web analytics

Mengapa Orang Bali Gampang Pindah Agama ?

May 19, 2010 By: admin Category: Artikel

Diskusi tentang “Muhammad Kadek Rihardika bin Ketut Pandika” sekalipun terlihat main-main saja, sebenarnya mengandung dua pertanyaan yang cukup menarik. Mengapa orang Bali relative mudah pindah agama? Dan apa yang harus dilakukan untuk mencegahnya? Sudah ada penelitian tentang orang-orang Bali yang pindah ke Kristen di Bali, dilakukan oleh Drs Nyoman Wijaya, dosen sejarah di Faksas Unud, untuk thesis S2. Penelitian ini dan hasilnya diterbitkan berupa sebuah buku tebal, dibiayai oleh sebuah Yayasan Kristen di Bali. Saya belum membaca buku tersebut. Menurut Pak Made Titib ada 7 atau 9 hal yang menyebabkan orang-orang Bali pindah ke agama Kristen. Sebab yang utama adalah masalah kemiskinan, masalah ekonomi. Sebab-sebab yang lain, adalah adat, kasta, agama (ini tidak menunjukkan urutannya) dll

Karena buku ini berdasarkan penelitian, wawancara dengan orang-orang Bali yang sudah menjadi Kristen, apa yang disampaikan di dalamnya dapat diterima kebenarannya. Jadi benar bahwa soal pindah agama, dalam ini ke agama Kristen lebih banyak didorong oleh masalah perut. Tetapi bagimana kita menjelaskan orang-orang Bali yang berpendidikan baik, berkedudukan baik, berasal dari keluaga puri, dari griya, bahkan putra pedanda, putra pendiri Dwijendra, PGA Hindu pindah agama, umumnya ke Islam, karena ikut istri?

Di bawah ini saya coba mengemukakan beberapa sebab, berdasarkan pengamatan saja, karena saya tidak melakukan penelitian, misalnya wawancara dengan mereka yang pindah agama.

Pertama, melaksanakan tanpa memikirkan.

Orang Bali lebih banyak melaksanakan agamanya dari pada memikirkannya. Ini juga dikatakan oleh Miguel Covarrubias di dalam bukunya “Island of Bali”. Ini tidak sekedar berarti orang Bali melaksanakan berbagai ritual saja, tetapi juga di dalam tingkah laku etiknya. Be good! Do good! Dua hal inilah sebetulnya inti agama Hindu. Itulah yang dilaksanakan oleh orang Bali. Dan ini saja sebetulnya sudah cukup, asalkan kita hidup di dalam masyarakat yang homogen (Hindu). Atau di dalam masyarakat majemuk dari agama-agama Timur. Tetapi ini saja sama sekali tidak cukup bila kita hidup di dalam masyarakat heterogin, yang terdiri dari agama-agama Kristen dan Islam. Kenapa? Karena kedua agama ini merupakan agama missi yang agresif.

Kedua, hegemoni makna keagamaan.

Konsep dan makna keagamaan dewasa ini ditentukan oleh agama Kristen dan Islam. Ini adalah hasil dari keaktifan mereka di dalam wacana keagamaan. Mereka dapat mendiktekan definisi dan menentukan mana agama yang benar dan mana yang salah. Misalnya soal paham ketuhanan monotheisme, agama bumi vs agama langit, tentang nabi dll. Orang-orang Bali (Hindu) karena tidak memiliki pemahaman yang cukup tentang agamanya, apalagi tentang agama lain, tidak mampu berpartisipasi di dalam wacana ini. Akibatnya mereka hanya mengikuti saja apa yang didiktekan oleh agama Kristen dan Islam. Hal paling maksimal yang dapat dilakukan oleh orang Bali, adalah mematut-matut diri di depan cermin yang dipasang oleh agama lain (Kristen dan Islam). ini berarti, secara sadar atau tidak, kita mengakui bahwa agama mereka lebih tinggi,lebih bermutu dari agama kita. Kita menerima saja konsep yang didiktekan oleh Kristen dan Islam, tanpa daya kritis sama sekali. Kita mengikuti strategi “saya juga” (me too). Agama saya juga monoteis, agama saya juga punya nabi, agama saya juga agama langit.

Tetapi konsep yang kita terima secara formal tidak menemukan pijakan di dalam realitas. Misalnya soal monoteisme, di dalam praktek kita masih bicara tentang “Betara Pura Rawamangun” “Betara Pura Bekasi”. Betara Pura Rawamangun “lunga” ke Pura Bekasi, waktu piodalan di Bekasi. Betara pura Bekasi bersama para Ida Betara di seluruh Jabotabek “ngiring” Ida Betara Gunung Salak melasti ke Cilicing. Kemudian soal nabi. Kita sibuk mencari-cari siapa nabi Hindu.

Seharusnya kita mengkaji apa monoteisme itu? Bagaimana perbandingannya dengan paham ketuhanan yang lain seperti politeisme, panteisme. Betulkah monoteisme lebih unggul dari paham ketuhanan yang lain? Apa nabi itu? Bagaimana kehidupan para nabi itu, khususnya kehidupan moralnya, bila dibandingkan dengan para maharesi Hindu atau para pendiri agama-agama Timur seperti Mahavira, Buddha, Guru Nanak, Kong Hu Cu, atau dengan para maharesi baru Hindu seperti Vivekananda, Ramana, Gandhi misalnya.

Demikian juga tentang agama langit dan agama bumi. Kita seharusnya mempelajari apa isi dari agama-agama ini, apa keunggulan agama-agama ini? Apakah ia mengajarkan nilai-nilai yang cocok dengan kemanusiaan dewasa ini? Bagaimana dengan ajaran tentang kebencian dan kekerasan yang demikian banyak terdapat di dalam kitab suci mereka, dan juga di dalam praktek kehidupan nyata? Kita tidak mampu melakukan purwa paksa (kritik atas ajaran agama lain) karena kita tidak memiliki pengetahuan untuk itu. Dan tidak punya kemauan pula.

