web analytics

KUPASAN MANTRAM- MANTRAM TRI SANDHYA

August 07, 2011 By: admin Category: Artikel

Mantram Pertama
  1. Puja Trisandhya terdiri atas 6 mantram. Mantram pertama disebut gayatri mantram, menurut nama iramanya, yaitu gayatri. Irama-irama lain misalnya:
    1. anustup
    2. tristup
    3. canustup
    4. pragathah
    5. jagati
    6. dan sebagainya

    Di dalam Rg Veda III. 62. 10, kata bhur bhuvah svah tidak ada pada mantram ini. Tambahan bhur bhuvah svah itu terdapat pada Yajur Veda Putih 36. 3.

    Gayatri mantram adalah mantram yang paling mulia di antara semua mantra. Ia adalah ibu mantram, dinyanyikan oleh semua mantra. la adalah ibu mantram, dinyanyikan oleh semua orang beragama Hindu waktu sembahyang.

    Mengapa mantram ini yang paling mulia, ibu dari semua mantram? Inilah keterangannya:

    One reason why the gayatri is considered to be the most representative prayer in the Vedas is that is capable of possesing “dhi”, higher intelligence which brings him knowledge, material and transendental. What the eye is to the body “dhi” or intelligence is to the mind.

    (The Call of Vedas, p. 108-109).

    Suatu sebab mengapa gayatri dipandang dan yang mewakili segala di dalam Veda ialah karena ia adalah doa untuk daya kekuatan yang dapat dimiliki orang ialah: “dhi” yaitu kecerdasan yang tinggi yang memberikan padanya pengetahuan, materi dan kemampuan mengatasi hal-hal keduniawian. Sebagai halnya mata bagi badan, demikian “dhi” atau kecerdasan untuk pikiran.

  2. Wijaksara
    Wijaksara Om adalah huruf atau suku kata suci dalam agama Hindu. Biasanya tiap-tiap mantram mulai dengan huruf ini. Pada gayatri mantram Om adalah lambang dari semua ini, alam semesta yaitu bhur loka, bhuvah loka dan svah loka.
Mandukya Upanisad 1 Aum ity etad aksaram idam sarvam, tasyopavyakhayanam, bhutam bhavad bhavisyad iti sarvam aum kara eva. Aum, suku kata ini adalah semua ini. Keterangan tentang ini adalah demikian: semuanya, masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang, ini semuanya hanyalah suku kata aum. Dan apapun pula yang lain di luar tiga waktu itu, tiadalah lain hanya suku kata aum saja.
Taittiriya Upanisad. 1.8.1 Aum iti brahma, aum itidam sarvam, aum ity etad anukrtir ha sma va apyo sravayetyasravayanti aum iti samani gayanti, aum Somiti sastrani samsanti, aum ity adhvaryuh, pratigaram pratigrhati,, aum iti brahma prasauti, aum ity agnihotram anujanati, aum iti brahmanah pravaksyanmaha, brahmopapnavaniti brahmanaivopapnoti Aum adalah Brahma. Aum adalah semua ini. Aum sesungguhnya ini adalah persetujuan. Dalam mengucapkan “lafalkan” mereka mengucapkan. Dengan Aum, mereka menyanyikan nyanyian saman. Dengan aum, som, mereka mengucapkan doa-doa. Dengan aum pendeta mengucapkan puji-puji pengantar. Dengan aum, sescorang mempersembahkan sajian-sajian pada api.Dengan aum seorang Brabmana mulai mengucapkan, “semoga saya sampai pada Brahman”; demikianlah karena ingin iapun sampai pada Brahman.
Jnanasiddhanta 18.5 Isana tu ma karo’bhud
A madhyam mordhvam eva ca
Ukaro’ dhas ca
Om karam iti tad viduh
Isana adalah suara Ma
A ada di tengah-tengah
Ma di bagian atas
Dan suara U di bawah
Kesatuannya disebut suara Om.
Mantram Kedua
Pada mantram ini pemuja memuja Tuhan seru sekalian alam, yang suci tak ternoda. Beliau hanya tunggal tidak ada yang kedua. Mantram ini adalah salah satu dari suatu rangkaian mantram yang panjang disebut Catur Veda Sirah (Empat Veda Kepala).

Catur Veda Sirah ini adalah salinan Narayana Upanisad, sebuah Upanisad kecil. Di sini dinyatakan bahwa Tuhan adalah segalanya yang luput dan segala noda. Tuhan itu hanya Esa belaka.

