Satyam-Siwam-Sundaram Menuju Moksartam Jagadhita

Dharma Wacana

Oleh: Ida Begawan Dwija NS

Satyam – Siwam – Sundaram adalah tatanan kehidupan masyarakat yang taat beragama (Hindu), saling menyayangi, dan sejahtera.

 TAAT BERAGAMA HINDU (SATYAM)

  1. Keyakinan pada Panca Srada:

1.1.    Widhi Tattwa

Agama Pramana: Percaya pada Hyang Widhi karena mempelajari kitab-kitab suci.

Pratiyaksa Pramana: Percaya pada Hyang Widhi karena mendapat vibrasi kesucian sebagai hasil ketekunan meditasi.

Anumana Pramana: Percaya pada Hyang Widhi dari kesimpulan berdasarkan logika, unsur-unsur aktivitas, sebab-akibat, keharusan, kesempurnaan dan keteraturan.

Upamana Pramana: Percaya pada Hyang Widhi dari analogi berdasarkan perbandingan unsur-unsur metafora (penciptaan), struktural (bahan ciptaan) dan kausal (akibat dari suatu sebab).

(continue reading…)


PANCA SRADDHA LIMA KEYAKINAN UMAT HINDU

Dharma Wacana pada Hari Purnama, Kamis, tgl 27 Mei 2010

Di Pura Agung Jagat Karana Surabaya

oleh: Prof. I Made Londen Batan

(Ketua I PHDI Kota Surabaya)

Ratu Pandita Lanang Istri yang saya sucikan,

Para Pinandita Lanang Istri yang saya sucikan,

Ibu bapak umat hindu yang saya hormati,

adik-adik kecil, siswa dan mahasiswa yang saya banggakan.

Sebelum saya menyampaikan dharma wacana, ijinkan saya pada hari yang berbahagia ini – pada Persembahyangan Purnama malam ini – menyampaikan penganjali umat:

Om Swastyastu,

PENDAHULUAN

Tujuan Hidup Umat Hindu adalah moksartham jagadhita – kesejahteraan dan kebahagiaan yang abadi. Kesejahteraan – sifatnya duniawi (jagat), artinya sesuatu yang bisa diukur. Misalnya sejahtera dikatakan dengan mempunyai mobil mewah, punya hotel, rumah mewah dll, yang sifatnya duniawi. Sedangkan bahagia, sangat sulit diukur, misalnya ada keluarga kecil kelihatan bahagia setelahbisa membelikan anaknya sebuah sepeda, bahkan ada yang nampak bahagia, karena bisa makan hamburger di Mc Donald. Artinya kebahagiaa itu sangat sulit diukur. Bagaimana kita bisa mencapai tujuan hidup tersebut, para resi kita menyusun sebuah tuntutan hidup (way of life) – yang disebut sebagai Panca Shraddha, yang artinya lima keyakinan untuk mencapai moksa, atau sering disebut sebagai lima dasar agama Hindu. Apa saja Panca Shraddha tersebut, dan bagaimana menjalankannya, agar tujuan hidup – bersatunya Atman dengan Brahman, sehingga manusia terlepas dari ikatan duniawi, terlepas dari kelahiran kembali, bebas dari belenggu hidup dstnya.

(continue reading…)


INTERNALISASI DHARMA (Yadnya) JALAN MENUJU KEBAHAGIAAN ABADI

(Path to The God, Jalan Menuju Tuhan)

oleh :

Dr IGK Paridjata Westra, M.Agr.S., M.Agr.Sc., DVM

(Litbang PHDI – Surabaya)

LATAR BELAKANG

Kita, khususnya masyarakat Hindu di Jawa Timur sangat sedih dan prihatin mengamati berbagai fenomena yang terjadi di Bali. Bali bukan lagi Bali yang dulu lagi, yang dahulu indah alamnya, dan lestari budayanya, damai (canti) dan toleran masyarakatnya, dll. Alam dan manusia seolah sangat erat bersahabat, dan kejujuran (satyam) terpancar dari gerak dan tingkah laku tutur kata kehidupan masyaraknya.

Namun Bali kini sedang diselimuti berbagai masalah, tantangan sangat komplek, sehingga seolah sukar diurai ujung pangkalnya. Mari perhatikan hal-hal berikut :

A.   Parahyangan :

1.    Banyak sudah umat kita yang secara sadar telah meninggalkan keyakinannya. Hal ini sungguh sangat memprihatinkan dan menyedihkan (Kenapa???)