Di dalam sebuah wilayah jajahan, si terjajah, secara terang-terangan atau tersembunyi mengagumi bahkan memuja si penjajah. Fakta bahwa si pejajah dapat menjajah merupakan bukti bahwa si penjajah lebih hebat dari si terjajah. Si terjajah, secara diam-diam atau terang-terang ingin meniru si pejajah. Hal yang di bawah ini contohnya.

Ketiga, semua agama sama saja.

Pendapat ini biasanya berkembang di kalangan para penekun “spritiualitas” – tidak semuanya – yang kemudian diikuti oleh sebagian umat Hindu awam. Saya tidak asal menolak pandangan ini. Saya ingin ditunjukkan bukti atau argumenasi dimana samanya? Apakah ada kesamaan di antara ajaran-ajaran, doktrin-doktrin, dogma-dogma utama yang merupakan pilar dari agama-agama itu? Jawaban ini tidak pernah muncul. Jawab yang diberikan biasanya merujuk kepada “pengalaman”. Yang dimaksud disini adalah pengalaman mistis. Jawaban ini sama sekali tidak meyakinkan saya. Pengalaman ini bersifat sangat personal. Berapa banyak orang Hindu yang mau memiliki pengalaman ini? Dari yang mau berapa banyak yang mampu memperolehnya? Dari yang mengaku memperolehnya bagaimana ia dapat di verifikasi atau difalsifikasi? Dan apakah orang-orang dari agama lain juga mencari pengalaman semacam itu? Saya pikir tidak. Tugas utama dari agama-agama tersebut adalah mewujudkan perintah kitab suci atau pendirinya untuk membuat agamanya sebagai satu-satunya agama di dunia. Kita dapat menyebut ini adalah agenda imperialisme agama. Paham triumpalis ini yang menjadi daya dorong (driving force) yang melahirkan semangat dan gairah missi dan dakwah dari kedua agama tersebut. Mereka pergi ke seluruh pelosok dunia untuk mejalankan perintah agung (great commission) ini.

Sementara pengalaman itu pasti berharga bagi yang menginginkan dan mendapatkannya, mengatakan bahwa dengan pengalaman itu saja semua permasalahan dunia dapat diselesaikan, adalah pernyataan yang naïve dan menyesatkan. Urusan agama apalagi urusan dunia sama sekali bukan hanya soal pengalaman ini. Kita tidak dapat menyelesaikan suatu tantangan dengan sekedar lari ke dalam.

Dampak dari kesamenisme banyak dan serius. Di antaranya adalah, pertama tentu saja, ini mendorong atau tidak menghalangi orang Bali (Hindu) untuk pindah agama. Bila kita konsekuen dengan dalil bahwa semua agama sama, seharusnya kita tidak mempermasalahkan dan tidak perlu melakukan apapun. Kedua, pandangan ini tidak mendorong orang-orang Bali untuk mempelajari agama-agama lain. Digabung dengan yang pertama, hal ini menyebabkan kita semakin tidak mampu terlibat dalam wacana agama, tidak mampu merespon tantangan yang disampaikan oleh agama-agama yang lain, terutama yang berkaitan dengan upaya konversi mereka.

Sikap ini, menurut Dr Frank Gaetano Morales, membuat agama Hindu seperti cermin atau panggung kosong. Siapa saja dapat bermain di panggung itu, dengan lakonnya sendiri, dengan pemainnya sendiri, di depan para penonton Hindu atas biaya agama Hindu. Peran Hindu baru dibutuhkan, jika rombongan asing itu memerlukan satu tokoh antagonis. Tentu tidak aneh bila para penonton (yang adalah orang-orang Hindu) akan mengagumi dan memilih para pemain asing itu dari pada pemain Hindu yang hanya berperan sebagai tokoh buruk.

Siapakah yang akan memilih agama, yang justru mengagungkan agama-agama lain di atas dirinya sendiri? Tanya Dr Morales.

Di samping soal prinsip di atas, dari aspek citra, pernyataan bahwa semua agama sama saja, yang disampaikan oleh orang Hindu dalam kedudukan sebagai minoritas, dalam pandangan saya, mirip upaya orang miskin yang ingin sekali diakui saudara oleh orang kaya, yang justru terus-menerus menolak dan menghinanya. Siapakah yang ingin mengikuti suatu agama yang menumbuhkan mental terjajah?

Keempat, kemalasan intelektual.

Ketiga hal tersebut di atas menyebabkan kita terbuai dalam suasana aman dan nyaman. Kita bukan saja tidak mampu, tetapi juga tidak mau merespon wacana dari agama lain. Kita tidak ingin mengganggu rasa aman dan nyaman kita. Sekalipun jika rasa aman dan nyaman itu adalah palsu. Kita telah menjadi malas secara intelektual.

Ketika Media Hindu menerbitkan buku “Hindu Agama Terbesar di Dunia” tahun 2004, yang diselenggarakan oleh KMHDI Jakarta, yang bereaksi keras justru orang-orang Hindu (Bali) sendiri. Orang-orang dari agama lain, diam-diam saja. Ini tampak ketika acara bedah buku ini di Pura Bekasi pada awal terbitnya buku ini yang diselenggarakan oleh PHDI Bekasi dengan KMHDI Jakarta. Reaksi dari peserta demikian keras. Ada yang mempertanyakan apakah buku tidak akan menimbulkan reaksi dari pihak lain? Mengapa melakukan perbandingan semacam itu? Bahkan ada yang mengatakan saya (sebagai editor) berpandangan sempit. Mengapa tidak menulis buku yang memuat kebaikan-kebaikan semua agama?