Mantram Ketiga
Oleh pemuja Tuhan yang Tunggal disebut dengan banyak nama. Beliau disebut Siwa, Mahadewa, Iswara, Parameswara, Brahma, Wisnu dan Rudra. Masih banyak lagi sebutan-Nya. Di dalam kitab-kitab suci agama Hindu kila dapati sebutan beliau berpuluh-puluh banyaknya. Tuhan dipuja orang dalam berbagai-bagai perwujudan-Nya.
Mantram Keempat
Pemuja mengatakan dirinya serba hina serba kurang serba lemah. Hina kerjanya, hina diri pribadinya, hina lahirnya. Karena itu ia mohon kepada Tuhan untuk dilindungi dan dibersihkan dari segala noda. Tuhanlah pelindung tertinggi dan Tuhanlah melimpahkan kesucian untuk dia yang setia mengamalkan ajaran-Nya. Dalam mantram ini pemuja mengatakan pengakuannya bahwa ia adalah mahluk yang lemah.
Mantram Kelima
Pemuja mohon ampun kepada Tuhan, penyelamat semua makhluk. Ia mohon dibebaskan dari semua papa, semua kehinaan dan dosa. Ia mohon untuk dijaga, karena beliaulah penjaga semua makhluk di manapun dan kapanpun juga. Tuhan adalah kuasa tertinggi atas segala yang ada ini.
Mantram Keenam
Apa saja dosa anggota badan, apa saja dosa kata-kata dan apa saja dosa pikiran, pemuja memohon kepada Tuhan untuk diampuni. Manusia tidak dapat bebas dari dosa karena ia diselubungi oleh khilaf dan lalai. Bila seseorang dapat membersihkan diri dengan amal kebajikan maka kabut kekhilafan yang menyelubungi sang Pribadi akan menipis dan akan memancarkan cahaya kesucian dari Sang Pribadi yang mengantar seseorang ke alam kesadaran. Atas dasar ini kelepasan akan lebih mudah diperoleh.

Sumber : Babad Bali

TRI SANDHYA

August 07, 2011 By: admin Category: Persembhyangan

Pemujaan kepada Tuhan dapat dilaksanakan dengan banyak cara. Salah satu di antaranya ialah dengan bersembahyang tiap hari. Kita yang beragama Hindu bersembahyang tiga kali sehari, pagi, siang dan malam hari. Sembahyang demikian disebut sembahyang Trisandhya. Mantram yang dipakaipun disebut mantram Trisandhya.

Mantram ini ditulis dalam bahasa Sansekerta, bahasa orang Hindu jaman dahulu. Kita boleh bersembahyang dengan duduk bersila, duduk bersimpuh atau berdiri tegak sesuai dengan tempat yang tersedia. Sikap duduk bersila disebut padmasana. Sikap duduk bersimpuh disebut bajrasana dan yang berdiri disebut padasana.

Setelah sikap badan itu baik, dilanjutkan dengan pranayama. Pranayama artinya mengatur jalannya nafas. Gunanya: untuk menenangkan pikiran dan mendiamkan badan mengikuti jalannya pikiran, bila pikiran dan badan sudah tenang maka barulah mulai bersembahyang.

Sikap tangan waktu bersernbahyang disebut sikap amusti. Mata memandang ujung hidung dan pikiran ditujukan kepada Sanghyang Widhi. Dalam keadaan seperti itu, sabda, bayu, idep harus dalam keadaan seimbang.

Sebelum mengucapkan mantram, kedua tangan kita bersihkan dengan mantram demikian:

Tangan Kanan

MANTRAARTI
Om suddha mam svahaOm bersihkanlah hamba

Tangan Kiri

MANTRAARTI
Om ati suddha mam svahaOm lebih bersihkanlah hamba.