2.    Beberapa tempat ibadah (pure) sudah tidak terurus dan ada yang digusur

3.    Sementara umat yang ada di luar Bali sangat sulit untuk membangun rumah ibadah

4.    Rumah ibadah non-Hindu semakin banyak

B.   Pawongan :

1.    Terjadi kesenjangan ekonomi, antar daerah dan wilayah (utara – selatan)

2.    Rendahnya tingkat partisipasi pendidikan, khususnya di pedesaan dan umumnya perempuan.

3.    Angka penyandang buta aksara >5% (Direktoran Pendidikan Luas Sekolah, 2007)

4.    Kontong – kantong kemiskinan meningkat di semua kabupaten dan kota (data Bali Post 12 Juli 2006)

5.    Umat tidak sepenuhnya menjadi tuan rumah di negerinya sendiri, sector - sector ekonomi (usaha) tidak dikuasai oleh umat. Umat kebanyakan hanya sebagai pembantu (pramu saji, pramu wisma, pramu niaga, sopir taksi, tukang, buruh, tenaga upahan lain) di negeri sendiri, baik pada sector informal dan formal

6.    Meski Bali mengandalkan (dominasi) sector pariwisata, namun yang menikmati bukan umat kebanyakan. Umat kebanyakan bukan menjadi pemain utama, sebagain umat hanya jadi penenton dan tetap miskin dan terbelakang

7.    Pengangguran juga meningkat, karena semakin sulit dan terbatasnya lapangan kerja (termasuk pengangguran tenaga terdidik)

8.    Kriminalitas (pencurian) bermotif ekonomi juga meningkat deras terutama di kota-kota, dan khusus pada momen (bulan) tertentu. Misal menjelang Hari Raya Tertentu.

C.   Palemahan :

1.    Lingkungan (ekosistem) Bali sudah banyak rusak, seperti pantai banyak tergusur, dataran banyak yang sudah bepeng-bopeng, sehingga Bali seolah –olah menjadi lebih sempit

2.    Kawasan hutan juga banyak rusak, karena adanya perambah liar

3.    Konversi lahan pertanian (sawah dan tegalan) menjadi kawasan perumahan dan industri. Bukankah ini akan membuat semakin terkurasnya sumberdaya alam (SDA) Bali ?

4.    Banjir dan tanah longsor yang terjadi baru-baru ini, adalah indikasi kuat rusaknya ekosistem di Bali.

D.  Permasalahan lain :

1.    Masalah sosial yang semakin meningkat, seperti banyak komplik, kekerasan antar banjar, bahkan komplik dalam keluarga (saudara) sering kita dengar (komplik sesama orang Bali, moral hazard)

2.    Meningkatnya jumlah orang yang menggunakan obat psikotropika (narkoba)

3.    Kehidupan bebas, materialistik, egoistik semakin terasa, serta semakin jauh dari nilai humanism

4.    Kehidupan sek bebas juga  semakin terbuka, dll., termasuk adanya lokasi PSK.

5.    Permasalahan struktur sosial (kasta) juga menjadi isu yang belum selesai. Hal ini sekaligus menunjukkan masih adanya keangkuhan sosial

6.    Komplik antar lembaga pembina agama, juga belum terselesaikan

7.    Bali belum bebas dari ancaman terorisme, dll

TANTANGAN YANG DIHADAPI

Kita (masyarakat dan pemerintah – Bali) juga sangat prihatin terhadap tantangan yang sedang dan akan dihadapi Bali di waktu yang akan datang. Tantangan ini tidak ringan, kalau tidak pandai kita menanganinya, maka semakin berat beban yang ditanggung Bali. Mari kita cermati tantangan tsb :

1.    Meningkatnya jumlah penduduk, khususnya pendatang, baik mereka yang punya skill dan yang tanpa skill (pengangguran).

2.    Sementara orang Bali yang miskin disingkirkan (transmigrasi) ke berbagai daerah terpencil di luar Bali dan mereka tidak terurus sama sekali, bagai anak ayam kehilangan induknya (saya mengamati sendiri hal ini di suatu desa di Kota Mobagu, Sulut)

3.    Penetrasi budaya asing, melalui torisme, investror, dll., sekaligus dengan life style-nya (materialistik, egoistik) yang berbeda dengan budaya Bali

4.    Perkembangan lembaga-lembaga keagamaan (pusat studi Injil, lembaga dakwah, Sufi, kelompok pengajian, dll). Hal tsb dapat memperkaya khasanah budaya Bali (lebih plurar), atau sekaligus jug dapat menghancurkan nilai-nilai budaya tradisional yang kita junjung tinggi, termasuk keyakinan kita, dll.

5.    Semakin meningkatnya populasi non – Bali dan semakin sempaitnya ruang (space) bagi kehidupan masyarakat, terbatasnya sumber daya alam, dll.

