Dharma Wacana pada Hari Purnama, Kamis, tgl 27 Mei 2010

Di Pura Agung Jagat Karana Surabaya

oleh: Prof. I Made Londen Batan

(Ketua I PHDI Kota Surabaya)

Ratu Pandita Lanang Istri yang saya sucikan,

Para Pinandita Lanang Istri yang saya sucikan,

Ibu bapak umat hindu yang saya hormati,

adik-adik kecil, siswa dan mahasiswa yang saya banggakan.

Sebelum saya menyampaikan dharma wacana, ijinkan saya pada hari yang berbahagia ini – pada Persembahyangan Purnama malam ini – menyampaikan penganjali umat:

Om Swastyastu,

PENDAHULUAN

Tujuan Hidup Umat Hindu adalah moksartham jagadhita – kesejahteraan dan kebahagiaan yang abadi. Kesejahteraan – sifatnya duniawi (jagat), artinya sesuatu yang bisa diukur. Misalnya sejahtera dikatakan dengan mempunyai mobil mewah, punya hotel, rumah mewah dll, yang sifatnya duniawi. Sedangkan bahagia, sangat sulit diukur, misalnya ada keluarga kecil kelihatan bahagia setelahbisa membelikan anaknya sebuah sepeda, bahkan ada yang nampak bahagia, karena bisa makan hamburger di Mc Donald. Artinya kebahagiaa itu sangat sulit diukur. Bagaimana kita bisa mencapai tujuan hidup tersebut, para resi kita menyusun sebuah tuntutan hidup (way of life) – yang disebut sebagai Panca Shraddha, yang artinya lima keyakinan untuk mencapai moksa, atau sering disebut sebagai lima dasar agama Hindu. Apa saja Panca Shraddha tersebut, dan bagaimana menjalankannya, agar tujuan hidup – bersatunya Atman dengan Brahman, sehingga manusia terlepas dari ikatan duniawi, terlepas dari kelahiran kembali, bebas dari belenggu hidup dstnya.

Ibu, Bapak dan Adik-adik sedharma sekalian

1. KeyakinanTerhadap Adanya Tuhan (Widhi Sraddha)

Angkasa yang luas nan jauh disana, lautan yang luas dengan ombaknya, gunung yang tinggi menjulang ke langit, langit yang biru nan indah, ada matahari, bulan dan bintang dan galaksi lainnya serta adanya manusia dengan segala sifatnya, ada tumbuh-tumbuhan, adanya berbagai jenis binatang, dstnya. Siapa yang menciptakan semuanya itu? Pertanyaan tersebut tidak ada yang bisa menjawab, sekalipun ahli antropologi, ahli ilmu falak, ahli ilmu bumi tidak bisa menjawab dengan pasti semuanya itu. Disamping itu kita sering mendengar adanya bencana alam, ada lumpur Lapindo, ada Puting Beliung atau kejadian yang aneh-aneh, misalnya anak kecil masih tetap hidup, walaupun sudah tertimbun reruntuhan bangunan selama tiga hari akibat gempa bumi. Andaikata kita mengenang semuanya itu, maka kita yakin dan percaya ada kekuatan yang bijaksana dan cerdas yang mengadakan dan mengatur alam ini. Apa sebenarnya kekuatan itu? Ada yang menyebut hukum alam. Bagaimana itu semuanya bisa terjadi? Sangat sulit menjawabnya dengan pasti. Karena dari ceritera kakek nenek, hal tersebut sudah ada! Siapa yang menciptakannya? Karena ketidaktahuan tersebut, maka umat Hindu percaya dengan adaNYA kekuatan diluar manusia, yang menciptakan Bumi dan segala isi dan kejadiannya, yaitu Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Kuasa – Maha Pengasih, Penyayang, Pelindung, Adil dan tidak bisa terbayangkan). Atas dasar tersebut umat Hindu percaya dan yakin dengan adanya Tuhan.

Ibu, Bapak dan Adik-adik sedharma sekalian

2. KeyakinanTerhadap Adanya Atma (Jivatma) Pada Manusia

Tuhan Yang Maha Esa, yang bersifat Maha Kekal, tanpa awal dan akhir disebut sebagai Wiyapaka nirwikara. Wiyapaka berarti meresap, berada di segala temat, pada makhluk, juga pada manusia.