Mantra Trisandhya

NoMANTRAARTI
1Om bhur bhuvah svah
tat savitur varenyam
bhargo devasya dhimahi
dhiyo yo nah pracodayat
Om adalah bhur bhuvah svah
Kita memusatkan pikiran pada kecemerlangan dan kemuliaan Sanghyang Widhi, Semoga Ia berikan semangat pikiran kita
2Om Narayana evedwam sarvam
yad bhutam yac ca bhavyam
niskalanko niranjano
nirvikalpo nirakhyatah
suddho deva eko
narayana na dvitiyo
asti kascit.
Om Narayana adalah semua ini apa yang telah ada dan apa yang akan ada, bebas dari noda, bebas dari kotoran, bebas dari perubahan tak dapat digambarkan, sucilah dewa narayana, Ia hanya satu tidak ada yang kedua
3Om tvam siwah tvam mahadevah
Iswarah paramesvarah
brahma visnusca rudrasca
purusah parikirtitah
Om Engkau dipanggil Siwa, Mahadewa, Iswara, Parameswara, Brahma, Wisnu, Rudra, dan Purusa
4Om papo'ham papakarmaham
papatma papasambhavah
trahi mam pundarikaksa
sabahyabhyantarah sucih
Om hamba ini papa, perbuatan hamba papa, diri hamba papa, kelahiran hamba papa, lindungilah hamba Sanghyang Widhi, sucikanlan jiwa dan raga hamba
5Om ksamasva mam mahadeva
sarvaprani hitankara
mam moca sarva papebhyah
palayasva sada siva
Om ampunilah hamba Sanghyang Widhi, yang memberikan keselamatan kepada semua makhluk, bebaskanlah hamba dari segala dosa, lindungilah oh Sang Hyang Widhi
6Om ksantavyah kayiko dosah
ksantavyo. vaciko mama
ksantavyo manaso dosah
tat pramadat ksamasva mam
Om ampunilah dosa anggota badan hamba, ampunilah dosa perkataan hamba, ampunilah dosa pikiran hamba, ampunilah hamba dari kelalaian hamba.
7Om Santih, Santih, Santih Om.Om. damai. damai, damai, Om.

Ingin mengetahui lebih detail mengenai maksud dari masing-masing bab dalam Tri Sandya ? Silahkan kunjungi halaman KUPASAN MANTRAM- MANTRAM TRI SANDHYA.

