web analytics

Satyam-Siwam-Sundaram Menuju Moksartam Jagadhita

July 22, 2010 By: admin Category: Artikel

Dharma Wacana

Oleh: Ida Begawan Dwija NS

Satyam – Siwam – Sundaram adalah tatanan kehidupan masyarakat yang taat beragama (Hindu), saling menyayangi, dan sejahtera.

 TAAT BERAGAMA HINDU (SATYAM)

  1. Keyakinan pada Panca Srada:

1.1.    Widhi Tattwa

Agama Pramana: Percaya pada Hyang Widhi karena mempelajari kitab-kitab suci.

Pratiyaksa Pramana: Percaya pada Hyang Widhi karena mendapat vibrasi kesucian sebagai hasil ketekunan meditasi.

Anumana Pramana: Percaya pada Hyang Widhi dari kesimpulan berdasarkan logika, unsur-unsur aktivitas, sebab-akibat, keharusan, kesempurnaan dan keteraturan.

Upamana Pramana: Percaya pada Hyang Widhi dari analogi berdasarkan perbandingan unsur-unsur metafora (penciptaan), struktural (bahan ciptaan) dan kausal (akibat dari suatu sebab).

1.2.    Atma Tattwa

Percaya bahwa Atman identik dengan Brahman, karena itu ada empat jalan menuju kepada-Nya, yaitu:

  • Bhakti Marga:

Menyembah, memuja, menghormati dan menyayangi Hyang Widhi dengan segala ciptaan-Nya.

  • Karma Marga:

Bekerja, berbuat mencapai tujuan hidup dilandasi ajaran Veda.

  • Jnana Marga:

Belajar dan mengajar mengembangkan Ilmu Pengetahuan untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia.

  • Yoga Marga:

Olah badan dan pikiran untuk menghubungkan Atma dengan Paramaatma.

1.3.    Purnabhawa

Percaya bahwa Atman akan terus mengalami samsara (reinkarnasi) bilamana belum memenuhi syarat kesucian untuk bersatu dengan Brahman; karena itu ada beberapa upaya untuk selalu menjaga kesucian:

  • Sistacara:

Kehidupan suci yang membentuk susila.

  • Atmanastusti:

Bekerja, berbuat mencapai tujuan hidup dilandasi ajaran Veda.

  • Catur Ashrama:

Empat jenjang kehidupan: Brahmacari, Gryahasta, Wanaprastha, dan Biksuka.

1.4.    Karmaphala

Percaya bahwa perbuatan yang baik akan membuahkan kebaikan, sedangkan perbuatan yang jahat akan menuai keburukan; karena itu tetaplah berpegang pada Trikaya Parisudha (tiga kesucian/ kebaikan):

  • Kayika Parisudha: Perbuatan yang baik yang terdiri dari Ahimsa (tidak membunuh/ menyakiti), Tan Mamandung (tidak mencuri/ korupsi), Tan Paradara (tidak berzina).
  • Wacika Parisudha: Perkataan yang baik terdiri dari Tan ujar apregas (tidak berkata kasar/ memaki), Tan ujar ahala (tidak berkata bohong/ membual), Tan ujar pisuna (tidak memfitnah), Satya wacana (berkata jujur/ menepati janji).
  • Manacika Parisudha: Pikiran yang baik terdiri dari Tan Adengkya ri drwyaning len (tidak dengki pada kepunyaan orang lain), Mamituhwa ri hananing karmaphala (percaya pada hukum karma-phala), Masih ring sarwa satwa (sayang kepada semua mahluk ciptaan Hyang Widhi).

1.5.    Moksha

Percaya akan terjadinya kemanunggalan Atman dengan Brahman (Hyang Widhi) apabila kesucian Atman sudah setara dengan kesucian Brahman, melalui Catur Purushaartha:

  • Dharma: Ajaran Agama sebagai landasan segala aspek kehidupan.
  • Artha: Wara nugraha Hyang Widhi berupa benda-benda materi.
  • Kama: Kemampuan mencukupi kebutuhan hidup.
  • Moksha: Tercapainya kesejahteraan lahir-bathin sebagai tahapan menuju kemanunggalan Atman-Brahman.

 

Tiga Kerangka Agama Hindu Dipandang Sebagai Satu Kesatuan, Dalam Artian Adanya Saling Keterkaitan Aspek-Aspek Yang Bertujuan Membentuk Kesempurnaan.

2.1.    Tattwa

Pemahaman inti ajaran Veda.

  •  
    • Susila

Perilaku baik, yang terbentuk dari pemahaman Tattwa, meliputi antara lain:

  •   Sadacara

Taat pada peraturan, norma, atau perundang-undangan yang berlaku.

  •   Sad Tatayi

Menghindari dosa karena: Agnida (membakar), Wisada (meracun), Atharwa (menggunakan ilmu hitam), Sastraghna (mengamuk), Dratikrama (memperkosa), Rajapisuna (memfitnah).