APA AKAR PERMASALAHAN  BALI

Permasalahan  (fenomena, fakta) Bali yang saya uraikan di atas, cepat atau lambat akan dapat menjadikan derita (penderitaan umat) dan kehancuran Bali, sekaligus Hindu, bila kita tidak dapat menemukan solusinya yang tepat. Bali bukan lagi menjadi The island of paradise (pulau dewata), dll., Bali hanya tinggal kenangan. Saya tidak tahu pasti apakah akan terjadi 10 – 20 tahun yang akan datang ???

Pertanyaan : KENAPA MASALAH tersebut DI ATAS  ITU DAPAT TERJADI ?.

Hasil analisis (kajian) dan dapat saya simpulkan sementara, sbb :

1.    Lemahnya kesadaran Shrada kita. Hasil analisis saya (mengambil sampel di beberapa daerah), mereka tidak memahami keyakinannya sendiri (filosofi). Apa makna atau hakekat keyakinan Shrada tsb. Dalam Bahasa Bhagavad Githa (BG) disebut sebagai The Science of being (Ilmu Pembebasan manusia dari segala keterikatan dan kebodohan, Shrada adalah sepirit untuk bangkit, untuk bekerja keras, untuk pengabdian, mencapai kebahagian abadi untuk semua kehidupan)

2.    Mereka juga sangat minim pengetahuannya terhadap tata kerama (etika, karma) kehidupan yang dalam bahasa BG disebut sebagai The art of living. Hal ini bersumber karena kelemahan Shrada (point 1)

3.    Praktek keagamaan yang disebut dengan ritual (dengan konsep panca Yadnya) sangat marak, namun Yadnya diartikan dalam dimensi upacara saja bhakti ke YME, yang sempit tanpa makna universal (hakekat kehidupan, the nature of life) sebagai hakekat (esensi) agama itu sebenarnya. Yadnya yang demikian tidak optimal dalam meningkatkan kualitas hidup manusia (fisikal dan spiritual) dan memelihara kelestarian alam Bali

4.    Ketidak seimbangan praktek Yadnya vertical (upacara, dengan cost yang berlimpah) dengan praktek Yadnya horizontal (membangun nilai – nilai kemanusiaan, membangun harkat dan martabat manusia dan seluruh kehidupan)

5.    Kepedulian Pemerintah Bali terhadap umat, misleading, tidak tepat sasaran, tidak tepat pada akar maslahnya, termasuk kepedulian terhadap umat Hindu di luar Bali.

6.    Konsep pembangunan (perizinan) pemerintah tidak sepenuhnya berpihak kepada orang Bali dan atau umat Hindu, terutama dalam kaitannya dengan membangun keajegan Bali. Pemerintah cenderung lebih banyak mengejar keuntungan sementara melalui peningkatan PAD, tanpa peduli akibatnya di masa depan (pembangunan hotel, resort, pemungkinan, industri, dll), dengan menggusur lahan pertanian, kawasan hutan, wilayah suci, dll. Sementara izin pembangunan tempat ibadah non- Hindhu marak.

APA SOLUSINYA

Saya penawarkan solusi atas berbagai permasalahan yang saya urai di atas, adalah  MEMBANGUN KEMBALI BUDAYA YADNYA (Dharma) di Bali, melalui 2 (dua model pendekatan terpadu dan program, sbb :

Pendekatan Pendidikan (Education)

1. Program Pendidikan Keagamaan sbb :

1.1. Pembentukan Kader – kader Pedharma Wacana yang unggul dalam

jumlah dan kualitas, untuk : Menyebarluaskan pemahaman yang benar

tentang hakekat Veda (BG) karena :

(a)                       Veda dinyatakan sebagai sumber pengetahuan  kekal (The Eternal knowledge) dan sumber spirit untuk mencapai kehidupan bahagia

(b)                       Veda adalah sumber  pemikiran dan dasar dari segala perbuatan benar Artinya : Pikiran dan perbuatan manusia yang benar, penuh kasih sayang, bakti, penuh ketulusan, ikhlas, siap berkorban menolong sesama, kalau bersumber dari Veda

(c) Veda adalah sumber utama Yadnya. Yadnya, disebut sebagai representasi paling utama dari perbuatan manusia Hindu khususnya

(d)                       Yadnya dan Veda merupakan dua fondasi utama yang bersifat integral dari Budaya Veda (Vedic culture). Budaya Bali adalah budaya Hindú atau budaya Yadnya (Dharma) yang bersumber dari Veda

(e)                       Meningkatkan pemahaman Srada yang sesungguhnya dan sebar luaskan nilai nilai keyakinan yang ada dalam Veda (BG). Dalam The Vedic Study Studi tentang Veda, (Satyakam Varma, 1984) disebutkan sbb : “It’s a sacred duty of all the Vedic adherents to study and teach as well as to listen and to talk about Veda” (Adalah kwajiban suci bagi setiap pengikut Veda untuk mempelajari dan mewacanakan Veda….).