Sumber : Babad Bali

Doa / Mantra Sehari - hari

August 07, 2011 By: admin Category: Persembhyangan

Daftar mantra - mantra yang digunakan sesuai dengan waktunya.
FungsiMantraTerjemahan
Pada waktu bangun pagiOm, Utedanim bhagavantah syamota prapitva uta madhye ahnam, utodinau madhvantan tsuryasya vayam devanam sumantausyama.(Atharva Veda III.16.4)"Ya Tuhan Yang Maha Pemurah! Jadikanlah kami selalu bernasib baik pada pagi hari ini, menjelang tengah hari, apalagi matahari tepat di tengah-tengah dan seterusnya. Semoga para Dewa berkenaan menganugharkan rakhmat-Nya kepada kami".
Menggosok gigi Om Cri Dewi Bhatrimsa Yogini namahOm, sujud pada (sakti-Mu) Cri Dewi Bhatrimsa (dan) Yogini.
Membersihkan mulutOm Um Phat astraya namah.Om, sujud kepada Um, astra Phat (itu).
Mencuci mukaOm Um Waktra Paricuddha mam swaha.Om, Om (dewi) membersihkan muka hamba.
Pada waktu mandiOm, Gangga-Amrta-Sarira Cuddha Mam Swaha.Om, Amrta dari Gangga, membuat badan hamba suci.
Pada waktu berpakaianKaupina Brahma-Samyuktah, mekhala Wisnu-Samsmrtah Antarwasewaro dewah, bandham astu Sada Ciwa.Penutup berpakaian adalah Brahma, pengikat pinggang (adalah) Wisnu, penutup tubuh (oleh) Iswara (dan) Sada Ciwa pengikat semuanya.
Pada waktu menjelang makanOm Hiranyagarbhah samavartatagre bhutasya jatah patikreka asit, sa dadhara prithivim dyam utema kasmai devaya havisa vidhema.Ya Tuhan Yang Maha Pengasih! Engkau asal alam semesta dan satu-satunya kekuatan awal, Engkau yang memelihara semua mahluk, seluruh bumi dan langit. Kami memuja Engkau.
Pada waktu sesudah makanOm Purnamadah purnamidam Purnat murnam adaya purnasya purnam adaya purnam evavasisyate.Ya Tuhan Yang Maha Sempurna! Yang membuat alam sempurna. Alam ini akan lenyap dalam kesempurnaanMu. Engkau adalah kekal. Kami mendapat makanan yang cukup dan atas anugrah-Mu kami menghaturkan terima kasih.
Sebelum memulai pekerjaan atau kegiatanOm Avighnam astu namasiddham.Ya Tuhan semoga tiada halngan dan berhasil.
Memohon perlindunganOm Apasyam gopam anipadyamanam a ca para ca prthibhih carantam sa sadhricih sa visucir vasana.Ya Tuhan! hamba memandang Engkau Maha Pelindung, yang terus bergerak tanpa berhenti, maju dan mundur di atas bumi. Ia yang mengenakan hiasan yang serba meriah, muncul dan mengembara terus bersama bumi ini.
Mohon kebenaran (jalan yang benar)Om A visvadevam satpatim suktai adya vrnimahe stayasavam sawitaram.Ya Tuhan Yang Maha Agung! dengan kidung kami memujaMu, Tuhan sumber kebaikan! Engkau Maha Cemerlang yang memiliki takdir yang maha benar.
Salam Penganjali
(salam penghormatan)
Om Svastyastu.Semoga selalu ada dalam keadaan baik (selamat) atas karunia Tuhan (Hyang Widhi Wasa).
Salam Penganjali
(salam penghormatan)
Om santhi, Santhi, Santhi, Om.Semoga damai, damai di dunia, damai di akhirat dan damai selalu.
Doa Menjelang makan Om Ang kang kasol kaya isana ya namah, svasti-svasti sarva deva bhuta sukha, pradhana purusa sang yoga ya namah.Ya Hyang Widhi, yang bergelar Isana, hamba persembahkan seluruh makanan ini kehadapan-Mu, semoga semua makhluk berbahagia.
Doa Mulai Makan Om Anugraha Amertadi sanjivani ya namah svaha.Ya Hyang Widhi, semoga makanan ini menjadi penghidupan hamba lahir bathin yang suci.
Doa Selesai Makan Om Dhirgayur astu, avighnam astu subham astu Om Sriyam bhavantu, purnam bhavantu, ksama sampurna ya namah svaha.Ya Hyang Widhi, semoga makanan yang telah masuk ke dalam badan hamba memberi kekuatan, keselamatan, panjang umur dan tak kena halngan apapun. Demikian pula agar hamba mendapatkan kebahagiaan dan suka cita dengan sempurna.
Doa Selesai Makan
Dapat pula menggunakan doa (mantra) berikut:
Om Annapate annasya no dehyanmi vasya susminah, pra-pra dataram taris urjam no dhehi dvipade catuspade.
(Yajur Veda XI.83)
Ya Hyang Widhi, Engkau penguasa makanan, anugrahkanlah makanan ini memberikan kekuatan, menjauhkan dari penyakit. Selanjutnya bimbinglah kami, anugrahkanlah kekuatan kepada mahluk berkaki empat dan dua.
