah diselenggarakan selama periode 2003-2008 untuk dapat dijadikan pengalaman dan pelajaran berharga bagi kita umat Hindu Surabaya; yang kedua adalah menyusun progam untuk 5 tahun kedepan sebagai kelanjutan dan perbaikan dari apa yang telah dilakukan 5 tahun sebelumnya; yang ketiga adalah memilih kepengurusan PHDI dan WHDI kota Surabaya yang dipercaya dan didukung bersama dalam menjalankan program 5 tahun kedepan. Ketiga tugas ini adalah tugas mulia, dengan kemulian yang ada dihati umat Hindu yakin tugas mulia tersebut dapat terlaksana dengan baik, penuh kerukunan dan kedamaian.

Dalam melakukan evaluasi kegiatan kita semua sepatutnya bijak dan cerdas untuk melihat kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman baik masa kini maupun masa depan (berdasar analisa SWOT). Berdasarkan hasil evaluasi inilah kita harus juga secara bijak dan cerdas untuk menyusun program yang Spesifik atau jelas, program yang terukur (Measureable), program yang terjangkau (Achieveable), program yang Realistic untuk dikerjakan, dan program yang memiliki batasan waktu (Time), sehingga dikatakan program kedepan harus SMART. Dalam kita bersama memilih kepengurusan juga sepatutnya kita lakukan dengan penuh kebijaksanaan dan kecerdasan melalui semangat Apresiasi, Partisipasi dan Kontribusi, imbuh Prof. Nyoman Sutantra yang juga adalah Ketua Walaka PHDI Provinsi Jatim ini.

Sesuai dengan AD/ART PHDI Kota Surabaya, yang mengacu kepada AD/ART PHDI Provinsi JATIM dan PHDI Pusat, maka pada Loka Sabha VIII PHDI Kota Surabaya ini dipilih Pengurus yang terdiri dari Paruman Pandita, Paruman Walaka dan Pengurus PHDI Kota Surabaya. Sebagai Ketua Paruman Pandita terpilih Pandita Gede Anom J.K Manuaba, sedangkan Prof. Dr. Ir. I Made Arya Djoni, MSc dipilih sebagai Ketua Paruman Walaka. I Wayan Suraba SH terpilih sebagai Ketua Pengurus PHDI Kota Surabaya masa bhakti 2008-2013 secara aklamasi setelah masing-masing perwakilan Parisada Kecamatan se-kota Surabaya memberikan tanggapan atas laporan Kegiatan Kerja Pengurus Parisada masa bhakti 2003-2008 pada sesi pandangan umum acara Loka Sabha.

Gambar 1. Panitia Loka Sabha foto bersama Wakil Wali Kota Surabaya

Pada Muscab IV Wanita Hindu Dharma Indonesia Kota Surabaya terpilih Ni Putu Murni A.S., A.Md.Kep sebagai Ketuanya. Kedua organisasi Induk Agama Hindu di Surabaya ini  juga menetapkan program kerja masing-masing selama 5 (lima) tahun yang dituangkan dalam Surat Keputusan.

Gambar 2. Pengurus WHDI Kota Surabaya 2008-2013

Hal yang menarik yang perlu disimak dan dihayati pada acara ini adalah tidak dipergunakannya kata “Laporan Pertanggungjawaban” Pengurus PHDI, seperti yang biasa ditemui pada kegiatan suatu organisasi, melainkan laporan kegiatan-kegiatan program kerja untuk dipertanggungjawabkan. Hal ini dilakukan, karena pengurus sudah menyusun program kerja dan berusaha melakukan kegiatan pembinaan dan pelayanan Umat dengan penuh tanggung jawab dan rasa “NGAYAH dan BHAKTI” baik kepada Umat maupun kehadapan Ida Hyang Widhi Wasa,  jelas Ketua PHDI Kota Surabaya masa bhakti 2003-2008 I Made Sumerta, A.Md. Kep. Lebih jauh disampaikan oleh I Made Sumerta, bahwa hubungan antara PHDI, WHDI, Banjar Surabaya dan Yayasan Puniakerti pada masa kepengurusannya sangat harmonis. Oleh karena itu hubungan tersebut harus tetap dijaga dan ditingkatkan oleh Pengurus baru. Pada kesempatan lain Sekretaris PHDI Ir. Ketut Gotra Astika, S.Ag menyampaikan, bahwa pada masa kepengurusan tahun 2003-2008 sudah dilaksanakan pelatihan Pinandita dan Serati. Dari pelatihan tersebut 28 Pinandita tersertifikasi untuk dapat melayani umat dalam melaksanakan Yadnya. Selain itu dibentuk juga Paguyuban Pamangku/Pinandita Dharma Kriya Shanti,  yang diketui oleh Pinandita I Ketut Sudana, S.Ag.

Gambar 3. Pawintenan Pamangku di Pura Agung Jagat Karana Surabaya

Sebagai penerus, I Wayan Suraba dalam kata sambutan setelah terpilih sebagai Ketua menyampaikan, bahwa dalam pembinaan dan pelayanan umat kedepan PHDI Kota Surabaya tidak mungkin bekerja sendiri, harus tetap menjalin kerjasama dengan organisasi/lembaga umat Hindu lain, seperti WHDI, Banjar Surabaya, Yayasan Jagat Karana Surabaya, Paguyuban Punia Kerti, UKKH Perguruan Tinggi dan organisasi pemuda hindu lainnya, termasuk sampradaya.

Pada kesempatan terpisah, Ni Putu Murni ketua WHDI baru terpilih, menyatakan kepengurusannya akan diisi oleh tenaga-tenaga muda yang masih sangat segar, sehingga kegiatan organisasi yang dipimpinnya akan bisa mengikuti perkembangan umat dan organisasi wanita lainnya, khususnya organisasi wanita yang di kota Surabaya. Dalam pembinaan dan pelayanan Umat, WHDI siap bekerjasama dengan PHDI, Banjar, Yayasan Jagat Karana, Paguyuban Punia Kerti dan organisasi Hindu lainnya di Surabaya. Tidak lupa juga kami sampaikan terima kasih kepada Ibu Ni Wayan Sudiati, selaku ketua WHDI masa bhakti 2003-2008, yang telah membesarkan nama WHDI di kota Pahlawan, imbuh Bu WHDI yang baru ini.

Tepat pkl 19.00 Loka Sabha VIII PHDI dan Muscab IV WHDI Kota Surabaya ditutup oleh Ketua PHDI Provinsi Jatim dengan rasa syukur – Astungkara atas Asung Kertha Waranugraha Ida Hyang Widhi Wasa, bahwa pelaksanaan 2 kegiatan ini berjalan lancar, tertib, dan sukses sesuai dengan jadwal yang direncanakan. Sebelum penutupan, dilaksanakan Wisuda Samskara Pengurus PHDI dan WHDI Kota Surabaya yang baru dipimpin oleh Pandita Gede Anom J.K. Manuaba. Selanjutnya acara ditutup dengan Parama Shanti. (Batan08).