web analytics

Makna Ajaran Dharma dari Sang Hyang Aji Saraswati dalam Kehidupan Modern

May 19, 2010 By: admin Category: Artikel

Catur Widya Sesana

Darma Wacana Hari Suci Saraswati

Pura Agung Jagat Karana, Surabaya 3-1-2009

Oleh: Prof. Ir I Nyoman Sutantra MSc. PhD

(Ketua Walaka PHDI Prov. Jatim)

Om Swastyastu,

Mari kita bersama-sama pada Hari Saraswati yang kita sucikan ini, di Utama Mandala Pura Agung Jagat Karana yang kita sucikan memanjatkan Puja Astung Karah, Parama Astuti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa karena atas asung kerta wara nugraha Nya kita semua masih diberi kesempatan untuk ngaturang pedek bhakti, kita masih diberi kesempatan untuk hidup dengan tuntunnan ajaran Sang Hyang Aji Saraswati.

Selama 210 hari kita umat Hindu telah mendapat pencerahan dan tuntunan hidup dari ajaran Sang Hyang Aji Saraswati untuk melawan segala godaan, ancaman kehidupan baik yang datang dari dalam diri dan dari luar diri kita. Tentunya sebagian dari kita dapat dengan teguh dan santun melawan segala godaan tersebut, namun juga banyak dari kita justru terjebak dan terbelenggu dari berbagai macam godaan kehidupan tersebut. Banyak yang sangat menderita akibat belenggu dari godaan tersebut namun walau hanya sedikit masih ada pula yang justru sangat menikmati godaan tersebut, yang tentunya nikmat tersebut hanya bersifat sementara. Godaan dan ancaman hidup di jaman modern ini sangat beragam dan menggiurkan yang sangat menjebak dengan segala cara menggrogoti pikiran, perkataan dan perbuatan manusia bagaikan virus ganas yang mengganggu kesehatan moral, spirituar dan material dari manusia. Hanya mereka yang masih teguh memegang jalan Dharma dengan mengikuti ajaran Sang Hyang Aji Saraswati yang akan dapat melawan godaan dan ancaman dalam kehidupan dengan cerdas, bijak dan santun untuk menuju kehidupan yang rukun, damai dan sejahtera atau Moksartham Jagadita Ya Ca Iti Dharma.

Sebelum kita membahas ajaran Dharma dari Sang Hyang Aji Saraswati secara lebih detail, mari kita bersama sama dengan jujur dan bijak melihat dan memahami secara lebih dalam apa yang telah terjadi dalam kehidupan masyarakat akibat berbagai godaan dan ancaman hidup untuk dapat menjadi pelajaran hidup kita kedepan dan untuk dapat lebih memperkuat keteguhan kita memegang ajaran Dharma. Banyak sekali yang telah terjadi yang diluar jalur ajaran Dharma yang merusak tatanan kehidupan rukun, damai dan sejahtera atau menuju kehidupan Moksartham Jagatdhita Yaca Iti Dharma. Kekerasan di Mumbai yang telah membunuh tidak kurang dari 200 orang dan melukai ratusan orang lainnya, kerusuhan di Yunani, peperangan yang terjadi di Jalur Gaza, bentrokan yang terjadi di Maluku, di Jakarta, terakhir bentrokan pemuda di Tuban dan juga ditempat lainnya, pembunuhan secara mutilasi yang banyak terjadi pada akhir-akhir ini, semua itu sangat erat kaitannya dengan godaan dan ancaman hidup dan ketidak mampuan manusia memegang teguh jalan cinta kasih, kebijakan, tanggung jawab, dan kebenaran yang merupakan 4 pokok ajaran Sang Hyang Aji Saraswati. Korupsi, perselingkuhan, narkoba, perjudian tumbuh berkembang dimasyarakat dan sangat sulit untuk diberantas. Ada guru-guru yang melakukan kekerasan kepada anak didiknya, siswa dan mahasiswa melakukan kekerasan kepada yuniornya. Yang lebih menyedihkan lagi adalah banyaknya ”video mesum” yang dilakukan oleh siswa tingkat SMP, SMA dan juga Mahasiswa beredar di masyarakat disamping banyaknya pesta minuman keras dan pesta narkoba yang dilakukan oleh pelajar, mahasiswa dan juga orang tua. Masyarakat kita telah banyak yang mabuk, dimabukan oleh godaan-godan harta, tahta dan wanita yang diluar jalan kebenaran. Niccolo Machiavelli seorang tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah kemanusiaan dari Italia pada abad 15 mengatakan bahwa, karena harta, tahta dan wanita, manusia bisa menjadi srigala sesamanya. Kemabukan sudah merambah ke segala lapisan masyarakat. Penguasa dimabukan oleh kekuasaannya sehingga dengan segala cara berusaha mempertahankan kekuasaannya, menggunakan kekuasaannya dengan segala cara untuk memperkaya diri, dan untuk kepentingan sendiri atau kelompoknya. Orang kaya telah mabuk oleh kekayaannya, mempertahankan dengan segala cara kekayaannya, menggunakan kekayaannya dengan segala cara untuk merebut kekuasaan yang akan dapat digunakan untuk mengembangkan kekayaannya. Orang yang kuat dimabukan oleh kekuatannya sehingga dia selalu menindas yang lemah untuk dapat mempertahankan kekuatannya. Orang yang merasa bebas, merdeka dimabukan oleh kebebasan, bernaung dibalik kebebasan dan kemerdekaan, eforia kebebasan melakukan segala cara seenaknya sendiri diluar etika kesantunan, melakukan pesta miras, pesta narkoba, pesta sek, membuat dan menyebarkan video mesum. Mereka semua yang terjangkit mabuk, yang telah terbelenggu oleh godaan hidup tersebut selalu pula dengan segala cara mencari pembenaran dari segala perbuatan yang telah dilakukan. Kondisi seperti itulah yang membuat kehidupan manusia di jaman modern semakin panas, makin rapuh, makin mudah tergoda, makin mudah teresonansi dan terpengaruh oleh godaan dan terbelunggu oleh kepentingan individu dan kelompok sehingga kehidupan masyarakat makin jauh dari kerukunan, kedamaian, keharmonisan, keadilan dan kesejahteraan.