Doa saat melakukan Yadnya Sesa (Ngejot)"Om Sarva bhuta sukha pretebhyah svaha".Ya Hyang Widhi, hamba berikan sedikit kepada sarwa bhuta agar tidak mengacau.
Doa Memulai Sesuatu KegiatanOm Avighnam astu namo sidham Om Sidhirastu tad astu astu svaha.Ya Hyang Widhi, semoga atas perkenan-Mu tiada suatu halangan bagi kami memulai pekerjaan (kegiatan) ini dan semoga sukses.
Doa Mohon InspirasiOm Pra no devi sarasvati vajebhir vajinivati dhinam avinyavantu.
(Rg Veda VI.61.4)
Ya Hyang Widhi, Hyang Saraswati Yang Maha Agung dan Kuasa, Engkau sebagai sumber ilmu pengetahuan, semoga Engkau memelihara kecerdasan kami.
Doa Memohon KesehatanOm Vata a vatu bhesajam sambhu majobhu no hrde, pra na ayumsi tarisat.
(Rg Veda X.1986.1)
Ya hyang Widhi, semoga Wayu menghembuskan angin sejuk-Nya kepada kami. Wayu yang memberikan kesehatan dan kesejahteraan kepada kami. Semoga Ia memberikan umur panjang kepada kami.
Doa Mohon Bimbingan Spiritual Om Asato ma sadgamaya tamasoma ma tyotir gamaya mrtor ma amrtam gamaya.
(Brh. Ar. Up. XL.15)
Ya Hyang Widhi, bimbinglah kami dari yang tidak benar menuju yang benar. Bimbinglah kami dari kegelapan pikiran menuju cahaya (pengetahuan) yang terang. Bimbinglah kami dari kematian menuju kehidupan yang abadi.
Doa Mohon Kebahagiaan dan Keberuntungan :Om sarve bhavantu sukhinah sarve santu niramayah sarve bhadrani pasyantu ma kascid duhkha bhag bhavetYa Hyang Widhi, semoga semuanya memperoleh kebahagiaan, semoga semuanya terbebas dari penderitaan, semoga semuanya dapat memperoleh keberuntungan, semoga tiada kedukaan.
Doa Memulai Belajar Om Agne naya supatha raye asman visvani deva vayunani vidvan, yuyodhyasmaj juhuranam eno bhuyistam te namauktim vidhema.
(Rg Veda I.189.1)
Ya Hyang Widhi (Hyang Agni), tunjukkanlah kepada kami jalan yang benar untuk mencapai kesejahteraan; Hyang Widhi yang mengetahui semua kewajiban, lenyapkanlah dosa kami yang menyengsarakan kami. kami memuja Engkau.
Doa Menghilangkan Rasa TakutOm Om Jaya jivad sarira raksan dadasi me, Om Mjum sah vaosat mrityun jaya namah svaha.Ya Hyang Widhi Yang Maha Jaya, yang mengatasi segala kematian, kami memuja-Mu. Lindungilah kami dari mara bahaya
Doa Selesai Melakukan KegiatanOm Deva suksma parama acintya ya namah svaha sarva karya prasidhantam. Om Shanti, Shanti, Shanti, Om.Ya Hyang Widhi dalam wujud Parama Acintya yang maha gaib dan maka karya, atas rakhmat-Mu maka pekerjaan ini sukses. Semoga damai selalu.
Doa Sebelum TidurOm Yajjagrato duram udaiti daivam tad u suptasya tatha iva iti, durangamam jyotisam jyotir ekam tanme manah siva samkalpam astu.
(Yajur Veda XXXIV.1)
Ya hyang Widhi, Engkau nampak jauh dari orang yang tidur, nampak jauh dari orang yang terjaga. Engkau sinar utama, yang nampak jauh itu, semoga pikiran kami senantiasa mengarah kepada Engkau, yang baik itu.
Doa Untuk Ketabahan Hidup:Om Krdhi na udhvarny carathaya jivase.Ya Hyang Widhi, semoga kami bisa tetap tegak dalam perjalanan hidup kami
Doa Untuk Orang Meninggal
(yang disampaikan/diucapkan saat bela sungkawa):
Om vayur anilam amrtam athedam bhasmantam sariram Om krato smara, klie smara, krtam smara.
(Yajur Veda XL.15)
Ya Hyang Widhi, Penguasa hidup, pada saat kematian ini semoga ia mengingat wijaksana suci Om, semoga ia mengingat Engkau Yang Maha Kuasa dan kekal abadi. Ingat pula kepada karmanya. Semoga ia mengetahui bahwa Atma adalah abadi dan badan ini akhirnya hancur menjadi abu.
Saat melihat atau mendengar orang meninggal:Om svargantu, moksantu, sunyantu, murcantu, Om ksama sampurna ya namah svaha.Ya Hyang Widhi, semogalah arwah almarhum mencapai sorga, manunggal dengan-Mu, mencapai keheningan tanpa suka-duka. Ampunilah ia, semoga sempurna atas Kemahakuasaan-Mu.
Saat mengunjungi orang sakit:Om sarva vighna sarva klesa, sarva lara roga vinasa ya namah.Ya Hyang Widhi, semoga segala halangan, segala penyakit, segala penderitaan dan gangguan binasa oleh-Mu.
Doa Untuk Pembukaan Rapat (sidang) atau SeminarOm sam gacchadhvam sam vadadhvam sam vo manamsi janatam, devo bhagam yatha purve samjanana upasate.
(Rg. Veda X.191.2)