Semula saya marah mendengar penyataan-pernyataan ini, bukan karena saya tidak suka dikritik, tetapi karena saya melihat semuanya itu muncul dari ketakutan. Apa yang membuat kita begitu ketakutan? Tetapi kemudian saya senang, karena saya berhasil membangunkan orang-orang Bali ini yang, terlalu lama terkantuk-kantuk dalam lamunan tentang dunia yang damai dan indah di dalam angan-angannya. Mereka memang bangun secara terkaget-kaget, seperti orang yang pantatnya tersundut bara keloping. Bukankah suasana semacam itu juga sering muncul di HDNet ini? Kita belum bisa membedakan purwa paksa dengan kebencian dan menjelek-jelekkan agama. Dan kita tidak mau belajar.

Demikianlah jawaban saya terhadap pertanyaan : mengapa orang Bali (relative) mudah pindah agama? Secara singkat dapat dikatakan penyebabnya adalah “kompleks rendah diri agama” (religious inferiority complex). Lalu pertanyaan kedua, bagaimana mencegah perpindahan agama yang begitu gampang itu? Masalah-masalah yang telah disebutkan oleh Nyoman Wijaya harus diselesaikan. Dan yang lebih penting kompleks rendah diri agama ini juga harus diselesaikan. Jika masalah kedua ini tidak dapat diselesaikan, penyelesaian masalah-masalah pertama tadi tidak akan ada gunanya. Banyak upaya diperlukan. Seluruh komponen masyarakat Hindu yang sadar harus mengambil tanggung jawab. Tugas Media Hindu bersama buku-buku yang diterbitkannya adalah untuk menghancurkan religious inferiority complex yang sudah kronis dan melumpuhkan ini!

(Seorang kawan, anggota HDNet juga, yang secara tetap tiap bulan menyumbang Rp. 1.000.000,- untuk Dana Punia Lokasamgraha (DPL), satu kali bertanya pada saya “apa yang ada dibelakang karakter Media Hindu dan buku-buku yang diterbitkannya? Apakah ada pengalaman pribadi?” Saya harap tulisan di atas menjawab pertanyaan tersebut).

selesai.

Diambil dari Tulisan Saudara Ngakan Putu Putra

  • betara kawitan

    masuk akal boss..

  • Indra_lorus1

    sangat disayangkan jika semakin tergerus umat Hindu di Bali untuk berpaling. Saya tidak ingin menyalahkan siapa-siapa, tapi marilah kita simak penyebab asal terjadinya. hemat saya, salah satu faktor adalah terlalu banyaknya ritual upakara yang saya yakin sedikit falsafah yang bisa dimengerti selain nak mule keto. coba tanya ke generasi muda sekarang, mereka umumnya akan sulit memaknainya. beban hidup belajar anak-anak kita sudah demikian berat untuk dapat “bersaing” kelak didunia kerja. apakah kita hanya mau jadi penonton dan jadi jongos ditanah sendiri karena demikian sibuknya upakara dilakukan..tiada hari tanpa upacara…

    harusnya pihak PHDI di Bali khususnya, berani tampil untuk mengeliminir upakara yg tidak perlu dan tanpa tujuan. apakah persembahan (yang besar, mahal, menghabiskan tenaga, uang dan waktu) tersebut memang dimintakan oleh Hyang Widhi?. yang kita sembah adalah Tuhan Hyang Widhi, bukan para butha kala yang pinter memberikan wangsit dan menakut-nakuti umat.

    jangan disalahkan juga jika umat kita pindah karena merasa “tidak” pas dan cocok dengan “baju” Hindunya yang ribet dan ingin mencari bentuk lainnya yang simple. apalagi dengan aturan adat yang membelenggu tanpa memberikan kebebasan. coba bayangkan, sebagai karyawan swasta, hari libur kita habis bahkan minus karena harus ikut berbagai upakara dan kegiatan adat. kapan santainya?. umat lain bahkan bisa berlomba-lomba untuk melakukan investasi di Bali…kita?..bisanya membuat kesepekang antar warga jika ada warga yg malas….padahal hidup sudah berat…knapa agama menjadi penambah beban hidup?.

  • Sanisca

    Ampura, tulisan siapakah ini ? Tiang membacanya di hdnet beberapa tahun yg lalu, dan merupakan tulisan Pak NPP ?

  • Sbeningmbun

    Jika kondisi Hindu di Bali sudah demikian kronis, mari kita benahi Hindu di luar Bali yang masih belum terjamah, dengan wawasan yang baru dan futuristik

  • Anonymous

    Om Swastiastu, ini memang benar tulisan bapak Ngakan Putu Putra. Mohon maaf jika sebelumnya belum menampilkan sumber dari artikel ini.

  • Anonymous

    Om Swastiastu, ini memang benar tulisan bapak Ngakan Putu Putra. Mohon maaf jika sebelumnya belum menampilkan sumber dari artikel ini.