Dalam menghadapi kehidupan modern seperti ini, didasari oleh kesadara dan keyakinan akan makna dan pentingnya jalan Dharma untuk menapak kehidupan, maka leluhur kita telah mengingatkan kita umat manusia melalui sebuah tembang ginada sebagai berikut.

Anak liu ngangwang kita;

Tuare dadi, pituturin;

Dharmane kalahang momo;

Corahe ngalahang patut;

Dahat keweh jue metingkah;

Ngudiang Cening;

Pagehang jue  ngabe Dharme.

Tembang tersebut telah mengingatkan kepada kita bahwa akan ada kehidupan di jaman modern, dimana banyak orang akan berlaku seenaknya sendiri tidak melihat dan memperhitungkan orang lain dan masyarakat, dan hanya memperhitungkan kepentingan diri sendiri. Dan orang semacam itu sudah tidak lagi dapat dinasehati, sudah melupakan dan tidak lagi taat kepada Catur Guru. Orang tua sebagai guru Rupake sudah tidak lagi dipercaya, dipatuhi dan dipanuti. Guru di sekolah sebagai guru Pengajian sudah tidak lagi ditiru dan digugu dan juga tidak dapat menjadi panutan dari murid-muridnya. Pemerintah sebagai guru Wisesa dengan segala perunadangan dan peraturanya dalam mengayomi rakyat juga sudah tidak lagi dipatuhi, ditaati dan mungkin juga sudah tidak lagi dapat menjamin kedamaian, keadilan dan kesejahteraan bagi masyarakat. Para Brahmana, orang suci, tokoh-tokoh agama yang di tugasi Tuhan Sang Maha Mengetahui sebagai guru Swadiaya yang menunjukan jalan kebenaran kepada umat manusia juga sudah tidak lagi dipercaya, sudah tidak lagi dapat memberi kesejukan kepada masyarakat. Dalam kondisi seperti itu, umat manusia terutama umat Hindu yang meyakini Saraswati dinasehati melalui tembang tersebut bahwa kita harus tetap berada pada jalan yang benar, tidak tergoda, tidak ikut mabuk, dan tetap tegar menuju kehidupan yang Mokshartam Jagadhita Ya Ca Iti Dharma maka kita harus tetap teguh memegang dan menjalankan 4 pokok ajaran Dharma sebagai ajaran Sang Hyang Aji Saraswati. Didalam Bagavad Gita sudah dikatakan bahwa: jika manusia tidak dapat mengendalikan diri dan pikirannya yang lari bagaikan kuda liar, maka ia akan menjadi sapi perahan dari nafsunya dari panca indrianya, manusia seperti itu akan kehilangan wiweka atau kebijaksanaan.

Berikut mari kita bersama-sama sebagai umat Hindu khususnya dan sebagai umat manusia secara umum, memahami dan kemudian berusaha menjalankan 4 pokok ajaran Dharma dari Sang Hyang Aji Saraswati yang disebut ajaran Catur Widya Sesana. Ajaran Sang Hyang Aji Saraswati tercakup melalui simbulisasi dan pemaknaan dari Dewi Saraswati itu sendiri. Ajaran Dharma yang pertama adalah disimbulkan dengan Dewi Saraswati sebagai simbul Guru Rupaka yang cantik molek dengan penuh cinta kasih melalui senyum yang tulus kepada semua umat manusia. Dewi Saraswati yang selalu memberikan senyum yang menyejukan kepada semua orang dan dengan kecantikan dan kelembutan sebagai seorang ibu yang selalu dapat meberi keteduhan kepada semua orang. Simbul yang pertama ini mengandung makna ”cinta kasih” yang tulus dan luhur sebagai guru dan ibu bagi semua umat manusia. Cinta kasih yang diberikan secara tulus dan luhur itulah sebagai benih dari kehidupan yang damai, rukun dan tenteram. Mereka yang tanpa cinta kasih atau memberi cinta kasih yang tidak tulus dan tidak luhur adalah sebagai benih rusaknya tatanan kehidupan masyarakat dan juga akan merendahkan martabat manusia sebagai mahluk utama ciptaan Tuhan. Karena ajaran yang pertama dari Dewi Saraswati inilah maka seorang tokoh sastra dan agama Hindu dunia yang amat terkenal, Rabindranath Tagore mengatakan dengan kata-kata indah bahwa:

Dunia diciptakan oleh sang pencipta Tuhan Yang Maha Esa adalah sebagai panggung drama kehidupan bagi umat manusia dalam menjalankan cinta kasih yang luhur secara tulus tanpa pamrih.

Dalam Itihasa Maha Barata, Panca Pandawa adalah sebagai contoh yang sangat baik dalam menjalankan cinta kasih yang luhur dengan tulus. Dalam keadaan tergoda, tersiksa, tersingkirkan, terperdaya, terbuang dan tertindas sekalipun mereka Panca Pandawa tidak pernah meninggalkan kehidupan cinta kasih yang luhur dan tulus. Dengan segala cara dan kelicikannya Duryadana bersama saudaranya dan pamannya Sakuni terus berusaha menyingkirkan dan bahkan membinasakan Panca Pandawa agar mereka tidak dapat menuntut haknya terhadap kerajaan Astina Pura. Salah satu kelicikan besar dilakukan Duryadana untuk membinasakan Pandawa adalah dengan berpura-pura berbaik hati membangunkan Pendawa sebuah istana mewah, tetapi semua itu dibangun dari kardus atau dari bahan yang mudah terbakar yang tidak lain maksud licik yang tersimpan didalamnya adalah untuk membinasakan Pandawa. Pada saat pembukaan penempatan istana dalam acara penyerahan istana tersebut kepada Pandawa, Duryadana dengan niat jelek yang terselubung ia menyelenggarakan pesta di istana tersebut dengan mabuk-mabukan yang maksudkan agar pendawa mabuk dan tertidur nyenyak, pada saat itulah istannya dibakar sehingga Pendawa akan terbakar semuanya. Tetapi karena Pandawa selalu mewujudkan cinta kasih yang luhur dan selalu menjalankan Dharma maka mereka mendapat pertolongan dari pamannya patih Yudara dengan dibuatkan lubang penyelamat dibawah istana sehingga dia bisa selamat dari api. Dengan mengetahui Pandawa masih selamat, maka Duryadana terus mencari jalan untuk dapat membinasakan atau menyingkirkan Pandawa dari Astina Pura. Duryadana masih tetap tidak merasa bersalah dan selalu mencari pembenaran dari apa yang telah dilakukan yang tidak pernah diakuinya, dan tidak pernah berhenti untuk berusaha menyngkirkan Pendawa. Kelicikan berikut yang dilakukan Duryadana dengan arsitektur dan sutradaranya adalah pamanya Sakuni yaitu permainan dadu yang dilakukan secara licik yang dipersiapkan untuk mengalahkan dan menyingkirkan Pandawa dari Astina Pura. Permainan dadu tersebut agar terlihat permainannya sportif dan tidak ada rekayasa maka diadakan di istana Astina Pura dengan disaksikan raja Drestarata ayah Duryadana dan para pembesar, penasehat dan para guru istana. Disinilah terjadi peristiwa besar dalam sejarah kebudayaan dan moralitas, dimana Pandawa karena kalah main dadu yang dirancang secara licik oleh Sakuni, sesuai dengan taruhan yang telah dirancang baik oleh Sakuni, maka Pandawa harus meninggalkan Astina Pura selama 13 tahun untuk pergi ke huatan, istrinya drupadi dipermalukan dengan cara yang tidak bermoral didepan raja, pejabat, penasehat dan guru istana. Begitu besar penyiksaan, penindasan dan pelecehan moral yang merusak tatanan budaya dan moralitas yang dilakukan oleh Duryadana kepada pendawa yang selalu di ingat dalam sejarah budaya dan moralitas, namun Pundawa masih tetap teguh menjaga cinta kasih yang tulus dan luhur, tidak terpancing oleh tindakan yang emosional diluar kendali tata krama Dharma. Karena keteguhannya menjalankan cinta kasih yang luhur tesebut maka pada akhir kehidupannya setelah memenangkan perang suci yang besar melawan Kurawa (Duryadana) Pandawa dapat meninggalkan alam ini dan mendapat tempat di alam Surga. Dari ajaran cinta kasih dan pengalaman sejarah dalam Itihasa tersebut para leluhur kita umat Hindu mengingatkan kita agar selalu menjaga cinta kasih walau dalam kondisis apapun, melalui sebuah tembang sinom sebagai berikut.