samano mantrah samitih samani samanam manah saha cittam esam, samanam mantram abhi mantraye vah samanena vo havisa juhomi.
(Rg Veda X.191.3)

samani va akutih samana hrdayani vah samanam astu vo mano yatha vah susahasati.
(Rg Veda X.191.4)
Ya Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa), semogalah pertemuan dan rapat ini mencapai satu kesepakatan. Semoga tercapai tujuan bersama, kesepakatan bersama satu dalam pikiran menuju stau tujuan.

Ya Hyang Widhi, Engkau canangkan satu tujuan, tujuan bersama kami sekalian, kami adakan pemujaan dengan persembahan bersama, agar tujuan kami satu, seia dan sekata.
Doa Untuk Menutup Suatu PertemuanOm dyauh santir antariksam santih prthiva santir apah santir osadhayah santih vanaspatayah santir visve devah santir brahma santih sarvam santih santir eva santih sa ma santir edhi.
(Yayur Veda XXXVI.17)
Ya Hyang Widhi Yang Maha Kuasa, anugrahkanlah kedamaian di langit, damai di angkasa, damai di bumi, damai di air, damai pada tumbuh-tumbuhan, damai pada pepohonan, damai bagi para Dewata, damailah Brahma, damailah alam semesta, semogalah kedamaian senantiasa datang pada kami.

Sumber : Babad Bali

Hari Raya Galungan di India

December 13, 2010 By: admin Category: Artikel

Hari raya Hindu untuk mengingatkan umat atas pertarungan antara adharma melawan dharma dilaksanakan juga oleh umat Hindu di India. Bahkan kemungkinan besar, parayaan hari raya Galungan di Indonesia mendapat inspirasi atau direkonstruksi dari perayaan upacara Wijaya Dasami di India. Ini bisa dilihat dari kata “Wijaya” (bahasa Sansekerta) yang bersinonim dengan kata “Galungan” dalam bahasa Jawa Kuna. Kedua kata itu artinya “menang”.

Hari Raya Wijaya Dasami di India disebut pula “Hari Raya Dasara”. Inti perayaan Wijaya Dasami juga dilakukan sepuluh hari seperti Galungan dan Kuningan. Sebelum puncak perayaan, selama sembilan malam umat Hindu di sana melakukan upacara yang disebut Nawa Ratri (artinya sembilan malam). Upacara Nawa Ratri itu dilakukan dengan upacara persembahyangan yang sangat khusuk dipimpin oleh pendeta di rumah-rumah penduduk. Nawa Ratri lebih menekankankan nilai-nilai spiritual sebagai dasar perjuangan melawan adharma. Pada hari kesepuluh berulah dirayakan Wijaya Dasami atau Dasara. Wijaya Dasami lebih menekankan pada rasa kebersamaan, kemeriahan dan kesemarakan untuk masyarakat luas.

Read the rest of this entry →

Hari Raya Galungan dan Kuningan

December 13, 2010 By: admin Category: Artikel

Kata “Galungan” berasal dari bahasa Jawa Kuna yang artinya menang atau bertarung. Galungan juga sama artinya dengan dungulan, yang juga berarti menang. Karena itu di Jawa, wuku yang kesebelas disebut Wuku Galungan, sedangkan di Bali wuku yang kesebelas itu disebut Wuku Dungulan. Namanya berbeda, tapi artinya sama saja. Seperti halnya di Jawa dalam rincian pancawara ada sebutan Legi sementara di Bali disebut Umanis, yang artinya sama: manis.

Agak sulit untuk memastikan bagaimana asal-usul Hari Raya Galungan ini. Kapan sebenarnya Galungan dirayakan pertamakali di Indonesia, terutama di Jawa dan di daerah lain khususnya di Bali. Drs. I Gusti Agung Gede Putra (mantan Dirjen Bimas Hindu dan Buddha Departemen Agama RI) memperkirakan, Galungan telah lama dirayakan umat Hindu di Indonesia sebelum hari raya itu populer dirayakan di Pulau Bali. Dugaan ini didasarkan pada lontar berbahasa Jawa Kuna yang bernama Kidung Panji Amalat Rasmi. Tetapi, kapan tepatnya Galungan itu dirayakan di luar Bali dan apakah namanya juga sama Galungan, masih belum terjawab dengan pasti.