  •   Sad Ripu

Waspada adanya enam musuh dalam diri sendiri: Kama (nafsu), Lobha (serakah), Kroda (marah), Mada (mabuk), Moha (sombong), Matsarya (cemburu, dengki, irihati).

  •   Asada Brata

Dharma (yakin pada hakekat kebenaran), Satya (setia pada nusa-bangsa-negara), Tapa (mengendalikan diri), Dama (tenang dan sabar), Wimatsarira (tidak dengki, iri, serakah), Hrih (punya rasa malu), Titiksa (tidak gusar), Anusuya (tidak bertabiat jahat), Yadnya (rela berkorban), Dana (dermawan), Dhrti (menjaga kesucian), dan Ksama (suka memaafkan).

  •   Dasa Indria

Kemampuan mengendalikan indria: Srotendria (pendengaran), Twakindria (rabaan kulit), Granendria (penciuman), Caksundria (penglihatan), Wakindria (lidah), Panindria (gerakan tangan), Payundria (membuang kotoran), Jihwendria (gerakan kaki), Pastendria (alat kelamin).

  •   Yama Brata

Anrsamsa (tidak egois), Ksama (pemaaf), Satya (setia), Ahimsa (tidak menyakiti hati), Dama (sabar), Arjawa (tulus-ikhlas), Pritih (welas asih), Prasada (tidak berpikir buruk), Madhurya (bermuka manis secara tulus), Mardawa (tutur kata yang lemah lembut).

  •   Niyama Brata

Dana (dermawan), Ijya (rajin sembahyang), Tapa (mengendalikan diri), Dhyana (menyadari kebesaran Hyang Widhi), Swadhiyaya (rajin belajar), Upasthanigraha (menjaga kesucian hubungan sex), Brata (mengekang nafsu), Upawasa (berpuasa), Mona (mengendalikan kata-kata), Snana (menjaga kesucian dan kebersihan diri).

2.3.    Upacara

Ritual yang dilakukan untuk menguatkan Tattwa dan Susila sebagai pengembangan nalar manusia dalam menjalin hubungan dengan Hyang Widhi yang berdampak pada kesehatan spiritual dan emosional.

 

Saling Menyayangi (Siwam)

  1. Tattwamasi

Percaya bahwa semua umat manusia di dunia adalah sama-sama mahluk utama ciptaan Hyang Widhi, sehingga bila kita sayang pada diri sendiri hendaknya juga sayang kepada orang lain, sebaliknya bila kita tidak senang menyakiti diri sendiri, janganlah menyakiti orang lain.

  1. Sagilik-Saguluk, Salunglung -Sabayantaka: Umat manusia hendaknya bersatu bersama-sama menghadapi musuh yang merupakan bahaya mengancam semesta.
  2. Paras-Paros Sarpanaya: Selalu menghargai pendapat orang lain, bertindak tidak hanya untuk kepentingan diri sendiri, tetapi mengutamakan kepentingan umum dengan perspektif persatuan dan kesatuan.
  3. Saling Asah, Saling Asih, Saling Asuh: Saling mengingatkan, menyayangi dan membantu kesulitan orang lain.

 

Kesejahteraan Bersama (Sundaram)

Kesejahteraan yang dicita-citakan dalam Vedanta adalah kesejahteraan umat manusia secara universal, meliputi fisik dan non-fisik yaitu Spiritual, Emosional, Intelektual dan Fisik.

Kesejahteraan yang tidak merata bagi umat manusia belumlah dapat disebut sebagai keberhasilan, melainkan justru merupakan pemacu untuk mengupayakan bantuan baik berupa pikiran, tenaga, materi dan perhatian.

 

Kepemimpinan Menuju Satyam- Siwam – Sundaram

Kelompok individu atau masyarakat pastilah mempunyai pemimpin yang dipilih untuk menuntun anggotanya menuju masyarakat yang Satyam-Siwam-Sundaram. Ia hendaknya memenuhi criteria :

  1. Astha Brata
    1. Indra Brata: adil
    2. Yama Brata: berani menghukum yang salah
    3. Surya Brata: melindungi yang lemah
    4. Candra Brata: menciptakan kedamaian
    5. Bayu Brata: menguatkan ketahanan
    6. Kwera Brata: memakmurkan
    7. Baruna Brata: memusnahkan adharma
    8. Agni Brata: mendorong semangat
  2. Sad-Guna
    1. Sandhi mudah memecahkan kesulitan
    2. Wigrha berpengaruh
    3. Jana perintahnya dituruti
    4. Sana pandai menyesuaikan diri
    5. Wisesa bijaksana
    6. Srya mendapat simpati/ disenangi

 

Download File dalam Bentuk PDF


Switch to our mobile site