Bagaimana kita mau menyebarkan nilai (kebenaran Brahman), kepada orang lain, kalau kita sendiri tidak memahami ajaran agama kita ?.

1.2. Mendirikan Pusat Studi Veda (BG) di tiap Kabupaten dan Kota di Bali, untuk :

(a)                       Tingkat Dasar (Primary)

(b)                       Tingkat Menengah (Intermediate)

(c) Tingkat Maju (Advance)

Fungsinya, adalah membentuk dan menghasilkan manusia Hindhu baru pengikut Veda (Vedic adherent, or followers) untuk semua tingkatan (umur) menuju kejayaan Hindu masa depan di Bali dan luar Bali. Kader-kader ini diharapkan dapat menjadi panutan (pikiran, perkataan dan perbuatan)

1.3. Me-review dan merivitalisasi hakekat berbagai ritual dan Samskara agar

dapat memeri manfaat bagikehidupan manusia dan alamnya, dengan

mengkaji aspek :

(a)                       Harus bersumber dari Weda sebagai sumber pengetahuan kebenaran

absolute (disebut juga sebagai pengetahuan suci sehingga

kebenarannya tidak tergantung dari fungsi waktu dan tempat) tentang

ilmu kehidupan (The science of being) dan etika kehidupan (The art of

living)

a.1. Penerapannya disesuaikan dengan adat setempat (desa kala

patra). Namun jangan sampai adat (alat) yang mendominasi tujuan

a.2. Penerapannya harus mengacu pada hakekat, bukan kehendak (nafsu), sehingga tidak menimbulkan iri dan dengki (gejolak sosial)

2. Program Pendidikan Luar Sekolah (PLS)

Meningkatkan (mempercepat) Program Pemberantasan Buta Aksara sesuai dengan Inpres No.5 Tahun 2006, baik untuk (a) pendidikan Keaksaran dasar dan (b) pendidikan keaksaraan lanjut. Data menunjukkan bali masih termasuk daerah merah (penyandang Buta Aksara >5%). Hal ini dapat dilakukan melalui kegiatan PKK di tingkat desa (dusun, banjar) melibatkan tokoh masyarakat dan tokoh agama. Sumber dana dan program berasal dari Dinas Pendidikan Kabupaten dan Kota.

Pendekatan Ekonomi

1. Sasaran

Pendekatan ekonomi masyarakat dilakukan dengan program dan sasaran yang jelas (prioritas)  yaitu :

(a) keluarga atau rumah tangga miskin

(b) keluarga berpengasilan rendah dan

(c) kelompok masyarakat yang paling rentan dari akibat tekanan ekonomi.

(the most vulnerable society)

2. Program (Skema Pemberdayaan)

Usaha-usaha (pemberdayaan) ini dapat dilakukan melalui program-program dan kelembagaan sbb :

2.1. Pengembangan Usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) ditingkat

Banjar

2.2. Meningkatkan Program Nasional pemberdayaan masyarakat (PNPM),

melalui kelompok – kelompok masyarakat dan lembaga pendidikan

(khusus Perguruan tinggi)

2.3. Menggalakkan usaha perkoperasian dengan sasaran keluarga miskin

2.4. Meningkatkan peran sektor perbankan untuk mengucurkan pendaan

(kridit lunak) untuk UMKM dan PNPM

2.5. Meningkatkan keterlibatan keluarga miskin dalam program pemberdayaan

kecamatan dan desa (kelurahan)

2.6. Meningkatkan pendidikan kewirausahaan (entrepreneurship) melalui

kader-kader pembangunan desa (kelurahan)

2.7. Pembangunan sentra – sentra ekonomi di pedesaan untuk pembangunan

pedesaan, mengeliminasi kemiskinan, mencegah urbanisasi.

2.8. dll.

3. Pendekatan Kebijakan Pemerintah

Pemerintah Bali (TK I dan II) seharusnya  dapat menata kehidupan masyarakat yang lebih baik, sesuai tradisi Bali (mempertahankan budaya, dan kehidupan yang lebih sejahtera. Hal ini dapatdilkukan dengan mengatur :

3.1. Perizinan tempat tinggal

3.2. Pembatasan masuknya penduduk luar Bali yang tidak memiliki tempat

tinggal jelas dan pekerjaan jelas, agar tidak menjadi beban pemerintah.