Didalam Veda Parikrama dikatakan: Satu That yang tersembunyi dalam setiap makhluk yang mengisi semuanya yang merupakan jiwa bathin semua makhluk. Raja dari semua pebuatan, yang tinggi dalam setiap makhluk, saksi yang hanya ada dalam pikirannya saja. Atman atau Jivatman adala percikan Tuhan yang ada pada setiap manusia. Sehari-hari kita sering mendengar Hati Nurani, cahaya yang ada dalam diri setiap makhluk, cahaya kejujuran yang ada pada manusia. Atman tidak dipengaruhi oleh badan kasar kita (buana alit), karena atman adalah bagian dari Brahman (disebut sebagai a little Brachman). Dengan adanya keyakinan terhadap Atman, umat hindu akan berusaha berpikir, berkata dan berbuat sesuai dengan hati nurani untuk mencapi tujuan hidup. Artinya, umat hindu sadar, bahwa di dalam dirinya ada percikan Tuhan yang maha tahu, apa yang sudah kita lakukan, sehingga kita selalu berpikir untuk berbuat baik, agar moksa yang dituju dapat tercapai. Atman pada hakekatnya adalah Brahman yang ada didalam setiap makhluk, maka atman luput dari WISAYA (Keadaan lahir, sakit, mati dll), akan tetapi jiwa (sebagai saktinya atman) bisa kena wisaya, karena dapat digelapkan oleh badan rohani (menangis, memfitnah, berbohong, mencaci), dapat ditekan oleh badan jasmani (sakit, merana, luka dsb). Dalam kitab Bhagawadgita ditegaskan sebagai berikut: Orang yang jiwanya tidak terikat oleh sentuhan duniawi, akan mendapat kebahagiaan bathin, dan orang yang suksmanya selalu manunggal dengan Brahman itu, ia akan mencapai kebahagiaan abadi. Oleh karena itu, kita selalu melakukan sembahyang, mendekatkan diri kepada-NYA, agar jiwa kita bebas dari ikatan badan rohani – disebut sebagai Bathin kita tenang – perasaan tenang, pikiran jernih bebas dari belengu MAYA (bebas dari khayalan).

Ibu, Bapak dan umat se-dharma,

3. KeyakinanTerhadap Adanya Hukum Karma (Karma Phala)

Karma – berarti perbuatan, pahala – berarti hasil. Karma Phala adalah hasil dari perbuatan – dan banyak yang menyebut sebagai Hukum Sebab Akibat – sangat terkenal dengan HUKUM KARMA.

Bagaimaa keyakinan terhadap Hukum Karma ini ada? Tiada lain disebabkan adanya tujuan hidup, yaitu moksa. Artinya untuk mencapai tujuan hidup tersebut, maka kita harus tahu benar, mana yang benar dan mana yang salah. Hukum Karma menuntun umat hindu mencapai Moksa. Hal ini sangat kita yakini, bahwa untuk menuju ke kebahagiaan yang abadi, kita harus membebaskan badan kita, jiwa kita dan atman dari hal-hal yang melanggar hukum, melanggaran aturan2, melanggar norma2 hidup dan agama. Agar kita umat hindu senantiasa ingat dengan Atman/Brahman, maka kita harus berbuat baik, agar kita mendapatkan pahala yang baik dari hasil perbuatan tersebut, karena apa yang kita lakukan tercatat dalam pikiran dan hati kita. Hal ini akan dapat mempengaruhi watak kita dan juga berpenbagruh terhadap jiwa kita. Hukum karma juga kita yakini dapat diterima oleh anak cucu atau keturunan kita. Banyak contoh yang bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, seseorang pada masa hidupnya mencari dan mendapatkan kekayaan dengan cara tidak halal (melawan dharma), hidup mewah. Namun setelah meninggal dan kekayaannya diwarisi oleh anak cucunya, maka watak anak cucunya tidk waras (gila), tidak normal dan bahkan sekejap mereka sudah menghabiskan dan menghambur-hamburkan kekayaan itu sampai ludes, sehingga akhirnya menjadi orang yang melarat. Untuk hal yang demikian, kita sering mendengar “ITULAH KARMANYA”. Oleh karena itu, marilah kita jalani hidup ini berdasarkan Dharma.