Diastu tuara, ada ngerunguang;

Setate ngaturang miyik;

Diastu layu, ya kekutang;

Kajekjekya kaentungan;

Bungan sandat, ilang ilid;

Nanging ambunya mengalub;

Miyik nayne, menganyudang;

Tan side pacang, mamegatin;

Rasa kedaut;

Sane hilang, buin teke.

Tembang tersebut mengingatkan kita bahwa walaupun kita disia-sia, diremehkan dan tidak diperhatikan, namun kita harus selalu memberikan kebaikan, memberi cinta kasih yang luhur dan tulus. Walaupun kita ditinggalkan, disingkirkan dan dibuang sampai hilang tidak kelihatan, namun karma kita dengan cinta kasih yang selalu kita lakukan akan selalu teringat dihati setiap orang. Ketulusan dan keluhuran cinta kasih yang selalu kita tebarkan dalam setiap jengkal kehidupan kita akan terus melekat dalam ingatan masyarakat bagaikan wanginya bunga sandat walau bunganya tidak kelihatan namun wanginya masih terus menyebar dan tidak akan dapat dilupakan. Kehidupan yang penuh cinta kasih itulah yang membuat setiap orang akan tertarik, yang dulu membenci akan menjadi mengasihi, yang dulu meninggalkan kita akan datang mencari kita, yang dulu mencemohkan akan datang untuk menghormati. Karena kesadaran akan makna yang besar dari arti senyim dan cinta kasih dari Dewi Saraswati inilah, maka dalam mencapai kesuksesan dalam kehidupan modern para tokoh banyak yang mengatakan kata kata indah yaitu ”The Power of Smile to success” atau kekuatan dari senyum dan cinta kasih untuk menuju kesuksesan hidup.

Ajaran yang kedua adalah disimbulkan oleh sebuah kotak, sebagai simbul Guru Pengajian, yang berisi lontar yang memuat ilmu pengetahuan yang di pegang oleh Dewi Saraswati. Kotak lontar tersebut  mengandung makna sebagai simbul guru Pengajian yang meberi: kecerdasan, pengetahuan, kejujuran, kesadaran dan kebijaksanaan. Ini mengandung filsafat dan konsep pendidikan yang sangat dalam, jika filsafat dan konsep ini dilupakan atau tidak diikuti maka proses pendidikan tidak akan dapat mengahasilkan sumber daya manusia yang cerdas, berpengetahuan, jujur, penuh kesadaran dan bijak. Manusia yang cerdas, berpengetahuan tapi tidak jujur dan tidak memiliki kesadaran maka tidak akan pernah bisa menjadi manusia bijak, dan manusia yang tidak bijak seperti itu akan penuh dengan kesombongan, egoisme dan arogansi. Ajaran Dewi Saraswati mengatakan bahwa proses pendidikan adalah proses membangun karakter (character building) yaitu membuat manusia menjadi jujur, sadar dan bijak dan membangun ketrampilan atau kemampuan hidup (capacity building) yaitu membuat manusia cerdas, berpengetahuan dan trampil dalam memecahkan persoalan hidup dengan santun dan bijak. Apa yang kita lihat, dengar dan rasakan dalam kehidupan adalah data yang harus diolah dengan kecerdasan dan kejujuran hingga dapat menjadi informasi yang bermakna bagi kehidupan. Jika semua data itu tidak kita olah dengan kecerdasan dan kejujuran maka ia dapat menjadi gosip yang meresahkan, menjadi asutan yang memecah belah masyarakat dan juga dapat menjadi hal yang menyakitkan atau menggoda manusia untuk berbuat dosa. Kecerdasan saja tidaklah cukup untuk mengolah data kehidupan, ia harus disertai dengan kejujuran. Kejujuranlah yang dapat membuat data menjadi suatu informasi yang bermakna. Informasi yang bermakna tersebut haruslah kemudian dipahami dan diformulasikan secara jujur dan disadari maknanya secara mendalam agar dapat menjadi ilmu pengetahuan yang bermakna yang akan dapat membantu manusia dalam menyelesaikan permasalahan kehidupan. Ilmu pengetahuan yang tidak dihasilkan dari informasi yang benar dan bermakna, serta tidak diformulasikan secara jujur dengan kesadaran dan pemahaman yang mendalam terhadap makna untuk kehidupan, maka pengetahuan tersebut akan dapat menjadi pengetahuan yang menyesatkan. Untuk dapat menyelesaikan persoalan hidup hingga dapat mewujudkan kehidupan yang rukun, damai, tenteram, makmur dan sejahtera, maka pengetahuan yang bermakna untuk kehidupan harus diterapkan secara jujur dan bijak serta dengan kesadaran yang mandalam tentang maknanya dalam kehidupan. Tanpa kejujuran, kesadaran dan kebijakan, pengetahuan atau kecerdasan akan dapat membuat orang menjadi sombong, arogan, dan egois yang dapat membahayakan tatanan kehidupan manusia. Seperti dikatakan dalam Veda:

Jika tidak dituntun dengan jalan Dharma maka kecerdasan, kekayaan (artha), dan kekuasaan (kama) adalah tiga hal utama yang dapat mendorong manusia untuk berbuat dosa.