3.3. Perizinan banungan (tidak menggunakan lahan-lahan produktif dan atau

lingkungan yang disucikan)

3.4. Kerjasama dengan sektor per-bankan, agar dapat membantu sektor

UMKM, home industri di pedesaan yang melibatkan tenaga kerja orang-

orang Bali

3.5. Mendirikan lembaga pelatihan kewirausahaan

3.6. Mendirikan perbankan khusus untuk umat Hindhu, sesuai ajaran Dharma

3.7. dll.

4. Pendekatan Partisipatif

Pendekatan partisipatif, adalah keterlibatan masyarakat secara luas di tingkat desa (banjar), desa sd. Kecamatan., melibatkan tokoh formal dan informal. Masyarakat adalah pelaku (subject sekaligus object) program, sekaligus sebagai pengontol (monev) pelaksanaan serta peningkmat hasil program. Bimbingan pemerintah (dinas terkait) dan lembaga independen lain termasuk perguruan tinggi, akan menentukan arah dan keberhasilan program.

Perlu dibentuk suatu Forum Pemberdayaan Masyarakat (FPM) yang menyangkut berbagai aspek kehidupan di tingkat Kecamatan dan Desa. Peran pemerintah, adalah memfasilitasi kegiatan program.

1. Catatan 2 :

1.    Betapa pentingnya pengetahuan (philosofi) dalam Veda (BG)

(a)    Pengetahuan ibarat sinar penerangan yang dapat mencerdaskan, menyadarkan dan mensucikan hati manusia

(b)    Persembahan Ilmu Pengetahuan lebih mulia dari pada persembahan materi (Baca Mantran Gayatri dan BG IV : 33)

(c)     Tiada sesuatu dalam dunia ini dapat menyamai Ilmu Pengetahuan (BG IV : 38)

(d)    Ia yang memiliki kepercayaan dan menguasai panca indrianya mencapai Ilmu Pengetahuan, setelah memiliki Ilmu Pengetahuan, dengan segera ia menemuai kedamaian abadi (BG IV : 39)

(e)    Orang yang memiliki Ilmu Pengetahuan menunjukkan karakter : e.1. Rendah hati (tidak sombong, angkuh, dll), e.2. Berperilaku sederhana dan e.3. Bersifat toleran.

(f)       Dengan demikian pelajari Veda (BG) dan pengetahuan keduniawian lainnya, sebarkan pengetahun tsb, sehingga Bali menjadi maju, sejahtera dan damai

2.    Pemahaman Yadnya (Dharma) yang komprehensif :

(a)    Dalam Satyakam Varma (1984) disebutkan bahwa Yadnya is a primary and foremost duty of every humanbeing for securing a good future within this life and beyond (Yadnya, adalah kewajiban manusia yang utama dan pertama untuk memperoleh kebahagiaan semasa hidupnya, atau sesudah mati)

(b)    Our good or bad acts (karma) become the deciding factors for our future life and birth (Baik buruk karma kita akan menentukan hidup dan kelahiran yang akan datang). Hentikanlah kebencian, keangkuhan dan kekerasan di Bali, agar Bali kedepan menjadi lebih baik

(c)     Dalam The Introduction to BG, disebut bahwa : Pada setiap kehidupan melekat Dharma, yaitu : kewajiban atau pelayanan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan tsb. Jadi hakekat hidup, adalah bekerja, (berkarma) melayani. Oleh karena itu, khususnya manusia —siapapun dia : Brahmana, kesatria, wesia dan sudra), lakukanlah kewajiban dan pelayanan ini, sebaik-baiknya berdasar penetahuan Veda (BG), untuk hidup mencapai kehidupan berbahagia. Artinya : Umat harus mau dan mampu mengambil kesempatan kerja baik disektor informal, dan formal, agar tidak diambil oleh orang luar. Lakukanlah kewajibanmu sesuai hakekat kehidupan tsb.

(d)    Praktek agama Hindu —disebut juga sebagai budaya Veda (Vedic culture) berbasis pada :

d.1. Pembelajaran kitab-kitab suci sebagai sumber pengetahuan abadi

(hukum yang kekal, absolut)

d.2. Menerapkan Yadnya (berkarma, di Bali disebut etika) dalam

kehidupan sehari-hari yang bersumber dari pengetahuan abadi

tsb

d.3. Melaksanakan pemujaan, ritual yang berdasar pengetahaun abadi

Artinya : laksanakan praktek keagamaan secara proporsional

PENUTUP

Secara ringkas saya sampaikan, bahwa permasalahan Bali (Umat dan lingkungannya) disebabkan karena lemahnya (terbatas) pengetahuan (philosofi) sebagai sumber dari segala sumber : pemikiran dan perbuatan. Dengan meningkatkan pengetahuan akan tumbuh kesucian hati dan pikiran, meningkatnya kesadaran dan kecerdasan umat. Muaranya, adalah perbuatan yang baik (Yadnya, Dharma) dan kahirnya dicapai kebahagian hidup.