Ibu, Bapak dan umat se-dharma yang saya banggakan,

4. Keyakinan Pada Kelahiran Kembali (Punarbawa Tattwa)

Banyak orang menyangsikan dan bahkan mencemoh adanya kelahiran kembali (punarbawa) ini. Sebagai manusia yang merasa diri sangat kecil dihadapan Hyang Widhi, kita dapat merasakan kejadian-kejadian yang aneh-aneh mengenai kelahiran atau bakat-bakat dan keadaan kehidupan manusia sehari-hari. Ada seseorang (anak kecil) mempunyai sifat atau watak tidak berbeda dengan leluhurnya (nenek moyangnya). Secara ilmu genetika, faktor keturunan akan berlanjut pada anak cucunya, termasuk sifat, kesenangan (hobby), ukuran tubuh, dan bahkan kecerdasan. Ahli genetika tidak menampik teori, bahwa gen-gen seseorang yang lahir dari bukan keluarga dapat muncul pada seseorang yang baru lahir. Hal tersebut didasarkan atas sejarah kehidupan manusia yang dimulai dari 2 manusia berlainan jenis (Adam dan Hawa), kemudian lahir manusia-manusia dengan berbagai bentuk tubuh, sifat, watak, kemampuan, dan bahkan cita-cita yang sama dengan manusia sebelumnya. Agama Hindu mengajarkan kapada kita semua untuk berpikir, berkata dan berbuat baik (Tri Kaya Parisudha), agar di kehidupan yang akan datang kita bisa menjelma tetap sebagai manusia yang mulia, bukan sebagai binatang (akibat dari perbuatan sebelumnya). Bahkan, jika memungkinkan kita tidak perlu menjelma kembali ke dunia, karena sudah menemukan kebahagian yang abadi, artinya Atman sudah bersatu dengan Brahman. Philosofi hidup (Filsafat Punarbawa) ini akan mengajarkan kepada kita untuk selalu berbuat baik, agar dosa kita berkurang (kalau mungkin habis – sempurna), sehingga kita tidak perlu lahir kembali untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan sebelumnya.

Perlu saya tambahkan, bahwa filsafat Karma dan Punarbawa adalah merupakan sebuah proses yang terjalin sangat erat satu dengan yang lainnya. Karma adalah perbuatan yang meliputi pikiran, perkataan, dan tingkah laku jasmni (perbuatan), sedangkan PUNARBAWA adalah perwujudan dari kesimpulan semuanya itu.

Ibu, Bapak dan umat se-dharma yang saya banggakan,

5. Keyakinan Terhadap Adanya Moksa (Bersatunya Atman dengan Brahman)

Moksa atau Mukti atau Nirwana berarti sebuah kebebasan, kemerdekaan. Merdeka atau bebas dari ikatan karma, kelahiran, kematian dan belenggu maya/penderitaan duniawi. Moksa adalah tujuan akhir umat hindu, di dalam veda disebut sebagai Moksartham Jagaditiha Ya Ca Iti Dharma. Pengertian ini sangat mendasar, yaitu mencapai kebahagiaan lahir dan bathin dengan jalan Dharma. Bagaimana kita menuju ke tujuan tersebut? Ini yang perlu kita pahami, bahwa setiap manusia tiada yang sempurna. Oleh karena itu, marilah kita selalu mendekatkan diri dan berbakti kepadaNYA, agar apa yang kita pikirkan, yang akan kita katakan dan lakukan selalu dijalan Dharma. Kita datang ke Pura saat ini untuk bersembahyang – mendekatkan dan berbakti (Ngaturan bakti) kehadapan Ida Hyang Widhi Wasa. Kita berdoa agar dunia dengan segala isinya selamat, baik, hidup kita sejahtera dan bahagia dst. Demikian pula, kitab suci telah menyediakan dan menuntun bagaimana caranya melaksanakan pelepasan diri dari ikatan maya, sehingga akhirnya atman dapat beratu dengan Brahman, sehingga penderitaan dapat dikikis habis dan tidak menjelma kembali ke dunia sebagai hukuman, tetapi sebagai penolong sesama manusia yaitu sebagai AWATARA. Banyak hal yang perlu kita lakukan, yang tertuang di dalam kitab suci Wedha, antara lain Yadnya (Dewa Yadnya, Resi, Pitra, Manusa, dan Buta Yadnya), Yoga (Jnana, Bhakti dan Karma Yoga) atau Marga, yaitu jalan yang bisa kita lewati untuk menyembah dan berbakti kepada Hyang Widhi.

Penutup

Ibu, bapak dan adik2 sekalian, demikian Dharma Wacana singkat yang bisa saya sampaikan, terima kasih banyak atas perhatiannya. Jika yang ada salah dalam tutur kata, pengucapan dan penyampaian, saya mohon maaf yang se-besar2-nya, dan dengan ini saya akhiri Dharwa Wacana ini dengan parama shanti:

Om Shanti Shanti Shanti Om.