Yudistira saudara paling tua dari Panca Pandawa adalah sebagai contoh nyata seseorang yang sangat memahami Catur Widya Sesanaajaran Sang Hyang Aji Saraswati sehingga mampu dengan konsisten memanfaatkan kecerdasan, menegakan kejujuran, kesadaran dengan penuh bijak dalam segala aspek kehidupannya. Dalam suatu saat ketika berada ditengah hutan, Yudistira sedang bersemadi adik-adiknya pergi menelusuri hutan, dan karena haus maka mereka dengan leluasa tanpa etika langsung minum air danau kecil yang ditemuinya dihutan. Ternyata air danau tersebut beracun dan keempat adik Yudistira yaitu Bima, Arjuna, Nakula dan Sahadewa meninggal. Yudistira selesai dari semadinya mengetahui adiknya tidak ada ditempat maka ia langsung mencari adiknya ternayata didapati adiknay semua meninggal, namun ia tetap dapat mengendalikan diri dari kesedihan dan kemarahan atau kekalutan. Dengan kecerdasan, kejujuran, kesadaran dan kebijakan dia berusaha memahami kenyataan atau data hidup yang sedang dihadapinya. Dia duduk bersila dengan menyatukan bayu, sabda dan idepnya dia berdoa dan menanyakan dengan penuh santun dan tulus kepada penguasa alam disekitarnya mengapa adiknya bisa meninggal. Karena keluhuran budhinya dan ketaanya dalam menapaki jalan Dharma, maka dia mendapat jawaban yaitu suara dari penguasa danau tersebut sebagai berikut, ”wahai Yudistira manusia luhur, aku sudah memperingati adikmu agar melakukan atur piuning, minta ijin dengan etis dan santun terlebih dulu sebelum meminum air danau itu tapi tidak diikuti. Adik-adikmu telah bertindak diluar etika kesantunan yang diajarkan dalam Dharma, wahai Yudistri manusia yang sangat paham tentang Dharma. Air danau tersebut sengaja diberi racun karena banyak orang-orang merusak danau ini dengan mengambil airnya tanpa aturan sehingga mengganggu tatanan kehidupan dihutan ini”. Lalu dengan santun dan penuh ketulusan Yudistira memohon agar semua dosa adiknya dibebankan pada dirinya: tuan yang bijak dan murah hati, bebankanlah semua dosa adik hamba kepada hamba dan hamba rela untuk dibunuh karena hamba tidak mampu mendidik adik-adik hamba sehingga mereka berlaku tidak etis dan tidak santun kepada tuan dan hamba mohon agar mereka diberi kesempatan untuk memperbaiki karmanya. Penguasa danau kembali menjawab, ”wahai Yudistira, sebelum aku mengabulkan permintaanmu untuk mengampuni adikmu, kau Yudistira sebagai manusia bijak harus menjawab pertanyaanku, jika kau bisa menjawab akan ku pertimbangkan permintaanmu”.  Astung karah, terima kasih tuan kata Yudistira, mudah-mudahan Tuhan memberi pencerahan hingga hamba bisa memberi jawaban yang memuaskan tuan. Pertanyaanku yang pertama kata penguasa danau adalah: bagaimana menurut kamu manusia yang dikatakan utama? Mohon ampun jika hamba salah karena keterbatasan hamba, kata Yudistira dengan santun: manusia utama menurut hamba adalah manusia yang selalu dengan tulus mengedepankan cinta kasih yang luhur, memberdayakan kecerdasannya secara jujur, penuh kesadaran dengan selalu bijak dan adil, selalu berdoa dan memanjatkan astung karah atas segala karunia yang didapat serta dengan penuh komitmen dan tanggung jawab terhadap segala karma yang dilakukan serta segala karmanya dilakukan dengan landasan kebenaran dan pemahaman yang mendalam terhadap sang diri sejati dan makna dari kehidupan dan perjalanan hidup. Yudistira kau telah menjawab pertanyaanku yang pertama dengan baik, pertanyaanku berikut adalah: apa makna dari kehidupan di dunia fana ini Yudistira? Ampun tuan: makna kehidupan bagi hamba adalah kesempatan luhur bagi manusia untuk membangun karma yang baik, niskama karma, satwika karma dengan selalu memegang teguh Catur Widya Sesana ajaran Sang Hyang Aji Saraswati sebagai jalan untuk kembali keasalnya yaitu Brahman. Wahai Yudistira, kau betul-betul putra dari dewi Saraswati yang telah mengajarkan jalan kehidupan untuk kembali kepada asalnya yaitu Brahman. Aku akan memenuhi permintaanmu yaitu menghidupkan kembali satu dari 4 adikmu, kau boleh memilih yang mana untuk dihidupkan kembali. Yudistira terdiam sejenak kemudian berucap dengan santun: ampun tuan hanmba mohon dihidupkan kembali adik hamba Nakula. Oh Yudistira: mengapa kau minta Nakula dan bukan Arjuna, padahal Arjuna mempunyai kekuatan yang luar biasa yang dapat membawa kemenangan jika kau nanti berperang melawan Duryadana, begitu kata penguasa danau menguji Yudistira. Ampun tuan: hamba lebih memperhatikan kehidupan yang adil yang tidak menyakiti siapapun dibandingkan memenangkan peperangan. Hamba mempunyai 2 ibu yaitu ibu Dewi Kunti dan Dewi Madrim, hamba tidak ingin salah satu beliau bersedih karena ketidak adilan. Ibu hamba Dewi Kunti sudah punya putra hidup yang melayani beliau yaitu hamba, Dewi Madrim tentu memerlukan putranya untuk dapat melayani beliau untuk itulah demi keadilan hamba mohonkan agar adik hamba Nakula dapat dihidupkan kembali. Aduuuh Yudistira kau betul-betul manusia utama, demikian sang penguasa danau yang ternyata adalah Dewa Dharma yang menyamar untuk menguji Yudistira, dan akhirnya semua adiknya dihidupkan kembali. Semua kisah itu menggambarkan kepada kita bagaimana manusia utama seperti Yudistira menghadapi cobaan dan tantangan hidupnya dengan tetap teguh memegang Dharma sehingga dapat mencapai hidup yang selalu rukun, damai dan sejahtera.