  • Rahgung

    om swastiastu ..wah sangat langka apa yang disampaikan diatas saya sebagai org hindu sangat setuju apa yang ditulis ini tulisan ini sangat masuk akal sebagai pemeluk hindu yg moderat karena saya orang bali yg hindu sangat jarang ada di bali dan slalu membandingkan umat hindu yang ada dibali dengan umat hindu yang ada di rantauan ataupun umat hindu yang memang di luar bali memang perbedaan segi pandangan umat hindu ynng di luar bali saya rasakan jauh lebih mengerti akan jati diri orang hindu yng sebenarnya disamping itu yg lebih penting saya rasakan itu lah dengan gampang sekali orang hindu pindah agama karena alasan yang tidak tau apa agama hindu yang dianutnya itu tidak memberikan tuntunan yang jelas sebab musababnya kenapa harus begitu dan kenapa harus ikut kesitu atau kenapa selalu begitu dan sebagainya itulah intinya kenapa orang hindu mau memeluk agama lain yang nota bene memang ada tuntunan yang jelas dan arah yng pasti tentang agama , tapi di akhir kepedulian saya saya harapkan dengan tulisan-tulisan seperti ini orang hindu akan mulai sadar dengan apa yang di ikutinya itu semakin mengerti sebagai pemeluk agama hindu semoga…………om santi santi santi om

  • Wputugelgel

    menurut saya (68th)mata pelajaran agama hindu tidak pernah mengajarkan arti ritual yang dilakukan. Malah guru agama anak2 kita di Bali tidak mampu menjelaskannya. Contoh:mengapa daksina dari kelapa(dan mengapa daksina. Dari sering baca sudah tua baru sayatau betara tri purusa :brahma,wisnu siwa (danghyang gni jaya,dewi danuh,putranjayamasih kecil dimasukkan buah kelapa|. lakon wayang bima swarga, pelukatan sudamala, topeng sidakarya, kidung2 al.sucita subudi, cupak grantang, SEMUANYA tak pernah diajarkan dan mungkin tak ada guru yang mampu menjelaskan, atau MENURUT YANG NGERTI AGAMA TAK PERLU DIAJARKAN. Begitukah? Jadi, menurut saya, bentuk lagi lembAGA kesatuan tafsir, DIANTARA PARA AHLI AGAMA BERDEBAT, HASILNYA DILAKSANAKAN.Yang terjadi sekarang, pelajaran agama di sekolah SAMASEKALI tak ditemukan di pura (tak tahuarti ritualnya.  Silahkan YANG MERASA AKHLI AGAMA HINDU BERDEBAT DULU BGMN CARANYAMaaf dan terima kasih

  • Wputugelgel

    usul saya yang awam agama hindu(conto upacarapitra yadnya:wayang untuk bimaswarga, pelukatan sudamala, angkung,gambang, putru saji angkung, gong, yang menyebabkan biaya tinggi DIHARAMKAN BAGI KELUARGA MENENGAH KEBAWAH, ATAU BIAR MUSNAH SEKALIAN. silahkan bagi para milyuner menghamburkan uangnya MELESTARIKAN BUDAYA ITU(?)

  • Wputugelgel

    SARAN: Parisada  lakukan seminar kesatuan tafsir agama hindu(lagi,stlh mahasaba 1986)dan masyarakatkan. Itu tidak muda. SEKARANG SEMUA ORANG BICARA. tidak baik Agama lain juga banyak tafsirnya dan jangn salah lihat BANYAK ALIRANNYA, malah lebih banyak dari kita. ADANYA BOM BALI akibatnya,KATANYA

  • http://profile.yahoo.com/TYIOVWABQMM6YCKR7AKVKHHICY Assassin Creed

    cape de…

  • http://profile.yahoo.com/TYIOVWABQMM6YCKR7AKVKHHICY Assassin Creed

    cape de..

  • Komangali

    kalau hindu itu ingin berkembang, kita seharusnya memberikan pendidikan sejak dini, seperti kita lihat di agama lain anak yang baru TK sudah diajarkan agama, mengapa kita tidak seperti merake? coba kalau kita jalankan seperti itu, astungkara, agama kita akan ajeg dan berkembang, semestinya di bali itu di kembangakan pesraman2, untuk mengajarkan tentang agama hidu yang lebih dimengerti oleh umat itu sediri, apa lagi dibali ini masih banyak orang beragama hindu itu kurang memahami agama hindu itu sendiri,khususnya agama hindu di bali yang berwawasan budaya, dan yang saya perihatinkan banyak orang bali sudah tidak memakai bahasa bali, itu sebenarnya yang harus kita malu, sebagai orang bali yang berbudaya.

  • Gusti_genta

    Wahh.. ceritanya cukup panjang ya !! hehehe… cukup miris… itu lah hindu yang berkembang di bali khususnya.. bahkan tidak tahu ke Hindu annya.. “nak mule keto” (gugon tuon)…. sayang sekali.. dan saya membaca dari tulisan diatas.. memang begitu adanya dilapangan..
    klo di agama lain itu misionaris murni.. sedangkan kita adalah para pencari TUhan sesungguhnya.. karena tidak ada misi.. maka belajarlah ke pasraman..
    pasraman dan tokoh2 agama hindu sudah saatnya menurunkan ilmu agama ke masyarakat luas… jangan jadi exluciv.. sehingga sepertinya pengetahuan hindu cuma ada di pedanda saja.. tetapi seharusnya dogma masyarakat nak mule keto itu harus di hapus.. maka rasa Hindu dalam tubuh ini semakin kental.. maka tidak ada satu pondasi pun yang dapat merobohkan itu..

    seperti pengalaman saya yang punya mertua Muslim… mertua saya mengajak saya masuk islam.. tetapi itu saya tolak.. dan saya berani menolaknya… karena apa… semua isi di al-quran itu hanya sebuah cerita.. yang tidak bisa dipraktekkan secara gampang… inti sari nya meraka susah menjawab..  maka mertua saya sampai mikir keras.. karena al-qurannya telah saya bantah.. tetapi saya tetap menyayangi mertua saya.. walau beliau islam.. tetaplah beliau seorang Manusia.. yang punya bayu sabda idep.. dan ciptaan hyang parama kawi juga…

    dengan sikap yang begitu.. mertua saya jadi sayang sama saya dan tentunya anaknya.. yang telah jadi istri saya.. hehehe… suksma _/_

