Riwayat Pura dan Permasalahannya.
Pura Agung Jagat Karana dibangun mulai tahun 1968 dan mulai digunakan pada tahun 1969, merupakan Pura Khayangan Jagat untuk Umat Hindu di Kota Surabaya dan sekitarnya, yang terletak di Jalan Ikan Lumba-lumba No. 1 Surabaya (Kelurahan Perak Barat Kecamatan Krembangan Kota Surabaya) dengan luas area 7.703 m2 yang terdiri dari Mandala Utama (Jeroan), Mandala Madya (Jaba Tengah) dan Mandala Nista (Jaba Luar) dengan sarana persembahyangan berupa tempat pemujaan utama dan sarana pendukung lainnya sebagaimana Lay Out Plan terlampir, yang rata-rata umur bangunannya sudah diatas 20 tahun (tanggal 20 September 1987 diresmikan oleh Gubernur KDH Tingkat I Jawa Timur Bpk. WAHONO) dengan bahan bangunan utama adalah beton dan pasangan batu bata (campuran spesi pasir, kapur dan semen).
Penataan/ Renovasi/ Pembangunan kembali Pura Agung Jagat Karana Surabaya sudah dimulai sejak tanggal 10 Maret 2003 s/d 23 Juli 2005 dengan merenovasi bangunan utamanya yaitu Padmasana lengkap dengan 2 buah Pepelik, Penglurah, Bale Pesantian/ Bale Sari dan 2 buah Apit Lawang dan bangunan yang lainnya, akan dilaksanakan penataan/ renovasinya secara bertahap.
Untuk tahun 2009, sesuai dengan kesepakatan rapat antara Banjar Surabaya PHDI/ WHDI Kota Surabaya, Yayasan Jagat Karana, Paguyuban Punia Kerti beserta Tokoh-tokoh Umat Hindu Surabaya, disepakati untuk merenovasi beberapa bangunan di lingkungan Pura Agung Jagat Karana Surabaya, dengan skala prioritas, pertimbangan, diantaranya di :
MANDALA UTAMA (JEROAN) :
Bale Pawedan
- Ketinggian lantai bangunan sudah tidak sesuai dengan pelataran Padmasana sesuai aturan Asta Kosala – kosali seharusnya, minimal mendekati sama.
- Bahan kayu yang ada dari kayu jati, seharusnya untuk Parahyangan dipakai kayu cendana, menengen, cempaka, majegau dan suren (salah satu).
Membangun Bale Panjang
Dimaksudkan, jika umat bersembahyang di siang hari lebih nyaman terhindar dari panas terik matahari danhujan.
Kori Agung
- Kondisi fisik bangunan sudah mulai rapuh.
- Ketinggian bangunan dari segi etika dan estetika, akibat beberapa kali peninggian halaman MandalaUtama berpengaruh patokan perhitungan sesuai dengan uraian Smerti Astabhumi/ Asta Kosali yangmenetapkan bilangan dengan Asta Dewata/ Astawara.
Keadaan Utama Mandala saat ini.
MANDALA MADYA (JABA TENGAH) :
Beji
- Lantai lingkungan beji sudah ambles.
- Padmasari, besarannya harus disesuaikan akibat renovasi Padmasana.
- Dengan perkembangan jumlah umat yang bersembahyang ukuran panjang lebar beji, kolam danpemagaran perlu penyesuaian.
Bale Agung dan Bale Serbaguna
- Atap asbes motif genteng sudah mulai bocor/ retak-retak akibat usia.
- Pemasangan plafond, listplank dan pengecatan.
MANDALA NISTA(JABA LUAR) :
Kantin, KM/WC, dan Tempat Ambulans
- Bangunannya 1 (satu) lantai dijadikan 2 (dua) lantai yang difungsikan untuk kantor sekretariat bersamaantara Banjar Surabaya, PHDI Jawa Timur/ Kota Surabaya dan Yayasan Jagat Karana Surabaya.
Pos Jaga
- Bangunan yang ada semi permanen dijadikan permanen.
Pagar Keliling pada Mandala Utama, Madya dan Nista :
- Kondisi fisik pagar rata-rata sudah sangat rapuh (besi beton nampak dan sudah karatan akibat air laut termasuk spesinya sudah mengelupas dan batu batanya juga senawanan).
- Dikawatirkan sewaktu-waktu pagar bisa roboh dan memakan korban (pagar sebelah Timur berbatasan dengan rumah tangga dan sebelah Utara berbatasan dengan sekolah/ lapangan olah raga SD, SMP dan SMA Hang Tuah Surabaya).
- Ketinggian pagar kurang memenuhi syarat, akibat beberapa kali diadakan pengurugan areal Pura.
Tembok Pura yang sudah direnovasi (Belakang Padmasana)
Bentuk Kegiatan yang Dilaksanakan
Bentuk kegiatan dan jadwal kegiatan beserta anggarannya selengkapnya dapat anda download disini.