Integrasi pendekatan pendidikan, ekonomi dan dibarengi dengan kebijkan pemerintah yang berpihak kepada umat, serta keterlibatan masyarakat (sebagai object sekaligus sebagai subject) secara terpadu (integrated approaches) akan dapat mempertahankan Bali (umat Hindhu khususnya) dari keterpurukan dan tereliminasi dari persaingan kehidupan yang semaikin berat dimasa datang. Kesadaran dan kepedulian serta kerja keras secara tulus (sesuai ajran Dharma—melayani–) tokoh umat, pengurus PHDI, Perguruan Tinggi dan siapa saja, kepada umat Hindhu akan dapat menolong menyelamatkan Bali

Demikian yang dapat saya usulkan untuk bahan renungan dalam Pesamuan Agung PHDI di Bali dan Lembaga kajian strategis ajeg Bali, Kita semua mengharapkan agar Bali (umat Hindu) dapat menjadi tuan yang baik di negerinya sendiri (Home land). Semoga Bali menjadi sejahtera, bahagia dan dinamis.

Om Canti-Canti-Canti Om.

Penulis :

Dr IGK Paridjata Westra, M.Agr.S., M.Agr.Sc., DVM

(Dosen FKH – Unair)

Alamat : Jl. Taman Sutorejo Timur No. 19- Surabaya

TLp. (031) 5933543. HP. 0818594297. E-mail : artsew@indo.net.id

Sumbangan Pemikirna untuk :

1.    Pesamuan Agung PHDI di Denpasar

2.    Lembaga Kajian Strategis Ajeg Bali


Makna Ajaran Dharma dari Sang Hyang Aji Saraswati dalam Kehidupan Modern

Catur Widya Sesana

Darma Wacana Hari Suci Saraswati

Pura Agung Jagat Karana, Surabaya 3-1-2009

Oleh: Prof. Ir I Nyoman Sutantra MSc. PhD

(Ketua Walaka PHDI Prov. Jatim)

Om Swastyastu,

Mari kita bersama-sama pada Hari Saraswati yang kita sucikan ini, di Utama Mandala Pura Agung Jagat Karana yang kita sucikan memanjatkan Puja Astung Karah, Parama Astuti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa karena atas asung kerta wara nugraha Nya kita semua masih diberi kesempatan untuk ngaturang pedek bhakti, kita masih diberi kesempatan untuk hidup dengan tuntunnan ajaran Sang Hyang Aji Saraswati.

Selama 210 hari kita umat Hindu telah mendapat pencerahan dan tuntunan hidup dari ajaran Sang Hyang Aji Saraswati untuk melawan segala godaan, ancaman kehidupan baik yang datang dari dalam diri dan dari luar diri kita. Tentunya sebagian dari kita dapat dengan teguh dan santun melawan segala godaan tersebut, namun juga banyak dari kita justru terjebak dan terbelenggu dari berbagai macam godaan kehidupan tersebut. Banyak yang sangat menderita akibat belenggu dari godaan tersebut namun walau hanya sedikit masih ada pula yang justru sangat menikmati godaan tersebut, yang tentunya nikmat tersebut hanya bersifat sementara. Godaan dan ancaman hidup di jaman modern ini sangat beragam dan menggiurkan yang sangat menjebak dengan segala cara menggrogoti pikiran, perkataan dan perbuatan manusia bagaikan virus ganas yang mengganggu kesehatan moral, spirituar dan material dari manusia. Hanya mereka yang masih teguh memegang jalan Dharma dengan mengikuti ajaran Sang Hyang Aji Saraswati yang akan dapat melawan godaan dan ancaman dalam kehidupan dengan cerdas, bijak dan santun untuk menuju kehidupan yang rukun, damai dan sejahtera atau Moksartham Jagadita Ya Ca Iti Dharma.

(continue reading…)


Konflik Umat Hindu, No Way !!!!