Ajaran yang ketiga adalah disimbulkan oleh alat musik, sebagai simbul Guru Wisesa, yang dibawa Dewi Saraswati. Setiap alat musik jika dimainkan dengan benar suarnya akan selalu dapat menghibur, menghilangkan kesedihan dan memberikan suasana keindahan. Dan begitu juga setiap alat musik jika dimainkan dengan benar mempunyai suara unik yang berbeda yang dengan mudah dapat dibedakan antara alat musik yang satu dan yang lainya. Sifat menghibur dari alat musik tersebut mengandung  makna filsafat yang amat dalam yaitu bahwa setiap orang harus tidak mengejek, mencemoh dan mengeluh dan selalu santun, menghargai, memberi apresiasi, bersyukur, astung karah, memanjatkan doa dalam setiap aspek kehidupan atau setiap karma yang dilakukan serta pada setiap pahala dan karunia yang didapat. Makna filsafat dari perbedaan suara dari setiap alat musik adalah bahwa: setiap orang harus dengan komitmen tinggi selalu siap bertanggungjawab terhadap setiap karma yang dilakukan dengan keyakinan yang dalam terhadap hukumkarma pala. Kisah Lubdaka seorang pemburu, yang setiap hari kegiatannya adalah berburu hanya untuk menyambung hidupnya dan tidak pernah mengambil sesuatu yang berlebihan dari apa yang dibutuhkan untuk hidupnya. Suatu saat Lubdaka berburu seharian penuh, namun malang nasibnya dia tidak mendapat hasil apa-apa sampai kemalaman dan ia terjebak dihutan dalam kegelapan, begitu gelap karena bulan mati namun langit cerah sehingga bintang-bintang bertebaran dilangit bagaikan penuntun perjalanan Lubdaka. Walaupun berada dan terjebak dalam kegelapan tersebut, namun Lubdaka masih tenang dan sabar serta selalu memanjatkan doa: astung karah Tuhan, telah menciptakan bintang-bintang yang dapat memberikan hamba petunjuk arah yang dapat menyelamatkan hamba dari kegelapan. Lubdaka berjalan mengikuti arah bintang-bintang dan akhirnya melihat pantulan cahaya bintang berkilau-kilau, yang ternyata itu adalah danau yang airnya begitu jernih. Kembali Lubdaka berdoa: astung karah Tuhan telah menciptakan danau yang jernih untuk dapat menghilangkan dahaga hamba yang selama sehari belum minum. Disamping danau tersebut terdapat sebatang pohon tinggi, kembali Lubdaka berdoa: astung karah Tuhan telah menciptakan pohan yang dapat mudah hamba daki untuk menyelamatkan hamba dari serangan binatang buas pada malam hari. Sampai diatas pohon dia temukan tempat yang baik untuk duduk yang aman dengan daun yang rimbun, kembali Lubdaka berdoa: astung karah Tuhan telah menciptakan tempat hamba berlindung dengan daun yang rindang untuk dapat hamba petik agar hamba tidak tertidur selalu sadar sampai pagi dan selamat dari serangan binatang buas. Begitulah kehidupan Lubdaka yang selalu berdoa, bersyukur, astung karah dalam kondisi apapun yang dihadapinya dalam kehidupan. Bertepatan pula pada malam yang gelap tersebut adalah malam dimana Dewa Siwa sedang bersemadi yang juga disebut malam Siwa (Siwa Ratri), sehingga doa-doa Lubdaka yang tulus itu sangat berkenan bagi Dewa Siwa. Karena itulah Lubdaka setelah meninggal, arwahnya langsung dijemput oleh pasukan Dewa Siwa untuk mendapatkan tempat di alam Surga atau Siwaloka. Sifat yang selalu bersyukur, astung karah, apresiasi, berdoa, bertanggung jawab, sadar hukum karma-pala dan berpikir positif terhadap kehidupan adalah merupakan intisari dari ajaran ketiga dari Catur Widya Sesana. Terkait dengan kekuatan dari apresiasi dari ajaran ini, Noelle C. Nelson dan Jeannine Lemare Calaba menulis sebuah buku yang laris dengan judul: ”The Power of Appreciation”, dimana dikatakan bahwa kekuatan apresiasi adalah sebagai kunci menuju kehidupan yang penuh daya. Makna filsafat lain yang terkandung dalam alat musik yang dibawa Dewi Saraswati juga meliputi bahwa: setiap orang dalam menjalani kehidupan harus selalu siap berkorban  dan bertanggungjawab secara tulus tanpa pamrih. Terkait dengan kesiapan melakukan pengorbanan yang tulus, dalam Niti Satra diungkapkan sebagai berikut.