  • Advokat Deddy Prihambudi SH MH

    salam. mengapa kita masih bicara agama ? dalam kategori pengetahuan, agama dibahas pada derajat kesekian, bukan derajat pokok. kita mesti memulai dengan pengetahuan. filsafat pengetahuan. filsafat ADA dan TIADA. segala kepercayaan, apapun itu, harus mampu menjelaskan dirinya baik secara teori, maupun secara praktik. ini berlaku untuk sistem kepercayaan apapun. berarti, kita kudu memulainya dari WORLD VIEW, atau Pandangan Dunia. dan, apa pentingnya pandangan dunia ini dengan pengetahuan (teoritis) dan kehidupan sehari hari (praktis).

    adapun soal Islam atau Muslim, tidak usah dibikin pusing. tidak perlu pula langsung membahas Kitab Suci Al Qur’an. pertanyaan sederhana saja adalah : apakah manusia meyakini bahwa itu kitab suci langsung dari Tuhan ? disinilah pengetahuan sangat diperlukan.

    saya pribadi tidak tertarik bicara dalam wilayah agama. panjang ceritanya. namun yang pasti, agama apapun yang dianut, jika GAGAL dibahas dalam tataran ETIK, sama saja nasibnya. sekali lagi, ini dalam koridor filsafat, bukan dalam arti sosial kemasyarakatan.

    terakhir, tidak usah khawatir. aliran saya minoritas dalam Islam. dan akhir akhir ini, oleh Islam “mainstream” dipersekusi, karena dianggap sesat. tidak masalah. kami mengembangkan pengetahuan. dan percayalah, minoritas di dalam Islam yang “besar” seperti kami ini, membaca Bhagavadgita dengan tetesan airmata.

    salam kepada seluruh pencari petunjuk !

  • Suka ardana

     intinya adalah, agama itu hanya ajaran yang menuntun pemeluknya untuk berbuat baik, yanag lain lainnya adalah misi dari penyebarnya yang tidak terlepasa dari ambisi dan kepentinganya sendiri.

    sampai sekarang tidak ada yang bisa membuktikan dan menghadirkan secara nyata adanya tuhan yang menurut agama agama yang agresif itu adalah perintahNYA, dalam bentuk apa perintahnya itu apakah tulisan? tutur/ucapan langsung?nabi juga nggak pernah melihat wujud nyata tuhan itu hanya atas kedalaman keyakinan saja kemudian diingat ingat dan diwujudkan dalam bentuk tulisan dan itupun masih dalam ‘tafsir’.

    saya tidak tahu arti tafsir sesungguhnya, yang saya fahami tafsir itu = perkiraan atau kemungkinan. saya setuju adanya kesamaan dalam ajaran agama (semua) yaitu secara tujuan adalah sama cuma cara yang berbeda sesuai ajaran yang difahami darimana merka mendapatkan wahyu/bisikan/oleh yang dinamakan/menamakandirinya utusan tuhan (apapun namany nggak penting buat saya).

    saya sendiri tidak mempermasalahkan orang pindah “agama” dan pindah apapun itu istilahnya, yang penting buat kita ‘manusia’ sekarang adalah bagaimana berusaha selalu berbuat sebaik baiknya bagi diri, bagi orang lain dan bagi bangsa dan negara! percuma mengaku agama dari bumi, dari langit dan darimanapun itu datangnya k a l a u ujungnya semua membuat kita sesama saling gontok, saling merendahkan, saling merasa paling benar, saling hujat apalgi sampai  s a l i n g  m e m b u n u h! kalau sudah begitu dibawa kemana ajaran agamanya yang diyakini paling super dari yang lain.

    jangan berdalih itu hanya  o k n u m! kenyataanya oknum tersebut nyata nyata menyebutkan kebesaran tuhan yang diyakininya dalam berbuat jahat (membakar rumah, memukul pemeluk agama lain, kamudian menjarah hartanya). coba jelaskan sekarang dimana letak keagungan atau kebesaran ataupun paling sempurnanya ajaran agama tersebut dibanding agama ‘minoritas’ kalau toh juga pemeluknya juga tidak lebih baik dari pemeluk agama yang tidak  pernah membantah direndahkan!

    orang bijak itu semakin dia tahu akan semakin tidak banyak bicara, persetan kata orang ‘sok’ tahu dan ‘sok’ pintar, karena baginya yang penting dan terutama adalah mulai dari diri tunjukkan prilaku yang baik, sebelum menunjuk prilaku jelek orang/pemeluk agama lain. kalau oarang/dari agama lain ingin tahu bagaimana/seperti apa/dan dengan cara bagaimana orang/pemeluk hindu meyakini ajaran agamanya silahkan untuk membaca inti dari Bhagawad Gita,

    dunia mengakui inti dari pemahaman(bukan ajaran) dari kitab tersebut sangat ‘universal’, artinya dibawa keajaran/pemahaman agama manapun selalu ada kesamaan faham  dan tujuan. pemahaman saya bukan menganggap agama Hindu paling besar, t e t a p i  paling akomodir dari agama mayoritas lainya.

    dalam ajarannya  t i d a k   a d a  yang diharuskan/diwajibkan/dipaksakan/doktrin apalagi!  k e s e m u a n y a  dikembalikan kepada diri pribadi/personal, k a r e n a  i n i m a s a l a h  k e y a k i n a n  seperti diawal saya sampaikan, kalau rang lain tidak yakin seperti keyakinan ornag/umat lain mbok yo uwis, ojo dipaksaken. 

    jadi hemat saya  agama tidak usah diperdebatkan perbedaannya, dari sudut manapun, mari masing masing kita introspeksi diri/mulatsariro/nyiksik bulu.

    balasan ini adalah apa yang terus mengganggu dalam benak saya, orang mengaku beragama lengkap dengan atributnya  t e t a p i  berbuat seperti tidak beragama? ini ada yang salah sepertinya, tetapi saya tidak mengerti dimana letaknya, sepertinya tidak ada korelasi antara keyakinan terhadap agamanya dengan perbuatan dari keyakinannya itu.
    .