Om Swastiastu Mohon maaf sebelumnya atas subjeknya yang keras. Saya rasa, inilah saatnya kita umat Hindu di akar rumput untuk segera mengambil sikap.  Hal ini mengingat dalam pengamatan saya, beberapa oknum Pengurus Parisadha dari kedua belah pihak terlalu menuruti emosi. Padahal mereka semua adalah orang yang berpendidikan, dan dari segi usia sudah tidak bisa dibilang muda lagi.Tidakkah mereka sadar bahwa sebagian besar masyarakat hindu di akar rumput kita itu belum siap untuk mendengar perang statemen di mass media. Mungkin bagi mereka, itu hanya sebagai permainan perang kata-kata atau urat syaraf, tp tidakkah mereka sadar apa pengaruhnya bagi umat di akar rumput????

(continue reading…)


Mengapa Orang Bali Gampang Pindah Agama ?

Diskusi tentang “Muhammad Kadek Rihardika bin Ketut Pandika” sekalipun terlihat main-main saja, sebenarnya mengandung dua pertanyaan yang cukup menarik. Mengapa orang Bali relative mudah pindah agama? Dan apa yang harus dilakukan untuk mencegahnya? Sudah ada penelitian tentang orang-orang Bali yang pindah ke Kristen di Bali, dilakukan oleh Drs Nyoman Wijaya, dosen sejarah di Faksas Unud, untuk thesis S2. Penelitian ini dan hasilnya diterbitkan berupa sebuah buku tebal, dibiayai oleh sebuah Yayasan Kristen di Bali. Saya belum membaca buku tersebut. Menurut Pak Made Titib ada 7 atau 9 hal yang menyebabkan orang-orang Bali pindah ke agama Kristen. Sebab yang utama adalah masalah kemiskinan, masalah ekonomi. Sebab-sebab yang lain, adalah adat, kasta, agama (ini tidak menunjukkan urutannya) dll

(continue reading…)


Proposal Renovasi Lingkungan Pura Agung Jagat Karana Surabaya

Riwayat Pura dan Permasalahannya.

Pura Agung Jagat Karana dibangun mulai tahun 1968 dan mulai digunakan pada tahun 1969, merupakan Pura Khayangan Jagat untuk Umat Hindu di Kota Surabaya dan sekitarnya, yang terletak di Jalan Ikan Lumba-lumba No. 1 Surabaya (Kelurahan Perak Barat Kecamatan Krembangan Kota Surabaya) dengan luas area 7.703 m2 yang terdiri dari Mandala Utama (Jeroan), Mandala Madya (Jaba Tengah) dan Mandala Nista (Jaba Luar) dengan sarana persembahyangan berupa tempat pemujaan utama dan sarana pendukung lainnya sebagaimana Lay Out Plan terlampir, yang rata-rata umur bangunannya sudah diatas 20 tahun (tanggal 20 September 1987 diresmikan oleh Gubernur KDH Tingkat I Jawa Timur Bpk. WAHONO) dengan bahan bangunan utama adalah beton dan pasangan batu bata (campuran spesi pasir, kapur dan semen).

Penataan/ Renovasi/ Pembangunan kembali Pura Agung Jagat Karana Surabaya sudah dimulai sejak tanggal 10 Maret 2003 s/d 23 Juli 2005 dengan merenovasi bangunan utamanya yaitu Padmasana lengkap dengan 2 buah Pepelik, Penglurah, Bale Pesantian/ Bale Sari dan 2 buah Apit Lawang dan  bangunan yang lainnya, akan dilaksanakan penataan/ renovasinya secara bertahap.

(continue reading…)


Loka Sabha VIII PHDI dan MUSCAB IV WHDI Kota Surabaya


LOKA SABHA VIII PHDI DAN MUSCAB IV WHDI KOTA SURABAYA

Selaku umat beragama yang patuh, marilah kita bersama-sama dengan hati yang sejuk, penuh ketulusan memanjatkan Puja Astuti, Puja Astungkara, Angayubagya ke hadapan Ida Hyang Widhi Wasa, karena atas Asung Kertha Waranugraha-Nya kita bisa berkumpul menyelenggarakan Loka Sabha PHDI VIII dan Musyawarah Cabang WHDI IV kota Surabaya pada hari ini Minggu 15 Juni 2008,dengan suasana yang penuh kebersamaan, damai dan rukun, demikian kata pembuka dari sambutan oleh Ketua Panitia Loka Sabha VIII Parisada Hindu Dharma Indonesia Kota Surabaya Prof. Ir. I Nyoman Sutantra, MSc, PhD, yang sehari-harinya adalah Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (LPPM-ITS). Ditambahkan juga oleh Prof. Nyoman Sutantra, bahwa pertemuan dan perhelatan yang dilakukan di Pura Agung Jagat Karana, jalan Lumba-lumba No 1 Surabaya ini sangat istimewa, mengandung dan menyiratkan beberapa keistimewaan, yaitu: (continue reading…)


Pernyataan Sikap KMHDI

PERNYATAAN SIKAP
KESATUAN MAHASISWA HINDU DHARMA INDONESIA
(KMHDI)
TOLAK RUU PORNOGRAFI !!!