Korbankan kepentingan pribadi, untuk menyelamatkan keluarga;

Korbankan kepentingan keluarga, untuk menyelamatkan desa;

Korbankan kepentingan desa, untuk menyelamatkan wilayah;

Korbankan kepentingan wilayah, untuk kepentingan negara;

Korbankan semua kepentingan, untuk menyelamatkan roh.

Sloka Niti Sastra diatas menunjukan bahwa ia yang tidak siap berkorban secara tulus, atau yang tidak siap ber Yajna secara lascarya, maka ia tidak akan dapat menyelamatkan keutuhan keluarga, desa, wilayah, negara apa lagi menyelamatkan rohnya atau menyelamatkan dirinya dari perbuatan dosa.  Terkait dengan tanggungjawab, dalam Niti Sastra disebutkan sebagai berikut.

Setiap orang menerima pahala dari karmanya sendiri;

Seorang ibu menerima dosa yang diperbuat anak-anaknya;

Suami menerima dosa yang diperbuat oleh istrinya;

Guru menerima dosa yang diperbuat oleh muridnya;

Raja menerima dosa yang diperbuat oleh rakyatnya;

Purohita kerajaan menerima dosa yang diperbuat oleh raja.

Tembang diatas menggambarkan bagaimana paran dan tanggung jawab sang catur guru dalam membangun kehidupan yang penuh bijak yang bebas dari perbuatan dosa. Ibu dan suami adalah Guru Rupaka yang bertanggung jawab terhadap dosa anak-anaknya, mendidik anak-anaknya agar terhindar dari perbuatan dosa. Guru disini dimaksudkan sebagai Guru Pengajian yang bertanggung jawab terhadap dosa anak didiknya, mendidik anaknya agar berbudi pekerti baik terhindar dari perbuatan dosa. Raja dalam hal ini adalah sebagai Guru Wisesa yang bertanggung jawab terhadap dosa dari rakyatnya, membina dan membimbing rakyatnya agar terhindar dari perbuatan dosa. Purohito adalah sebagai Guru Awadiaya yang bertanggung jawab terhadap dosa para pemimpin, memberi pencerahan kepada para pemimpin agar selalu terhindar dari perbuatan dosa.

Ajaran yang keempat adalah disimbulkan oleh genitri, sebagai simbul Guru Swadiaya, yang dibawa oleh oleh Dewi Saraswati yang melingkar tanpa ujung dan pangkal. Makna fislafat dari genitri tersebut adalah bahwa kehidupan adalah perjalanan sementara sang diri untuk menuju kembali kepada asalnya. Setiap orang harus secara mendalam memahami sang diri dan makna dari kehidupan serta memahami sangkan paraning dumadi. Kesadaran bahwa Atman adalah sang diri yang bersumber dari Brahman merupakan suatu hal yang wajib bagi setiap orang. Kesadaran dan pemahaman yang mendalam dari konsep ”Brahman Atman aekyam” dan ”Satyam Eva Jayate” adalah merupakan keharusan bagi setiap umat manusia. DR. Hunter D. Adam menulis puisi yang sangat menarik yang mengandung konsep kehidupan yang sangat dalam. Secara ringkas dikatakan hidup ini seperti halnya kita keluar dari rumah untuk sebuah kegiatan tertentu kemudian perjalanan untuk menuju rumah. Kalau kita tidak tahu rumah kita atau asal kita, kita tidak tahu jalan menuju rumah maka tentu kita tidak akan sampai dirumah dan kita tersesat. Empat kalimat penting dalam puisinya yang sangat menarik adalah:

All of life is a coming home;

All of us…all the restless hard on the world;

All try to find the way home;

You don’t even know when you are walking in the circle.