  • Suka ardana

     saya sangat tidak setuju Agama dijadikan ‘Kambing Hitam’ dalam masalah ini! sebelum saya terlanjur mengomentari saya ada pertanyaan, ajaran agama Hindu dibagian mana yang mengharuskan umatnya untuk melakukan upacara keagamaan sampai membuat ‘kehidupan’nya menderita!

    kalau tidak salah ingat saya, konteks dari pelaksanaan upacara keagamaan di Hindu adalah berdasarkan ‘YADNYA’ yang artinya ” pengorbanan/persembahan” suci berdasarkan atas “KEIKHLASAN”.

    kalau dalam kehidupan kita merasa berat melakukan upacara/ritual keagamaan tidak usah dipaksakan (lakukan sesuai dengan kemampuan), walaupun dengan setangkai bunga dan setangkai dupa bisa kita lakukan asalkan didasari atas keikhlasan itu tadi, dan walaupun itu hanya dirumah (Merajan) tidak ‘harus’ kepura kalau tidak sempat karena sedang tugas.

    kalau kita memang atas dasar keyakinan yang sangat dalam mengakui bahwa Ida Hyang Widhiwasa itu maha Besar/ maha Mulia/maha Agung tentu kita tidak khawatir akan kasihNYA yang beliau berikan walaupun kita hanya bersujud hanya dengan setangkai bunga.

    hemat saya, kalau kita lagi sedang ada tugas/bekerja lakukan dengan baik, jangan merasa terganggu akan masalah ini, apalagi sampai tidak masuk kerja yang berakibat fatal/dipecat dsb. Tuhan maha tahu apa yang kita fikirkan asalkan itu benar adanya, tidak lantas menjadikan sebagai hambatan dalam kehidupan.

    Agama beda dengan Adat, disini sebenarnya letak permasalahannya. kalau agama ya seperti yang saya tulis diatas, tapi Adat memang ‘sering’ menjadi hambatan dalam konteks tertentu (tidak seutuhnya). namun kembali kepada kita sebagai ‘user’ dari Adat ini, adat itu semacam organisasi tradisional yang secara turun temurun kita lakukan, dulu pada jamanya mungkin sangat relefan organisasi tradisional ini, tapi jaman sekarang perlu diadakan perubahan dalam bentuk ‘penyesuaian’ sikon’.
    disinilah kita (orang Bali) terjebak, dulu dengan sekarang jauh beda, artinya sangat banyak perubahan tetapi organisasi tradisional ini masih tetap keberadaanya sehingga terjadi saling tarik anatara kehidupan sekarang dengan ketentuan organisasi tradisionail ini dengan segala sanksi melekatnya.

    inilah yang perlu dicarikan solusinya, bagaimanapun organisasi ini masih kita butuhkan tetapi tidak menjadi penghambat dalam menjalani kehidupan kita yang serba dituntut waktu dan tenaga ini, dan disinilah benang merahnya agar terjadi sama sama jalan.

    jadi, menurut saya apapun kejadiannya (dalam konteks ini) bukanlah agama sumbernya tetapi lebih pada tuntutan hidup yang ingin serba gampang dan serba cepat dan murah/mudahlah pemicunya ditambah dengan kondisi ekonomi, ditambah lagi adanya  A G R E S I  DAN  I N V A S I  dari agama lain yang memberikan janji kearah lebih baik (secara materi) tapi belum tentu secara bathin.  saya yakin mereka yang terlanjur berpindah kelain hati tidak merasakan ketenangan dan kebebasan bathin, kenapa demikian? jawabnya:  motivasinya H A N Y A   M A T E R I (isi perut)/pamerih.

  • Suka ardana

     he..he…he…………huk…huk…hukkkkkkkkk. saya tersedak sedak membaca  pengakuan ini!

    KALAU HANYA SEPERTI ITU KEADAANYA, APANYA YANG ISTIMEWA DARI QURAN ITU?

    Ceritra kok di implementasikan, emangnya ceritranya tentang apa? namanya juga ceritra! ya sudah pasti itu karangan! murni buatan manusia bukan Tuhan! Jangan jangan tafsir tafsir di quran itu semuanya karangan, kalau begitu kejadianya.

    Agama hindu hanya kalah promosi, karena pada dasarnya ajaranya murni tuntunan kebaikan sekala niskala, tidak perlu berteori ini itu, intinya agama hindu gaungnya kecil dibandingkan dengan yang lain jauh lebih besar sampai sampai ribut ribut di arab sono di Indonesia sibuk blingsatan, lalu untuk apa dan apa manfaatnya buat kita.

    saya  yakin anada juga termasuk berkontribusi mengkerdilkan agama hindu kenapa demikian? ya tulisan itu tidak ada yang memberikan masukan atau pencerahan sedikitpun tentang agama hindu.

    Agama tidak perlu dicarikan pengikut, kebenaran tidak perlu dipromosikan seperti agama lain apalagi dipaksakan dengan iming iming masuk sorga! sorga nyen kecelepin! yen to jani tututin kan terbalik men jadi memeluk agama uluk uluk.