Om Anobadrah Kretawoyanthu Wiswatah
Merdeka…….!!!
Wahai Ibu Pertiwi Lihatlah Anak – Anak Mu Berjuang Mempertahankan Warisanmu!!!

Dengan Hormat,

Rancangan Undang-Undang Pornografi (RUU Pornografi) kembali ramai dibicarakan berbagai kalangan. Masyarakat Indonesia menyoroti berbagai pasal yang dinilai diskriminatif dan cenderung mengancam keutuhan budaya dan keanekaragaman bangsa. Ada beberapa hal yang menjadi sorotan di dalam RUU Pornografi tersebut antara lain; definisi pornografi itu sendiri, (pasal 1) larangan dan pembatasan,  otoriterisme lembaga pemerintah, peranan masyarakat (Pasal 21)  yang menyatakan Masyarakat dapat berperan serta dalam melakukan pencegahan terhadap pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan pornografi. Ini artinya masyarakat dapat berperan aktif untuk turut melakukan pencegahan bahkan penggeledahan terhadap pihak lainnya dan kemungkinan bisa melampaui wewenang aparatur negara. Hal tersebut memungkinkan semua orang melakukan swiping dan kekerasan terhadap warga lainnya dengan dalih pornografi. Hingga sanksi pidana yang terlalu menciderai batasan normal sebuah peraturan perundang-undangan yang baik. Hampir dapat dikatakan tidak ada orang yang menginginkan bangsa ini hancur karena pornografi. Bagaimanapun perlu ada sebuah alat yang membendung efek pornografi itu. Namun, alat tersebut jangan sampai menimbulkan masalah yang baru. (continue reading…)


Daftar Paruman Sulinggih dan Paruman Walaka

DAFTAR PARUMAN SULINGGIH & PARUMAN WALAKA PERIODE 2008-2013

NO JABATAN NAMA ALAMAT TELP FLEXI HP
I PARUMAN SULINGGIH
1 Ketua Pandita Ida Gede Anom Negara JKM. Pasraman Bila Wali Kenjeran 3894576 081550721133
2 Wakil Ketua Jero mangku I Nyoman Wendhi Kupang Praupan II/5A 5616579 0317214890
3 Sekretaris Jero mangku I Ketut Sedana S.Ag JL.Ikan Mungsing VII/54 3544295 08123201004
4 Anggota Jero mangku I Made Gede Samudra JL.Ngagel Mulyo XII/4 5053324 03172025882
5 Anggota Jero mangku Drs.I Negah Mariasa M.Hum JL.Aquamarin 3/24 72155838 081550721133
6 Anggota Jero mangku I Made Suatra GriyaKebraon PRT X/03-05 7665406
7 Anggota Jero mangku Gusti Nyoman Sardjana Siwalan Kerto Timur I/94 8436785 0816530466
II PARUMAN WALAKA
1 Ketua Prof.DR.Ir.I Made Arya Djoni Perum ITS /4 Kali kepiting 3893211 08156209832
2 Wakil Ketua Drs.Ida Bagus Bhayangkara MM.Ak. Pumpungan V/36 5998509 081330752756
3 Sekretaris Drs.Ec.I Dewa Ketut Raka Ardiana MM Wisma Indah B-1 8707261
4 Anggota Ir.Ketut Ginarta Perum Taman Pondok Jati G/18 7874708 08123032190
5 Anggota Ir.Ketut Dunia Pd.Eng.S.Ag JL.Fisika Perum ITS C/16 5931077 081332489262
6 Anggota Drs.Nyoman Naya Sudjana SS.MA Gunung Anyar Harapan ZA/4 8702987
7 Anggota Dr.I Ketut Edi Sudiarta Sp.Og. JL.Taman Bendul Merisi Sel 33 8493331 08123071699
8 Anggota Dr.Drs.Ida Bagus Wirawan Msi JL.Semolowaru Tengah XVI/5 7402087 08123152060
9 Anggota I Gusti Ketut Adnyana Candi Lempung 47 B/23 59484605 081331115857
10 Anggota Dr.Ir.I Ketut Buda A.Msc Jl.Teknik Sipil J/53 5992484 72126235 081331341715
11 Anggota Anak Agung Gede Rai Suartika Tenggumung Baru 168 3724876 085850625557

Copyright © 1996-2010 PHDI Surabaya. All rights reserved.
iDream theme by Templates Next | Powered by WordPress