Genitri kalau kita ikuti butir demi butirnya maka kita akan kembali ketempat dari mana kita mulai, itulah kehidupan. Kita harus mengetahui dari mana kita berasal dan bagaimana jalan hidup yang benar untuk kembali kepada asal kita. Kemanapun, dengan jalan apapun asal jalan yang sesuai jalan Dharma, atau melingkar sesuai lingkaran genitri, maka kita akan bertemu sang diri Atman, Brahman aekyam. Sebuah kisah Dewa Ruci yaitu merupakan kisah perjuangan hidup Bima adik Yudistira yang mengikuti dengan teguh jalan Dharma, ajaran Sang Hyang Aji Saraswati, sehingga dia menemukan dirinya yang sejati yang disebut Dewa Ruci yang Dewa yang berstana pada badannya yang tidak lain adalah sang Atman. Bima dengan penuh cinta kasih, ketulusan, kejujuran, kesadaran, kebijaksanaan, astung karah, tanggung jawab berjuang melawan segala rintangan untuk mencari tirta Kamandalu di tengah samudra yang merupakan tugas dari gurunya. Kepatuhan, cinta kasihnya dan tanggung jawabnya secara tulus kepada sang guru membuat tugas berat yang penuh tantangan dapat dijalani dengan baik oleh Bima. Tantangan yang dihadapi adalah ombak yang amat dahsyat, naga yang amat besar dan ganas, namun dengan pegangan Dharma dia dapat melewati dengan baik segala rintangan dan akhirnya ketemu manusia kecil yang persis seperti dirinya. Bima bertanya siapa orang kecil yang persis seperti dirinya itu, lalu untuk mengetahui itu Bima diminta masuk ketelinga manusia kecil itu. Bima tidak percaya apa yang diminta orang kecil tersebut. Namun akhirnya Bima tersedot dengan sendirinya memasuki lubang telinga manusia kecil itu, Bima menemukan keajaiban yaitu semua yang ada di alam semesta ada juga pada diri orang kecil tersebut, Bima kemudian duduk bersemadi. Pada saat itu terdengan suara, Bima pahamilah dan sadarlah bahwa aku adalah Dewa Ruci yaitu sang Atman adalah dirimu, Aku berstana pada badan kasar yang sementara ini kau pandang sebagai dirimu, kau bukan badan kasar itu wahai putra Kunti, kau adalah Aku dan Aku adalah dirimu. Ketahuilah Bima bahwa apapun yang kau lakukan dalam hidup, apapun karmamu dalam kehidupanmu adalah usaha untuk mencapai dirimu sendiri, adalah usaha untuk kembali pada asalmu yaitu kembali kepadaku. Kau akan dapat kembali kepada Brahman ke tempat asalmu jika kau dapat menjalini Dharma dalam hidupmu, ikutilah segala ajaran Sang Hyang Aji Saraswati maka kau akan kembali kepada Brahman.

Sebagai umat Hindu kita patut memanjatkan Astung Karah kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa karena telah diciptakan Sang Hyang Aji Saraswati yang selalu menuntun manusia melalui ajarannya untuk hidup melalui jalan yang dapat membawa kita kembali kepada asalnya yaitu Brahman. Sebagai umat Hindu mari kita selalu menyembah dan mentaati ajaran Sang Hyang Aji Saraswati, seperti para leluhur kita selalu mengngatkan kita lewat sebuah tembang sinom sebagai berikut.

Sembah, pangubakti titiang;

Ring Ida Hyang Prama Kawi;

Sang Hyang Saraswati puja;

Sweca Ratu manyunarin;

Manah titiang miasa kerti;

Merarapan, tembang kidung;

Sat sat tekine akupak;

Yening ratu manyuwecaning;

Nunas suluh;

Manah titiang sida galang

Om Shanti, Shanti, Shanti Om.

  • Gede_surya

    suksma ilmunya……….

  • ketut santika

    terimaksih ats pengetahuannya, hindu sangat banyak mempunyai ajaran2 dharma,ajaran kebenaran untuk menuntun kita semua ke jln darma cuman sedikit kurang siarnya mari kita bangkit dan siarkan ajaran darma

  • ketut santika

    terimaksih ats pengetahuannya, hindu sangat banyak mempunyai ajaran2 dharma,ajaran kebenaran untuk menuntun kita semua ke jln darma cuman sedikit kurang siarnya mari kita bangkit dan siarkan ajaran darma


Switch to our mobile site