    Agama itu bukan teori, tapi tutntunan prilaku untuk kebaikan secara nyata, nggak perlu ngaku beragama muluk muluk yang penting  P E N G E L A K S A N A N E  manut kaidah agama (Agama Hindu)

  • Suka ardana

     kalau hanya sebatas pengenalan prilaku atau etika dan cara berbuat baik ya bolehlah di tingkat TK, satuhal yang harus diperhatikan adalah kalau ajaran agama yang sifatnya teoritis diberikan sejak dini dalam fikiranya akan tertanam prinsip; ini boleh itu tidak boleh; ini benar itu salah; ini baik itu buruk secara absolut/kaku dan akan menjadikan memiliki sifat ‘fanatik’ berlebihan. bahayanya nanti orang seperti ini akan sangat mudah diperalat dengan dalih kepentingan agama, contoh ada pada terorisme.

    Jangan takut adanya perpindahan agama, itu hanya lain nama satu tujuan (kalau betul tujuannya sama dengan agama hindu), kalau tidak ya anggap saja salah jalan/terperangkap (tidak bisa balik lagi).  jangan merasa rendah diri di cerca dan diremehkan, karena perbuatan itu adalah senyatanya bertentangan dengan kaidah agama (bukankah tidak dibenarkan merendahkan/menghina oleh agama?), itu hanya strategi agresi dan invasi agama tersebut untuk mencari pengikut supaya bisa masuk sorga (iming imingnya).

  • http://profile.yahoo.com/JZQDTDVZ6DEFZU7EKOEUULMCPY SUDIASA

    memang saya sebagai orang Bali sangat menyayangkan  kondisi yang zamannya sudah maju masih ada saja perpindahan agama hindu ke agama lain terutama pada pihak purusa (laki-laki).

    untuk itu saya mengajukan masukan bahwa mohon dimanfaatkan pura-pura itu sebagai tempat pembelajaran pemuda/i hindu untuk dicuci otaknya gimana sih agama hindu itu, dengan membedah kitab-kitab suci hindu yaitu veda (teologinya, dll. sebagainya).  Terutama kepada tokoh2 hindu mohon direkrut dan direkomendasikan  ibu Sika dan gentha apritaura sebagai pendharma wecana. Untuk ibu-ibu yang memberikan pencerahan adalah ibu Sika V S, sedangkan untuk pemuda/i dari Genta Apritaura  yang memberikan pencerahan,  sekaligus  memberikan testimonilah, sehingga lebih cepat memahami gimana hindu yang semestinya dan cara melakoninya.

    Karena menurut saya ada dua sisi yang dapat kita rasakan manfaatnya, 
    pertama tempatnya dipura, karena selalu ada kegiatan peningkatan spiritual tiap hari, sehingga kecil kemungkinan pura-pura di bali kemalingan,  kedua proses pemahaman/meningkatkan SDM dibidang spiritual tentang hindu lebih cepat, karena ibu sika VS ini dan gentha apritaura ini  adalah yang mengalami langsung  proses masuk hindu serta orangmya tegas, tanpa ketakutan akan adanya ancaman dari manapun.

    Kalau di agama selain hindu kejadiannya seperti kedua orang tersebut, mendapat fasilitas yang sangat luar biasa untuk membina umatnya. sekali lagi mohon difasilitasi kedua orang tersebut diatas untuk membina umat hindu terutama ibu-ibunya dan pemuda/i nya,.
    Dan saya pernah mengundang gentha  apritaura memberikan pencerahan  tentang hindu kepada Sekaa Teruna/i Lingkungan Banjar Kami  dan mendapatkan aplus yang luar biasa. selanjutnya kami ada program mengundang ibu Sika VS untuk memberikan pencerahan kepa ibu-ibunya.  suksma dari Masud Kedonganan Kuta-Badung

  • http://profile.yahoo.com/JZQDTDVZ6DEFZU7EKOEUULMCPY SUDIASA

    PHDI Kota Surabaya  Luar Biasa, karena lembaga  Hindu ini berada pada lingkungan  yang sangat heterogen, sufah barang tentu  asam, asin, pahit, manisnya Hindu sangat dirasakan sehingga permasalahan yang dihadapi paling depan dialaminya. suksma

  • http://www.facebook.com/imade.lebih Imade Lebih

    intinya kurangnya kesadaran masyarakat hindu bali/ umat hindu lainnya di seluruh nusantara untuk ingin mengetahui ajaran agamanya, ini tiada lain disebabkan krn pengaruh jaman kaliyuga dimana terjadi degradasi moral yg sangat parah thd umat manusia dan lebih banyak mementingkan kehidupan materi semata, lagian agama missi memang sifatnya yg aggresive utk mencari pengikutnya dgn janji penebusan dosa, janji sorga dan kebangkita tubuh saat kiamat, ingat agama missi kelahirannya pada jaman jahiliah, yg artinya jahil/jahat makanya sepanjang sejarah kedua agama missi selalu terlibat konflik dan kekerasan bahkan terjadi sampai saat ini, 

  • Suparwatainyoman

    agama hindu tidak menyusahkan tapi adat istiadat yang sebenarnya bertentangan dengan sastra tetapi tetap dipertahankan itu yang membuat susah penganut agama hindu di bali, jadi konsep hindu yang dinamis yaitu utpeti, setiti dan prelina tidak jalan dalam adat istiadat di bali, dimana adat yang tidak sesuai sastra agama tidak berani di prelina, titambah lagi gejala yang timbul sekarang ini dimana agama hindu di bali makin mengkerdilkan dirinya dengan menyebut sebagai agama hindu bali bukan menyebut agamanya sebagai hindu atau yang lebih tepat adalah sanatana dharma.