Read the rest of this entry →

Daftar Guru Agama Hindu Kota Surabaya

December 13, 2010 By: admin Category: Data

NoJabatanNamaAlamatTelepon
1Guru Saraswati I Pura Segara KenjeranDrs.I Made SuwecaJl.Sahabudin No. 33 Surabaya031-3817432
2Guru Saraswati I Pura Segara KenjeranDrs.I Made GunarthaJl.Bambang Suntoro No. 30 Surabaya031-3810369
3Guru Saraswati I Pura Segara KenjeranDra.Ni Made Sri ArdaniJl.Sahabudin No. 33 Surabaya031-3817432
4Guru Saraswati I Pura Segara KenjeranDra.Desak Putu KartiniJl.Bambang Suntoro No. 30 Surabaya031-3810369
5Guru Saraswati I Pura Segara KenjeranIr.I Wayan Wijana&Dwi Jatmiko S.AgJl.Kolonel Sukardi No.19 Surabaya
6Guru Saraswati II Pura Agung J.K PerakDrs.I ketut Arta & Wayan SuandaJl.Karang menjangan IB/23 Surabaya031-5924843
7Guru Saraswati II Pura Agung J.K PerakDrs. Dewa Putu AdnyanaGriya Permata Hijau Blok N/10 Surabaya
8Guru Saraswati II Pura Agung J.K PerakI Made Budi Astika SE.S.Ag. Nginden II/
9Guru Saraswati III Sektor WonocoloDrs.Sunyoto
10Guru Saraswati III Sektor WonocoloWinarno S.Ag
11Guru Saraswati IV Sektor Ampel,Bulak B. Ibu Putu Astiarini
12Guru Saraswati V Pura Tirta EmpulDrs.I Wayan RuntunBabadan III/1 Wiyung Surabaya031-7532545
13Guru Saraswati VI SDN Banyu UripI Gusti Ngurah Robie SPd.Banyu Urip Lor Gg.Barat No.4 Surabaya
14Guru Saraswati VI SDN Banyu UripI Wayan WisnawahadiSimo Pomahan Baru No.79 Surabaya031-7494626
15Guru Saraswati VI SDN Banyu UripMujadi

Satyam-Siwam-Sundaram Menuju Moksartam Jagadhita

July 22, 2010 By: admin Category: Artikel

Dharma Wacana

Oleh: Ida Begawan Dwija NS

Satyam – Siwam – Sundaram adalah tatanan kehidupan masyarakat yang taat beragama (Hindu), saling menyayangi, dan sejahtera.

TAAT BERAGAMA HINDU (SATYAM)

  1. Keyakinan pada Panca Srada:

1.1. Widhi Tattwa

Agama Pramana: Percaya pada Hyang Widhi karena mempelajari kitab-kitab suci.

Pratiyaksa Pramana: Percaya pada Hyang Widhi karena mendapat vibrasi kesucian sebagai hasil ketekunan meditasi.

Anumana Pramana: Percaya pada Hyang Widhi dari kesimpulan berdasarkan logika, unsur-unsur aktivitas, sebab-akibat, keharusan, kesempurnaan dan keteraturan.

Upamana Pramana: Percaya pada Hyang Widhi dari analogi berdasarkan perbandingan unsur-unsur metafora (penciptaan), struktural (bahan ciptaan) dan kausal (akibat dari suatu sebab).

Read the rest of this entry →

PANCA SRADDHA LIMA KEYAKINAN UMAT HINDU

June 06, 2010 By: teja Category: Artikel

Dharma Wacana pada Hari Purnama, Kamis, tgl 27 Mei 2010

Di Pura Agung Jagat Karana Surabaya

oleh: Prof. I Made Londen Batan

(Ketua I PHDI Kota Surabaya)

Ratu Pandita Lanang Istri yang saya sucikan,

Para Pinandita Lanang Istri yang saya sucikan,

Ibu bapak umat hindu yang saya hormati,

adik-adik kecil, siswa dan mahasiswa yang saya banggakan.

Sebelum saya menyampaikan dharma wacana, ijinkan saya pada hari yang berbahagia ini – pada Persembahyangan Purnama malam ini - menyampaikan penganjali umat:

Om Swastyastu,

PENDAHULUAN

Tujuan Hidup Umat Hindu adalah moksartham jagadhita – kesejahteraan dan kebahagiaan yang abadi. Kesejahteraan – sifatnya duniawi (jagat), artinya sesuatu yang bisa diukur. Misalnya sejahtera dikatakan dengan mempunyai mobil mewah, punya hotel, rumah mewah dll, yang sifatnya duniawi. Sedangkan bahagia, sangat sulit diukur, misalnya ada keluarga kecil kelihatan bahagia setelahbisa membelikan anaknya sebuah sepeda, bahkan ada yang nampak bahagia, karena bisa makan hamburger di Mc Donald. Artinya kebahagiaa itu sangat sulit diukur. Bagaimana kita bisa mencapai tujuan hidup tersebut, para resi kita menyusun sebuah tuntutan hidup (way of life) – yang disebut sebagai Panca Shraddha, yang artinya lima keyakinan untuk mencapai moksa, atau sering disebut sebagai lima dasar agama Hindu. Apa saja Panca Shraddha tersebut, dan bagaimana menjalankannya, agar tujuan hidup – bersatunya Atman dengan Brahman, sehingga manusia terlepas dari ikatan duniawi, terlepas dari kelahiran kembali, bebas dari belenggu hidup dstnya.

Read the rest of this entry →

INTERNALISASI DHARMA (Yadnya) JALAN MENUJU KEBAHAGIAAN ABADI

June 06, 2010 By: teja Category: Artikel

(Path to The God, Jalan Menuju Tuhan)

oleh :

Dr IGK Paridjata Westra, M.Agr.S., M.Agr.Sc., DVM

(Litbang PHDI – Surabaya)

LATAR BELAKANG

Kita, khususnya masyarakat Hindu di Jawa Timur sangat sedih dan prihatin mengamati berbagai fenomena yang terjadi di Bali. Bali bukan lagi Bali yang dulu lagi, yang dahulu indah alamnya, dan lestari budayanya, damai (canti) dan toleran masyarakatnya, dll. Alam dan manusia seolah sangat erat bersahabat, dan kejujuran (satyam) terpancar dari gerak dan tingkah laku tutur kata kehidupan masyaraknya.

Namun Bali kini sedang diselimuti berbagai masalah, tantangan sangat komplek, sehingga seolah sukar diurai ujung pangkalnya. Mari perhatikan hal-hal berikut :

A. Parahyangan :

1. Banyak sudah umat kita yang secara sadar telah meninggalkan keyakinannya. Hal ini sungguh sangat memprihatinkan dan menyedihkan (Kenapa???)

2. Beberapa tempat ibadah (pure) sudah tidak terurus dan ada yang digusur

3. Sementara umat yang ada di luar Bali sangat sulit untuk membangun rumah ibadah

4. Rumah ibadah non-Hindu semakin banyak.

Read the rest of this entry →

Makna Ajaran Dharma dari Sang Hyang Aji Saraswati dalam Kehidupan Modern

May 19, 2010 By: admin Category: Artikel

Catur Widya Sesana

Darma Wacana Hari Suci Saraswati

Pura Agung Jagat Karana, Surabaya 3-1-2009

Oleh: Prof. Ir I Nyoman Sutantra MSc. PhD

(Ketua Walaka PHDI Prov. Jatim)

Om Swastyastu,

Mari kita bersama-sama pada Hari Saraswati yang kita sucikan ini, di Utama Mandala Pura Agung Jagat Karana yang kita sucikan memanjatkan Puja Astung Karah, Parama Astuti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa karena atas asung kerta wara nugraha Nya kita semua masih diberi kesempatan untuk ngaturang pedek bhakti, kita masih diberi kesempatan untuk hidup dengan tuntunnan ajaran Sang Hyang Aji Saraswati.

Selama 210 hari kita umat Hindu telah mendapat pencerahan dan tuntunan hidup dari ajaran Sang Hyang Aji Saraswati untuk melawan segala godaan, ancaman kehidupan baik yang datang dari dalam diri dan dari luar diri kita. Tentunya sebagian dari kita dapat dengan teguh dan santun melawan segala godaan tersebut, namun juga banyak dari kita justru terjebak dan terbelenggu dari berbagai macam godaan kehidupan tersebut. Banyak yang sangat menderita akibat belenggu dari godaan tersebut namun walau hanya sedikit masih ada pula yang justru sangat menikmati godaan tersebut, yang tentunya nikmat tersebut hanya bersifat sementara. Godaan dan ancaman hidup di jaman modern ini sangat beragam dan menggiurkan yang sangat menjebak dengan segala cara menggrogoti pikiran, perkataan dan perbuatan manusia bagaikan virus ganas yang mengganggu kesehatan moral, spirituar dan material dari manusia. Hanya mereka yang masih teguh memegang jalan Dharma dengan mengikuti ajaran Sang Hyang Aji Saraswati yang akan dapat melawan godaan dan ancaman dalam kehidupan dengan cerdas, bijak dan santun untuk menuju kehidupan yang rukun, damai dan sejahtera atau Moksartham Jagadita Ya Ca Iti Dharma.

Read the rest of this entry →


Switch to our mobile site