  • made bagus

    Pemahaman ajaran yg bersumber pada kitab suci Weda semestinya lebih ditonjolkan dlm setiap persembahyangan di pura, sy sbg umat lahir dan besar di Bali, s.d. saat ini sangat jarang ada DW di pura2, yg banyak adalah rangkaian upacara, pernak pernik upakara yg saya juga tidak tahu banyak arti dan maknanya. Coba tanya pd generasi Hindu di Bali dari dulu sd saat ini apa pernah mmbuka kitab suci Weda, apa pernah membahas sloka yg ada dlm Weda, ato pd Bhagawad Gita, saya yakin hal itu sangat jarang dan tak pernah dilakukan, Karena rangkaian upacara keagamaan di Hindu Bali cenderung ke prosesi yg mnonjolkan bermacam banten, yg sy juga tak thu banyak maknanya dan juga berbeda beda antar daerah satu dg lainnya; shg sy berkesimpulan itu hanya sebuah tradisi, adat istiadat yg diterima secara gugon tuwon, anak mula keto. Dan prosesi yg rumit dari persiapan bnten dan jenis banten yg banyak inilah menimbulkan penilaian Agama Hindu rumit dan Jlimet. Bisakah banten2 itu dibuat lebih simple… apakah kondisi ini akan relevan dg peradaban kedepan yg smua super cepat…sptnya kita mmiliki tugas untuk bisa dibuat lebih sederhana mgacu ke sumber ajaran Weda. Dilain sisi …karena dijejali dg prosesi ritual tradisi yg tak pernah tahu arti dan mkna, tanpa dibekali ajaran Hindu yg hakiki sbgmna Weda, akan berdampak pada militansi, rasa percaya dg Hindu kecil, melihat tetangga, sahabat, teman disqmpingnya yg begitu mudah menjalankan ibadah agamanya, praktis, banyak waktu luang, terlebih masy. Hindu yg scr materi tak mampu memenuhi kewajiban sbg bagian dr kelompoknya utk memenuhi pepeson, peturunan akn memberatkan umat ybs; celah ini dimanfaatkan betul oleh para penyebar agama utk dirangkul. Beda lagi dg laki2 Hindu ditarik pindah agama karena motivasi harta, tahta dan wanita, tipikal ini dlah kaum yg tak punyanjati diri, sungguh disayangkan. Jadi adalahntugas kita generasi selanjutnya utk meminimalisir tradisi yg membertkan umat, dg pencerahan dan pelurusan makna ajaran agama dg tradisi orang Hindu Bali.

  • Arya Sna Kamandanu

    Umat Hindu punya Tri Kerangka Agama Hindu yakni Tatwa (Filsafat), Susila (pedoman etika) dan Upacara (ritual) adalah merupakan satu kesatuan yang seyogyanya disosialisasikan/ diterapkan secara paralel dan seimbang, namun dimensi sejarah dan hingga peradaban dewasa ini memang tampak pinjang, dengan kata lain sosialisasi/ pemahaman Upacaranya lebih dominan diterapkan ketimbang Tatwa/ filsafatnya (lebih yang bernafas gugon tuwon, mula keto dan budaya lama) sehingga menjadi kurang ” mengakar “. Namun demikian akhir2 ini sudah mulai ada kemajuan melalui Dharma wacana-2 dan Dharma Tula -2, semoga kedepan Umat Hindu semakin maju, kokoh dan lebih berkontribusi bagi negara NKRI. Salam damai dari Gresik.

  • arief

    sy beragama islam. Mohon maaf sebelumnya, kalo diperkenankan sy mau memberikan bbrp masukan :

    1. Kembalilah kpd kitab suci. Misalnya : upakara2 atau ritual atau ibadah hrs ada dasar hukumnya yaitu berdasarkan kitab suci agama Hindu. Kalo tdk ada dasar hukumnya, (di Islam disebut bid’ah = ibadah tnp petunjuk Al qur’an atau tdk dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW). Upakara/ritual/ibadah tnp ada dasar hukum, ya berarti harus di tiadakan. Harus di pisahkan mana adat, mana agama. Jadi jelas dan terang benderang.bagi umat.

    2. Ilmu dan pengetahuan agama hindu harus di ajarkan sejak dini, sejak anak-anak. Biasanya itu PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini)/TK. Sehingga anak memiliki pondasi yg kuat dalam beragama. Memang masih teori, tp secara perlahan dan seiring waktu, anak2 akan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga ketika dewasa, di harapkan anak itu sdh siap lahir batin menghadapi tempaan hidup.
    Saya waktu ke Bali, bertanya ttg agama hindu ke guide saya, dia tdk tau banyak, katanya yg tau banyak itu para pinandita/pedanda. Menurut sy, hal itu sangat di sayangkan. Mestinya setiap pribadi Hindu hrs memahami agama betul-betul. Di dalam Islam, stiap pribadi wajib mempelajari agama sedalam mungkin, walau hal ini tdk semua muslim melakukannya.

    Ritual agama jangan di boncengi kepentingan pariwisata, bahaya ! akhirnya yg ada hanya kulit tanpa tau isinya.

    Jangan disibukkan umat dgn ritual agama yg begitu banyak yg tanpa berdasar kpd kitab suci. Harus kembali kepd kitab suci.

    Demikian masukan sy. Bila ada kesalahan sy mohon maaf yg sebesar-besarnya. sy tdk bermaksud mencampuri urusan agama orang lain. Haturnuhun.
    .

  • toleransi

    1.Orang “Bali” pemahaman ttg agama Hindunya msh kurang tapi untuk adat ok sehingga kalau di serang susah untuk menangkis/melawan jadi mohon maaf “manut saja”.
    2.Dlm ajaran Hindu tdk ada larangan beralih keagama lain (maaf mungkin saya salah).
    3.Ajaran toleransi orang Bali/Hindu sangat tinggi sehingga susah untuk mengantisipasi keyakinan/oramg lain masuk mempengaruhinya
    4.Kadang2 lupa jatidiri kalau sdh disanjung/diangkat-angkat
    5.Sesama “orang Bali tdk kompak” malah keluar lingkungan namanya bagus


Switch to our mobile site